Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Selalu ada


__ADS_3

Di sebuah jalan sempit yang sangat minim penerangan. Jefra melangkah semakin masuk ke dalam kegelapan.


"Ck, lama sekali," decak David ketika Jefra sudah berada di hadapannya, "Aku sampai menjadi pendonor bagi para nyamuk di sini," gerutunya sembari menggaruk lengannya.


"Ada yang mengikuti aku, jadi aku harus memutar jalan," ucap Jefra dengan ekspresi tenang.


Sebenarnya Jefra tahu jika Renata mengikutinya, karena itu dia sengaja mengambil jalan yang berada di perumahan penduduk agar bisa bersembunyi.


"Siapa?" tanya David mengangkat satu alis.


"Bukan urusanmu," jawab Jefra.


Pelipis David berdenyut menahan kesal. Di dalam hati dia mengucapkan kata 'sabar'.


"Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan, David? Kenapa tidak melalui telepon saja?" tanya Jefra to the point, dia ingin obrolannya dengan David cepat selesai.


Entah kenapa Jefra merasa jika perasaannya tidak enak, dia merasa khawatir pada Renata yang keluyuran sendirian di malam hari, terlebih lagi di tempat asing. Jika bukan David yang berkata ingin mengatakan hal yang sangat penting sampai pemuda itu menyusulnya ke Nepal, Jefra tidak akan membiarkan Renata.


"Baiklah aku akan pada intinya, Jason mulai bergerak, dia telah berhasil penyadap ponsel kalian," kata David dengan mimik yang serius.


"Maksudmu ponsel kami berempat?" tanya Jefra yang merujuk pada dirinya, Ryo, Jelita, dan Renata.


"Ya, karena itu aku harus berbicara langsung padamu, Jefra," jawab David.


Karena ponsel yang disadap tentunya menghubungi lewat ponsel akan beresiko buruk. Itu adalah alasan kedatangan David yang tiba-tiba, pemuda itu bahkan sampai menyuap salah satu pelayan di hotel untuk mengantarkan surat pada Jefra agar menemuinya.


"Kemungkinan Jason akan melakukan penyerangan pada tuan muda Januartha lagi, aku belum tahu pasti kapan Jason akan menyerang. Maka dari itu, kamu tidak boleh lengah, Jefra."


"Aku tidak pernah lengah," ucap Jefra.


Meskipun Jefra sedang melakukan pendekatan pada Renata, tapi dia tidak pernah mengenyampingkan tugasnya. Dirinya selalu siap siaga dan tentu saja tidak pernah lengah.


"Bagus kalau begitu, teruslah berada di sisi tuan muda Januartha itu, aku dan lainnya akan berjaga di sekitar kalian," ujar David.


"Ya."


"Jangan lupa untuk melakukan hard restart pada ponsel kalian," ujar David.


Sepertinya perjalanan honeymoon ini tidak akan mulus.


**


"Ugh."


Renata merasakan sakit pada lengannya, dia benar-benar terjatuh ke jurang dengan ketinggian 3 meter. Namun, Renata tidak mengalami cedera yang terlalu parah karena berhasil melindungi kepalanya saat terjatuh.


"Tolong!"


Dengan menahan rasa sakit Renata berteriak meminta tolong sembari mendongak ke atas.


"Tolong!"


Setelah berteriak beberapa kali, tetap saja tidak ada jawaban.


Renata terduduk bersimpuh di tanah yang berumput, ingin bangkit tapi kakinya terasa sakit. Dirinya bertambah panik saat tidak menemukan ponselnya, mungkin sudah terlempar entah ke mana saat dia jatuh, benar-benar tidak bisa meminta tolong pada siapapun.


Kini Renata hanya bisa merutuki kecerobohannya sendiri yang ketiduran hingga jatuh ke jurang.

__ADS_1


Renata sungguh merasa takut dan gelisah.


"Hiks..." isak tangis lolos dari mulutnya yang bergetar.


..."Karena aku akan selalu ada di manapun kamu membutuhkan aku."...


Terbesit bayangan wajah Jefra dan ucapannya.


"...Jefra, tolong aku."


Masih dengan terisak Renata mengharapkan Jefra datang menolongnya.


Hanya terdengar isak tangis Renata setelahnya.


"...?"


Renata tiba-tiba terdiam saat pandangannya menangkap sebuah titik cahaya berwarna hijau kekuningan, berkedip-kedip dan bergerak.


Kunang-kunang?


Pandangannya mengikuti pergerakan kunang-kunang itu.


Mata Renata membola dengan sempurna, bibirnya terbuka, menatap kagum apa yang tengah dilihatnya.


