
"Yo, apa ini nggak keterlaluan?" tanya Kavin pada Ryo, "Bisa-bisanya kamu ngunciin Bodyguardmu dengan seorang cewek," lanjutnya.
"Ini adalah sebuah bantuan," ujar Ryo tersenyum jahil.
"Bantuan?" tanya Kavin masih tidak mengerti.
"Kamu terlalu sibuk mengurusi Reva jadi nggak tahu kalau kita sedang menjalankan misi," ucap Gavin justru mengejek.
"Aku nggak sibuk mengurusi Reva," bantah Kavin sebal.
"Misi kita adalah membantu Jefra mendapatkan hati Dokter Renata," jelas Ryo.
Kavin yang baru tahu pun langsung paham, dia kira Ryo hanya berniat mengerjai Jefra.
"Jadi kita ini sama saja sedang membantu Jefra," timpal Gavin.
"Oh, begitu," ucap Kavin.
"Baiklah, ayo kita dengarkan apa yang akan terjadi selanjutnya," ujar Ryo.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Jelita saat melihat ke tiga pemuda yang sedang menempelkan telinga pada pintu kamar tamu.
Jelita yang sebenarnya habis ke kamar mandi merasa terheran-heran.
Ryo segera menghampiri istrinya itu dengan cengengesan, "Nggak melakukan apa-apa kok, sayang," ucapnya.
"Yang benar?" tanya Jelita pada ke dua pemuda lainnya, meminta klarifikasi.
Gavin dan Kavin yang bagai Upin dan Ipin segera mengangguk bersamaan, lalu tertawa kikuk.
Namun, kebohongan mereka tidak berlangsung lama.
Krek... Krek...
"Buka!"
Jelita terperanjat saat mendengar suara Renata dari balik pintu yang terkunci rapat, "Kalian ngunciin Renata?" tanyanya.
"Sudah jangan khawatir, sepupumu itu sedang bersama Jefra di dalam," ujar Ryo.
"A-apa?"
Jelita tidak habis pikir dengan apa yang tengah direncanakan suaminya itu. Renata dan Jefra sedang berduaan di tempat tertutup. Bukankah itu sangat berbahaya? Bagaimana bisa Ryo menyuruhnya untuk tidak khawatir dengan nasib Renata.
"Biarkan mereka berduaan untuk mempererat hubungan mereka," ujar Ryo, dirangkulnya pundak istrinya dan menggiringnya untuk pergi dari sana.
"Tapi, kalau terjadi sesuatu pada Renata bagaimana?" tanya Jelita.
"Sudahlah nggak apa-apa, hubungan mereka akan susah berkembang kalau nggak menggunakan cara ini, Jefra itu terlalu kaku untuk bisa menaklukkan hati Renata secara alami," jawab Ryo.
"Apa sungguh nggak apa-apa?" tanya Jelita yang masih khawatir dengan sepupunya.
"Sungguh," jawab Ryo meyakinkan istrinya itu.
Lagi lupa Ryo juga yakin jika Jefra tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh dengan Renata, karena Ryo tahu jika Jefra masih terlalu awam untuk urusan wanita, tidak seperti dirinya yang sudah tercemar sana-sini.
Jelita mengangguk, mencoba yakin dengan apa yang dikatakan Ryo.
"Ngomong-ngomong kenapa Renata ke sini?" tanya Jelita kemudian.
"Dia bilang kalau ingin bertemu dengan kamu," jawab Ryo apa adanya.
Jelita terdiam untuk memikirkan alasan apa yang membawa Renata ingin menemuinya.
**
Beralih ke Renata dan Jefra yang sedang terkurung bersama di kamar tamu.
"Buka!"
__ADS_1
Renata serasa ingin menangis saat tidak ada yang menggubris teriakannya, dia juga merasa lelah saat terus-terusan berteriak.
"Kenapa diam saja, Jef? Bisakah kamu dobrak pintu ini?" tanya Renata pada Jefra.
Jefra menggeleng, "Aku tidak bisa mendobraknya, Renata," jawabnya.
Dia memang tidak bisa mendobrak pintu. Namun, sebenarnya dia bisa membukanya dengan cara lain. Jefra yang seorang Intelijen tentu saja memiliki banyak cara untuk membuka pintu yang terkunci dari luar. Tetapi Jefra justru diam saja, tidak melakukan usaha apapun untuk membuka pintu, karena dia tahu jika ini adalah sebuah kesempatan.
Seringai samar terbit di bibir tipisnya, tentu saja dia tidak ingin melewatkan ini.
"Kita harus menghubungi Jelita atau Ryo," ujar Renata.
Lalu Renata mengobrak-abrik tas jinjingnya untuk mengambil ponselnya.
"Po-ponselku lowbet," gumam Renata.
"Hmm," Jefra hanya bergumam.
