
"Gavin, apa kamu mengingat aku?" tanya Ryo pada Gavin yang baru saja siuman, pemuda itu tidak sadarkan diri sejak kemarin.
Gavin merasakan bagian kepalanya yang berdenyut, "Kamu siapa?" tanyanya.
Ryo melebarkan bola mata hazel miliknya. Apa Gavin amnesia? Ya, itu tidak heran karena Dokter mengatakan jika Gavin mengalami gegar otak.
"Maksudku yang dibelakang kamu, Ryo," ralat Gavin.
Ryo langsung menengok ke belakang.
"Anak kurang ajar! Ibumu sendiri kamu nggak mengenali, ha!" seru seorang wanita paruh baya───Elena.
Gavin meringis karena lupa dengan sosok Ibunda yang sudah lama tidak bertemu itu, "Maaf, Mom. Mungkin karena aku sudah terlalu lama tinggal di kost-kostan."
Elena terlihat semakin marah dibuatnya.
"Sebaiknya Tante jangan marah-marah, bukankah Gavin baru sadar?" ucap Ryo dengan kikuk.
Seketika ekpresi Elena menjadi melembut karena mendengar Ryo menenangkannya, "Baiklah, nak Ryo. Maaf ya kalau Mom membuatmu nggak nyaman."
"Tidak apa-apa kok," Ryo tertawa kikuk.
Gavin memutar bola matanya, "Aku yang sedang sakit, tapi kenapa Mom malah lebih perhatian dengan Ryo sih?"
"Bukankah kamu sudah mandiri sekarang? Sudah tidak membutuhkan perhatian Mom lagi, bukan? Selama dua tahun keluar dari rumah, dan tinggal di kost-kostan satu petak demi ingin hidup mandiri. Lalu apa sekarang? Tiba-tiba saja memberi kabar jika mengalami gegar otak karena kejatuhan pot bunga. Apa ini mandiri yang kamu maksud, Gavin?" omel Elena.
Gavin terdiam, kata-katanya seolah tercekat di tenggorokan.
Kemudian Elena memeluk Gavin dan menangis sesenggukan. Sebenarnya, amarahnya hanya karena merasa sangat khawatir pada putranya, "Hiks, syukurlah kamu nggak apa-apa. Mommy hampir jantungan karena mendengar kabar kalau kamu terluka."
Gavin membalas pelukan Ibunya, "Maaf, Mom. Aku nggak bermaksud membuat Mom khawatir. Aku sendiri juga nggak tahu kalau akan kejatuhan pot bunga," ucapnya.
Elena sontak melepas pelukannya, "Apa ada yang mencoba mencelakai kamu?"
"Itu hanya kecelakaan saja, Tante," Ryo membuka suara sebelum Gavin menjawab, lagi pula Gavin memang tidak tahu apa-apa karena baru saja siuman.
"Bagaimana bisa itu terjadi?" tanya Elena dengan mengerutkan kening, merasa agak janggal.
"Soal itu..."
Knock... Knock..
Ketukan pintu menginterupsi percakapan mereka.
Cklek
Gavin terkesiap saat melihat siapa yang muncul dari balik daun pintu.
Sachi?
"Selamat siang," terlihat gelagat Sachi yang gugup.
__ADS_1
Tatapan Sachi terarah pada Gavin, dia baru tahu kalau pemuda itu sudah siuman.
'Syukurlah,' batinnya merasa lega.
"Siapa, ya?" tanya Elena dengan menatap intens Sachi dari bawah ke atas. Dan satu kata yang menggambarkan Sachi adalah 'manis'. Seketika Elena merubah ekpresi menjadi berbinar, "Kamu pacarnya Gavin?"
"Uhuk," Gavin tersedak salivanya sendiri.
Pacar? Yang benar saja.
Sedangkan Sachi menunduk, gadis itu merasa mual mendengarnya. Dia memang tidak sanggup untuk membicarakan hal-hal seperti itu.
"Dia orang yang nggak sengaja menjatuhkan pot bunga," tukas Ryo mencoba memperbaiki kesalahpahaman.
Elena menutup mulutnya dengan tangannya, terkejut karena gadis manis itulah yang membuat putranya celaka.
"Maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja menjatuhkan pot bunga itu. Saat itu aku merasa lelah karena kurang istirahat dan tidak sengaja menyenggol pot bunga," jelas Sachi lugas.
"Aku... aku akan bertanggung jawab untuk biaya pengobatan Gavin. Aku sungguh minta maaf," sambung Sachi dengan bersungguh-sungguh.
