
"Aku mencintaimu, Jelita," ucap Ryo sembari mencium kening Jelita, menjalar ke dua pipi, hidung, dan dagu, membuat si empunya menggerang geli dibuatnya. Terlebih Ryo beralih menjilat garis bibir Jelita yang berkilat dan agak membengkak karena ulahnya.
Jelita mulai melingkar ke dua tangannya pada leher Ryo saat bibir mereka bertemu kembali dalam sebuah ciuman panas. Ryo sengaja mengalihkan perhatian Jelita di saat memulai penyatuan di bawah sana.
Tidak bisa menahan diri lagi, Ryo langsung memasuki Jelita dengan satu kali sentakan yang mampu membuat Jelita menjerit kesakitan.
"Argh! Sakit...," rintih Jelita, kuku-kuku jarinya menancap pada leher dan punggung Ryo.
Ryo sendiri tidak memperdulikan rasa sakit akibat kuku jari Jelita, dia terlalu merasakan nikmat saat berhasil menerobos masuk, dan mendobrak selaput penghalang yang mengakibatkan darah segar mengalir pada penyatuan mereka.
"Hiks, sa-sakit, Ryo..."
"Oh..." Ryo mencoba merendam geram nikmatnya, "Jangan menangis, sayang," ucapnya lembut seraya mengusap air mata yang menetas keluar dari mata indah Jelita.
Sejatinya Ryo ingin sekali segera bergerak. Namun, dia ingin membuat Jelita terbiasa dulu dengan keberadaan miliknya itu.
"Ja-jangan bergerak, hiks..."
Ryo bungkam seketika, bagiamana bisa dia tidak bergerak saat miliknya sudah meronta-ronta ingin dipuaskan?
"Ya," ucap Ryo berbohong.
"Janji?" Jelita menuntut janji Ryo untuk tidak bergerak, dia sangat merasakan sakit di bawah sana.
Ryo terlihat frustasi karena Jelita yang menuntut akan janji.
"Aku takut kalau terbelah menjadi dua karena kamu bergerak," sambung Jelita dengan polosnya.
Ryo mengigit pipi bagian dalamnya karena menahan gemas, Bisa-bisanya Jelita bersikap menggemaskan di saat seperti ini?
"Shtt, jangan takut... kamu nggak akan terbelah menjadi dua," Ryo mendesis saat dirinya merasa semakin sesak di bawah sana, jika seperti ini terus dia akan mencampai puncak tanpa harus menghujam.
Tidak, tentu saja Ryo tidak ingin itu terjadi.
"Maaf, sayang..."
Sebelum Jelita bisa berkata apapun, Ryo langsung menggerakkan tubuhnya untuk memompa masuk dan keluar.
"Ahh!"
Jelita memekik kesakitan, air matanya pun menetes kembali. Ryo telah berbohong padanya.
Kemudian bibir mereka menyatu kembali, tangan Ryo juga ikut andil untuk meremas bongkahan milik Jelita yang bergoyang ke sana kemari.
Lama kelamaan rasa sakit yang Jelita rasakan menjadi rasa nikmat yang seakan membawanya ke langit ke tujuh, dia bahkan tidak henti-hentinya untuk mende-sah.
Malam yang begitu mempesona dengan bintang-bintang berkelip-kelip dan bulan yang tergantung indah memancarkan sinarnya, menjadi saksi bisu atas penyatuan panjang mereka berdua.
**
Sinar bulan yang mengintip dari celah gorden lambat laun menjadi sinar mentari pagi.
__ADS_1
Drett Drett
Getaran ponsel di atas meja mengusik Ryo yang tengah tidur dengan posisi tengkurap, mengakibatkan punggung te-lanjangnya terekspos. Dengan malas Ryo meraih ponselnya dan mengangkat panggilan telepon tanpa melihat siapa yang menganggu tidurnya.
"Halo," sapa Ryo dengan suara serak sehabis bangun tidur, matanya masih terlihat berat untuk terbuka.
[Ryo, kamu sedang di mana? Nggak kuliah?]
Kuliah?
Seketika mata hazel pemuda itu terbuka sepenuhnya, dia melirik jam pada dinding kamarnya yang menunjukan pukul 10 pagi.
Dia bangun kesiangan.
Kenapa bisa dia kesiangan? Dan kenapa Jelita tidak membangunkan...
"Je-Jelita," Ryo yang baru tersadar segera mencari keberadaan Jelita di kamarnya.
Namun, Jelita tidak ada.
