
Di koridor rumah sakit.
"Renata, maafkan aku," ucap Gina yang berdiri di hadapan Renata.
Dia sengaja mengajak Renata untuk mengobrol empat mata.
Renata hanya diam menatap datar Gina. Kenapa jadi Gina yang seolah merasa yang paling tersakiti? Kenapa juga wanita itu masih mempunyai muka untuk mengharapkan maaf dari Renata?
"Aku me-mencintai Davian, kami saling mencintai, jangan halangi hubungan kami lagi, aku mohon padamu," sambung Gina yang mulai menunjukan sifat aslinya.
Seekor kucing akan tertarik bila disodorkan ikan asin, tidak mungkin jika Davian tiba-tiba saja berpaling tanpa adanya godaan dari Gina terlebih dahulu. Padahal dia dan Renata adalah sama-sama wanita, terlebih Renata adalah sahabatnya sendiri, seharusnya dia tahu perasaan Renata yang akan tersakiti karena perbuatannya itu. Namun, nyatanya Gina memang tidak mempunyai perasaan.
Renata mengepalkan tangannya. Gina sungguh musuh dalam selimut, rasanya tidak akan ada kata-kata yang pantas untuk teman yang semacam dia.
"Pengkhianat memang sangat serasi dengan sesama pengkhianat. Terima kasih sudah menjauhkan seseorang yang nggak baik untukku. Semoga Davian nggak meninggalkanmu juga demi cewek lainnya," ucap Renata dengan ekspresi datar.
Gina terlihat tidak terima dengan ucapan Renata, karena dirinya yakin jika tidak mungkin bernasib sama seperti Renata. Dia bahkan sudah menyerahkan segala-galanya untuk Davian, tidak mungkin Davian meninggalkan dirinya demi wanita lain.
"Sebaiknya kamu berkemas, karena aku nggak mau kamu menjadi asistenku lagi. Mataku bisa sakit jika melihatmu terus-menerus," sambung Renata dengan memincingkan mata.
"Kamu nggak bisa melakukan itu, Renata! Jangan membawa urusan pekerjaan dengan masalah pribadi!" sentak Gina, tentu saja dia tidak mau jika harus berhenti bekerja.
"Tentu saja aku bisa melakukan," sinis Renata.
Kemudian Renata berbalik pergi meninggalkan Gina yang menatapnya marah.
**
Sesampainya di ruangannya, Renata bersandar pada daun pintu. Dia mencoba menenangkan hatinya dengan menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Kamu pasti bisa melewati ini semua, Renata," gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
Kehilangan satu sahabat bukanlah akhir dari dunia.
Drett...
Renata mengambil ponselnya dari jas putih yang dia kenakan.
[10.36] +62 852-xxx: Jgn lp mkn.
Dahi Renata mengerut saat membaca pesan dari nomer yang dia tahu adalah milik Jefra. Apa Jefra sedang mengingatkan dirinya agar tidak lupa makan?
__ADS_1
"Kenapa ketikannya singkat sekali? Sebenarnya dia niat atau nggak mengirim pesan?" gerutu Renata.
Renata segera mendial nomer Jefra untuk dia telepon.
Namun, justru mendapat penolakan.
"Loh? Kenapa ditolak?" Renata terlihat kesal, "Memang sesibuk apa dia sehingga nggak mau aku telepon?" gumamnya.
Tidak lama kemudian Jefra mengirim pesan lagi.
[10.41] +62 852-xxx: q sdg krj.
[10.41] +62 852-xxx: klo kangn tlpn mlm sj.
Renata melongo karna membaca pesan dari Jefra yang irit alfabet itu.
"Si-siapa yang kangen dengannya," Renata jadi malu sendiri dibuatnya.
Ngomong-ngomong Renata memang belum makan sejak pagi, mungkin dia akan berterima kasih pada Jefra yang sudah mengingatkannya untuk makan.
Renata terkekeh, "Seperti pdkt anak SMA saja mengirim pesan seperti itu," gumamnya.
**
"Apa tidak apa-apa aku menolak panggilannya?" tanya Jefra.
"Nggak apa-apa, kalau sedang pdkt dengan cewek memang harus ada trik tarik ulur, bro," ucap Gavin.
Ryo mengangguk-angguk membenarkan perkataan Gavin.
Ya, Jefra telah mendapatkan trik pendekatan dari Ryo dan Gavin.
