
4 hari kemudian.
Selama 4 hari cedera yang dialami Jelita berangsur membaik, dan selama itu pula hubungannya dengan Ryo terlihat canggung.
Jelita kira setelah pernyataan cinta dari Ryo mereka akan menjadi semakin dekat layaknya seorang kekasih. Namun, nyatanya tidak. Ryo terlihat menjauhinya. Akan tetapi dia tahu alasan Ryo melakukan itu. Ryo akan menikah dalam hitungan hari.
Niat awal ingin berkata jujur pada Ryo tapi dicegah oleh Ayah Xavier. Beliau mengatakan jika belum saatnya dia berkata jujur, karena di saat hari pernikahannya dengan Ryo adalah waktu yang tepat.
Sebenarnya Jelita hanya takut jika Ryo akan kecewa padanya karena sudah berbohong terlalu lama.
Jelita menghentikan mobil di area parkir kampus, kemudian dia keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Ryo. Hari ini dia sudah kembali menjadi Bodyguard tanpa adanya Jefra untuk menjadi penggantinya.
"Baby!" seru Reva langsung menubruk tanpa permisi memeluk Ryo dari belakang.
Jelita mendadak kesal karena melihat itu, ingin sekali dia mengatakan 'He's mine, don't touch my future husband' dan langsung menarik rambut Reva agar menjauh dari Ryo. Tapi dia hanya bisa bersabar. Jelita memang benar-benar mempunyai kesabaran seperti t#ngo. Berapa lapis? Ratusan!
"Lepas," ucap Ryo seraya melepas paksa tangan Reva yang memeluknya. Reva hanya memperparah moodnya yang memang sudah buruk selama 4 hari ini.
Reva mengerucutkan bibir kesal, "Menyebalkan, mentang-mentang kamu akan menikah, kamu jadi sombong padaku," katanya dengan menghentakkan kaki.
Padahal lebih baik jika kita belajar dari pengalaman, tetapi Reva tidak pernah belajar apa pun dari pengalaman. Gadis itu sangat bebal untuk tetap berusaha mendekati Ryo meskipun selalu mendapatkan respon negatif.
"Ck, meskipun aku nggak menikah pun perilaku aku akan sama terhadapmu," decak Ryo kesal.
Berita pernikahannya memang sudah tersebar ke mana-mana, tidak heran jika Reva tahu. Reva sangat terpukul karena itu, bisa-bisanya Ryo menikah dengan gadis lain dan mencampakkannya begitu saja, dia tidak terima itu.
Setelah Jelita, kini ada saingan yang lebih berat lagi.
'Akan aku pastikan, pernikahannya kamu nggak akan terjadi," batin Reva.
Ya, baginya, Ryo adalah miliknya, tidak akan dia biarkan jika Ryo menikah dengan wanita lain.
Kemudian Reva melihat Jelita, dia tersenyum mencemooh pada gadis itu, "Well, pada akhirnya kamu juga membuang cewek Jelek ini," ucapnya
Reva tidak tahu jika yang akan menikah dengan Ryo itu adalah si gadis Jelek yang dia hina.
"Apa maksudmu?" tanya Ryo dengan dingin.
"Kamu membuang Jelita seperti kamu membuang aku," jelas Reva.
__ADS_1
Jelita sendiri terdiam, dia menganggap Reva hanyalah gonggongan An-jing, siapa juga yang mau disamakan dengan Reva.
Sedangkan Ryo mengepalkan tangan, hatinya seakan tercubit mendengarnya, dia memang terlihat membuang Jelita, gadis yang dia cintai. Dia ingin menyangkalnya karena Jelita masih akan terus di hatinya, tapi dia juga tidak bisa menyangkal karena akan menikah dengan gadis lain.
Ryo bahkan tidak sanggup untuk berbicara dan menatap mata indah Jelita karena berpikir sudah menyakiti gadis itu.
"Sebaiknya kamu jangan berbicara yang tidak-tidak," ucap Ryo kemudian.
Reva hanya mengangkat bahu, "Oh ya, Baby. Aku ingin memberi kamu sesuatu," sambung Reva dengan seenaknya mengalihkan pembicaraan.
Reva membuka tas jinjingnya dan mengambil sesuatu dari sana, "Ini untukmu, Baby," ucapnya.
Ryo menerima sebuah kertas yang ternyata adalah undangan ulang tahun Reva, "Kamu merayakan ulang tahun di saat Ibumu sakit?" tanyanya, dia ingat jika Reva mengatakan Ibunya sakit dan mengharuskannya pulang ke Indonesia.
