
"Untuk menyelesaikan pertidaksamaan tersebut, kalian dapat membagi kasus untuk x ≥ 2x ≥ 2 dan x < 2x < 2. Lebih panjang memang, tapi itulah cara kerja matematika yang mencoba membangun nalar kita. Kita harus mampu memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi—"
Penjelasan Dosen di depan kelas tidak diacuhkan Ryo, pandangannya bahkan terarah pada Jelita yang duduk di kursi depan, memandang bahu kecil gadis itu.
"Kenapa bahunya kecil sekali? Padahal makannya banyak," gumam Ryo pelan.
"Bisa-bisa punggung jelita bolong di liatin mulu sama kamu, Yo," celetuk Gavin sambil berbisik, dia duduk di sebelah Ryo.
Ryo melirik sekilas Gavin dengan ekor matanya, lalu kembali menatap Jelita, "Apa aku salah mencintai Jelita?" tanyanya dengan lirih.
Gavin agak terkejut, dia sebenarnya juga tahu jika Ryo memiliki perasaan lebih untuk Jelita, "Mencintai Jelita nggak salah, yang salah itu mencintai bapaknya," ucapnya mencoba memberi semangat.
"Masalahnya nggak semudah yang kamu pikirkan, Vin," ujar Ryo.
"Ya, aku memang nggak tahu masalah apa yang sedang kamu hadapi," Gavin membenarkan, "Tapi, aku heran saja, bisa-bisanya kamu menikah dengan cewek lain sedangkan kamu mencintai Jelita," ucapnya.
Ryo terdiam, kalau bisa memilih dia juga tidak mau menikah dengan gadis yang bahkan belum pernah ditemui itu, namanya saja dia lupa.
"Ini demi Ibuku," lirih Ryo.
Gavin bungkam, dia memang tidak tahu detail dari masalah yang Ryo hadapi.
Satu kata yang ingin Gavin katanya, "Sabar," ucapnya.
Ryo memutar bola matanya, percuma saja dia mengutarakan kegalauan pada Gavin jika ujung-ujungnya diberi nasihat sabar.
"Gavin Albercio," panggil Dosen pada Gavin.
"Y-yes, sir," sahut Gavin gugup.
"Apa kamu sudah mengerti apa yang saya jelaskan barusan?" tanya Dosen.
Gavin melirik Ryo, tapi Ryo tidak melihatnya balik, Ryo sepertinya sedang cari aman.
"Sudah, sir," jawab Gavin ragu, dia bahkan tidak mendengarkan penjelasan Dosen sama sekali.
"Baiklah, coba ulangi penjelasan saja."
'Mati aku,' pikir Gavin mendadak keringat dingin.
**
Pukul 17.00 sore.
Di kantor, tepatnya di ruang kerja Ryo, terlihat Ryo yang sedang bergelut dengan pekerjaannya, tatapannya fokus pada layar komputer dan dokumen di atas meja.
Sedangkan Jelita sejak tadi berdiri di belakang Ryo. Jika ditanya pegal, tentu saja pegal, sepertinya ini adalah efek terlalu lama libur.
"Duduk saja," ucap Ryo tanpa mengalihkan atensinya, sejatinya dia khawatir dengan kaki Jelita yang baru saja sembuh dari terkilir. Tanpa Jelita sadari Ryo curi-curi pandang padanya lewat monitor komputer yang memantulkan bayangannya.
Jelita berkedip beberapa kali, itu adalah kata pertama yang diucapkan Ryo selama 4 hari ini, dia seakan tuli karena saking tidak percaya jika Ryo berbicara padanya.
"Duduk," Ryo mengulangi ucapnya.
"Ah, nggak, aku di sini saja," tolak Jelita.
Dia memang harus bersikap selayaknya Bodyguard pada umumnya.
__ADS_1
"Yasudah."
"Ya, tuan muda."
Meskipun masih canggung, tapi Jelita cukup senang karena Ryo sudah mau berbicara dengannya.
Kemudian Ryo meraih ganggang telepon dan menekan tombol untuk menghubungi asistennya.
"Pesankan aku 2 porsi makanan," titah Ryo.
"..."
"Aku tidak sempat untuk keluar makan malam."
"..."
"Ya."
Sambungan telepon pun terputus, Ryo kembali pada pekerjaannya.
Jelita yang mencuri dengar merasa heran kenapa Ryo memesan 2 porsi makanan, apa Ryo terlalu lelah hingga kelaparan?
Jika itu benar, ingin sekali Jelita membantu Ryo. Dia adalah seorang CEO tentu saja membantu pekerjaan Ryo bukanlah hal yang sulit.