[Ryo? Kamu masih di sana? Ada apa dengan Jelita?]
Ryo hampir lupa dengan sambungan telepon yang masih terhubung, lalu dia melihat layar ponselnya untuk melihat siapa yang meneleponnya.
Gavin.
"Ya, Vin. Nggak apa-apa. Aku kesiangan jadi nggak ngampus hari ini."
[Aku kira terjadi sesuatu denganmu dan Jelita sehingga kamu nggak datang ke kampus.]
"Ng-nggak. Sudah ya, aku matikan dulu."
[Ry—]
Ryo segera menyingkap selimut yang membalut setengah tubuhnya, dia terkejut karena melihat adanya bercak darah di seprai dan keadaan dirinya yang te-lanjang bulat. Lalu dia mengacak rambutnya kasar.
"Jadi itu bukan mimpi?" gumamnya.
Ryo terlihat menyesal karena telah merusak Jelita yang seharusnya dia jaga kehormatannya itu.
Setelah hanyut dalam kekalutan hatinya, Ryo segera bangkit untuk ke kamar mandi. Dia berniat membersihkan diri dan kemudian mencari Jelita.
Dia yakin jika Jelita pasti sedang menangis saat ini.
"Aku benar-benar bereng-sek," umpat Ryo pada dirinya sendiri.
**
Ryo yang sudah rapi dengan memakai t-shirt oversize berwarna putih dipadukan celana jeans blue sky sedang berdiri di depan pintu kamar Jelita.
Tok... Tok... Tok
__ADS_1
Dengan agak ragu Ryo mengetuk kamar Jelita yang tertutup rapat.
"Jelita..." panggil Ryo dengan nada yang lembut.
Hening.
Ryo menelan saliva berat, "Sayang..."
Masih hening.
"Apa kamu marah? Aku mohon, maafkan aku," ucap Ryo dengan tatapan sendu akan syarat penyesalan.
Masih tidak ada jawaban dari dalam.
"Aku tahu seberapa besar penyesalanku, aku nggak akan bisa mengembalikan waktu," Ryo menempelkan keningnya pada daun pintu, "Mungkin kata maaf nggak akan cukup untuk menyembuhkan lukamu. Tapi hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini," lanjutnya.
Ryo berbalik dan bersandar pada daun pintu, lalu merosot ke bawah. Terduduk dengan perasaan sakit karena Jelita tidak memperdulikannya. Jika dia bisa, dia ingin bertanggung jawab untuk segera menikahi Jelita.
Namun, pernikahannya dengan gadis lain sudah diatur dan akan terjadi lusa.
Ryo meremas rambutnya frustasi.
"Tuan muda."
Ryo segera mendongak saat mendengar seseorang memanggilnya. Harapannya sirna saat tahu jika itu adalah suara Jefra yang memanggilnya, bahkan dia jadi tidak bisa membedakan suara perempuan dan laki-laki karena keadaan hatinya terlalu kacau.
"Sedang apa di sini, tuan muda?" tanya Jefra kemudian, dia agak terkejut saat melihat Ryo lesehan di depan pintu kamar Jelita.
Ryo menggeleng lemah, tidak ada niatan baginya untuk berkata jujur pada Jefra.
"Apa karena Jelita pergi?" tanya Jefra yang membuat Ryo mematung seketika.
"A-apa?" Ryo tercekat dan langsung bangkit dari posisi duduknya menjadi berdiri, "Apa maksudmu, Jefra?" tanyanya.
"Apa tuan muda tidak tahu? Jelita sudah menundurkan diri menjadi Bodyguard, dia bahkan sudah pergi dari rumah ini," jawab Jefra.
Deg
Jantung Ryo seolah berhenti berdetak, kakinya pun mendadak tertancap kuat pada pijakannya.
"Kamu jangan bercanda, Jefra," kata Ryo dengan nada yang bergetar.
"Aku tidak bercanda. Itulah mengapa saya berada di sini, mulai hari ini dan seterusnya sayalah yang akan menjadi Bodyguard tuan muda," kilah Jefra dengan ekspresi yang serius, tidak ada raut bercanda di sana.
"Je-Jelita..." gumam Ryo pelan.
"Jelita menitipkan surat ini untuk diberikan pada tuan muda," ucap Jefra seraya memberikan secarik kertas pada Ryo.
Dengan tangan yang agak gemetar Ryo menerima secarik kertas yang diberikan Jefra.
_To Be Continued_
__ADS_1