
Matahari sudah mulai menampakkan dirinya. Kupu-kupu warna-warni berterbangan dan hinggap di bunga warna-warni yang begitu cantik.
Terlihat Gavin dan Sachi yang sedang duduk di kursi taman rumah sakit. Taman yang asri membuat udara menjadi sejuk.
"Nyamannya," ucap Gavin sembari menghirup dalam-dalam udara di luar. Padahal baru 5 hari terkurung di kamar rawatnya, tetapi Gavin merasakan seperti 5 tahun. Benar-benar perasaan yang hiperbola sekali.
"Kamu memiliki waktu 15 menit untuk berjemur," ujar Sachi.
"Kok sebentar sekali? Aku tidak ingin kembali ke kamar secepat itu," protes Gavin.
"Ini untuk kesehatanmu juga, Gavin. Menurutlah, atau aku akan menyesal telah menemani kamu ke luar," tukas Sachi sembari bersedekap, alisnya tertarik ke bawah dan mendekat, mata menatap tajam atau melotot, dengan garis vertikal muncul di antara alis dan kelopak mata bawah menegang. Berniat menunjukan ekspresi marah.
Bukannya terlihat garang tapi justru menggemaskan.
"Sebenarnya berapa umur Mrs. Sachi?" tanya Gavin dengan menggigit pipi bagian dalamnya karena menahan gemas.
Pelipis Sachi tiba-tiba berkedut. Wanita memang sensitif jika ditanya soal umur. Berani-beraninya Gavin menanyakan itu dengan begitu gamblangnya.
"Ra ha si a," Sachi memberi penekanan di setiap ejaannya.
Gavin menelan saliva berat, dia baru menyadari jika pertanyaan itu justru membahayakan dirinya sendiri. Untung saja dia tidak terkena cakaran dari Sachi.
"O-oke," ucap Gavin tergagap.
Gavin baru menyadari jika menanyakan umur seorang wanita adalah sebuah pantangan bagi seorang pria.
Tes
Satu tetesan air terjatuh dari atas.
"Hujan?" ujar Sachi dengan mengangkat telapak tangannya.
Tes
Dan benar saja tetesan air dari atas langit mulai banyak berjatuhan.
"Kenapa tiba-tiba hujan? padahal tadi matahari sangat cerah," ucap Gavin merasa tidak terima dengan kedatangan hujan yang tidak di undang. Padahal belum ada 15 menit dia mendudukkan bokongnya di kursi taman.
"Ayo Gavin, sebaiknya kita kembali," tukas Sachi sembari bangkit berdiri.
Gavin hanya bisa menurut dengan raut wajah masam. Lalu Sachi membantu membawa tiang infus Gavin. Namun, tetesan hujan semakin deras, dengan terpaksa ke duanya berteduh di gazebo yang berada di tengah-tengah taman. Ada beberapa orang yang berteduh juga.
"Ya ampun... kamu basah," ujar Sachi seraya menyeka wajah Gavin yang basah karena air hujan dengan jemari tangannya, dia sampai rela berjinjit untuk melakukan, matanya berkaca-kaca karena melihat Gavin yang setengah basah kuyup.
Benar-benar perasa sekali.
Gavin membatu karena perlakuan Sachi itu, dirasakannya jari-jari dingin milik Sachi yang mengusap wajahnya lembut. Padahal gadis itu basah juga, akan tetapi justru lebih memperdulikan dirinya.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa kan, Gavin? Apa kepala kamu pusing karena terkena air hujan?" tanya Sachi dengan nada khawatir.
Bagi Sachi yang berperan dalam merawat si pemuda, tentu saja timbul rasa menyayangkan jika Gavin mengalami sakit lagi karena kehujanan, padahal pemuda itu masih dalam pemulihan pasca gegar otak.
"Salahku yang mengajakmu ke luar, akan lebih baik kalau kamu tetap di kamar," sambung Sachi, kini terlihat merasa sangat bersalah.
"Hei, aku tidak kenapa-kenapa. Jangan khawatir," Gavin membuka suara setelah membatu beberapa saat.
Diraihnya tangan Sachi, lalu menggenggamnya, dan mengusap punggung tangan itu dengan ibu jarinya. Mencoba membuat tenang perasaan si gadis yang gelisah.
Sachi dapat merasakan usapan ibu jari Gavin pada punggung tangannya. Begitu lembut hingga menggetarkan hati. Perasaan gelisah yang dirasakannya pun perlahan menghilang.
Kemudian Sachi menatap tangannya yang tenggelam sempurna di genggaman tangan besar Gavin.
Kenapa tangan seorang laki-laki bisa sebesar itu? Bukannya merasa risih namun merasa nyaman.
