Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Otot Perut


__ADS_3

"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Sachi.


"Kepalaku pusing sekali, aku tidak bisa tidur," jawab Gavin jujur.


Sachi menatap iba si pemuda. Jika bukan karenanya Gavin tidak mungkin mengalami sakit seperti itu, "Apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu nyaman?" tanyanya.


Gavin terkejut dengan pertanyaan Sachi. Membuat nyaman? Oh, Gavin mengharapkan lebih atas pertanyaan itu. Lalu dia segera menggeleng cepat.


'Ingat dia Istri orang, aku tidak boleh jadi pembinor seperti yang Ryo bilang,' batin Gavin mencoba menguatkan iman.


"Aku ingin minum," ucap Gavin, mendadak tenggorokan kering.


"Akan aku ambilkan."


Sachi beranjak untuk mengambil air minum, diraihnya sebuah botol air mineral yang berada di meja. Lalu menuangkannya ke gelas. Sedangkan Gavin masih terus memperhatikan gadis manis itu, tatapannya tidak bisa teralihkan sedikitpun, seperti telah tersihir. Bagaimana cara Sachi menuangkan air dengan tangan yang agak gemetar juga tidak luput dari tatapannya.


Tunggu. Gemetar?


'Apa dia takut padaku?' batin Gavin.


"Kamu takut padaku?" tanya Gavin menyuarakan isi hatinya.


Dan itu sukses membuat Sachi terkejut, bahkan sampai menjatuhkan botol air mineral yang di tangannya, hingga airnya tumpah di lantai.


"Tidak," jawab Sachi cepat, diambilnya botol yang jatuh itu.


Sachi merutuki dirinya sendiri, padahal dia sudah meyakinkan diri untuk menghilangkan rasa takutnya karena Gavin sudah tahu kalau dia sudah bersuami. Akan tetapi tatapan Gavin yang intens membuatnya cemas. Ingin sekali dicoloknya bola mata cokelat pemuda itu.


"Ini minumlah," ucap Sachi seraya menyodorkan gelas yang sudah berisikan air.


Namun, sebelum Gavin menerimanya, kaki Sachi terpeleset karena air yang tumbuh di lantai. Ke duanya begitu terkejut dengan hal yang tidak terduga itu. Air yang di gelas menyiram Gavin, lalu Sachi terjatuh ke arah tubuh bagian bawah pemuda itu.


Brukk


Seketika wajah Gavin memerah, bukan marah atau merasakan sakit, tetapi karena wajah Sachi berada tepat di area lelakinya.


"Damn," maki Gavin dengan pelan.


Setelah mencuri ciuman di bibir, kini Sachi mencuri ciuman di... Gavin menelan saliva berat, tidak sanggup untuk meneruskan pemikirannya itu.


Wajah Sachi tidak kalah merah dengan Gavin, dia langsung berusaha bangkit dari posisi jatuhnya. Namun, kakinya terpeleset lagi hingga terjatuh ke tempat yang sama.


"Ugh," rintihan Gavin pun akhirnya lolos.


Gavin segera bangkit terduduk, membantu Sachi untuk menjauh dari benda terlarangnya.

__ADS_1


"Ka-kamu tidak apa-apa?" tanya Gavin setelah menenangkan gejolak aneh pada dirinya.


"Ti-tidak apa-apa, maafkan aku. Aku akan membersihkan lantainya... " perkataan Sachi terpotong karena melihat keadaan Gavin yang basah karena terkena siraman air, "Bagaimana ini? Aku sudah membuatmu basah," lanjutnya.


Kini yang dirasakan Sachi adalah malu, panik, dan merasa tidak enak. Sejak dulu dia memang sungguh ceroboh.


"Sudahlah, aku hanya terkena air saja," kilah Gavin.


Kemudian Sachi mulai membersihkan lantai yang menjadi penyebab rasa malunya itu.


Sedangkan Gavin mengelap wajahnya yang basah dengan tisu, untunglah perban yang di kepalanya tidak ikut basah juga. Namun, Gavin merasa harus mengganti baju, kalau memakai baju basah diruang ber-AC yang ada bisa masuk angin. Dan Itu yang menjadi masalahnya. Dirinya tidak bisa mengganti baju sendiri, tangannya sedang di infus.


Lalu Gavin menatap Sachi yang sudah selesai membersihkan lantai. Padahal gadis itu bisa menyuruh petugas kebersihan untuk membersihkannya. Sepertinya Sachi bukanlah tipe gadis yang suka menyusahkan orang lain. Oh, Gavin jadi bertambah menyukainya. Tetapi dia harus sekuat tenaga untuk menekan perasaannya itu. Gavin harus mengingat tentang kenyataan Sachi yang sudah bersuami.


"Hmm, Mrs. Sachi," panggil Gavin agak ragu.


"Ya?" Sachi mendekat.


"Bisa tolong bantu aku mengganti baju," ucap Gavin dengan hati-hati.


