Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Posesif


__ADS_3

Jefra memasuki salah satu cafe dengan masih menggunakan setelan jas formal, dia segera mendudukkan bokongnya di kursi pojok dekat jendela kaca yang menunjukan riuh rendah orang yang berlalu lalang.


"Selamat siang, mau pesan apa?" sapa pelayan laki-laki.


"Espresso."


"Ada lagi?"


Jefra menggeleng, dia memang hanya membutuhkan kopi untuk melawan rasa kantuknya. Pelayan pun pergi untuk menyiapkan pesanan.


Kemudian Jefra mengeluarkan laptop yang tadi dia bawa, dia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Jika ditanya kenapa Jefra justru bekerja di cafe, maka jawabannya karena dia tidak konsen bekerja di ruangannya lantaran mendengar suara-suara aneh dari ruang kerja tuan mudanya. Tentu saja dia tahu suara apa itu, karena itu dia lebih baik pergi dari pada mengganggu Ryo dan Jelita yang sedang dimabuk cinta.


Pelayan datang kembali dan meletakan satu gelas Espresso di meja, lalu pergi setelah Jefra mengucapkan terima kasih tanpa mengalihkan tatapan dari layar laptopnya.


Jefra harus segera menyelesaikan pekerjaannya dan segera pulang untuk bertemu dengan kasur tercintanya.


30 menit kemudian, Jefra sudah menyelesaikan sebagian pekerjaan, kerena merasa pegal dia menggerakkan kepalanya untuk menengok kanan dan kiri. Saat dia menengok ke kiri tatapnya terkunci pada seorang wanita yang tiba-tiba saja berhenti di depan jendela kaca.


Jefra mengeryit karena wanita itu seorang sedang menatapnya.


"Apa perlu apa dia? Sepertinya aku pernah melihatnya," gumam Jefra pelan.


Wanita itu merapihkan rambut hitamnya yang menjuntai dan menyelipkan pada telinga, kemudian dia mengambil sesuatu dari dalam hand bag miliknya, sebuah lipstick. Wanita itu mengoleskan lipstick berwarna merah pada bibirnya, kemudian mengecap bibirnya sendiri untuk meratakan warna lipstik dan memonyongkan bibir seksinya.


Jefra berkedip beberapa kali, entah kenapa hatinya jadi bergetar tiba-tiba.


Kemudian wanita itu mencondongkan tubuh bagian depannya untuk membenarkan bajunya yang berkerah rendah. Perbuat wanita itu sukses membuat ke dua tonjolan yang lumayan besar itu terlihat jelas oleh Jefra.


Jefra sampai menelan saliva kasar.


"Renata!" seru seseorang yang memanggil nama wanita itu, saking kencangnya Jefra bisa mendengarnya.


Renata yang tadi memang sedang menumpang mengaca untuk membenarkan penampilannya segara berbalik untuk menghampiri teman wanitanya itu.


"Renata?" gumam Jefra tersenyum tipis, "Bisa-bisanya wanita itu mengaca tanpa tahu aku sedang memperhatikannya."


Kaca jendela cafe itu memang terlihat hitam saat dilihat dari luar, tidak heran jika Renata mengaca tanpa tahu ada yang melihatnya.


**


Di perjalanan pulang, pukul 07.00 malam.


Dertt Dertt


Ryo segera mengambil ponsel di saku celananya. Dia menunjukkan raut tidak suka saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Kenapa nggak diangkat?" tanya Jelita sedikit penasarannya siapa yang menghubungi Ryo.


Ryo menatap Jelita yang duduk di sebelahnya, "Ah, ini Reva," jawabnya agak ragu.


Jelita terdiam dan kembali fokus menyetir.

__ADS_1


"Apa kamu cemburu?" tanya Ryo terkekeh pelan.


"Si-siapa juga yang cemburu," bantah Jelita.


"Berarti kalau aku mencium dan memeluk Reva nggak masalah buatmu?" tanya Ryo


Ckitt


Tiba-tiba Jelita menginjak rem, mobil berhenti mendadak, Ryo hampir jantungan dibuatnya.


"Kenapa tiba-tiba ngerem, sih?" protes Ryo.


"Nggak, kamu nggak boleh memeluk dan mencium cewek lain lagi," kata Jelita memposisikan tubuhnya menghadap Ryo, dia meraih tangan Ryo dan menggenggamnya.


"Ternyata Jelita sangat posesif," ucap Ryo dengan terkekeh.