Tentang Jefra yang menyukai Renata sudah bukan rahasia karena Ryo telah membocorkannya pada Jelita dan Gavin.
Salahkan Jefra yang asal meninggalkan Ryo di rumah sakit, dan datang dengan Renata yang berada di gendongannya. Siapa yang melihatnya tentu tahu jika Jefra menyukai Renata.
Namun, bagaimana bisa Jefra menerima saran pendekatan dari seorang jomblo karatan seperti Gavin dan playboy yang baru insaf seperti Ryo?
"Cobalah untuk mengajaknya makan malam, Jefra. Aku akan memberikanmu libur," ucap Ryo yang terlihat paling mendukung hubungan Jefra dan Renata.
"Kenapa tuan muda sampai berbuat seperti itu?" tanya Jefra memincingkan mata, merasa curiga jika ada maksud tersembunyi dari tuan mudanya.
__ADS_1
Ryo tertawa kikuk, "Aku hanya nggak ingin Bodyguardku menjadi jomblo karatan seperti Gavin," ucapnya ngasal.
"Sialan, kenapa jadi aku!" seru Gavin tidak terima, meskipun memang kenyataan kalau dia jomblo karatan.
Sebenarnya hanya ada satu alasan yang menyebabkan Ryo sangat mendukung Jefra, itu karena suruhan dari istri tercintanya yang ingin membuat rasa patah hati Renata cepat terobati dengan adanya Jefra.
Ryo teringat dengan perkataan Jelita semalam.
"Sayang, bantulah Jefra untuk mendapatkan hati Renata," ucap Jelita sembari memeluk Ryo yang sedang terbaring di sebelahnya.
Wajah Ryo merona tipis, jarang sekali Jelita memanggilnya 'sayang'.
"Ya," jawab Ryo dengan cepat, sepertinya dia mudah sekali dibujuk dengan panggilan sayang dari Jelita. hatinya memang terlalu lemah dengan segala hal tentang istri tercintanya.
Jelita mengecup sekilas pipi Ryo, "Aku akan memberimu hadiah jika Jefra dan Renata berhasil bersama."
"Ha-hadiah apa?" tanya Ryo tergagap tiba-tiba.
"Ada deh, kamu pasti akan suka," jawab jelita sembari memainkan kancing piyama yang Ryo pakai.
Wajah Ryo mendadak merona karena membayangkan hadiah apa yang akan Jelita berikan nanti.
Tentu saja dia jadi sangat bersemangat membantu Jefra. Padahal bukan gayanya untuk membatu orang.
"Tenang saja, Jefra. Kamu pasti bisa mendapat hati Renata dengan bantuanku," ucap Ryo dengan menepuk-nepuk bahu Bodyguardnya.
"Aku juga akan membantumu, bro," ujar Gavin ikut-ikutan saja, dia memang tipe orang yang hanya mengikuti arus saja.
Sedangkan Jefra hanya mengangguk saja, sebenarnya dengan tanpa bantuan dari siapapun dia juga bisa mendapatkan hati Renata. Namun, tidak ada salahnya untuk tidak menerima bantuan dari Ryo dan Gavin.
"Jodoh emang nggak ke mana tapi saingan di mana-mana, kamu harus lebih gencar mendekatinya, ambilah setiap kesempatan yang ada, dan jangan lupa isi dompetmu," ujar Ryo yang sudah cukup berpengalaman berkencan dengan banyak wanita matre.
"Itu betul sekali, isi dompetmu dengan uang, kebahagiaan memang nggak bisa dibeli dengan uang tetapi punya uang lebih bahagia dari pada nggak punya," timpal Gavin yang justru mengingatkan pada realita kehidupan.
"Kamu bisa meminjam uang padaku kalau uangmu kurang, aku akan sebisa mungkin membantu, Jefra," tukas Ryo menawarkan hal yang tidak perlu.
"Tidak perlu, tuan muda," tolak Jefra, lagi pula dia tidak sekere itu.
"Karena Jefra nggak mau, biar aku saja yang meminjam uangmu yang kebanyakan itu, Ryo," celetuk Gavin.
"Dasar jomblo nggak modal, aku nggak menawari kamu," sengit Ryo pada Gavin.
__ADS_1
Gavin sangat tertohok dengan perkataan Ryo.
_To Be Continued_