"Ibuku sudah membaik, aku hanya ingin merayakan ulang tahun saja, Ibuku juga nggak keberatan," ucap Reva berbohong dengan apik.
"Hmm," Ryo hanya bergumam.
"Aku harap kamu datang, Baby," pinta Reva dengan menangkup ke dua tangannya di depan dada, gestur memohon.
"Aku nggak janji," jawab Ryo apa adanya.
"Aku sibuk menyiapkan pernikahan," jawab Ryo, sejatinya dia hanya malas datang, untuk persiapan pernikahannya sudah selesai dari jauh hari, tentu saja Xavier yang menyiapkannya.
"Hanya sebentar saja. Aku mohon, datanglah," pinta Reva lagi.
Jelita menatap curiga Reva, kenapa juga Reva memohon kedatangan Ryo sampai segitunya? Apa ada yang gadis itu rencanakan? Sepertinya Reva harus dia waspadai.
"Baiklah," ucap Ryo ogah-ogahan.
"Yey!" Reva berjingkrak senang, "Kamu memang yang terbaik, Baby," ucapnya dan ingin memeluk Ryo.
Namun, Ryo segera menghindar, mengakibatkan Reva hanya memeluk angin. Reva jadi seperti orang bodoh dibuatnya.
"Berhentilah mencoba memelukku lagi, Reva," kilah Ryo memberi peringatan pada Reva, kemudian melanjutkannya langkahnya.
"Cobalah menghargai dirimu sendiri," lirih Jelita saat jalan melewati Reva.
Grep
__ADS_1
Reva menahan lengan Jelita yang menyebabkan Jelita mengurungkan langkah kakinya.
"Menurutku harga diri tidaklah sepenting ambisi aku untuk mendapatkan Ryo," ucap Reva.
Jelita melepas tangan Reva yang menahan lengannya, "Maka buatlah harga dirimu serendah mungkin, dan semua orang tidak akan menghargai dirimu lebih dari dirimu menghargai diri sendiri."
Lalu Jelita pergi untuk kembali mengikuti Ryo dari belakang.
"Memangnya kamu tahu apa? Kamu sendiri adalah Bodyguard yang nggak tahu diri karena mengharapkan tuanmu sendiri," gumam Reva dengan tatapan sinis.
**
"Kavin!" seru Reva pada Kavin yang berjalan di koridor kampus, akhir-akhir ini pemuda bule itu selalu menjauh darinya.
Kavin pura-pura tidak dengar dan masih terus berjalan. Namun, lengannya ditarik Reva hingga dia berhenti berjalan.
"Apa ada denganmu? Kenapa mengabaikan aku akhir-akhir ini?" tanya Reva dengan tidak sadar diri. Padahal dialah yang selama ini mengabaikan perasaan Kavin.
"Memangnya ada apa denganku? Aku hanya mencoba untuk bersikap sepantasnya saja," jawab Kavin dengan datar.
Reva mengeryit bingung, "Bersikap sepantasnya? Maksudmu apa, Kavin?" tanyanya.
Kavin menatap lurus mata Reva yang bermata cokelat, "Ada fase di mana aku akan pergi karena kesabaran, peduli, dan kesetiaannya yang aku berikan nggak dihargai olehmu, Reva," ucapnya.
Reva membelalakkan matanya, tidak dia tidak bisa membiarkan Kavin pergi darinya, hanya Kavin yang selalu mendukungnya untuk mendapatkan Ryo, "Jangan seperti ini, Kavin," ujarnya kalut.
Kavin menggeleng, "Maaf, aku nggak bisa bertahan lebih lama lagi dengan rasa sakit yang selalu kamu berikan," ucapnya.
Bagi Kavin, lebih baik sakit hati karena menahan diri agar berhenti peduli dan berhenti memperjuangkan, daripada sakit hati karena tidak dihargai sama sekali.
"Kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Reva menatap tidak percaya Kavin, orang yang selalu mengejar-ngejarnya cintanya kini ingin berhenti mengejarnya.
"Jagalah dirimu baik-baik, Reva. Akhir semester ini aku akan kembali ke LA," ucap Kavin menepuk-nepuk kepala Reva pelan, lalu berbalik pergi.
Reva menatap punggung Kavin yang perlahan menjauh dengan tatapan rumit. Ada perasaan tidak rela pada hatinya.
"Padahal aku membutuhkan Kavin untuk membantuku menjalankan rencana menggagalkan pernikahan Ryo," gumam Reva.
"Dengan tidak adanya Kavin aku pasti akan menjalankan rencana itu," sambungnya dengan menatap tajam ke depan.
__ADS_1
_To Be Continued_