Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Suami Terbaik


__ADS_3

"Jelita, maafkan aku."


Kenapa Ryo tiba-tiba meminta maaf? Jelita bingung dibuatnya.


"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Jelita.


"Maaf, untuk hal-hal buruk yang pernah aku lakukan dulu padamu. Aku merasa malu atas apa yang pernah aku lakukan," ucap Ryo dengan kepala tertunduk.


Tangan Jelita bergerak memegang pipi kanan Ryo untuk melihat wajah tampan suaminya itu.


"Ketika kesalahan masa lalu terus mengganggu, di situlah kamu menjadikannya pembelajaran. Yang sudah berlalu biarkan berlalu. Kini saatnya untuk menjalani hidup dengan menjadikan penyesalan sebagai pengalaman untuk menjadikanmu pribadi yang lebih baik," ujar Jelita.


"Tapi sampai sekarang aku belum bisa jadi yang terbaik dan hanya bisa bersikap manja," tukas Ryo.


"Siapa bilang, hmm? Suamiku adalah yang terbaik. Kamu adalah yang terbaik bagiku dan bayi kita."


Ya, itulah Ryo di mata Jelita.


Ryo memang bukanlah pria yang sempurna dalam segala aspek, sejujurnya Jelita pun mendambakan sosok suami yang sempurna. Namun, Jelita menyadari bahwa sepasang suami istri diciptakan untuk saling melengkapi kesempurnaan itu.


Ryo tertegun dengan perkataan Jelita, sungguh tersentuh.


"Hari ini, kemarin, dan seterusnya, aku akan selalu bahagia dan berterima kasih kepadamu, Jelita. Kamu dan bayi kita adalah sumber kebahagiaanku," ucap Ryo dengan tulus dari dalam hati.


"Ryo, kamu juga telah membuatku merasakan arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Terima kasih," ucap Jelita.


Mereka berdua tidak memiliki rasa gengsi untuk saling mengungkapkan rasa kasih sayang dengan kata-kata.


"Ryo," panggil Jelita.


"Ya?"


"Kamu tahu kan, kalau aku sangat mencintaimu?"


Ryo tersenyum tipis, "Aku nggak tahu," jawabnya.


Kemudian Ryo menempelkan keningnya pada kening Jelita.


"Aku lebih suka kalau kamu menunjukkannya dengan perbuatan," sambung Ryo.


Kini ke dua pipi Jelita sudah bersemu merah. Dia dapat melihat jelas wajah sempurna milik suaminya. Rahang yang terpahat dengan tegas, hidung mancung nan kokoh, dan bola mata hazel yang membuat siapapun memuji ketampanan Ryo.


Ditelusurinya wajah itu dengan jari. Dengan jantung yang berdegup dengan kencang dan tatapan penuh kasih sayang, Jelita mencium bibir Ryo.


Ryo memejamkan mata untuk menikmati ciuman yang diberikan Jelita.


Kemudian Jelita mengalungkan ke dua tangannya ke leher Ryo. Perlahan Jelita memiringkan wajahnya dan melu-mat bibir bawah Ryo lembut.


Ryo merasa tidak rela saat Jelita melepas ciumannya, "Kok sudah?" protesnya.


"Kita──hmmp," jawaban Jelita terpotong karena Ryo menarik wajahnya, lalu menyatukan bibir mereka lagi.


Ryo menggigit bibir bawah Jelita yang membuat siempunya mengerang dan membuka mulut. Jelita membiarkan Ryo mengabsen gigi rapihnya dan membelit lidahnya panas.

__ADS_1


"Ahh," de-sah Jelita pelan saat Ryo meremas tubuh bagian depannya yang menonjol.


Ryo menghentikan ciumannya guna melepas kaos yang dia kenakan, dan melemparnya asal. Lalu membuka kaos yang dikenakan Jelita tanpa persetujuan siempunya, dan kembali melemparnya entah ke mana.


"R-Ryo tunggu..."


"Stth, panggil aku Daddy," pinta Ryo.


"Daddy, tunggu kita──hmmp."


Ryo meraih tengkuk Jelita untuk kembali melu-mat bibir candu itu buas dengan naf-su yang sudah meningkat. Mencium Jelita dengan menggebu-gebu.


Jelita yang awalnya ingin menghentikan, kini sudah terhanyut menikmati rangsangan yang Suaminya berikan.


Tangan Ryo mulai menjalar ke belakang punggung Jelita untuk mencari pengait b-ra. Dan dia berhasil melepas penghalang itu.


Kemudian ke dua bukit milik Jelita yang sudah polos menyembul. Ryo tidak melewatkan itu, disambarnya benda itu dengan ke dua tangannya.


