Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Mencoba Keluar


__ADS_3

"Aku sudah menguncinya," ucap seorang pelayan wanita.


"Kerja bagus," ujar Reva.


Memang benar jika pelayan wanita itu adalah sebagian dari rencana Reva, dan rencananya berjalan sesuai dengan keinginannya


"Ini bayaran kamu," sambung Reva seraya menyerahkan beberapa lembar uang pada pelayan wanita.


"Terima kasih," ucap si pelayan, "Lalu apa yang harus aku lakukan lagi?" tanyanya merujuk pada Jelita.


"Biarkan saja dia terkunci di sana, semoga saja ada orang yang berbaik hati untuk menolongnya," Reva tersenyum miring.


"Tapi, tempat dia terkunci adalah ruang ganti karyawan yang ingin direnovasi, jadi sangat nggak mungkin jika ada yang menolongnya," ucap si pelayan.


"Biarkan saja, itu memang tujuanku."


Sekali tepuk dua lalat. Reva justru senang akan hal itu, dia jadi bisa memberi Jelita pelajaran atas kekesalannya selama ini.


"Sekarang tugasmu adalah tutup mulut," sambung Reva.


"Baik," patuh si pelayan.


"Yasudah, pergi sana," usir Reva pada si pelayan.


Pelayan wanita itu segera undur diri, dia memang hanya menuruti perintah Reva karena mendapatkan imbalan uang yang cukup banyak. Jadi dia tidak ada urusan lagi selain tutup mulut.


"Well, sekarang waktunya menjalankan rencana untuk menggagalkan pernikahan Ryo," gumam Reva menyeringai tipis seraya memasuki kamar.


Reva sudah membayar lebih untuk mendapatkan kamar di lantai dua Club untuk menjalankan rencananya. Club tempat dia merayakan ulang tahun memang menyediakan fasilitas kamar untuk sekedar bersenang-senang.


Setelah masuk ke dalam kamar yang bernuansa putih dan cokelat, Reva segera meletakan kamera ponselnya di meja dan memposisikan supaya menyorot ke ranjang.


Terlihat Ryo yang tertidur di ranjang. Ryo tertidur karena jus jeruk yang dia minum sudah dicampur dengan obat perang-sang dan sedikit obat tidur oleh Reva.


Ya, inilah rencana Reva. Dia akan menjebak Ryo agar menghabiskan malam dengannya dan merekam kegiatan mereka berdua, jika beruntung dia akan mengandung anak dari Ryo. Hasil rekaman itu akan dia publikasi dan pasti akan menyebabkan pernikahan pemuda itu gagal dan Ryo akan berbalik menikah dengannya. Reva bahkan tidak perduli dengan rasa malu saat video dipublikasikan.


Anggap saja Reva benar-benar gila.


Reva meraih opiums spray dan menyemprotkannya pada mulutnya, opiums spray itulah yang tadi dicampurkan pada jus jeruk yang diminum Ryo. Reva berniat memakai obat perang-sang juga agar permainannya dengan Ryo akan lebih menyenangkan. Dia memang sudah sangat merindukan Ryo.


Reva mulai melucuti bajunya satu persatu dan hanya menyisakan br-a dan celana da-lamnya, dengan perlahan dia berjalan menuju ranjang. Tubuhnya kini mulai panas karena efek obat yang mulai muncul. Wajahnya pun sudah memerah karena naf-sunya yang tiba-tiba saja memuncak.

__ADS_1


**


Di lantai dansa.


"Di mana Ryo?" tanya Kavin saat tidak menemukan keberadaan Ryo di kursi bar.


Gavin segera mengikuti titik pandang Kavin, "Entahlah, mungkin dia sudah pulang," jawabnya.


"Apa kamu melihatnya pulang?" tanya Kavin menyelidik.


Gavin menggeleng, "Nggak, aku terlalu asyik berjoget," jawabnya terkekeh tanpa dosa.


"Si bambang," ucap Kavin memutar bola matanya.


"Siapa yang mengajarimu berucap seperti itu, Kavin?" tanya Gavin justru tertawa terpingkal-pingkal.


"Apa yang lucu?" sengit Kavin.


"Itu loh panggilan bambang," kata Gavin yang masih tertawa.


Kavin berpikir sesaat, "Aku sering mendengar anak-anak kampus berbicara seperti itu, apa itu aneh?"