"Ah, maaf, aku tidak bermaksud untuk bertindak kurang ajar pada Mrs. Sachi," kata Gavin langsung melepas genggamannya, dia berpikir Sachi akan marah karena tindakan lancangnya itu.
Sachi hanya mengangguk saja, kemudian berbalik membelakangi Gavin. Digenggamnya tangan yang tadi digenggam Gavin. Sachi masih bisa merasakan kehangatannya.
Kemudian Sachi menatap ke balik tirai hujan. Terlihat ranting-ranting pohon melenggang penuh pesona tertiup angin dan kuyup tergerai, seperti tangan penari mengikuti irama hujan. Entah kenapa wajahnya memerah, jantungnya pun berdegup tidak beraturan secara tiba-tiba.
'Kenapa aku jadi seperti ini?' batin Sachi.
"Jangan marah padaku, Mrs. Sachi. Aku benar-benar tidak bermaksud apa-apa," ujar Gavin dari arah belakang.
Tidak bisa seperti ini, Sachi berniat akan berkonsultasi pada Dokter Renata lagi.
Cukup lama hujan mengguyur. Lalu pada akhirnya berhenti, menyisakan tetesan air pada pepohonan dan bangunan. Bau tanah basah sehabis hujan pun menjadi ciri khas tersendiri.
"Gavin, ayo kita kembali," ucap Sachi yang sudah menenangkan perasaan anehnya.
Gavin yang sejak tadi memperhatikan rerumputan yang basah tersadar, ditatapnya wajah Dosen manis itu. Apa wanita yang marah akan baikan dengan sendirinya? Gavin sungguh bingung dengan sikap Sachi.
"Mrs. Sachi sudah tidak marah?" tanya Gavin dengan hati-hati.
Sachi mengulum senyum, "Aku tidak marah kok."
Lantas tadi itu apa kalau tidak marah? Oh, Gavin semakin bingung dibuatnya.
Kemudian mereka berjalan beriringan untuk kembali. Sachi dengan setia mendorong tiang infus Gavin.
**
Sesampainya di kamar rawat.
"Dari mana saja kamu?" tanya seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah dengan stelan jas berwarna biru gelap───Andrian.
__ADS_1
"Aku habis dari luar, Dad," jawab Gavin atas pertanyaan Ayahnya itu.
Andrian yang tidak lain adalah Ayah Gavin melangkah ke arah si pemuda dengan tatapan tajam. Terlihat aura kemarahan di sana.
Sachi yang melihat Andrian mengangkat satu tangannya seketika gemetar.
Apa Gavin akan mendapatkan pukulan?
Itu mengingatkan Sachi pada kejadian Ayahnya yang memukul Ibunya.
"Ja..."
Grep
Sachi tidak melanjutkan perkataannya tatkala melihat Andrian memeluk Gavin. Pria paruh baya itu tidak memukul Gavin. Melainkan memberikan pelukan.
"Syukurlah keadaan kamu sudah baikan," ucap Andrian.
"Hais, Suamiku. Bisakah kamu mengontrol ekpresi wajahmu yang menyeramkan itu? Kamu membuat anak gadis ketakutan," kata Elena yang menyadari ekpresi ketakutan Sachi.
"Tidak, aku tidak takut," cicit Sachi.
"Sudah tidak apa-apa, wajah Ayah Gavin memang selalu membuat orang lain ketakutan," ucap Elena justru terkekeh, dia mengira jika ketakutan Sachi adalah hal yang wajar.
"Kamu jahat sekali berbicara seperti itu, Istriku," protes Andrian tidak terima.
Gavin tertawa, "Untung saja aku lebih mirip Mom dari pada Daddy yang berwajah garang."
"Aih, anak ini," protes Andrian lagi.
"Kak Gavin jangan bicara seperti itu pada Daddy," ujar seorang gadis berumur 16 tahun───Alina.
"Apakah putriku sedang membelaku?" Andrian merasa senang.
"Maksudku jangan bicara jujur seperti itu," lanjut Alina, adik perempuan Gavin.
Kemudian ruang rawat inap itu menjadi ramai karena kedatangan keluarga Gavin. Tawa dan senda gurau dari keluarga itu membuat Sachi menatap penuh arti.
Ternyata keluarga harmonis dan penuh kasih sayang benar-benar ada. Bisa memiliki keluarga bahagia adalah salah satu momen paling membahagiakan dalam hidup.
'Aku ingin kebahagiaan itu juga,' batin Sachi.
"Sachi, makanlah ini. Mom membuatnya khusus untukmu karena sudah merawat Gavin," ucap Elena sembari memberikan Sachi kue kering.
"Terima kasih," Sachi pun menerimanya dengan perasaan menghangat.
_To Be Continued_
__ADS_1