Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Ingin Lebih Mengenalmu


__ADS_3

Renata membuka matanya perlahan, dia seakan linglung karena berada di kamar yang begitu asing.


'Eh?'


Dia segera bangkit dari posisi tidurnya dan betapa terkejutnya saat melihat keberadaan seorang laki-laki yang tengah tidur dengan damai.


'Siapa cowok ini?' batinnya menjerit dalam hati, wajahnya pun memucat.


Ada laki-laki yang tidak dikenal berada di sampingnya, belum lagi keadaan mereka yang sama-sama polos.


Renata seketika tersadar jika semalam dia mabuk, dan berakhir tidak sadarkan diri ketika meminta tolong pada pemuda yang tengah tertidur itu, itulah ingatan terakhirnya. Dia tidak ingat apapun setelahnya.


Jantung Renata seketika berdegup dengan kencang karena begitu panik.


Dia tidur dengan laki-laki yang tidak dikenal! Renata bingung apa yang harus dia lakukan sekarang.


Kabur saja.


Ya, itulah yang ingin Renata lakukan. Dia harus pergi selagi pemuda itu masih tidur dengan pulas.


Renata bangkit dari ranjang dan memunguti bajunya yang ternyata berserakan di lantai, lalu segera memakainya.


Sebelum pergi dia melihat wajah pemuda yang terlihat tidak asing baginya.


'Tampan...' pikirnya dan tatapannya menuju ke perut berotot si pemuda, tanpa sadar dia menelan saliva berat, '...Dan sexy.'


Renata segera menggeleng, dia hampir saja terpesona. Dia meyakini jika ini hanyalah sebuah kesalahan dan berharap jika tidak bertemu dengan pemuda itu lagi.


Kemudian Renata melangkah keluar dengan perlahan dengan menenteng sepasang high heels miliknya.


Blam.


Setelah kepergian Renata dengan tertutupnya pintu, mata si pemuda terbuka.


Jefra yang sejak tadi pura-pura tidur menyeringai samar, "Berani sekali dia pergi setelah apa yang dia lakukan padaku," gumamnya.


"Aku pasti akan menangkapmu, Dokter Renata."


**


"Jelita, oh, aku..."


"Ryo..."


Bersama dengan cairan panas yang memenuhinya, badan Jelita bergetar hebat. Matanya terpejam untuk menikmati aliran rasa yang menghantam syaraf.


Suaminya itu memang sudah seperti hewan liar yang baru lepas dari kandang, bagaimana bisa Ryo menyerangnya lagi saat di kamar mandi.


Tangan Jelita yang menempel di dinding porselen tidak sanggup menahan tubuhnya lagi.


Ryo segera menangkap tubuh istrinya yang ingin limbung ke depan, jika dia tidak sigap mungkin Jelita akan terbentur.


"Ayo kita sudahi," ucap Ryo seakan menjadi angin segar bagi Jelita.

__ADS_1


Oh, ayolah dia sudah sangat lelah dan lapar.


"Y-ya," jawab Jelita dengan napas yang terputus-putus.


**


Kini Ryo dan Jelita sudah rapi dengan memakai baju yang sudah di siapkan di lemari.


"Mau makan di luar atau pesan makanan saja?" tanya Ryo yang sedang berjongkok di hadapan Jelita.


Sedangkan Jelita terduduk di bibir ranjang sembari mengusap rambut basah Ryo dengan handuk.


Jelita berpikir sejenak, sebenarnya dia ingin makan di luar. Namun, dia merasa kesulitan saat berjalan karena ulah suaminya yang menggila.


"Gara-gara kamu aku jadi nggak bisa berjalan, padahal aku mau makan di luar," ucap Jelita menyuarakan isi hatinya.


"Apa sesakit itu?" tanya Ryo terlihat khawatir.


"Sakit," jawab Jelita sedikit merengek.


"Maafkan aku," ucap Ryo, lalu memeluk pinggang Jelita dan menempelkan kepalanya di perut ramping istrinya itu.


"Ya," jawab Jelita tersenyum karena sifat manja Ryo masih saja seperti biasanya.


"Kalau mau makan di luar aku bisa menggendong kamu," ucap Ryo menawarkan jasanya.


Jelita segera menggeleng, "Nggak, kita pesan makanan saja," ujarnya.


"Tadi katanya mau makan di luar," ucap Ryo terheran-heran.


"Malu pada siapa?" tanya Ryo.


"Tentu saja pada orang di luar sana," jawab Jelita sedikit ngegas karena Ryo masih saja bertanya hal yang sudah sangat jelas.


"Oh," Ryo membulatkan bibirnya, "Aku sampai lupa, aku kira hanya ada kita berdua di dunia ini," ucapnya berniat gombal.


