
Flashback.
Terlihat Renata yang sedang tidak sadarkan diri di jok sebelah Jefra yang sedang menyetir mobil.
"Alamat ini..." gumam Jefra saat membaca alamat rumah Renata pada kartu tanda penduduk yang dia temukan di tas gadis mabuk itu.
Jefra menatap Renata tidak percaya, "Apa dia putri dari Jendela Sebastian?"
Jefra menelan saliva berat, ini sangat berbahaya bagi Jefra jika mengantar Renata pulang ke rumah sang panglima TNI dalam keadaan mabuk seperti ini, bukannya menjadi menantu justru dia langsung ditembak mati.
Karena masih sayang dengan nyawanya, Jefra menjalankan mobilnya untuk ke apartemennya.
15 menit kemudian mobil yang dikendarai Jefra berhenti di gedung apartemen mewah yang menjulang tinggi.
Jefra menggendong Renata bagai karung beras dan segera membawa gadis itu, menaiki lift dari basemen untuk menuju lantai di mana apartemennya berada.
Ting!
Pintu lift terbuka.
Namun, saat Jefra melangkah keluar lift ada pergerakan dari gadis yang berada di gendongannya.
"Ugh," erang Renata karena efek alkohol yang sepertinya semakin menguasainya.
"Kenapa semuanya jadi terbalik?" tanya Renata lebih cenderung bergumam. Tentu saja pandangannya jadi terasa terbalik karena sedang digendong bagai karung beras.
"Hei, kamu sudah bangun?" tanya Jefra.
"Hik," Renata cegukan dan nampaknya dia tidak mendengar jelas pertanyaan Jefra.
Seketika perut Renata terasa dikocok dari dalam, "Hoek..."
Jefra terbelalak lebar karena merasakan sensasi basah dari muntahan Renata pada punggungnya.
"Sh-it," umpat Jefra.
Setelahnya Renata kembali tidak sadarkan diri.
Dengan langkah lebar Jefra menuju pintu apartemennya dan segera membukanya dengan sidik jari, lalu dia masuk ke dalam.
Jefra memasuki lebih dalam apartemennya dan meletakan Renata di ranjang. Terlihat ekpresi kesal di wajahnya, dia menatap Renata yang tidur tanpa adanya rasa bersalah. Kemudian Jefra melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah mandi untuk menghilangkan bau tidak sedap, Jefra keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan celana jeans, mempertontonkan otot-otot pada tubuh bagian atasnya yang te-lanjang.
Dia berniat membiarkan Renata tidur di kamarnya dan dia sendiri akan tidur di sofa ruang tamu. Sebenarnya ada 2 kamar di dalam apartemennya, tapi kamar yang satunya sudah Jefra gunakan untuk penyimpanan senjata api miliknya. Mau tidak mau Jefra harus tidur di sofa karena dia bukanlah pemuda kurang ajar yang mencari kesempatan pada wanita mabuk.
Meskipun tidak bisa dipungkiri jika Jefra memiliki ketertarikan lebih pada Renata.
Sett
__ADS_1
Jefra terkejut saat Renata tiba-tiba bangun dan langsung duduk. Apa gadis itu sudah sadar? Atau akan muntah lagi? Jika ya, Jefra harus segera membawa Renata ke kamar mandi agar tidak mengotori ranjang dengan muntahan.
"Duh, panas sekali... apa AC... nggak dinyalakan...?" gumam Renata terputus-putus.
Dengan gerakan cepat Renata mencoba membuka dress floral yang dia pakai.
"A-apa yang kamu lakukan?" Jefra langsung berbalik badan ketika Renata melucuti pakaiannya sendiri bahkan baju da-lamnya.
Renata diam aja, karena tidak mendengar pergerakan dari Renata lagi, Jefra mencoba berbalik untuk melihat keadaan gadis itu.
Seketika Jefra mematung dengan wajah yang memerah sempurna. Terlihat Renata yang tengah tidur memunggunginya, menyodorkan pemandangan kulit punggung mulus yang seputih keju, dan ke dua bulatan sintal.
Plak
Jefra menampar pipinya sendiri, "Sadarlah," ucapnya karena hampir tergoda dengan kemolekan tubuh bagian belakang Renata.
Baru saja bagian belakangan, bagaiman dengan depannya?
