Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Pinggul Sexy


__ADS_3

"Dasar bajingan nggak tahu diri, cobalah untuk bercermin," cerca Renata.


Rahang Davian mengeras karena cercaan yang dilontarkan Renata.


"Kamu yang sudah melakukan perselingkuhan apakah memikirkan akibat dari perbuatan kamu itu? Padahal kamu pasti tahu itu akan menyakitiku, tetapi entah bagaimana itu tetap nggak menghentikanmu," ucap Renata tersenyum miris.


Davian terdiam, lidahnya keluh karena tidak tahu harus mengatakan apa, yang diucapkan Renata adalah sebuah kenyataan.


"Aku hanya nggak habis pikir, kenapa ada orang seperti kamu di dunia ini? Kamu bahkan nggak menyadari jika dirimu yang paling egois," sambung Renata dengan bersusah payah menahan air matanya.


Dia tidak boleh kembali menangis karena laki-laki bajingan seperti Davian. Sudah cukup air mata yang dia tumpahkan untuk pengkhianatan Davian.


Renata sungguh sangat menyesal karena pernah begitu mencintai Davian. Pemuda itu datang dengan sesuatu janji yang begitu manis. Renata kira Davian adalah pemuda yang telah ditakdirkan untuknya, ternyata dia salah, janji dan cinta yang pernah Davian berikan adalah omong kosong.


"Itu juga karena salahmu sendiri yang nggak mau menuruti apa yang aku mau, Renata," ucap Davian justru menyalahkan Renata.


"Kalau memang akal sehatmu masih berfungsi. Maka introspeksi dirilah, sadarlah seberapa buruk dirimu itu, Davian Mahavir," ujar Renata dengan tatapan yang begitu tajam.


Renata melangkah ke arah depan dan segera menginjak kaki Davian dengan sangat kencang.


"Arghh!" teriak Davian kesakitan, kakinya yang masih terluka semakin terasa sakit karena injakan dari Renata.


"Rasakan itu! Aku menolak untuk menolong kamu, karena itu adalah bayaran dari perbuatan kamu sendiri," Renata berkata dengan tegas.


Kemudian Renata segera bejalan untuk menaiki mobilnya.


"Renata!" teriak Davian saat mobil yang dikendarai Renata meninggalkannya.


"Sialan!" raungnya.


**


Renata memarkirkan mobilnya di parkiran rumah bernuansa klasik yang mewah. Setelah pertemuannya dengan Davian, dirinya berniat untuk menemui Jelita untuk bertanya tentang apa yang dilakukan sepupunya itu pada mantan kekasihnya.


Jelita memang selalu seperti itu, bertindak tanpa memberitahu apapun. Namun, Renata sangat terharu dengan apa yang dilakukan Jelita.


Ya, Renata berniat berterima kasih pada Jelita. Beruntung sekali dia karena memiliki sepupu yang sangat perduli padanya.


Pintu mobil terbuka dan Renata keluar dari sana, melangkahkan kakinya setelah menutup pintu mobilnya, berjalan untuk memasuki rumah.


Renata menarik napas sebelum...


"Yuhu! Jelita!" teriaknya begitu kencang, Renata memang sudah kebiasaan berteriak saat bertamu untuk menemui Jelita.


Sepertinya dia lupa jika Jelita sudah tinggal di rumah sang suami.


"Berisik sekali!" Ryo yang sedang berada di ruang tamu ikut berteriak tidak kalah kencangnya.


"Ups..." Renata segera menutup mulutnya sendiri.


Saat memasuki ruang tamu, Renata bisa melihat jika ada empat pemuda yang sedang menatapnya.


Dan Renata sangatlah malu saat tatapannya bertemu dengan mata elang milik Jefra. Betapa bodohnya dia yang kelepasan berteriak saat memanggil Jelita, belum lagi suaranya yang pastinya sangat cempreng.

__ADS_1


"Dokter Renata, rumahku ini bukanlah hutan, jangan berteriak seperti Tarzan," ucap Ryo yang mengalihkan atensinya.


Terlihat Ryo, Gavin, dan Kavin sedang bermain game di ruang tamu, sedangkan Jefra seperti biasa yang selalu mengawal tuan mudanya.


"So-sorry," ucap Renata kikuk.


Ryo mengangguk, "Yeah."


"Apa Jelita ada?" tanyanya kemudian.


Ryo tidak langsung menjawab, dia justru melirik Jefra yang tidak menampilkan ekspresi apapun meskipun sang pujaan hatinya datang.