Elena terdiam mendengarnya, sebenarnya dia sedikit kecewa karena gadis itu bukanlah pacar putranya. Namun, ketika Elena ingin menjawab permintaan maaf Sachi, Ryo membisikan sesuatu padanya.
Sebenarnya apa yang Ryo bisikan?
Elena merubah tatapannya menjadi datar, "Apa kamu pikir sebuah kesalahan akan terselesaikan dengan kata maaf dan uang?"
Sachi menggigit bibir bawahnya.
"Aku..." lidah Sachi mendadak keluh. Ya, dia memang salah, tentu saja tidak bisa membela diri.
"Rawatlah Gavin hingga sembuh, dan aku akan memaafkan kamu."
Sachi seketika mendongak untuk menatap Elena. Kemudian beralih menatap Gavin yang terdiam. Tangannya tergenggam kuat. Mau bagaimanapun, dia memang harus tanggung jawab. Hanya merawat sampai sembuh, bukan?
"Baiklah, aku akan merawat Gavin," Sachi menyanggupi.
Elena tersenyum samar setelahnya.
**
Setelah kepergian Elena dan Sachi.
"Apa yang kamu bisikan tadi, Yo?" tanya Gavin yang penasaran dengan sesuatu yang Ryo bisikan pada Ibunya.
"Aku hanya bilang jika kamu menyukai Sachi," jawab Ryo sekenanya.
"Hah? Dia itu sudah mempunyai suami."
Ya, Gavin masih mengira Sachi sudah memiliki suami. Dugaan Gavin menguat karena melihat adanya cincin emas di jari manis tangan kanan Sachi.
Ryo mengernyitkan dahi, "Sudah punya suami? Kamu tahu dari mana?"
__ADS_1
"Cincin," jawab Gavin seraya mengangkat tangannya yang sedang di infus, dan menunjuk jari manisnya dengan tangan satunya.
Ryo terdiam sejenak, "Sudahlah, menjadi pembinor nggak buruk juga kan."
"Sinting!"
**
Ruang konsultasi Dokter Renata, pukul 14.00.
"Dokter, bagaimana ini? Aku harus merawat cowok itu," kata Sachi panik seraya menggigit kuku-kuku jari.
"Minumlah ini," ujar Renata seraya memberikan segelas air dingin.
"Tidak, aku tidak ingin minum," tolak Sachi.
"Yasudah aku saja yang minum," kilah Renata, diminumnya air dingin itu dengan santai.
Kening Sachi berkedut dibuatnya.
"Tenanglah, oke. Semua baik-baik saja, situasi itu tidak berbahaya. Tarik napas dan buang perlahan," ucap Renata.
Sachi mengikuti apa yang diintruksikan Renata. Dia mencoba tenang. Ya, dia tidak boleh cemas.
"Yakinlah. Sesuatu yang kamu anggap menakutkan, sesungguhnya tidak benar-benar menakutkan, atau justru akan berdampak baik untukmu kedepannya," ujar Renata dengan senyuman menenangkan.
"Bagaimana aku bisa berpikir seperti itu?" lirih Sachi.
"Lupakanlah pemikiran jika cowok itu tertarik padamu. Bukankah dia muridmu? Anggap saja dia murid yang harus kamu bimbing, jangan arahkan pikiranmu menuju hal yang melebihi hubungan itu."
Sachi mengangguk paham.
"Sachi, kamu tidak bisa selalu lari dari masalah. Kamu tidak seharusnya menghindar terus-menerus. Kamu harus bisa membuka pintu hatimu. Cobalah menerima orang lain dan dirimu sendiri," sambung Renata.
Sachi membuka suaranya, "Kalau hanya bicara memang mudah. Aku tidak paham dengan orang-orang seperti kalian yang dengan mudahnya jatuh cinta, tanpa takut dengan hal mengerikan yang akan terjadi. Aku yang tidak normal ini, sungguh tidak mengerti."
Kemudian Sachi bangkit untuk bersiap keluar.
"Kamu mau ke mana? Kamu belum melakukan terapi," kata Renata mencoba mencegah kepergian Sachi.
"Aku akan mengajar kelas sore. Terapinya lain waktu saja, aku hanya curhat saja tadi."
"Aih, kamu ini..."
Blam
Bunyi pintu tertutup, menandakan Sachi yang sudah pergi.
Ruangan Renata hening sesaat. Lalu Renata menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi.
Renata menghela nafas panjang, "Tuh kan dia benar-benar gadis yang polos dan perasa."
__ADS_1
_To Be Continued _