Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Malam Minggu


__ADS_3

Malam Minggu merupakan malam di mana banyak orang yang akan merasa senang karena besok merupakan hari libur. Tidak heran bila banyak pasangan yang membuat malam Minggu sebagai malam di mana mereka akan bertemu dan menghabiskan waktu setelah beberapa hari sibuk dengan aktivitas masing-masing. Malam yang begitu spesial bagi orang yang memiliki pasangan, dan malam di mana kaum jomblo ternistakan.


Terlihat Ryo yang sedang tiduran di sofa dengan berbantal paha Jelita. Pasangan pengantin baru itu tengah menonton televisi di ruang tamu.


"Sayang," panggil Ryo sembari menatap ke atas untuk melihat wajah istrinya, dari posisi seperti ini saja Jelita begitu cantik.


"Ya?" Jelita mengalihkan atensi menonton televisi untuk menunduk melihat Ryo.


"Aku sudah memberi Jefra trik pdkt pada Renata," ucap Ryo berniat membeberkan apa yang mungkin bisa membuat Jelita bangga padanya.


Dan benar saja, Jelita terlihat senang, "Oh, benarkah?"


Ryo mengangguk mantap, "Ya, bukankah aku dapat diandalkan?"


"Suamiku memang dapat diandalkan," ucap Jelita sembari mengelus rambut hitam Ryo sayang.


Ryo nyengir lebar dengan hidung yang kembang kempis, dia sungguh senang dipuji.


Jelita tertawa pelan karena melihat ekspresi suaminya, lalu menjepit hidung Ryo dengan jarinya dan menariknya pelan.


"Apa kamu ingin pergi ke luar?" tanya Ryo.


Jelita terdiam sesaat, tumben sekali suaminya itu mengajak pergi ke luar saat malam, dan dia baru teringat kalau saat ini adalah malam Minggu.


Lalu Jelita mengangguk dengan semangat. Berhubung Jelita sudah memiliki Ryo sebagi suami, tentu saja dia ingin menghabiskan malam Minggu ini dengan suaminya itu.


"Kalau begitu, aku akan siap-siap dulu," kilah Jelita.


**


Di tempat lain, pada waktu yang sama.


Tok... Tok...


Renata mengetuk kaca jendela pintu mobil yang terparkir di depan rumahnya.


Kemudian kaca diturunkan sedikit, menampakan Jefra yang sedang terduduk di kursi pengemudi.


"Masuklah," ujar Jefra datar. Jangankan tersenyum, untuk berekspresi saja tidak.


Alis Renata menyatu karena baru menyadari jika sifat Jefra ternyata sekaku kanebo kering, padahal dia sudah berdandan cantik untuk memenuhi ajakan makan malam dari pemuda itu.


Namun, respon Jefra sungguh tidak berarti apapun.


Dengan merengut sebal Renata memasuki mobil dan duduk di sebelah Jefra.


"Renata," panggil Jefra setelahnya.


Renata menatap Jefra, "Ya?"


Jefra berdeham sesaat, "Kamu cantik malam ini," ucapnya dengan masih tanpa ekpresi.

__ADS_1


Jefra hampir melupakan sesuatu, sesuai dengan trik pdkt yang telah dipelajari, dia harus memuji penampilan Renata.


Renata memincingkan mata, "Jadi aku hanya cantik malam ini saja?" tanyanya.


Jefra mengangguk namun segera menggeleng.


Renata makin merengut, dia berpikir jika Jefra tidak bersungguh-sungguh saat mengatakan dirinya cantik.


'Apa aku salah bicara?' batin Jefra agak panik.


Jefra berdeham sekali lagi, dia mencoba menghilangkan suasana yang menjadi canggung itu, "Renata," panggilnya lagi.


"Apa lagi, Jef?" tanya Renata sedikit ngegas.


Namun, Renata seketika mematung saat Jefra mencondongkan wajahnya padanya.


Apa Jefra akan menciumnya? Kenapa Jefra sangat terburu-buru sekali? Padahal mereka baru saja ingin saling mengenal. Tatapan Renata pun langsung tertuju pada bibir tipis Jefra yang sedikit terbuka. Jantung Renata sudah bergemuruh.


Renata menutup ke dua matanya.


Click


"Pakai sabuk pengaman kamu," ucap Jefra tepat di telinga Renata.


