Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Bagikan Air Dan Nyala Api


__ADS_3

Yakin bahwa diri sendiri kuat, jadi tidak ada yang tidak mungkin untuk dihadapan.


Kata-kata yang menjadi motivasi Sachi saat kejadian di mall saat itu.


Adakalanya seorang perempuan memang harus menjadi kuat untuk bisa melangkah ke depan. Sachi akan berusaha untuk tidak melihat ke belakang dengan terus melangkah ke depan.


Seminggu telah berlalu. Memang tidak ada hal yang spesial saat hari demi hari berlalu. Kegiatan Sachi hanya ke kampus, merawat Gavin, sesekali mengunjungi sang Ibu yang berada di rumah sakit jiwa, dan pulang ke rumah untuk sekedar berganti pakaian.


Tidak ada hal yang spesial. Namun, ada sesuatu yang akhir-akhir ini membuat Sachi merasa aneh. Perasaan di kala hujan saat itu kerap muncul setiap dirinya berdekatan dengan Gavin.


Seperti saat ini.


"Jadi aku sudah boleh pulang?" Gavin terlihat senang saat Dokter mengatakan jika dirinya diperbolehkan pulang hari ini.


"Ya. Tapi, kamu harus memeriksakan diri jika sindrom pasca gegar otak meningkat seiring waktu atau tidak membaik dalam beberapa bulan," ujar sang Dokter yang selama ini menangani Gavin.


Sindrom pasca gegar otak adalah gangguan yang kompleks setelah mengalami trauma otak. Seperti sakit kepala atau pusing, biasanya berlangsung selama beberapa minggu atau bulan. Bahkan ada gejala-gejala yang lebih serius seperti penglihatan menjadi kabur, kelemahan otot, kehilangan koordinasi tubuh, muntah, dan perasaan bingung.


Setelahnya Dokter berlalu dari ruang rawat Gavin.


"Setelah ini Mrs. Sachi tidak usah merawat aku lagi," kata Gavin pada Sachi yang sedang membantu mengemasi baju-bajunya.


Gerakan Sachi berhenti seketika.


Tidak merawat Gavin lagi? Itu hal yang bagus, karena tanggung jawab Sachi sudah selesai.


Namun, kenapa perasaan Sachi jadi tidak enak seperti ini? Merasa akan kehilangan sesuatu.


"Ah, ya. Aku senang karena kamu sudah sembuh," ucap Sachi menutupi perasaan anehnya itu.


Lalu Sachi kembali melanjutkan aktivitasnya tadi.


"Maaf kalau aku sudah banyak merepotkanmu," kata Gavin, tatapannya tidak lepas dari gerakan tangan Sachi yang sedang memasukan baju-bajunya ke dalam tas.


"Tidak apa-apa, kok."


Gavin beralih menatap wajah manis Sachi. Gadis itu sedang berada di hadapannya, tapi terasa seperti tidak. Seakan ia berada terlalu jauh, sangat jauh. Ya, sangat jauh dan sulit untuk digapai.


Apakah dia harus sakit lagi supaya Sachi tetap berada di dekatnya? Namun, Gavin tidak mau egois dengan keinginannya yang justru membebani Sachi.


Dengan begini Gavin bisa lebih mudah untuk move on. Ingat, Sachi sudah memiliki suami.


**


3 hari setelah kepulangan Gavin dari rumah sakit.

__ADS_1


"Bila memang harus berpisah..."


"Aku akan tetap setia..."


"Bila memang ini ujungnya, kau kan tetap ada di dalam jiwa..."


"Tak bisa tuk teruskan, dunia kita berbeda..."


"Bila memang ini ujungnya, kau kan tetap ada di dalam jiwa..."


Pelipis Gavin berkedut tatkala mendengar lantunan lagu yang dinyanyikan Ryo yang duduk disebelahnya.


"Ck, berhenti bernyanyi," decak Gavin sebal.


Semenjak kepulangannya, Ryo selalu saja meledek.


"Cieeee yg tiap ngedeketin gebetan malah terus berakhir pahit," ledek Ryo lagi.


"Teman bang sat memang. Teman lagi patah hati malah ditambah bikin pahit," gerutu Gavin, lalu bangkit dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Ryo dengan watados.


"Ngerokok," jawab Gavin sekenanya.


Setelahnya Gavin berjalan keluar kelas. Pagi itu Dosen tidak datang, itulah yang menyebabkan kegabutan Ryo yang berakhir meledeknya.