"Sudah aku duga. Ini semakin besar," kata Ryo dengan cabul, setelah melepas ciumannya.


Perubahan bentuk payu dara wanita hamil memang kerap terjadi karena adanya peningkatan kadar hormon selama kehamilan. Perubahan itu normal terjadi dan menandakan bahwa tubuh Jelita sedang mempersiapkan diri untuk proses menyusui.


Oh, Ryo jadi ingin merasakannya. Apakah akan ada susu yang keluar jika dia mengisapnya?


Jelita mende-sah dengan melengkungkan tubuhnya saat mulut basah Ryo menghisap ke dua buah cherry miliknya seperti seorang bayi. Sungguh rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Ah, Daddy," Jelita meremas rambut Ryo, tanpa sadar semakin menekan kepala Ryo ke bukit miliknya.


Ryo semakin menghisap dengan kuat.


"Kok belum ada susunya?" tanya Ryo pada istrinya yang terlihat lemas.


"Te-tentu saja belum," jawab Jelita dengan napas yang terputus-putus.


Ryo terlihat agak kecewa, "Yahh, terus kapan dong?"


"Aku juga nggak tahu," jawab Jelita sekenanya.


"Yasudah deh, sebagai gantinya aku..."


Ryo mulai bersiap membuka pengait celana yang dia pakai.


"Tunggu, Daddy!" seru Jelita mencoba mencegah Ryo.


"Kenapa?" Ryo mengerutkan keningnya.


"Kita nggak boleh melakukan itu."


"Hah?" Ryo terkejut mendengarnya.


Oh, ayolah, kenapa tidak boleh? Padahal Ryo sedang kepengin.


"Aku nggak mau kalau bayi kita kenapa-kenapa," Jelita memegang perut perut polosnya.

__ADS_1


"Jadi aku harus libur sampai bayi kita lahir?"


"Ya," jawab Jelita mengiyakan saja.


Dengan gerakan kaku Ryo menarik resleting celananya untuk menutupnya lagi. Ryo terlihat sangat shock dibuatnya.


Dia harus libur sampai bayi mereka lahir? Itu berarti kurang dari 9 bulan.


Holy **!*!


Kenapa Ryo harus menahan itu lama sekali?


"Apa kamu kecewa padaku?" tanya Jelita saat melihat ekspresi wajah Ryo yang tertekan.


"Ah, tentu saja nggak, sayang," kilah Ryo cepat.


"Tapi ekspresi wajahmu terlihat kecewa."


"Aku hanya sedang menahan hasr-at saja."


Ryo memang sedang menahan hasr-at untuk tidak menyerang Istrinya yang sudah hampir telanja-ng itu. Dan itu harus dia lakukan sampai bayi mereka lahir.


Tatapan Jelita teralihkan pada celana Ryo yang menggembung, terlihat sesak. Dia jadi tidak tega melihatnya, tapi kondisi bayi mereka lebih penting.


"Soal ini apa sebaiknya kita tanyakan pada Dokter?" tanya Jelita kemudian.


Ryo tersenyum lembut, Jelita memang selalu mementingkan dirinya. Diusapnya pipi tembam Jelita, "Nggak apa-apa kok. Aku pasti bisa menahannya. Aku tidak mungkin menyakiti kalian berdua," ucapnya.


Jelita langsung memeluk Suaminya itu. Dia sungguh senang karena sifat Ryo benar-benar sudah berubah ke arah yang lebih baik. Padahal dulu Ryo mempunyai image otak selangk*ngan. Namun, saat ini Suaminya sudah berbeda.


"Suamiku memang yang terbaik," ucap Jelita.


"Ya, aku tahu. Kamu kan sudah bilang itu sebelumnya," Ryo terkekeh.


"Aku hanya ingin mengatakannya terus menerus," Jelita ikut terkekeh.


"Kamu sangat tahu kalau aku sangat suka dipuji."


"Suamiku adalah laki-laki yang hebat," puji Jelita lagi.


"Oh, ya?" Ryo terlihat senang.


"Dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, Suamiku sungguh terlihat tampan."


"Cu-cukup! Sebaiknya kita tidur. Sini aku pakaikan bajumu lagi."


Ryo sudah tidak tahan lagi dengan pujian Jelita yang semakin menjadi-jadi.


"Nggak, aku nggak mau pakai baju. Ayo kita tidur telan-jang dengan saling berpelukan."


"A-apa?" Ryo tercekat dengan apa yang dikatakan Jelita.


Heh, apa Jelita sedang mengujinya?

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2