Namun, itu sama saja membongkar identitasnya.
20 menit berlalu.
Tok... Tok
"Masuk," jawab Ryo mempersilahkan si pengetuk pintu.
Terlihat Jefra menampakkan diri dari balik daun pintu, pemuda itu sudah kembali ke pekerjaan semulanya dan meninggalkan peran sementara menggantikan Jelita sebagai Bodyguard. Jefra memang bertugas menjadi asisten Ryo di kantor.
"Ini pesanannya, tuan muda," ucap Jefra seraya meletakkan bungkusan yang berisikan 2 porsi makanan di meja dekat sofa.
Ruang kerja Ryo memang cukup luas, terdapat sofa berwarna maron di tengah-tengah ruangan.
"Ya," Ryo mengangguk dan masih fokus pada aktivitasnya.
"Kalau begitu, saya permisi," ujar Jefra menundukkan badannya berniat pamit.
"Ya," jawab Ryo.
Jefra mengangguk singkat pada Jelita dan segera pergi setelah mendapatkan balasan anggukan dari Jelita.
Setelahnya Ryo bangkit dari posisi duduknya, dia melakukan perenggangan dengan menyatukan jari tangannya, kemudian menekannya. Itu lumayan membuat otot-ototnya terasa santai.
Lalu dia berjalan menuju sofa, "Sini duduk," ucapnya pada Jelita sembari menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.
"Aku di sini saja," tolak Jelita lagi.
"Jangan membatah, patuhilah perintah majikanmu," ujar Ryo yang tidak ingin dibantah.
Pada akhirnya Jelita menurut, lagi pula kakinya menang sudah pegal. Dia berjalan menuju sofa dan mendudukkan bokongnya di sebelah Ryo.
Ryo membuka bungkusan yang tadi dibawakan Jefra dan mengeluarkan 2 porsi makanan dari sana, terdapat chicken katsu dan jus buah.
__ADS_1
"Makan," ucap Ryo.
"Ah, ya. Makan saja," ujar Jelita, dia beranggapan jika Ryo hanya menawarinya makan saja.
"Kamu juga makan," kilah Ryo seraya memberikan 1 porsi makanan yang lain pada Jelita.
"Ini untukku?" tanya Jelita memastikan lagi, dia menatap makanan yang diberikan Ryo.
"Ya, aku nggak mungkin menghabiskan semuanya," jawab Ryo.
Jelita tersenyum, "Terima kasih," ucapnya, dia senang karena Ryo kembali memberikan perhatian padanya.
"Hmm," Ryo hanya bergumam.
Kemudian mereka menyantap makanan masing-masing.
"Aku minta," ucap Ryo tiba-tiba.
"Minta apa?" tanya Jelita bingung.
"Makananmu," jawab Ryo agak ragu.
Jelita semakin bingung, "Katanya ini untukku, kenapa minta?" tanyanya.
"Aku ingin mencicipinya," jawab Ryo, padahal dia hanya ingin disuapi Jelita saja.
"Padahal sama-sama chicken katsu," Jelita mengerutkan alis karena semakin bingung dengan sikap Ryo.
"Pokoknya aku ingin mencicipi," final Ryo, "Suapi aku," pintanya dan membuka mulutnya menanti suapan dari Jelita.
Jelita menghembuskan napas pasrah, lalu dia menyuapi Ryo, "Rasanya sama saja kan?" tanyanya.
"Lebih enak punyamu," jawab Ryo sembari mengunyah.
Jelita mengangkat alisnya, "Masa, sih?" tanya merasa tidak percaya.
"Ya, aku ingin memakan punyamu saja," ucap Ryo.
Lantas kenapa Ryo memberikan Jelita makanan jika ujung-ujungnya Ryo juga yang memakannya?
Sebelum Jelita menyuarakan isi hatinya Ryo segera menyela, "Kita makan berdua," ucapnya.
"Maksudnya?" tanya Jelita.
Ryo menyingkirkan makanan miliknya, lalu mengambil sumpit, "Kamu suapi aku dan aku akan menyuapi kamu," jelasnya.
Jelita agak terbelalak, "Ta-tapi—"
"Ini makan," ucap Ryo memotong perkataan Jelita, dia mengambil ayam dengan sumpit dan menyodorkannya di depan mulut Jelita.
Mau tidak mau Jelita membuka mulutnya dan menerima suapan Ryo.
"Suapi aku lagi," pinta Ryo.
Setelah merasa kecanggungan selama 4 hari, kini mereka justru saling suap-suapan. Sepertinya mereka harus berterima kasih pada chicken katsu yang sudah mencairkan kecanggungan itu.
_To Be Continued_
__ADS_1