
Ryo menggendong Jelita untuk pindah ke kamar mereka. Lalu menurunkan Istrinya untuk duduk di bibir ranjang, lalu dia ikut duduk disebelahnya.
Jantung Jelita bergetar, entah kenapa dia menjadi merasa gugup. Apa karena efek sudah terlalu lama mereka tidak melakukannya? Oh, Jelita tentu saja paham dengan kilat pada mata hazel Ryo. Suaminya itu sedang menginginkannya.
Dokter berkata jika mereka diperbolehkan untuk melakukan hubungan suami-istri. Namun, mereka disarankan untuk tetap berhati-hati dan menghindari posisi atau metode hubungan yang mungkin terbukti berbahaya.
"Jangan pikirkan kewajibanmu melayaniku di ranjang. Aku ngerti kok gimana nggak nyamannya kamu saat hamil besar begini. Kamu bisa menolak kalau nggak ingin melakukannya," ujar Ryo sembari mengecup kening Jelita.
"Nggak apa-apa, Daddy. Aku juga menginginkannya."
Ryo mendekat, merangkul bahu Jelita. Jantung Jelita semakin berdegup kencang. Dia jadi malu pada si ke dua bayi yang mungkin bisa mendengarnya, semoga saja mereka sedang tidur sekarang, jadi tidak mengetahui apa yang akan Daddy dan Mommy mereka lakukan.
"Daddy harus apa agar Mommy merasa aman?" tanya Ryo.
Jelita menoleh ke samping, wajahnya bertemu dengan wajah Ryo, "Kiss me, Daddy."
Tanpa menunggu lama lagi, Ryo menjatuhkan bibirnya di bibir Jelita. Seperti biasa, manis.
Jelita memejamkan mata saat bibir mereka saling melu-mat, mengecap, dan mematik api gair-ah. Ciuman itu semakin liar dan mesra. Lalu lidah Ryo terjulur untuk meminta akses. Jelita paham dan membuka bibir sedikit, seketika lidah mereka saling berbelit dan berdansa. Saling menikmati apa yang berada di dalam rongga mulut.
Merasa cukup, Ryo sudahi rang-sangan awal itu.
"Sayang, buka bajumu," bisik Ryo sensual.
Jelita terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk. Kemudian bangkit berdiri, membalikan tubuhnya, berusaha mengendalikan getaran di seluruh tubuhnya dan detak jantungnya yang semakin hebat. Dengan jari yang gemetar Jelita membuka pakaiannya.
Ryo jadi gemas sendiri melihat tingkah Jelita yang seperti anak perawan yang baru ingin bercinta. Istrinya masih saja malu-malu padanya. Apakah ini salah satu hormon Ibu hamil? Entahlah Ryo pun tidak tahu soal itu. Kini yang terpenting adalah dia dan Jelita akan menembus indahnya cakrawala malam ini.
Dengan pandangan yang tidak lepas dari Jelita yang sedang melepas pakaian satu persatu, Ryo juga mulai melemas pakaiannya.
Hingga kini tubuh mereka polos, seperti bayi baru lahir.
Kemudian Ryo bangkit berdiri, menghampiri Istrinya.
Plak
"Akh!" pekik Jelita saat Ryo memukul bokongnya hingga memerah, dia tidak tahu jika Ryo memang sudah benar-benar gemas.
"Ke-kenapa memukulku?" Jelita berbalik dengan tatapan seperti kucing yang sedang tersakiti.
"Itu salahmu yang begitu menggemaskan," Ryo terkekeh.
Jelita cemberut, lalu melengos dan membaringkan dirinya di ranjang, dengan posisi miring. Si Bumil sedang ngambek.
Tuh kan tambah bikin gemas saja. Ryo mengigit pipi bagian dalamnya. Lalu menaiki ranjang untuk mengikuti Jelita, dipeluknya dari belakang tubuh polos itu, dan menghujam punggung Jelita dengan kecupan-kecupan manja.
"Daddy," Jelita mulai menggeliat resah saat tangan nakal Ryo mulai meremas salah satu tonjolan di depan tubuhnya.
__ADS_1
Ryo agak terkejut dengan benda kenyal yang ditangannya menjadi lebih lembut dan kencang. Tidak lama kemudian, Ryo merasakan sesuatu yang basah keluar dari ujungnya
Asi?
Kemudian Ryo merubah posisi Jelita menjadi terlentang, "Aku ingin minum," ucapnya girang.
"Tapi ini minuman si kembar," Jelita mencoba mencegah.
"Memangnya Daddy-nya nggak boleh?" Ryo merengut.
Jelita jadi tidak enak hati melihat ekspresi Suaminya, "Yasudah boleh, tapi jangan banyak-banyak," pada akhirnya Jelita mengizinkan.
Ryo menyeringai samar setelahnya, "Ya."