Jelita tertawa pelan karena gombalan Ryo yang sangat garing itu.


"Yasudah, aku pesan makanan dulu," ucap Ryo seraya bangkit dari posisinya.


Ryo segera memesan makanan pada room servis yang tersedia di hotel tempat mereka menginap, dia menghubungi nomor khusus yang tertera pada katalog menggunakan telepon dalam kamar.


"Hi, I’d like to order something to eat," ucap Ryo saat sambungan telepon sudah tersambungnya.


"..."


Ryo mulai menyebutkan apa saja makanan yang ingin dia pesan.


Setelah menunggu kurang lebih 20 menit pintu kamar diketuk, Ryo pun segera membuka pintu, mempersilahkan 2 orang waitress untuk masuk dengan mendorong troli yang berisi makanan.


"Kenapa banyak sekali?" tanya Jelita sepeninggal waitress.


"Tentu saja untuk kamu makan, sayang," jawab Ryo.

__ADS_1


Jelita menatap tidak percaya troli makanan yang berisi banyak makanan, buah-buahan, dan minuman. Dia tidak mungkin bisa menghabiskan itu semua, apa lagi dia tahu jika porsi makan Ryo juga tidaklah banyak.


"Kamu ingin membuat aku muntah kekenyangan?" tanya Jelita.


"Nggak kok, kamu harus makan yang banyak untuk mengisi energi lagi," jawab Ryo.


Jelita senang karena Ryo perhatian padanya, 'Tapi, nggak sebanyak ini juga makannya,' batinnya.


"Kegiatan kita semalam dan tadi di kamar mandi pasti membuat energi kamu terkuras habis," sambung Ryo yang membuat wajah Jelita memerah karena mengungkit kegiatan panas mereka.


Kemudian mereka mulai sarapan pagi bersama, sarapan di ranjang dengan pasangan tercinta. Dan jangan lupakan Ryo yang meminta untuk disuapi. Kegiatan sepasang pengantin baru yang begitu romantis.


"Jelita," panggil Ryo.


"Hmm?"


"Apa warna kesukaanmu?" tanya Ryo.


Jelita mengeryitkan dahi, dia heran kenapa Ryo tiba-tiba saja menanyakan apa warna kesukaannya.


"Hitam dan merah muda," jawab Jelita dengan rasa herannya.


"Kenapa kamu menyukainya?" tanya yang menunjukan ekspresi ingin tahu.


"Lebih tepatnya aku suka perpaduan ke dua warna itu. Merah muda indentik dengan kecantikan perempuan, sedangkan hitam adalah warna yang memberi kesan gelap, suram dan menakutkan. Jika ke dua warna itu dipadukan akan memberi kesan jika kecantikan seorang perempuan bukanlah segalanya," jelas Jelita.


Ryo mengangguk paham, dia akan mencatat penjelasan istrinya pada otaknya.


"Apa makanan kesukaanmu?" Ryo memberi pertanyaan lain.


"Aku suka makanan yang manis dan lembut, seperti es krim dan kue-kue manis," jawab Jelita.


Kalau itu Ryo sudah tahu.


"Kalau hobimu?" tanya Ryo.


"Bekerja dan belajar," jawab Jelita apa adanya.


Ryo melongo mendengarnya, istrinya memang berbeda dengan wanita pada umumnya, jika wanita lain pasti hobi belanja atau jalan-jalan.


"Apa—"


"Tunggu," Jelita memotong pertanyaan yang Ryo ingin lontarkan lagi, "Kenapa kamu jadi mewawancarai aku?" tanyanya.


"Aku hanya ingin lebih mengenalmu dan mengetahui lebih banyak hal tentang dirimu," jawab Ryo seraya meraih tangan Jelita untuk dia genggam, lalu memberikan tatapan penuh cinta pada istrinya itu.


Ryo memang belum banyak mengetahui tentang Jelita, dia tidak mau buta dengan apa yang disukai dan tidak disukai istrinya itu. Ryo ingin lebih memahami Jelita dan menjadi suami yang bertanggungjawab pada istrinya itu.


Jelita menatap Ryo dengan tatapan penuh arti. Pemuda yang kini telah menjadi suaminya sudah membuat hatinya menghangat. Dia teramat senang karena perkataan Ryo yang membuatnya meleleh.


"Aku juga ingin lebih mengenalmu, Ryo," ucap Jelita dengan tersenyum lebar.


Ryo juga tersenyum tidak kalah lebarnya dengan Jelita, "Kalau aku menyukai warna biru, sangat menyukai croissant, hobi...."

__ADS_1


Ryo mulai ikut menjawab pertanyaan yang tadi dia ajukan pada Jelita, dan akan banyak pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.


_To Be Continued_


__ADS_2