"Jelita sedang membersihkan kamar tamu untuk ke dua temanku yang ingin menginap," jawabnya.


"Tapi Ryo, kami—"


"Kamu bisa ke sana, biar Jefra yang mengantarkan kamu," sambung Ryo memotong perkataan Kavin.


Kemudian Ryo mengisyaratkan Kavin untuk diam dengan mengerling.


"Membersihkan kamar tamu? Apa di sini nggak ada asisten rumah tangga?" tanya Renata merasa aneh.


Kenapa juga Jelita yang notabene istri dari Ryo melakukan itu? Dan kenapa juga harus Jefra yang mengantarnya? Padahal Renata masih malu pada Jefra karena kelakuannya tadi. Entahlah, Renata tidak ingin saja jika Jefra mengecapnya sebagai perempuan bar-bar, walaupun itu kenyataannya.


"Asisten rumah tangga sudah pulang sejak tadi siang," jawab Ryo jujur.


Memang Asisten rumah tangga di rumahnya hanya bekerja setengah hari karena untuk bersih-bersih rumah saja.


"Jefra, antar Dokter Renata ke kamar tamu," titah Ryo pada Jefra.


Jefra sendiri juga merasa bingung dengan apa yang dikatakan Ryo, karena setahunya Jelita sedang tidak berada di kamar tamu.


"Tapi, tuan muda—"


"Cepatlah jangan tapi-tapian," final Ryo.


"Baik, tuan muda," patuh Jefra.


Pada akhirnya Jefra hanya bisa menurut.


"Mari aku antar," ucap Jefra pada Renata dan berjalan duluan.


"Ya."


Renata mengikuti Jefra dari belakang. Tatapannya tertuju pada punggung Jefra yang terbalut jas berwarna hitam, terlihat kokoh dan sepertinya sangat hangat jika dipeluk, lalu pinggul Jefra pun tidak lepas dari tatapannya.


Jefra memiliki garis pinggul yang sangat bagus.


"Sexy sekali pinggulnya," gumam Renata dengan sangat pelan.


"Apa?" tanya Jefra yang ternyata mendengar gumaman Renata, tapi tidak terlalu jelas.


Seketika Renata merona tipis, "Ah, nggak apa-apa," kilahnya.

__ADS_1


'Kenapa pikiranku kotor sekali,' pikir Renata merutuki dirinya sendiri.


Langkah Jefra berhenti di depan kamar dengan pintu berwarna cokelat, kemudian tangannya terangkat untuk mengetuk pintu.


Tok... Tok...


"Nona," panggil Jefra setelah ketukan pintu yang ke dua.


Karena tidak mendengar jawaban, Jefra memegang handle pintu untuk membukanya. Dia masuk ke dalam dan diikuti oleh Renata.


"Nona?" panggil Jefra lagi.


"Kenapa kosong?" tanya Renata yang tidak melihat keberadaan Jelita.


"Mungkin di kamar mandi," ujar Jefra.


"Jelita," panggil Renata sedikit menaikan oktaf suaranya sembari berjalan ke arah kamar mandi.


Cklek


Renata tidak melihat sepupunya saat membuka pintu kamar mandi.


Ke mana Jelita?


"Jelita nggak ada," kata Renata pada Jefra.


Renata merasa jika Ryo sedang mengerjainya. Ryo benar-benar kurang kerjaan sekali jika itu benar. Renata menghentakkan kakinya karena merasa kesal, padahal dirinya sudah merasa kesal karena pertemuannya dengan Davian.


"Menyebalkan," gerutu Renata dengan menggembungkan ke dua pipi tembam miliknya.


Ingin sekali Renata mencakar tembok untuk menyalurkan rasa kesalnya yang bertambah.


"Sebaiknya kita kembali," saran Jefra.


Jefra sendiri tengah mati-matian untuk tidak mencubit ke dua pipi Renata yang sedang kesal, bukannya menyeramkan justru menggemaskan.


"Ya," jawab Renata.


Renata segera berjalan menuju pintu keluar yang entah sejak kapan sudah tertutup rapat.


"Bukankah tadi pintunya terbuka lebar?" tanyanya.


Namun, Renata merasa ada yang aneh ketika dia mencoba menarik handle pintu.


Krek... Krek...


"Ke-kenapa terkunci?"


Seketika Renata panik, tatapannya beralih pada Jefra, "Jef, pintunya..." ucapnya.


Apa sekarang Renata terkunci bersama Jefra? Hanya berdua? Dan lebih parahnya di kamar tamu.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2