Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Menjadi Dosbing Yang Baik


__ADS_3

"Itu tidak benar. Buktinya Ayahku tidak memperdulikan Ibuku," ucap Sachi seraya meremas rok span yang dikenakannya.


"Apa kamu sedang mengatakan kalau semua cowok itu sama?"


Gavin tidak tahu ada masalah apa di antara Ayah dan Ibu Sachi, tapi dari responnya menunjukan jika gadis itu menganggap semua laki-laki buruk dalam memperlakukan perempuan. Mungkin Sachi juga beranggapan kalau suaminya tidak memperdulikannya. Ya, itulah pikiran Gavin saat ini.


Sedangkan Sachi semakin mengeratkan remasan pada rok span yang dikenakannya.


"Stop berpikir kalau semua cowok sama saja, karena aku juga seorang cowok. Kamu tidak bisa menyamakan semua cowok kalau mereka semua berkelakuan buruk. Kamu hanya telah melewati kenangan dengan orang yang salah, bukan berarti kamu akan bertemu orang yang salah terus menerus. Jangan sampai sakit hatimu atau rasa takutmu dengan satu cowok membuatmu mengira tidak ada lagi cowok yang pantas disebut baik."


Dengan perlahan Sachi melepaskan remasan di roknya. Tetapi dia masih diam saja, ditundukkan wajahnya.


"Aku memang tidak tahu tentang masalah apa yang telah kamu alami, tapi kamu harus tahu bahwa kamu dapat melawan perasaan yang mengganggumu itu. Kamu pasti bisa melakukan itu, percayalah pada dirimu sendiri."


Tetesan kristal bening perlahan turun dari pelupuk mata Sachi. Gavin bisa menenangkan perasaannya tanpa harus tahu tentang apa yang Sachi alami. Bagaimana bisa pemuda yang terlihat serampangan justru memiliki kata-kata yang membuat hatinya menghangat.


Sachi segera menghapus air matanya, dia tidak mau jika Gavin melihatnya.


"Jadi tidak usah takut padaku lagi, ya," sambung Gavin yang tidak menyadari air mata Sachi, karena keadaan ruangan yang memang sedikit gelap.


"Mana mungkin aku takut pada muridku sendiri," kata Sachi yang sudah merasa lebih tenang.


Gavin tertawa mendengarnya, "Ya, memang seharusnya akulah yang takut padamu. Kelulusanku kan ada di tanganmu."


"Tenang saja. Sebagai Dosen pembimbing yang baik, aku akan membantumu," ucap Sachi dengan mengulum senyum.


Gavin melebarkan bola matanya. Apa dia telah berhasil 'menjinakkan" Dosbingnya yang ketus dan cuek itu?


"Mrs. Sachi tidak akan menyuruhku revisi berkali-kali lagi?" tanya Gavin untuk memastikan.


"Tentu saja aku akan menyuruhmu revisi kalau ada kesalahan dalam menulis skripsi," jawab Sachi dengan profesional.


Gavin merenggut, dia sangat kesal jika harus terus menerus disuruh revisi.


Sachi memberanikan diri untuk mengacak rambut Gavin dengan pelan, dengan gerakan hati-hati agar tidak menyakiti kepala si pemuda yang sedang terluka. Dan sukses membuat Gavin merona merah.


"Sebagai Dosen pembimbing yang baik, tentunya aku akan memberi tahu dan mengarahkan apabila kamu salah dalam mengerjakan skripsi, dan tidak mendiamkannya. Aku akan mengajarkanmu kedisiplinan dan bertanggung jawab dalam mengerjakan penelitian itu."


"Y-ya, Mrs. Sachi," ucap Gavin kaku.


'Tenang Gavin, dia istri orang,' batin Gavin berkali-kali mencoba mengingatkan hatinya yang berdegup kencang.

__ADS_1


Perasaannya adalah kesalahan. Seharusnya, Gavin bersyukur karena Sachi sudah tidak takut padanya lagi, bahkan mau menjadi Dosen pembimbing yang baik untuk membantunya mengerjakan skripsi. Dia tidak boleh memiliki perasaan lebih pada Dosen manis itu.


Di lain sisi, Sachi merasa jika Gavin tidak semenakutkan yang dia kira. Ternyata ketakutan hanyalah pengetahuan yang tidak lengkap. Seharusnya Sachi memang tidak asal menilai Gavin saat pertama kali bertemu, dirinya salah karena sudah merasa takut hanya karena pemuda itu menanyakan nama dan nomor ponselnya. Namun, kenyataannya Gavin tidaklah seburuk itu.