Sachi terdiam sesaat, wajahnya memerah lagi. Haruskah? Tetapi sedetik kemudian dia paham dengan keadaan Gavin.


"Ya."


"Kamu bisa menyalakan lampu───"


Jika lampu dinyalakan yang ada semakin tidak kuatlah Sachi.


"Oke," Gavin mengangguk.


Kemudian Sachi mulai melepas kaitan kancing baju yang Gavin kenakan, tangannya gemetar. Sachi benar-benar tremor dibuatnya.


"Santai saja. Bukankah Mrs. Sachi harus terbiasa dengan ini? Kamu yang akan merawatku, bukan?" Gavin mencoba mencairkan suasana yang canggung itu.


"Y-ya, aku akan mem-membiasakan diri," jawab Sachi.


Sachi meyakinkan dirinya untuk tenang dan tidak terbawa suasana. Gavin hanyalah muridnya. Seorang mahasiswa yang masih bau kencur. Sedangkan dia adalah wanita dewasa 26 tahun.


'Anggap saja adik yang sedang digantikan baju,' batin Sachi.


Tetapi, mana ada badan seorang adik yang memiliki otor diperut. Tanpa sadar Sachi menelan saliva ketika semua kancing baju Gavin terbuka. Dia pun mencoba menghitung jumlah otor perut itu. Walaupun lampu dimatikan, tapi Sachi masih bisa melihatnya.


"Ada enam."


"Hah?"

__ADS_1


Sachi langsung menutup erat bibirnya. Bisa-bisanya dia bersuara tanpa sadar. Beruntunglah karena pendengaran Gavin sedang berdenging, jadi tidak terlalu mendengar jelas ucapannya.


Lalu diloloskannya baju itu dengan hati-hati.


"Bajuku ada di lemari," kata Gavin berinisiatif memberitahu sebelum Sachi bertanya.


"Ya."


"Hati-hatilah, nanti kamu terpeleset lagi," ucap Gavin terkekeh.


Wajah Sachi sudah mengebul rasanya. Dia benar-benar malu. Tanpa menjawab ucapan Gavin, Sachi segera mengambil baju di lemari yang dimaksud. Mengambil kemeja berwarna biru muda. Kemudian mulai memakaikannya pada Gavin, dengan sedikit menutup matanya. Sachi tidak mau dicap sebagai gadis mesum hanya karena mengagumi otot perut.


Sachi baru menyadari ini. Dia memang takut dengan cinta, tetapi dia juga wanita dewasa yang memiliki ketertarikan pada pahatan otot perut seorang laki-laki. Sachi merasa otaknya sudah tercemar karena muridnya sendiri.


'Aku harus konsultasi pada Dokter Renata setelah ini,' pikir Sachi.


"Sudah," ucap Sachi dengan menghembuskan napas lega. Akhirnya dia dapat menggantikan Gavin baju.


"Terima kasih, Mrs. Sachi," Gavin tersenyum lebar. Senyum yang menunjukan gigi yang terlihat putih dan mata menyipit. Sachi bisa melihat tahi lalat yan cukup unik pada kelopak mata kiri Gavin, dua tahi lalat yang berjejeran.


"Hmm, sama-sama," jawab Sachi setelah berdeham.


Kemudian ruang rawat VIP itu hening. Suasananya menjadi canggung seketika. Gavin kembali menidurkan dirinya, sedangkan Sachi kembali duduk di kursi sebelah ranjang. Hanya terdengar suara jarum jam yang menggantung manis di dinding, saat ini sudah pukul 11 malam.


"Kenapa Mrs. Sachi terlihat takut padaku?" tanya Gavin memecah keheningan.


Sachi terperanjat karena pernyataan Gavin. Apa kecemasannya sangat terlihat? Padahal dia sudah berusaha untuk bersikap tenang.


"Padahal bisa jadi apa yang kamu takutkan, di saat yang sama, dia juga malah takut padamu," ucap Gavin lagi.


Seketika Sachi menatap Gavin yang ternyata sedang menatapnya juga. Tatapan mereka bertemu satu sama lain, hingga Gavin yang memutuskan kontak mata itu. Padahal dia yang menatap duluan, tapi justru gugup sendiri.


"Kamu takut padaku?" tanya Sachi tidak percaya.


"Ya, aku takut kalau Suamimu tiba-tiba datang ke sini, lalu memukulku yang sedang sakit ini," ucap Gavin terkekeh.


Sachi mengulum senyum dibuatnya, "Itu tidak mungkin."


"Siapa tahu, bukan? Tidak ada suami yang tidak memperdulikan Istrinya. Aku yakin kalau suamimu pasti cemburu saat tahu kalau kamu sedang merawat cowok lain."


"Tidak."


Gavin menatap Sachi bingung, "Tidak apanya?"


"Itu tidak benar. Buktinya Ayahku tidak memperdulikan Ibuku," ucap Sachi seraya meremas rok span yang dikenakannya.

__ADS_1


"Apa kamu sedang mengatakan kalau semua cowok itu sama?"


_To Be Continued _


__ADS_2