
Beberapa hari telah berlalu tanpa adanya kendala, kini hari di mana honeymoon dari pasangan pengantin baru pun tiba.
Ryo mencium sudut bibir Jelita sekilas.
"Kamu cantik sekali," puji Ryo pada istrinya.
Sekarang Ryo dan Jelita sedang berada di apron bandara. Jelita tampil cantik dengan mini dress berwarna putih dan cardigan denim, sedangkan Ryo juga tampil tampan dengan kemeja putih tanpa kancing dan celana jeans. Mereka terlihat siap untuk melakukan perjalanan ke beberapa negara dan memadu momen romantis.
Senyum terbit dari bibir Jelita, terlihat senang dengan pujian dari suaminya, dipuji suami sendiri memang lebih berkesan dibandingkan pujian yang selama ini dia dapatkan.
"Kamu juga tampan sekali," puji Jelita balik seraya mengelus pipi Ryo sayang.
Ryo merapikan rambut pendek milik Jelita yang tertiup angin, kemudian mereka tertawa bersama, saling menatap kagum dan penuh cinta.
Honeymoon akan berlangsung selama 23 hari dengan menggunakan jet pribadi yang akan terbang ke seluruh dunia. Nanti mereka juga akan singgah di beberapa destinasi terkenal di dunia, seperti Angkor Wat di Kamboja hingga kota kuno Petra di Yordania. Tentunya dalam perjalanan itu mereka juga akan menginap di resor mewah di setiap Negera yang akan dikunjungi.
"Tuan muda, semua sudah siap," ucap Jefra mengintruksi pasangan pengantin baru yang sedang tebar kemesraan.
"Tunggu sebentar, kita harus menunggu seseorang dulu," ucap Jelita pada Jefra.
"Menunggu siapa?" tanya Jefra dengan bingung.
Apa ada orang lain yang ikut?
"Dia..."
Perkataan Jelita menggantung saat mata amber miliknya menatap seorang gadis yang sedang berjalan terburu-buru, dengan membawa sebuah koper besar.
"Akhirnya datang juga," sambung Jelita.
Jefra mengikuti arah pandang Jelita, lalu tertegun saat melihat seorang gadis yang tidak dia sangka kehadirannya itu.
Renata. Gadis itu terlihat begitu mempesona dengan rambut panjang yang berkilau karena terkena sinar matahari, senyum lebar merekah di bibirnya, salah satu tangannya melambai pada ke tiga orang yang sedang menatapnya itu.
Tanpa sadar Jefra membalas melambaikan tangannya.
Renata yang melihatnya terkekeh, "Hai, Jef," sapanya.
Jefra segera tersadar dari rasa terpesonanya, "Hai," balasnya dengan kaku.
Ryo dan Jelita kembali saling menatap karena melihat interaksi Jefra dan Renata, dan kemudian tersenyum misterius.
"Kamu juga ikut?" tanya Jefra retorik, tentu saja Renata ikut karena gadis itu berada di sini dengan membawa koper.
"Ya, Jelita yang mengajakku," jawab Renata, lalu tatapannya beralih pada Jelita, "Maaf aku terlambat," ucapnya dengan cengiran.
"Nggak apa-apa, ayo kita berangkat," ucap Jelita.
"Ayo!" seru Renata dengan bersemangat.
__ADS_1
Apakah ini keberuntungan dari seorang Bodyguard? Kadang tidak perlu menunggu seribu hari untuk mendapatkan keberuntungan, seperti saat ini. Jefra akan menggunakan keberuntungannya ini untuk lebih dekat dengan sang gadis pujaannya.
**
Perjalanan pertama adalah menuju ke Guam dan Kamboja untuk mengunjungi kuil dan Biara. Setelah beberapa hari di sana, mereka melanjutkan perjalanan ke Nepal untuk mengikuti tur helikopter di sekitar Gunung Everest.
Rute penerbangan helikopter yakni dari Kathmandu ke Lukla, Pheriche, Base Camp, Kalapathar, Gokyo, Syangboche, Namche, Lukla sebelum kembali ke Kathmandu.
"Wah, luar biasa," kagum Jelita saat turun dari helikopter.
Mereka disambut dengan cekungan berisi air berwarna turquoise membentang indah yakni danau Tilicho, dan sejauh mata memandang, akan terlihat pegunungan Himalaya yang menakjubkan, perbukitan hijau, serta padang rumput luas.
"Apa kamu suka?" tanya Ryo yang memeluk Jelita dari belakang, berniat memberi kehangatan karena udara yang begitu dingin.