Lalu lidah Ryo terulur untuk menjilat jejak cairan yang tadi keluar dari ujung sana, dari bawah ke atas dengan gerakan yang agak menekan. Ketika sampai di puncak, lidahnya memutari buah cherry yang sudah mengeras.
Jelita mendongak dan mende-sah saat mulut hangat Ryo melakukan aksi menghisap, sungguh menggelitik. Ryo menghisap lembut, lalu menguat, dan sangat lihai dalam memainkan di dalam mulutnya. Jelita nyaris menjerit ketika merasakan sesuatu yang keluar dari sana dan Ryo langsung menelannya.
"Uhuk, uhuk," Ryo sampai tersedak karena saking banyaknya air susu yang keluar.
"Pelan-pelan," ucap Jelita, Suaminya itu seperti bayi kehausan saja.
Ryo tidak memperdulikan ucapan Jelita, dia tetap saja menghisap dan menelan semuanya. Ryo sangat menyukainya, rasanya manis seperti susu almond dengan tekstur yang creamy.
"Da-Dad... sudah, ka-kamu sudah terlalu banyak meminumnya," Jelita mencoba menghentikan Ryo.
Jelita mengerang, dia dapat mencium aroma shampoo dari rambut hitam Suaminya. Kemudian tangannya meremas rambut itu, untuk menyalurkan apa yang dia rasa.
Karena merasa sudah kembung, Ryo melepas hisapannya sesudah memberikan gigitan kecil.
Jelita mengatur napas sembari menatap Ryo yang terlihat puas. Apakah ini artinya dia akan menyu-sui tiga bayi?
"Kamu mau minum juga?" tanya Ryo.
Belum sempat Jelita menjawab, Ryo sudah membungkam mulutnya. Jelita pun dapat merasakan rasa manis yang disalurkan Ryo.
"Bagaimana?" tanya Ryo setelahnya.
"Manis," jawab Jelita jujur.
Kemudian mereka tertawa bersama sembari Ryo menempelkan keningnya pada kening Jelita.
"Mau lanjut?" tanya Ryo kemudian.
Jelita mengangguk dengan tersenyum.
"Tapi, aku mau di atas," cicit Jelita malu-malu.
__ADS_1
"Sure," Ryo tersenyum, lalu mengangkat tubuh Jelita untuk duduk di atasnya, "Do it, Baby."
Des-ahan hingga erangan memenuhi kamar bernuansa temaram itu. Bisikan lembut dan suara serak Ryo saat mengucapkan cinta berkali-kali, memberi efek debaran serta panas di wajah Jelita. Malam ini mereka saling menyentuh satu sama lain dengan rasa rindu yang sudah tertahan.
**
Esoknya.
"Hoek..."
Ryo memuntahkan isi perutnya di kamar mandi kampus. Sindrom Couvade yang dia alami memang belum hilang, bahkan semakin parah. Mungkin ini karena Jelita yang sedang mengandung dua janin.
"Kamu nggak apa-apa, Yo?" tanya Gavin setelah Ryo keluar dari kamar mandi.
"Ya, ini sudah biasa," jawab Ryo.
Gavin menatap prihatin Ryo, merasa kasian.
"Ck, jangan menatapku seperti itu," sengit Ryo dengan decakan, "Sebaiknya kamu meratapi skripsimu yang nggak berjalan lancar itu."
"Hais, jangan mengungkit hal yang membuatku down dong," kilah Gavin lesu seketika.
"Kan sudah aku bilang kamu harus menjinakkan si Ibu Dosen itu," ujar Ryo.
Ke dua pemuda itu berjalan menuju arah kantin.
"Aku nggak tahu caranya, lagi pula aku jadi merasa canggung saat tahu dia adalah cewek itu."
Entah kenapa Gavin merasa canggung, dia merasa jika Sachi sudah memberi kata 'warning' untuk tidak mendekat. Mungkin Sachi memang benar-benar sudah bersuami.
"Apa kamu mau tips-tips menjinakkan dariku?" Ryo menarik turunkan alis tebalnya.
"Nggak deh, terima kasih."
Setelah banyak kegagalan Jefra yang mendapat tips dari Ryo, tentu saja Gavin tidak mau diberi tips percintaan yang pasti berujung menyesatkan. Lagi pula dia tidak ingin menjalin affair dengan Istri orang.
"Awas!"
Sebuah teriakan mengagetkan Ryo dan Gavin. Ada sebuah pot bunga yang terjatuh dari lantai 3, tepat di atas kepala Gavin.
Prrakk
"Gavin!"
Hal terakhir yang Gavin rasakan adalah rasa sakit pada tempurung kepalanya, dan Ryo yang berteriak panik. Apa dia akan mati muda? Mati dalam keadaan jomblo ngenes?
Gavin benar-benar meratapi nasib sialnya. Kemudian kegelapan mengambil alih kesadarannya.
__ADS_1
_To Be Continued _