Jefra segera mengenyahkan pikiran kotornya. Lalu menyelimuti tubuh Renta dengan cepat, bahkan menggulung Renata dengan selimut seperti lontong.
Grep
Tiba-tiba saja lengan Jefra ditarik sehingga tubuhnya menindihi tubuh Renata.
Cup
Dan bibir mereka berdua bertemu dalam satu ciuman tidak disengaja.
"Hmmp, aku mau makan daging," gumam Renata di sela-sela ciuman sepihaknya, dia semakin intens melu-mat dan mengecap sesuatu yang dianggap daging itu.
Kemudian Renata melepaskan tautan bibir mereka, dia menjilat bibirnya sendiri setelahnya, "Enak..."
Dengan segera Jefra menjauhkan dirinya dari Renata dengan berguling ke samping, tidur di sebelah Renata.
Masih dengan tatapan tidak percaya, Jefra memegang bibinya sendiri, "A-apa itu?" gumamnya tercekat.
Renata benar-benar berani karena sudah mencuri ciuman pertama Jefra.
Jantung Jefra terpompa saat menatap wajah Renata yang damai, gadis itu sudah tidur nyenyak setelah apa yang telah dilakukan.
Malam itu Jefra habiskan hanya untuk memandangi Renata yang sudah membuatnya tidak bisa tidur.
Flashback end.
.
.
Wajah Renata merona saat mendengar Jefra yang menceritakan kejadian malam itu.
__ADS_1
Selama ini pikirannya lah yang tidak bermoral, padahal Jefra sudah menolongnya, tapi dia justru menuduh macam-macam. Salahkan dirinya yang berasumsi sendiri dan tidak bertanya terlebih dahulu.
"Maafkan aku," ucap Renata tertunduk malu.
"Aku akan memaafkan kamu jika kamu bersedia menikahi aku," ujar Jefra dengan tatapan serius.
Renata melongo, dia kira permintaan menikah itu adalah lelucon, tapi Jefra benar-benar serius.
"Aku nggak bisa," tolak Renata.
"Kenapa?"
"Kamu tahu sendiri kalau aku habis mendapatkan pengkhianatan, aku nggak bisa begitu saja membuka hatiku lagi. Lagi pula kita baru beberapa kali bertemu, kita belum saling mengenal satu sama lain," jelas Renata.
Bukan masalah jual mahal. Namun, masih ada rasa takut bagi Renata untuk memulai hubungan dengan orang lain, yang sudah menjalin hubungan dengannya selama 3 tahun saja bisa mengkhianati dirinya apalagi Jefra yang baru dia kenal.
"Beri aku waktu 3 bulan," ucap Jefra.
"Maksudnya?" tanya Renata tidak mengerti.
"Dalam waktu 3 bulan kita bisa saling mengenal satu sama lain, habis itu kita menikah," ujar Jefra.
Renata menatap tidak percaya Jefra, "Hanya 3 bulan?" tanyanya.
Jefra mengangguk, "Dan ingatlah satu hal, aku bukanlah orang yang sama dengan orang yang mengkhianati kamu. Lupakan siapa yang menyakitimu kemarin. Gunakan energimu untuk membangun kembali hidupmu, jangan buang waktu untuk melihat ke belakang," ucap Jefra.
Rasa sakit yang Renata rasakan seakan berangsur membaik. Ya, dia memang harus membangun kembali hidupnya. Bukankah dia seorang psikiater yang dapat membantu orang frustasi dan depresi? Dia juga harus bisa mambantu dirinya sendiri, bukan?
Renata tersenyum setelahnya dan mengangguk, "Ya," jawabnya.
"Baiklah, 3 bulan dari sekarang kita akan menikah," ucap Jefra memutuskan seenaknya.
"Tapi, bukankah itu terlalu cepat..."
"Kalau begitu 2 bulan," ujar Jefra.
"Yang benar saja," kilah Renata masih mencoba menolak.
"Oke, 1 bulan."
Jefra terlihat tidak menerima penolakan.
"Ba-baiklah 3 bulan," kata Renata pada akhirnya.
"Deal."
"D-deal."
Jefra tersenyum tipis, sebentar lagi dia akan bisa menangkap kucing manis miliknya itu.
__ADS_1
_To Be Continued_