
"Apa kamu nggak ingin mencium aku?" tanya Renata dengan wajah memerah.
Meskipun malu untuk menanyakannya, tapi Renata tidak mau melewatkan momen romantis mereka lagi, bukankah mereka tengah berada dalam situasi dan suasana hati yang mendukung?
"Memangnya boleh?" tanya Jefra memastikan lagi.
Jika ditanya seperti itu tentu saja Jefra ingin mencium Renata, bahkan ingin lebih. Jujur, Jefra selalu terbayang akan tubuh belakang Renata yang seputih keju, dia ingin merasakan bagaimana rasanya jika jarinya menyentuh dan merasakan kelembutan kulit gadis itu. Sejatinya Jefra adalah pria dewasa yang memiliki keinginan mencumbu seorang wanita, tentu saja karena dirinya normal.
Namun, dia selalu menjaga batasan karena takut kebablasan. Jefra tidak mau merusak Renata yang sangat dicintai, sebisa mungkin dia ingin selalu menjaga gadis itu.
Meski tidak bisa dipungkiri jika pemuda tampan itu tersiksa saat menahan keinginannya.
Hal lain yang dirasakan Renata, pertanyaan Jefra justru terdengar polos di telinganya. Dia berpikir kenapa Jefra masih menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya?
"Boleh," jawab Renata dengan tawa kecil.
Bersama dengan jawaban yang diberikan Renata, satu baut dari pertahanan yang Jefra buat pun lepas.
Hanya cium tidak apa-apa, bukan?
Tangan Jefra menyelipkan helaian rambut Renata ke belakang telinga.
Jefra dapat melihat jelas wajah sempurna milik Renata. Kulit wajah yang mulus tanpa noda, putih namun tidak pucat, dan Jefra dapat merasakan kelembutan saat mengelus pipi kemerahan itu. Renata benar-benar cantik.
Manik mata mereka beradu.
Kemudian mata Jefra beralih menatap bibir pink milik Renata. Bibir yang sebelumnya pernah mencuri ciuman pertama Jefra, tapi siempunya bibir sepertinya tidak mengingatnya.
Jefra menyentuh bibir milik Renata dengan usapan pelan dengan ibu jari. Sedangkan Renata memejamkan mata, menikmati sentuhan lembut itu.
Jarak mulai mengikis saat Jefra memiringkan wajah dan perlahan mendekat, bahkan mereka saling merasakan hembusan napas satu sama lain.
Lembut.
Kesan pertama saat bibir mereka menempel.
Jefra menegang pipi Renata agar lebih intens, dilum-atnya bibir pink itu dengan lembut. Renata membalas gerakan benda kenyal yang berada di bibirnya. Hal itu tidak disia-siakan oleh Jefra untuk melu-mat lebih dalam, terasa manis dan memabukkan.
Kenapa Jefra baru tahu jika ciuman akan semenyenangkan ini?
Sedangkan pikiran Renata terasa kosong, perut terasa tergelitik. Renata merasakan cinta dan kasih sayang pada ciuman mereka.
__ADS_1
"Ugh," erang Renata saat Jefra mengigit bibir bawahnya.
Jefra melepas tautan mereka, "Ah, maaf," ucapnya.
"Nggak apa-apa."
Tangan Renata menarik kepala Jefra untuk melanjutkan ciuman, lalu membuka mulut untuk memberi akses lidah Jefra mengeksplorasi rongga mulutnya.
Lidah saling memutar-mutar seakan berdansa, saling menghisap untuk mengecap rasa satu sama lain, ciuman yang hangat kini menjadi panas.
Jefra menjauhkan wajahnya kembali untuk memberi jeda bernapas, mulutnya terbuka berniat menyerang lagi, sepertinya Jefra sudah candu dengan benda kenyal milik kekasihnya itu.
Renata menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dengan tatapan yang masih mengarah pada mata hitam memabukkan Jefra.
Setelahnya Jefra menyerang mulut Renata lagi, memberikan ciuman yang semakin dalam dan liar. Tubuh yang semakin merapat membuat dada Jefra dan Renata menempel, membuat sensasi tersendiri. Ciuman Jefra turun ke leher jenjang Renata, lalu bergerak ke telinga belakang dan memainkan lidah nakalnya di sana.
Renata mend-esah karena merasa nikmat saat Jefra memberikan ciuman dan hisapan bertubi-tubi pada tengkuk lehernya. Renata meremas rambut hitam Jefra, lalu tangannya bergerak ke bawah untuk menelusuri lekuk punggung berotot Jefra yang terhalang kemeja.