Wajah Jelita langsung merona, bisa-bisanya ke dua pipinya matang karena terlalu banyak merona, "Aku nggak posesif," bantahnya.


Setahu Jelita posesif itu sama saja menganggap Ryo seperti barang yang dia miliki sehingga bisa diatur sesuai kemauan tanpa memikirkan perasaan Ryo. Dia tidak mungkin seperti itu. Jelita hanya tidak suka jika Ryo dekat-dekat dengan wanita lain.


"Padahal aku nggak keberatan juga kalau kamu posesif," kata Ryo dengan begitu renyahnya.


Jelita menatap tidak percaya Ryo, seperti menatap orang yang sedang terjangkit penyakit yang mematikan, "Kamu benar-benar aneh," ucapnya.


"Aneh juga kamu tergila-gila padamu," kata Ryo begitu narsisnya.


Jelita tidak bisa berkata-kata lagi.


Dertt Dertt


Jelita mengangguk, dia menjalankan mobil kembali.


"Ada ada?" tanya Ryo to the point saat mengangkat telepon dari Reva.


[Kamu di mana? Katanya ingin datang ke pesta ulang tahun aku.]


"Aku baru saja pulang dari kantor."


[Kamu bekerja? Kenapa aku baru tahu?]


"Memangnya kamu siapa yang harus tahu semua tentangku?"


[Tentu saja karena aku adalah orang yang mencintaimu, bukankah aku spesial bagimu?]


Ryo melirik Jelita dari ekor matanya, terlihat gadis itu menatap lurus ke jalan.


"Berhentilah mengatakan dirimu spesial bagiku."


[Mana bisa kayak gitu.]


"Sudahlah, aku malas meladeni omong kosong kamu."

__ADS_1


[Tunggu!]


"Apa?"


[Cepatlah datang ke pesta ulang tahunku, kamu harus menepati perkataanmu tadi pagi.]


"Oke, setelah itu jangan pernah mengganggu aku lagi."


[A-apa?]


"Jangan mengganggu aku lagi. Aku harap ini adalah kali terakhir kamu mengganggu aku."


[Ta-tapi...]


"Jika kamu masih saja mencoba mengganggu, aku nggak akan segan-segan lagi terhadapmu."


[...]


"Ingatlah apa yang aku lakukan dulu pada wanita yang mengaku-ngaku hamil anakku, mungkin kamu akan mengalami hal yang sama seperti wanita jalαng itu."


Setelahnya panggilan telepon itu dimatikan sepihak oleh Ryo.


"Memangnya apa yang kamu lakukan pada wanita yang mengaku-ngaku hamil anakmu itu?" tanya Jelita tanpa mengalihkan atensinya.


"Sebaiknya kamu nggak usah tahu, Jelita," jawab Ryo, dia mengalihkan tatapannya pada jendela kaca mobil.


Tentang Ryo yang membunuh wanita yang hamil anaknya itu ternyata bukanlah isapan jempol belaka, itu benar. Lagi pula wanita itu memang hanya berpura-pura. Jelita tidak tahu jika pemuda yang dia cintai itu tidak segan untuk membunuh orang yang merepotkan baginya.


Sama seperti Xavier yang begitu kejam membantai seluruh keluarga Delaney, begitu pula dengan Ryo yang yang memiliki sifat tidak jauh dari Ayahnya itu.


Seperti seekor singa yang tidak harus membuktikan bahwa dia adalah ancaman. Semua orang pasti sudah tahu apa yang bisa dilakukan singa jika diganggu.


**


Di sisi lain.


Reva terlihat pucat pasi setelah mendengar perkataan terakhir Ryo di sebrang telepon.


Dirinya tidak menyangka jika Ryo akan mengancamnya seperti itu, dia tahu jika itu bukannya ancaman biasa.


Namun, obsesi terhadap pemuda itu lebih besar dari rasa takutnya.


"Aku nggak boleh takut," gumamnya, tatapannya tertuju pada suasananya Club malam yang terlihat ramai, dia memang mengadakan pesta di Club malam.


"Kamu sedang merencanakan apa, Reva?" tanya Kavin yang muncul dengan segelas Vodka ditangannya.


"Bukan urusanmu, Kavin. Bukankah kamu sudah nggak perduli denganku?" sinis Reva dengan memincingkan mata.


Kavin mengangkat bahu, "Aku hanya memberi tahu kamu agar nggak berbuat nekat," sarannya. Sepertinya masih ada rasa keperdulian dari dirinya.


"Bukan urusanmu," ucap Eva tidak perduli dengan saran Kavin.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2