Dewi Fortuna sedang berpihak pada Jefra, di dalam hati dia senang bukan main.
"Gunakan ponselmu, Jef," pinta Renata.
"Ponselku sedang di cas, aku meninggalkannya di ruang tamu," ucap Jefra tidak sepenuh berbohong.
Renata lemas seketika. Dia dan Jefra benar-benar terkunci, lebih parahnya lagi hanya berdua.
Dengan gusar Renata berjalan mondar-mandir sembari mengigit kuku-kuku jarinya.
Jefra mendudukkan dirinya pada bibir ranjang, "Kita tunggu saja, nanti juga ada yang membukakan pintu," ujarnya.
Mata Renata terbelalak. Menunggu sampai ada yang membuka pintu katanya?
"Mau sampai kapan menunggu?" tanya Renata masih terlihat panik.
"Entahlah, mungkin sebentar lagi," jawab Jefra asal.
Renata mendudukkan dirinya di sebelah Jefra, mau tidak mau dia memang harus menunggu.
Lama-kelamaan rasa gusar yang Renata rasakan berubah menjadi canggung.
Renata terkejut saat ujung-ujung jari Jefra menyentuh sedikit jari telunjuknya.
"Tenang saja," bisik Jefra.
Secara tenang dan perlahan Jefra menyelipkan tangannya di bawah tangan Renata, dan menggerakkan tangannya sedikit untuk memainkan jari milik Renata perlahan.
Bukannya tenang, justru jantung Renata yang berdetak kencang. Renata bahkan khawatir jika bunyi detak jantungnya akan terdengar karena suasana yang hening itu.
"Y-ya," jawab Renata terbata.
Tatapan Renata mengarah pada tangannya yang sedang digenggam Jefra, dia bisa menemukan kehangatan di sana.
Kemudian bibir Renata tertarik ke atas membentuk senyum.
Tuk
Kini giliran Jefra yang dibuat terkejut, karena Renata menyandarkan kepala pada bahunya.
"Boleh bersandar sejenak? Aku lelah sekali," lirih Renata.
"Hmm," Jefra mengangguk kaku.
Hari ini begitu buruk bagi Renata dan sungguh membuatnya lelah. Setangguh apapun, wanita pasti membutuhkan sandaran. Renata menemukan kenyamanan saat bersandar pada bahu lebar Jefra.
"Tadi aku bertemu dengan mantan kekasihku," ucap Renata tiba-tiba.
"Oh," ada rasa tercubit sedikit pada hati Jefra.
Apa mantan kekasih Renata mengajak balikan? Apa Renata sudah kembali pada mantannya itu?
__ADS_1
"Tenang saja, aku nggak balikan dengannya," ujar Renata seakan tahu apa yang Jefra cemaskan.
Entah kenapa Renata tidak ingin Jefra salah paham padanya.
Ada rasa kelegaan pada hati Jefra setelahnya, "Untuk apa kalian bertemu?" tanya Jefra.
"Dia yang menemui aku," ralat Renata.
Jefra pun mengangguk.
Kemudian Renata mulai menceritakan tentang kekesalannya pada Davian, bagaimana sikap Davian yang begitu tidak tahu diri, dan rasa menyesal karena telah mencintai orang yang salah selama ini. Renata mengeluarkan semua unek-uneknya pada Jefra.
"Apapun yang menyakiti kamu, hanya akan membuat kamu lebih kuat pada akhirnya," ujar Jefra dengan memberanikan diri mengelus rambut panjang Renata.
Renata menyunggingkan senyum, dirinya menjadi lebih baik setelah berbagi cerita pada Jefra.
"Terima kasih, Jef," ucap Renata.
"Hmm," Jefra hanya bergumam.
Suasananya menjadi hening kembali. Namun, tidak secanggung sebelumnya. Bahkan mereka merasa nyaman dengan keheningan itu.
Renata merasa kantuk menyerangnya, dia pun tertidur dengan masih bersandar pada bahu Jefra.
Jefra menatap Renata yang tertidur dengan napas yang teratur, terlihat begitu damai. Tangannya bergerak untuk mengelus pipi gadis itu.
"Aku akan selalu menjagamu agar kamu tetap bisa bersandar padaku, Renata," ucap Jefra begitu tulus.
_To Be Continued_
Visual Tokoh [Revisi]
Ini untuk yang request visual, kalau ada yang nggak srek bisa bayangkan sendiri ya~ 🤗🤗
Berlian Jelita Albirru
Ramaryo Kevlar Putra J
Jefra Annefall
Renata Carissa
Thanks for reading~
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak.
Like
Komen
Favorit [❤️]
Vote dan Hadiah juga boleh disumbangkan 🤭🤭
__ADS_1
Btw, novel ini ikut dalam lomba genre Wanita Mandiri, tolong dukungannya supaya bisa menang ya ehehe