
"Penyakit kamu nggak kambuh lagi, kan?" tanya Jelita, dia sedikit curiga jika hobi ke Club malam Ryo kumat.
"Tentu saja nggak, aku ingin menghadiri pesta ulang tahun Reva," jawab Ryo sedikit ngegas karena dituduh kumat.
"Oh gitu," ucap Jelita.
Setelah pulang ke kediaman, Ryo mengajak Jelita untuk menemaninya pergi ke Club untuk menghadiri ulang tahun Reva.
Mereka memasuki Club lebih dalam lagi, Jelita dengan setelan Bodyguardnya dan Ryo dengan memakai kemeja baby blue dipadukan celana berwarna krem.
Ryo menepuk pundak Gavin yang duduk di kursi bar, "Kamu di sini, Vin?" tanyanya.
Gavin seketika menengok untuk melihat siapa yang menepuk pundaknya, "Eh, Ryo? Ya, aku diundang Reva juga," jawab Gavin.
"What’s up, Dude!" sapa Kavin yang tahu-tahu nimbrung, dia mengulurkan kepalanya tangan kanannya pada Ryo.
"Yo, Kavin," sahut Ryo dan mengulurkan kepalan tangan kanannya untuk menyatukannya dengan kepalan tangan Kavin.
"Aku kira kamu nggak datang," ucap Kavin.
"Maunya sih memang nggak datang," kilah Ryo jujur.
"Apa Reva memaksamu?" tanya Kavin sembari menyesap gelas Vodka miliknya.
"Ya begitulah," jawab Ryo mengangguk.
"Jelita, kamu mau minum?" Gavin menawari Jelita dan menyodorkan gelas dengan cairan biru pekat.
"Nggak, Terima kasih. Aku belum pernah minum-minum," jawab Jelita.
"Jangan menawari Jelita yang aneh-aneh," ujar Ryo dan menoyor kepala Gavin pelan.
Gavin cemberut, padahal dia hanya mau bersikap baik saja, "Ya deh," ucapnya.
"Di mana Reva?" tanya Ryo kemudian.
"Aku nggak tahu," jawab Gavin apa adanya.
"Kalau kamu, Kavin? Di mana wanita tercintamu itu?" tanya Ryo diselipi kekehan.
Kavin mengangkat bahu, "Entahlah," jawanya.
Ryo menghela napas, padahal dia ingin langsung pulang setelah bertemu Reva dan mengucapkan kata selamat serta setor muka.
Bugh
"Ah! Maaf, aku tidak sengaja," ucap seorang pelayan perempuan yang menabrak Jelita, dan menumpahkan segelas minuman pada setelan jas kedodoran yang dikenakan Jelita.
"Nggak apa-apa," ujar Jelita, di dalam hati dia mencaci-maki pelayan itu karena sudah membuat basah dirinya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Ryo terlihat khawatir.
Jelita menggeleng dan tersenyum menandakan jika dia tidak apa-apa, "Aku hanya ketumpahan air saja," ucapnya.
__ADS_1
"Aku mempunyai beberapa baju ganti di tempat peristirahatan pelayan, apa Nona mau memakainya?" tawar si pelayan dengan tertunduk menyesal.
Jelita berpikir untuk menimbang, "Baiklah," jawanya menerima tawaran si pelayan, dari pada dirinya menggunakan baju basah.
"Mari ikut saya," ujar si pelayan.
"Ryo, aku tinggal sebentar," ucap Jelita menatap Ryo.
"Ya, cepatlah kembali," ujar Ryo.
Kemudian Jelita pergi mengikuti si pelayan perempuan, membelah lautan manusia yang sedang berjoget-joget menikmati alunan musik.
"Sudahlah, jangan menangis, Jelita hanya ingin berganti baju bukannya pergi perang," ucap Gavin dengan kekehan geli.
"Ck, berisik kamu, Gavin," sengit Ryo.
Bukan karena apa-apa, Ryo hanya khawatir dengan Jelita yang sangat awam pada tempat semacam Club malam. Jelita memang bisa menjaga dirinya sendiri karena jago bela diri. Namun, tetap saja dia khawatir jika terjadi sesuatu pada gadis yang dia cintai itu.
"Hai, Baby," Reva tiba-tiba datang dengan senyum yang mengembang.
**
Di ruang ganti pelayan.
Jelita mulai mengganti pakaiannya dengan kemeja yang lumayan ketat. Mau tidak mau Jelita harus memakainya.
Setelah merasa cukup dengan penampilannya, Jelita segera berjalan menuju pintu untuk keluar, dia tidak boleh meninggalkan Ryo terlalu lama. Firasat Jelita mengatakan jika Reva akan merencanakan sesuatu di pesta ulang tahunnya ini.