Gavin menaruh ujung filter rokok ke mulut, dengan menahannya dengan jari tengah dan telunjuk. Api pun dinyatakan dengan satu kali geretan pada roda pemantik. Lalu membawa api ke ujung rokok. Ujung rokok terbakar oleh api.


Dihisapnya rokok ketika api masih menyentuh ujungnya. Gavin dapat merasakan udara yang mengalir melalui tembakau di dalam rokok.


"Ini baru namanya pria yang sesungguhnya," gumam Gavin seraya menghembuskan asap keabu-abuan dari mulut.


"Apa harus merokok kalau ingin menjadi pria sesungguhnya?"


Dengan refleks Gavin mendongak untuk melihat siapa yang telah menginterupsi.


Sachi.


Gavin langsung berdiri, lalu membuang rokoknya dan menginjak-injaknya. Damn... bisa-bisanya dia merokok ketahuan Dosen, terlebih lagi Sachi.


"Tidak, aku tidak merokok," sangkal Gavin yang sungguh tidak berarti apapun.


Jelas-jelas Sachi melihatnya.


"Apa kamu kira aku buta?" ujar Sachi dengan memincingkan mata.

__ADS_1


"Ya! Ah, tidak! Maksudku tentu saja tidak, aku minta maaf karena sudah merokok di area kampus," tukas Gavin gelagapan.


Sachi menghela napas berat. Sebelumnya dia tidak pernah mengurusi masalah kedisiplinan mahasiswa yang merokok di area kampus. Namun, dia merasa tidak suka saja jika Gavin merokok.


Rokok. Bukankah itu benda berbahaya? Gavin akan menanggung resiko-resiko berbahaya ke depannya jika terus merokok. Dan ini juga mengingatnya dengan sang Ayah. Rokok dan alkohol.


Sachi sangat membenci itu.


"Berhentilah merokok," ujar Sachi kemudian.


Gavin terdiam sesaat. Ditatapnya wajah manis Sachi yang selalu memenuhi pikirannya akhir-akhir ini. Bohong kalau dia tidak merindukan gadis itu. Dia dan Sachi menjadi jarang bertemu semenjak kepulangannya dari rumah sakit.


"Aku akan berhenti merokok asalkan kamu terus berada di dekatku."


Sachi tertegun mendengar perkataan Gavin.


"Di dekatmu? Maksudmu?"


Gavin menyugar rambut ke belakang. Sepertinya dia memang harus jujur dengan perasaannya. Mungkin setelah ini Sachi akan membencinya karena memiliki perasaan yang tidak seharusnya pada istri orang.


"Maaf, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu meski jelas tahu kalau Mrs. Sachi telah memiliki suami. Mungkin aku sangat tidak tahu diri karena berharap selalu di dekatmu."


Sachi terdiam.


"Sungguh aku tidak bermaksud untuk menjadi orang ke tiga. Tetapi, aku tidak dapat menyangkal fakta bahwa setiap kali pikiranku mengembara, selalu menemukan jalan kembali kepadamu. Ya, aku memang salah mencintaimu, karena itulah yang aku rasakan sejak pertama kali melihatmu."


Sachi meremas masih terdiam, diremasnya ke dua tangannya.


Gavin tersenyum getir saat melihat respon gadis itu. Sepertinya Sachi sedang menahan diri untuk tidak mencaci-maki dirinya.


"Tidak apa-apa, aku tidak memaksa Mrs. Sachi membalas perasaanku. Lagi pula aku akan melakukan apapun agar bisa melihatmu bahagia. Termasuk untuk tidak mengganggumu dan membuatmu merasa terbebani dengan perasaanku ini."


Gavin menghela napas berat. Selesai sudah. Gavin memang selalu sial dengan urusan cinta. Yang terpenting dia sudah mengungkapkan perasaannya. Mencintai Sachi bagikan air dan nyala api, sungguh dapat membunuh jiwanya jika harus dipendam terlalu lama.


"Aku sudah mengerjakan skripsi sesuai dengan arahanmu. Terima kasih karena sudah membantuku sampai sejauh ini."


Sachi semakin menundukkan wajahnya.


"Aku pergi dulu, ya."


Gavin berbalik pergi dengan perasan yang rumit dan lega secara bersamaan.


"Gavin!"


Namun, langkahnya berhenti saat Sachi menyerukan namanya.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2