Banyak kunang-kunang yang berkedip menciptakan efek gelombang yang menyerupai lampu Natal berwarna hijau kekuningan di antara batang pohon, berkedip serempak, menyalakan dan mematikan cahaya mereka bersamaan.


"I-indah sekali."


Keindahan kunang-kunang yang mengalihkan rasa takutnya.


"Renata!"


"Renata!"


Matanya berkaca-kaca saat melihat Jefra yang melongok di atas sana, meskipun gelap dia dapat melihat raut khawatir dari pemuda itu.


Ya, Jefra benar-benar datang menolongnya.


"Jefra!" seru Renata.


Renata terkejut saat melihat Jefra yang sedang berancang-ancang untuk melompat. Yang benar saja, kenapa Jefra justru melompat? Bagaimana jika Jefra terluka seperti dirinya?


Sebelum Renata mencegah Jefra sudah melompat. 


Bruk


Jefra mendarat dengan lutut ditekuk sehingga berada dalam posisi setengah jongkok untuk mengurangi benturan pada kaki, pendaratan yang begitu mulus.


Kemudian Jefra segera menghampiri Renta, memeluk gadis itu, "Renata, kamu tidak apa-apa?" tanyanya.


Tangisan Renata kembali pecah, "Hiks, Jefra."


Pada akhirnya Jefra benar-benar datang menolong.


"Jefra," Renata membalas pelukan Jefra, memeluk dengan erat.


"Stth, tenanglah aku sudah berada di sini, jangan menangis lagi," ucap Jefra mencoba menenangkan Renata.

__ADS_1


Renata mengangguk dalam pelukan Jefra.


Jefra yang sudah menyelesaikan pertemuannya dengan David kembali melewati jalan memutar karena merasa khawatir dengan Renata. Benar saja, dia melihat adanya ponsel milik Renata dan beberapa snack jatuh di jalan, tepatnya berada di sisi jurang yang hanya terhalang sebuah palang, lalu Jefra segera mencari keberadaan Renata yang ternyata jatuh ke dalam jurang.


"Renata, apa kamu terluka?" tanya Jefra seraya mengurai pelukan.


"Hanya sedikit," jawab Renata dengan nada parau sehabis menangis, dia mencoba tidak membuat Jefra semakin khawatir.


"Syukurlah," Jefra terlihat sedikit lega, "Ayo kita kembali ke hotel," lanjutnya.


"Tapi, Jefra. Bisa kita di sini sebentar lagi?"


Jefra mengeryit bingung, "Kenapa?"


"Kunang-kunang," ucap Renata seraya menunjuk ke arah segerombolan kunang-kunang yang bersinar dinamis.


Bukankah kunang-kunang sekarang langka? Ini adalah hal yang tidak boleh begitu saja dilewatkan, setidaknya Renata ingin melihat keindahan itu sebentar lagi, dengan Jefra tentunya.


Jefra mengikuti apa yang ditunjuk Renata, dia pun terpaku.


Renata sendiri justru melihat wajah Jefra, dia bisa melihat jika Jefra tersenyum saat melihat kunang-kunang.


Deg


Jantung Renata terpompa cepat setelahnya, tidak menyangka jika Jefra bisa tersenyum dan itu membuatnya terlihat sangatlah tampan.


"Indah," ucap Jefra.


"Ya, sangat indah dan ...tampan," sahut Renata.


"Tampan?" tanya Jefra yang kembali beralih menatap Renata.


Renata segera tersadar dengan ucapannya sendiri, "Ah, ng-nggak."


'Haduh, bisa-bisanya aku terpesona pada Jefra,' pikir Renata menjadi malu sendiri.


Setelahnya mereka saling menatap, jantung Renata semakin bertalu-talu saat Jefra memajukan wajahnya.


Apa Jefra ingin menciumnya? Saat ini memang momen yang sangat tepat untuk berciuman, bahkan akan menjadi kenangan yang romantis karena adanya cahaya dari kunang-kunang yang menjadi saksi.


Renata segera menutup mata dan mencoba merilekskan bibir untuk menerima ciuman.


Namun, Renata tidak kunjung merasakan sentuhan pada bibirnya, justru merasakan usapan halus pada pipinya. Sontak Renata membuka mata kembali.


Ternyata Jefra hanya membersihkan pipinya yang kotor karena tanah.


Wajah Renata memerah karena pikirannya tadi.


"Sebaiknya kita kembali. Ini sudah sangat malam."


Jefra berbicara di saat jarak wajah mereka sangatlah dekat, membuat Renata bisa merasakan napas Jefra yang menerpa kulit wajahnya.


"Y-ya," Renata mengangguk kaku.


_To Be Continued_


Bonus pict biar semakin lancar halunya 🤭

__ADS_1



__ADS_2