"Nggak aneh, cuman lucu saja saat kamu yang mengucapkannya," jawab Gavin jujur.


"Berhentilah menertawakan aku, bodat," sengit Kavin.


Gavin justru semakin menertawakan Kavin, "Memangnya kamu tahu arti bodat?"


"Tentu saja, bodat itu kamu, Gavin," jawab Kavin, "Gavin si monyet," lanjutnya.


Gavin langsung speechless.


"Kurang ajar!" makinya.


Sepertinya Kavin sudah banyak belajar saat berada di Indonesia, bahkan umpatan dalam bahasa Batak pun dia mengerti.


Pada akhirnya Kavin melupakan Ryo yang tiba-tiba menghilang, dia justru ribut dengan Gavin karena masalah yang tidak berfaedah itu.


**


Di ruang ganti pelayan.

__ADS_1


Jelita berusaha menghubungi seseorang dengan ponsel miliknya, tapi tidak ada sinyal dan itu membuatnya tidak bisa meminta bantuan pada siapapun untuk mengeluarkannya dari tempat dia terkunci.


Lalu Jelita mencari sesuatu dari balik jas miliknya, dia menemukan pistol glock dan belati kesayangannya. Jelita memang selalu menyembunyin pistol dan belati di balik jasnya, dia memang tidak tanggung-tanggung dalam melakukan penyamaran.


Jelita memilih menggunakan belati untuk mencongkel lubang kunci, berharap bisa membuka kuncian pada pintu. Namun, lubang kunci itu sangatlah kecil, belati miliknya tidak bisa membuka kuncian pintu, meskipun sudah Jelita coba memaksa untuk mencongkelnya.


Dan pada akhirnya Jelita menyerah untuk menggunakan belati, dia mengambil pistol miliknya dan mengarahkan moncong pistol pada lubang kunci.


Dor


Peluru dari pistol berhasil menembus lubang kunci dan putaran dari peluru berhasil membuka kuncian pada pintu. Jelita bernapas lega karena kuncian pintu berhasil terbuka, dia sangat beruntung karena hal ini. Kemudian Jelita segera keluar dari tempat itu, dia harus mencari Ryo.


Terdengar suara dentuman musik mengalun keras menyelimuti seluruh ruang club saat Jelita kembali. Jelita mencari sosok Ryo di tumpukan penuh sesak orang-orang yang sedang asyik menikmati keahlian tangan DJ yang menyuguhkan musik bit yang begitu energik. Gadis berkacamata itu benar-benar terlihat gusar karena tidak menemukan Ryo di manapun.


Jelita menyipitkan mata saat melihat Gavin dan Kavin yang terlihat sedang ribut di tengah-tengah lantai dansa, ke duanya terlihat sedang memaki satu sama lain. Mereka bahkan menjadi tontonan menarik bagi semua orang


"Gavin!" seru Jelita seraya menarik tangan Gavin supaya pemuda itu menghentikan keributan itu.


"Eh, Jelita?" Gavin terlihat agak terkejut.


"Di mana Ryo?" tanya Jelita to the point.


"Bukannya Ryo sudah pulang?" tanya Kavin yang percaya dengan apa yang Gavin bilang barusan.


Gavin sendiri hanya menggaruk pipinya yang tidak gatal, sebenarnya dia juga tidak tahu di mana keberadaan Ryo.


"Ryo nggak mungkin pulang, aku saja masih berada di sini," ucap Jelita sedikit meninggikan oktaf suaranya karena alunan musik yang begitu kencang, "Tadi ada yang sengaja mengunci aku di ruang ganti pelayan," lanjutnya.


"Reva," ucap Kavin sedikit mengeraskan rahangnya, "Pasti Reva yang sudah membawa Ryo," lanjutnya.


"Kemana Reva membawa Ryo, Kavin?" tanya Jelita sedikit tidak sabaran.


"Aku juga nggak tahu," jawab Kavin yang menghapus setitik harapan yang tadi Jelita rasakan.


"Nggak usah ngemeng kalau nggak tahu," sengit Gavin.


"Aku akan membantumu mencari Ryo, aku yakin mereka masih berada di Club ini," ujar Kavin dengan bersungguh-sungguh.


"Ayo kita berpencar," timpal Gavin.


Ke tiga orang itu segera berpencar mencari Ryo.

__ADS_1


_To Be Continued _


__ADS_2