"Gavin, aku minta maaf karena telah membuatmu terluka," ucap Sachi kemudian.


"Tidak apa-apa, Mrs. Sachi. Aku justru senang karena berkat luka ini, Dosbingku jadi membantuku membuat skripsi."


Mendengarnya Sachi jadi semakin merasa tidak enak.


**


Beralih tempat, tepatnya di kamar pasangan Ryo dan Jelita.


Terlihat Jelita yang sedang tidur menyamping, miring ke sebelah kiri.


"Sudah tidur?" tanya Ryo yang memeluk Jelita dari belakang, ditariknya dengan lembut tubuh Istrinya itu agar semakin merapat padanya.


"Aku sudah tidur," jawab Jelita sembari memejamkan mata.


"Sudah tidur kok bisa ngomong," Ryo terkekeh.


Jelita diam saja, dia lagi tidak ingin bercanda gurau dengan Suaminya, pikirannya masih terganggu dengan wangi parfum wanita yang tadi sempat dia cium.


Ryo mengecup pucuk kepala Jelita. Lalu menyelusupkan tangannya ke dalam baju baby doll yang dikenakan Istrinya, berniat mengelus perut buncit yang di dalamnya. Namun, Jelita langsung menepis tangan Ryo, hingga membuat terkejut.


"Mommy, kenapa? Marah?" tanya Ryo menuntut penjelasan.


Jelita masih diam saja.


"Sayang~"


"Jangan panggil sayang."


Ryo langsung membalikkan badan Jelita hingga menghadapnya, dia benar-benar terkejut dengan apa yang dikatakan Istrinya itu. Dan semakin terkejut saat melihat ada jejak air mata di wajah cantik Jelita. Segera dihapusnya jejak air mata itu. Lalu memberikan kecupan di ke dua mata.


"Jangan menangis, sayang. Kamu kenapa? Apa aku berbuat salah?" tanya Ryo terlihat panik saat mengetahui jika sang Istrinya menangis.


"Kamu jahat," ucap Jelita sesenggukan.


"Aku jahat kenapa, sayang? Bicaralah padaku," ujar Ryo terus mendesak Jelita untuk menjelaskan.

__ADS_1


"Parfum..." lirih Jelita.


"Jadi kamu masih memikirkan wangi parfum yang tadi?" tanya Ryo hampir tergelak, dia kira istrinya itu kenapa, ternyata hanya karena masalah parfum.


Jelita mengangguk, "Parfum siapa?" tanyanya.


"Apa kamu sedang nggak percaya dengan Suamimu ini?" Ryo justru bertanya balik.


"Aku percaya padamu," bantah Jelita cepat.


"Terus kenapa masih bertanya seperti itu, hmm?" tanya Ryo lagi.


Jelita menggigit bibir, entahlah dia juga tidak tahu.


Ryo mengecup bibi Jelita sekilas.


"Itu bukan parfum siapa-siapa, kamu jangan berpikir macam-macam."


"Benarkah?"


Ryo memberikan senyuman terbaiknya, "Aku sangat mencintaimu, jika kamu mencintaiku dengan satu degup jantung, maka aku mencintaimu dengan seribu degup jantung. Bagaimana bisa aku macam-macam di belakang bidadariku."


Jelita terdiam dengan wajah yang bersemu senang. Harusnya dia memang tidak meragukan Suaminya, mungkin karena efek sedang hamil dia jadi lebih sensitif dan perasa.


"Lagi pula aku nggak berani, aku takut ditinju sama bumil," Ryo terkekeh pelan.


"Memangnya aku tukang tinju," Jelita memukul pundak Ryo.


"Tuh kan kamu memukulku, aduh sakit sekali, sepertinya tulang pundakmu patah," ucap Ryo degan lebay.


Ryo menjatuhkan badannya di samping Jelita, membuat pose meringkuk dengan memegang pundak.


"Aku nggak memukul sekencang itu deh," Jelita memutar bola matanya, mau heran tapi pemuda itu adalah suaminya.


"Tolong periksalah ini sakit sekali," rengek Ryo .


"Sini aku lihat," kata Jelita pada akhirnya.


"Bukain bajuku dulu, ya. Terus kamu bisa lihat pundakku," ujar Ryo.


Benar-benar ada maksud tersembunyi. Ryo sungguh bisa mengambil kesempatan di setiap waktu.

__ADS_1


Jelita sampai melongo dibuatnya.


_To Be Continued_


__ADS_2