Renata langsung membuka matanya tepat ketika Jefra menjauhkan wajahnya. Wajahnya merona malu karena pemikirannya sendiri.


"Terima kasih, Jef," ucap Renata tertunduk karena malu.


Kemudian Jefra menancap gas mobilnya dan berlalu meninggalkan kediaman Renata.


"Kita mau ke mana?" tanya Renata sesudah mengenyahkan rasa malunya.


"Makan malam," jawab Jefra datar.


Kening Renata berkedut, dia juga tahu kalau mereka akan makan malam, "Maksudnya makan malam ke mana?" tanyanya mencoba sabar.


Jefra tidak langsung menjawab, "Ikut saja."


Trik berikutnya, Jefra harus memberikan kejutan pada Renata. Wanita mana yang tidak suka diberi kejutan.


**


Makan malam dengan pemandangan pinggir pantai dan background langit malam bertabur bintang berkelap-kelip, semilir angin menambah suasana romantis.


Renata menatap takjub meja makan yang sudah tertata dengan sangat indah di atas pasir pantai.


"Wah, apa kita akan makan malam di sini?" Renata berbinar senang.


"Ya, apa kamu suka?" tanya Jefra tersenyum tipis.


Karena Renata terlihat senang, Jefra sepertinya akan berterima kasih pada Ryo yang sudah memberi rekomendasi tempat ini. Ternyata saran dari mantan Casanova tidak buruk juga.

__ADS_1


"Aku su—"


Tes... Tes... Tes...


Sebelum Renata menyelesaikan jawabannya, tiba-tiba saja turun beberapa tetesan air dari atas langit.


Hujan.


Padahal langit terlihat cerah, tapi kenapa hujan?


ZRAAAHH


Tetesan air dengan cepat berubah menjadi guyuran air hujan yang begitu deras.


"Ayo kita berteduh, Jef!" seru Renata dengan menarik tangan Jefra yang sedang terbengong.


Mereka berdua berlari menuju pohon yang cukup rindang untuk berteduh. Hujan benar-benar deras, mereka terpaksa berteduh di tempat terdekat.


Jefra menatap nanar tempat makan malam romantis yang kini sudah diguyur air hujan. Padahal sebelumnya dia sudah mandi, tapi kenapa hujan? Dirinya benar-benar sial.


Sepertinya langit tidak berpihak pada Jefra, tapi justru berpihak pada doa utama para jomblo yang meminta turun hujan pada malam Minggu.


"Sudah nggak apa-apa, ini bukan kesalahan kamu," ujar Renata yang melihat ekspresi tertekan Jefra.


Pemuda itu terlihat sangat menyesal dengan apa yang telah terjadi saat ini.


"Tapi makan malam kita...?" ucap Jefra terlihat keruh.


Renata menyunggingkan senyum, "Kita bisa mencari tempat lain setelah hujan berhenti," ujarnya.


Jefra benar-benar tidak enak dengan Renata, meskipun gadis itu berkata tidak apa-apa. Namun, tetap saja dia telah gagal membuat Renata terkesan.


Dia akan menarik kembali niatannya untuk berterima kasih pada Ryo, saran makan malam outdoor tidak ada bagus-bagusnya.


Renata terlihat menggigil karena merasakan hawa dingin yang menusuk kulit hingga tulangnya, saat ini dia memang hanya memakai dress pendek berlengan pendek. Belum lagi dirinya sempat hujan-hujanan tadi.


Sett


Sebuah jaket kulit hitam memeluk tubuh Renata, dan itu cukup menghangatkan. Jefra memberikan jaket kesayangannya pada Renata.


"Jef..." Renata mendongak untuk menatap Jefra, pemuda itu memang terlalu tinggi hingga Renata harus mendongak untuk sekedar menatap.


"Pakai saja," ucap Jefra dengan menatap balik Renata.


Kini Jefra hanya memakai kaos putih polos. Hawa dingin seperti ini memang bukanlah apa-apa untuk Jefra, dia sudah terbiasa berlatih keras dalam keadaan sesulit apapun.


"Terima kasih," Renata semakin merapatkan jaket milik Jefra pada tubuhnya.


Wangi citrus seperti pepohonan menyeruak dari jaket itu, Renata tidak menyangka jika seorang Bodyguard yang terlihat garang namun tampan bisa sewangi ini.


"Hmm" Jefra hanya bergumam.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2