Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Canggung


__ADS_3

"Jangan mencoba pergi dari sisiku lagi, Jelita," sambung Ryo.


"Ryo..." Jelita menatap Ryo dengan berkaca-kaca.


Ryo menghela napas dan bangkit dari posisi duduknya, dia berjalan ke tempat di mana Jelita duduk dan merendahkan tubuhnya sedikit, lalu memeluk kepala kecil Jelita dengan menempelkan pada dadanya.


Sedangkan Jelita melingkarkan tangannya pada punggung Ryo, dia bisa mendengar detak jantung Ryo yang menggila seperti dirinya, "Aku akan selalu berada di sisimu, maafkan aku karena sudah membohongi kamu dan membuatmu khawatir dengan pergi diam-diam," ucapnya hampir seperti mencicit.


"Ya, aku memaafkan kamu, sayang," jawab Ryo.


Air mata lolos dari pelupuk mata Jelita, dia tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ryo memaafkan begitu saja. Padahal dia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi konsekuensi yang lebih buruk.


Ryo melepas pelukannya karena merasakan jika badan Jelita yang bergetar, "Kenapa menangis?" tanyanya sembari menghapus air mata Jelita, hatinya jadi merasa tercubit melihatnya.


"Aku hanya senang karena kamu memaafkan aku," jawab Jelita dengan sesenggukan.


Dia menangkup wajah Jelita dengan ke dua tangannya, "Kesalahanku bahkan lebih besar dari pada kesalahanmu," ucapnya.


Tidak bisa dipungkiri, meskipun Jelita berbohong demi kebaikan tetap saja Ryo merasa kecewa karena telah dibohongi selama ini. Namun, perbuatannya yang sudah merenggut kesucian Jelita lebih membuatnya merasa kecewa pada dirinya sendiri.


Bisa dibilang mereka berdua sama-sama salah di sini.


"Aku minta maaf atas perbuatanku malam itu, aku sungguh menyesal karena tidak bisa menahan diri," sambung Ryo dengan tatapan tulus akan permintaan maaf.


"Tapi aku yang sudah menawarkan diri," ucap Jelita dengan wajah merona karena menangis dan malu, bahkan hidungnya ikut memerah.


Ryo menggeleng, "Sepenuhnya adalah kesalahanku, kamu hanya mencoba membantuku, dan aku justru memanfaatkan kesempatan itu," kilahnya.


"Nggak apa-apa, Ryo. Jangan salahkan dirimu lagi," ujar Jelita.


Ryo kembali membawa Jelita ke dalam pelukannya, "Terima kasih karena masih mau kembali dan berada di sisiku," ucapnya.


Jelita menggangguk dalam pelukannya hangat yang dia rasakan, rasa hangat yang menjalar ke hati mereka berdua.


**


Beralih ke tempat lain.


Terlihat Renata yang berjalan sempoyongan di lobi gedung tempat di mana pernikahan berlangsung tadi.


"Bisa-bisanya ada minuman beralkohol di acara pernikahan, hik," gumam Renata, dia terlihat mabuk.


Sebagai seorang Dokter psikiater dia terlalu bodoh karena tidak bisa membedakan jus dan wine.


"Hik, ke mana arah rumahku berada?" gumamnya lagi.


Renata menatap pemuda yang tengah memunggunginya dengan menggenggam ponsel yang sedang ditempelkan pada telinga. Kemudian dia menghentikan langkahnya tepat di belakang pemuda berperawakan tinggi itu.

__ADS_1


Pemuda yang tidak lain adalah Jefra.


Jefra menutup panggilan teleponnya. Saat berbalik badan dia dikagetkan dengan kehadiran seorang wanita yang tahu-tahu sudah berada di belakangnya.


"Eh setan!" pekik Jefra latah.


Renata mendelik seketika, "Aku bukan setan, hik," sangkalnya dengan cegukan.


Jefra mengusap dadanya karena hampir jantungan. Kemudian dia menatap Renata yang dia anggap setan itu. Jefra sedikit terkejut saat tahu jika orang yang mengejutkannya itu adalah wanita yang pernah dia lihat saat di cafe.


Tentu saja dia mengingat wanita yang membuat hatinya bergetar pertama kali selama 27 tahun dia hidup. Ya, Jefra memang belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Untuk sekedar dekat dengan wanita saja dia belum pernah.