Grek
"Buka pintunya!" seru Jelita dengan suara yang cukup keras, dia berharap pelayan yang mengantarnya tadi masih ada di luar.
Namun, nihil.
Tidak ada orang sama sekali di luar.
Dok... Dok... Dok
Jelita menggedor-gedor pintu dengan kencang, berharap ada yang mendengarnya.
Tetap saja tidak ada yang datang untuk menolongnya.
"Sialan," umpat Jelita, "Apa Reva yang menyuruh pelayan itu untuk mengunci aku di sini?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Jelita benar-benar lengah, harus dia mengantisipasi hal ini. Reva pasti sengaja menjauhkan Jelita dari Ryo agar rencananya berjalan dengan lancar.
**
Suasana Club malam semakin meriah. Terlihat Gavin dan Kavin sedang berjoget-joget di lantai dansa dengan mahasiswa lain yang mendapatkan undangan dari Reva. Meskipun Reva termasuk mahasiswi baru, tapi gadis itu sangat populer karena cantik dan friendly. Jadi tidak heran jika pesta ulang tahunnya terlihat ramai.
Ryo terduduk di kursi bar dengan memainkan ponselnya, dia sedang menunggu Jelita dan setelahnya langsung pulang.
"Minumlah, Baby," ucap Reva dengan menyodorkan segelas minuman.
__ADS_1
"Aku sudah nggak minum-minum lagi," tolak Ryo.
"Ini hanya orange juice," ucap Reva.
Ryo menatap minum yang disodorkan Reva untuk memastikan, lalu Ryo mengangguk dan menerimanya karena yakin kalau minuman itu adalah jus jeruk, "Terima kasih," ucapnya.
"Sama-sama," jawab Reva tersenyum manis.
Ryo menyeruput jus jeruk yang Reva berikan, dia memang sedikit haus. Tanpa Ryo sadari, Reva menyeringai samar.
"Mau berdansa denganku, Baby?" ujar Reva setelah Ryo meletakkan gelas yang sudah kosong di meja bar.
"Nggak," tolak Ryo tegas, lagi pula dia tidak mau jika Jelita marah padanya. Ryo masih ingat perkataan Jelita yang tidak memperbolehkannya memeluk dan mencium wanita lain.
Dia hanya ingin menjaga perasaan gadis yang dia cintai itu.
Reva cemberut karena penolakan Ryo, "Padahal hanya berdansa saja."
"Kamu berdansa dengan Kavin saja, Reva," ujar Ryo tanpa perduli dengan ekspresi Reva.
"Nggak mau," tolak Reva cepat.
"Cobalah untuk menerima perasaan Kavin," ucap Ryo berusaha menasihati.
Reva menggeleng, "Kamu saja nggak menerima perasaanku," ujarnya justru mengalihkan fakta.
"Hatiku sudah dimiliki oleh orang lain, jangan berharap lebih," ucap Ryo dengan serius.
Reva membelalakkan matanya, "A-apa? Siapa orang itu?" tanyanya terlihat marah.
Ryo memincingkan mata, dia tidak suka dengan reaksi Reva, "Kamu tidak perlu tahu," ujarnya dengan nada yang begitu dingin.
"Kenapa?" Reva menunduk dengan meremas ke dua tangannya yang disatukan.
"Kenapa apa?" Ryo mengangkat satu alisnya pertanda tidak paham.
"Kenapa bukan aku yang memiliki hatimu, Ryo?" tanya Reva dengan mendongak, tatapnya terlihat berkaca-kaca.
"Hati tidak bisa memilih untuk siapa yang harus dicintai, " jawab Ryo.
"Nggak! Hanya aku yang pantas untuk kamu cintai, Ryo!" seru Reva.
Cinta memang tak harus memiliki, tapi kesadaran manusia yang hilang saat jatuh cinta membuat hal itu serasa sulit. Reva memang sudah terlalu terobsesi pada Ryo sehingga tidak mengerti tentang itu.
"Dasar sinting," sinis Ryo.
Karena tidak ingin berurusan dengan Reva lebih lanjut lagi, Ryo ingin beranjak untuk mencari Jelita yang belum kembali juga.
Namun.
Tiba-tiba saja Ryo merasa pusing pada kepalanya, bahkan dia tidak bisa menopang tubuhnya untuk berdiri tegak.
"Reva, kamu...." desis Ryo saat merasakan ada yang aneh pada dirinya.
__ADS_1
Reva menyeringai menatap Ryo.
_To Be Continued_