Jelita tersenyum, tentu saja dia sangat menyukainya, dirinya merasa begitu bahagia selama perjalanan mereka beberapa hari ini, tiada hari untuk tidak tersenyum.
"Ya, danaunya sangat cantik," jawab Jelita.
"Untunglah," ucap Ryo.
"Aku senang," kata Jelita melebarkan senyumnya hingga matanya menyipit.
"Kenapa, hmm?" tanya Ryo.
"Di tempat yang indah ini aku senang karena bersama kamu yang tampan," jawab Jelita sembari mengelus lengan Ryo yang melingkar di pinggangnya.
Jelita mengecup pipi sebelah kanan Ryo.
Ryo begitu berbinar karena ucapan istrinya tercintanya itu. Bibirnya pun berkedut karena sejatinya ingin berteriak bangga pada dirinya sendiri.
Sungguh sebuah kebanggan tersendiri bagi suami yang sudah membuat istinya senang.
Di sisi lain.
"Jef, untung saja aku ikut," lirih Renata pada Jefra yang berdiri tegak di sampingnya, "Kalau aku nggak ikut, pasti kamu akan gigit jari karena melihat kemesraan mereka sendirian."
"Aku sudah terbiasa dengan ini," ucap Jefra dengan tanpa ekspresi. Ya, ini memang makanan sehari-harinya.
Renata tertawa pelan, "Sabar," ucapnya dengan menepuk-nepuk punggung belakangn Jefra.
Perbuatan yang tanpa sengaja menghantarkan sengatan listrik pada hati Jefra.
Sebenarnya Jefra merasa kecewa pada dirinya sendiri, karena belum ada pendekatan yang berarti di antara dirinya dan Renata. Segala hal yang ingin dia lakukan sungguh terasa canggung, padahal Jefra sudah berniat untuk mengambil kesempatan. Sedangkan Ryo dan Jelita yang katanya ingin membantu justru seakan lupa karena sibuk bermesraan.
Jefra hanya bisa menghela napas berat dibuatnya.
Kemudian dia melirik Renata yang sedang menggosok-gosok kedua tangannya yang memerah, terlihat kedinginan. Karena terlalu banyak termangu Jefra tidak menyadari jika Renata tidak menggunakan sarung tangan.
"Kemana sarung tanganmu?" tanya Jefra, ke dua tangannya refleks menggenggam tangan Renata.
__ADS_1
Wajah Renata yang sudah memerah karena kedinginan menjadi semakin memerah, "Aku lupa," jawabnya.
Tanpa berkata apapun Jefra segera melepas sarung tangan sebelah kanan miliknya dan memakaikannya pada tangan kiri Renata.
Renata terkejut dengan tindakan Jefra, "Kenapa memberi aku sarung tangan milikmu? Yang ada kamu yang akan kedinginan," ucapnya berniat menolak.
"Aku tidak akan kedinginan karena aku hanya memberimu satu," kilah Jefra.
"Eh?" Renata terlihat tidak paham.
Jefra memang hanya memberikan sebelah sarung tangan miliknya.
"Berikan tanganmu yang satunya," pinta Jefra sembari mengulurkan tangannya kirinya.
Renata menurut meskipun merasa gugup.
Setelahnya Jefra membawa tangan kanan Renata untuk masuk ke dalam kantung mantel yang dia pakai, ke dua tangan yang tidak memakai sarung tangan itu bertautan di dalam sana.
"Hangat?"
Renata mengangguk, dia memang merasakan hangat hingga ke dalam hatinya.
"Tapi, Jefra," ucap Renata kemudian.
"Hmm?"
"Kalau seperti ini aku nggak bisa berfoto," kata Renata ragu.
Sebenarnya Renata tidak masalah dengan kehangatan dari tangan Jefra. Namun, dirinya merasa sayang jika tidak berfoto di tempat indah seperti ini.
"Kita selfie dengan ponsel saja," ujar Jefra.
"A-apa selfie?" Renata membolakan sedikit matanya.
Apa Jefra mengajaknya berfoto bersama?
"Ya, sini ponselmu," ucap Jefra meminta ponsel Renata.
Dengan ragu Renata memberikan ponselnya pada Jefra.
Kemudian mereka berfoto bersama dengan berlatarkan pemandangan indah danau tertinggi di dunia.
Renata menatap hasil foto selfie mereka berdua, "Nggak buruk juga," ucapnya, dia menahan tawa karena Jefra tidak menunjukan ekspresi apapun.
"Ayo lagi," ajak Renata.
Dan tanpa sadar Jefra sudah melakukan pendekatan yang begitu alami.
_To Be Continued_
__ADS_1