"Kamu..." Renata menggantung perkataan, dia seperti pernah melihat pemuda itu namun lupa di mana pernah melihatnya, "Apa kamu salah satu pasienku?" tanyanya kemudian.


Renata mengira jika Jefra adalah salah satu pasiennya.


Jefra mengangkat alis beras, "Bukan," bantahnya.


"Oh, aku lupa, sebagai Dokter psikiater aku harus menjaga privasi pasienku, a-aku nggak boleh menyebutmu seperti itu di tempat umum," ucap Renata dengan susah payah, tubuhnya terhuyung ke samping karena merasa pusing.


"Tapi aku memang bukan pasien kamu," bantah Jefra lagi, tangannya refleks memegang bahu Renata untuk menahan agar tidak jatuh.


"Hik, aku pusing sekali," ucap Renata kembali cegukan.


"Apa kamu mabuk?" tanya Jefra terlihat khawatir.


"Di mana rumahmu," ucap Jefra yang mengartikan dia bersedia untuk mengantar Renata.


"Rumahku ada di—"


Sebelum Renata menyelesaikan perkataannya, dia limbung ke arah Jefra dan tidak sadarkan diri.


**


Kembali ke kamar hotel pasangan pengantin baru.


Setelah acara saling meminta maaf dan peluk memeluk kini Jelita dan Ryo terlihat kikuk.


Bagi Ryo tentu saja dia tahu apa yang biasa pengantin baru lakukan saat malam pertama. Namun, dia merasa canggung untuk mengajak Jelita melakukan itu. Sedangkan Jelita merasa canggung karena bingung harus melakukan apa.


"Hmm," Ryo berdeham berniat menghilangkan keheningan, "Kamu mau mandi duluan atau aku duluan?" tanyanya.


"Ah, ka-kamu saja, aku akan menghapus makeup dulu," jawab Jelita sedikit tergagap.


"Baiklah," ucap Ryo, lalu melangkah ke kamar mandi.


Jelita segera bangkit dari posisinya untuk melangkah ke meja rias, kemudian mulai menghapus makeup yang menempel pada wajahnya dengan peralatan yang memang sengaja dia bawa sebelumnya.

__ADS_1


Ada perasaan senang pada dirinya karena mulai saat ini dia tidak perlu menyamar dengan makeup lagi. Jelita sudah bisa menunjukan wajah aslinya pada Ryo.


"Apa Ryo mencintai aku yang seperti ini?" gumam Jelita pelan, tiba-tiba saja ada perasaan tidak enak di dalam hatinya.


Yang Ryo cintai itu adalah dirinya yang cupu dan jelek. Lalu bagaimana perasaan Ryo pada dirinya yang sekarang tampil berbeda? Apa rasa cinta Ryo akan sama seperti sebelumnya?


"Kenapa aku baru memikirkan itu?" gumam Jelita lagi.


Cklek


Pintu kamar mandi terbuka menyadarkan Jelita yang termenung.


"Jelita, apa kamu sudah menghapus makeup?" tanya Ryo ketika melangkah keluar kamar mandi dengan memakai kimono handuk.


"Y-ya," jawab Jelita langsung menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.


Jelita jadi merasa tidak percaya diri untuk menunjukan wajah aslinya pada Ryo.


Ryo menatap Jelita heran, "Kenapa menunduk? Apa kamu sedang mencari sesuatu?" tanyanya.


"Nggak apa-apa, a-aku ingin mandi," Jelita pergi ke kamar mandi dengan masih menunduk.


Blam


Pintu kamar mandi ditutup dengan sedikit kencang.


"Ada apa dengannya?" Ryo menggaruk pipinya yang tidak gatal karena masih merasa bingung.


Cklek


Namun, pintu kamar mandi kembali terbuka dan menampakan Jelita yang melongokan setengah kepalanya.


"Ryo," panggilnya.


Ryo jadi merasa gemas melihat tingkah Jelita yang menurutnya imut itu, "Ya?"


"Bi-bisakah kamu membantuku untuk membuka gaun?" pintanya dengan ragu.


Ryo menelan saliva kasar, pikirannya sudah ke mana-mana.


"Aku merasa kesulitan saat membuka resleting gaunku karena terletak di belakang," sambung Jelita.


Sebenarnya Jelita sangat merasa malu untuk meminta bantuan Ryo, tapi dia mengesampingkan rasa malunya karena benar-benar tidak bisa membuka gaunnya sendiri.


"Oke," jawab Ryo.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2