"Aku mencintaimu, Renata," bisik Jefra tepat di telinga gadis cantik itu, membuat efek debaran dan panas di wajah.
Bibir mereka bertemu lagi, kali ini Jefra hanya mengecupnya beberapa kali, lalu Jefra beralih mengecup kening Renata.
"Aku juga mencintaimu, Jefra," bisik Renata.
Jefra menerbitkan senyuman yang memperlihatkan gigi putih miliknya, "Terima kasih untuk ciumannya," ucapnya.
Bahkan Renata sempat tertegun karena senyuman Jefra yang benar-benar langka itu.
Kemudian Jefra menarik bahu Renata untuk duduk, setelahnya membersihkan tubuh bagian belakang Renata yang terkena pasir pantai, menepuk-nepuk dengan pelan dan telaten.
"Apa cukup?" tanya Renata tiba-tiba.
Jefra mengeryit karena tidak paham dengan pertanyaan Renata.
"Maksudku..."
Jefra terdiam menunggu kelanjutan perkataan Renata yang ragu-ragu.
"Apa cukup hanya ciuman? Kamu nggak ingin le-lebih?" Renata menggerakkan bola matanya ke bawah.
Renata teringat dengan perkataan Davian saat itu, yang mengatakan penyebab Davian mengkhiyanati dirinya. Renata tidak mau jika Jefra akan melakukan hal yang sama jika tidak membiarkan Jefra memiliki dirinya seutuhnya, Renata takut kalau Jefra berpaling ke wanita lain untuk mencari kepuasan.
__ADS_1
Dia tidak mau diselingkuhi untuk ke dua kalinya, akan sulit untuk memperbaiki hatinya jika kembali pecah berkeping-keping.
Jefra menangkup ke dua pipi Renata agar mata mereka kembali bertemu lagi, "Tentu saja aku ingin lebih, tapi aku akan menunggu sampai kita menikah nanti," ucapnya.
"Benarkah?" Bola mata Renata bergetar, ucapan Jefra sungguh di luar ekspektasi.
"Ya, Renata. Aku tidak mungkin meminta sesuatu yang telah kamu jaga sejak dulu hanya untuk kepuasanku semata, kamu begitu berharga untuk itu. Tidak seharusnya kamu menawarkan diri untuk memberikan sesuatu yang belum menjadi hakku. Jangan mencoba menyenangkan orang lain dengan cara membuat kerugian pada dirimu sendiri."
Mata Renata memanas mendengar itu, kristal bening pun lolos dari pelupuk matanya. Sebagai seorang perempuan memang tidak seharusnya memberikan mahkotanya pada laki-laki yang bukan suaminya.
Bukankah Jefra begitu menghargai dirinya? Renata melupakan kenyataan jika Jefra adalah orang yang berbeda dengan masa lalu yang menyakitinya.
Jefra menghapus jejak air mata Renata dengan kedua ibu jari, "Mulai sekarang cintailah dirimu sendiri, jadilah dirimu sendiri, hiduplah dengan baik, dan tugasku adalah memberimu kebahagiaan."
Kata-kata yang begitu meneduhkan di kala gelisah, mengobati rasa mengganjal pada hati, dan membuat bahagia. Renata menarik ujung bibirnya untuk menerbitkan senyuman terbaik.
Kemudian Renata memeluk Jefra, "Ya, aku akan mencintai diriku sendiri dan tentunya mencintai kamu juga."
"Bagus," ucapnya seraya membalas pelukan Renata dan mengecup pucuk kepalanya.
'Oh, Jefra. Kenapa aku baru bertemu denganmu? Kemana saja kamu selama ini?' pikir Renata.
Senyumannya semakin lebar.
Renata menerjang tubuh tegap Jefra hingga terjatuh ke belakang.
Jefra terkejut dengan tindakan tiba-tiba Renata. Terlebih lagi bibir mereka yang kembali bertemu.
Ya, Renata menciumnya.
Kenapa gadis itu begitu agresif? Benar-benar menguji kesabaran!
Renata mencium Jefra dengan hanya menempelkan bibir, tanpa ada lum-atan dan mengecap, yang berlangsung selama 10 detik.
"Terima kasih, Jefra. Terima kasih telah menjadi bagian penting dalam hidupku," ucap Renata.
"Ya, My Queen," Jefra tersenyum.
Entah kenapa setiap kali bersama Renata dirinya selalu ingin tersenyum. Sepertinya Jefra sudah tergila-gila dengan gadis itu.
_To Be Continued_
__ADS_1