Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Jelita marah karena melihat Reva yang ingin mencium bibir Ryo, dia langsung menarik rambut honey blonde Reva.


"Akh!" pekik Reva merasakan sakit pada kulit kepalanya karena rambutnya ditarik.


"Menjauh darinya," kata Jelita dengan nada yang begitu dingin.


Ryo berkedip beberapa kali karena tidak menyangka jika Jelita akan menjambak rambut Reva, 'Jadi dia benar-benar cemburu?' pikirnya.


"Lepas!" teriak Reva mencoba melepas jambakkan Jelita.


"Lepaskan Reva!" seru Kavin yang bangkit dari duduknya, pemuda bule itu mendorong Jelita agar menjauh dari Reva.


"Berani-beraninya kamu menjambak aku," geram Reva pada Jelita yang sudah melepas jambakkan pada rambutnya.


"Apa masalahmu, ha!" bentak Kavin marah, dia tidak terima jika perempuan yang dia cintai disakiti.


Jelita terdiam, karena termakan api cemburu dia jadi refleks menjambak rambut Reva.


Plak


Kavin menampar pipi Jelita.


Jelita memegang pipinya yang terasa sakit, dia menatap nyalang Kavin. Sedangkan Reva tengah tersenyum penuh kemenangan menatap Jelita, Kavin memang selalu menjadi tamengnya.


Bugh


"Baji-ngan!" maki Ryo memukul muka Kavin, "Seenaknya saja kamu menyakiti Bodyguardku, Kavin!"


Bugh


Bugh


Ryo memberikan banyak pukulan pada Kavin, dia begitu marah karena Kavin menampar Jelita.


"Hentikan, Ryo!" pekik Reva mencoba melerai Ryo, dia memeluk Ryo dari belakang.


"Lepas!" Ryo menyentak pelukan Reva dan mendorong gadis itu hingga terjatuh.


Jelita membelalakkan mata terkejut karena Ryo yang seakan membelanya.


"Kalian pergilah dari rumahku, sialan!" bentak Ryo pada Kavin dan Reva, napasnya terlihat memburu.


"Ka-kamu lebih membela cewek jelek itu dibandingkan kami berdua yang temanmu, Ryo?" Kavin berbicara dengan susah payah, wajahnya sudah babak belur.


"Pergi aku bilang," kata Ryo dengan dingin.


"Kami kecewa padamu, Ryo," ucap Reva yang membantu Kavin untuk bangkit.


"Aku nggak perduli."

__ADS_1


Dengan membawa kopernya Kavin pergi bersama Reva.


Ryo kembali duduk di sofa, "Orang-orang menyebalkan," gerutunya.


Jelita masih pada posisi berdirinya, dia menatap Ryo, "Kenapa kamu membelaku, tuan muda?"


"Kamu sendiri kenapa menjambak rambut Reva?" bukannya menjawab Ryo justru bertanya balik.


Jelita bungkam.


"Kenapa diam?" terlihat jika Ryo sedang menunggu jawaban Jelita.


"Aku hanya melindungi kamu saja," jawab Jelita.


Ryo mengangkat sebelah alisnya, "Melindungi dari apa?"


"Tentu saja dari teman perempuanmu itu."


"Memang Reva melakukan apa sehingga kamu melindungi aku? dia hanya ingin menciumku."


"Karena aku nggak menyukai itu," kata Jelita mencoba menutup rasa gugupnya dengan ekspresi datar.


Ryo menarik sudut bibirnya, "Kamu cemburu?"


"Nggak," sangkal Jelita, dia sangat malu untuk mengakui itu.


"Nggak salah lagi maksudnya?" Ryo menyeringai.


"Kemari," ucap Ryo mengulurkan tangan kanannya ke arah Jelita.


Jelita menerima uluran tangan Ryo ragu. Setelahnya Ryo menariknya untuk terduduk di pangkuan pemuda itu, dan itu sukses membuat Jelita spot jantung. Jelita ingin memberontak tapi perkataan Ryo membuatnya mematung.


"Kamu menyukai aku, ya?"


"Aku..." Jelita tidak bisa melanjutkan perkataannya, lidahnya keluh mendadak, dia sangat gugup sekali.


Ryo memegang dada kiri Jelita, dia bisa merasakan jika detak jantung gadis itu begitu cepat, Ryo terkekeh dibuatnya, "Jantungmu berisik sekali."


Jelita menepis tangan Ryo, "Ini karena kamu, bodoh," lirihnya dengan wajah memerah.


Ryo tersenyum lebar, bahkan Jelita sampai dapat melihat lesung pipi tersembunyi Ryo yang berada di garis senyum si pemuda. Lesung pipi Ryo memang hanya dapat terlihat jika pemuda itu cemberut dan tersenyum lebar. Sungguh terlihat manis dan menggemaskan.


"Aku pun juga sama," kata Ryo dengan membimbing tangan Jelita untuk memegang dada kirinya, membuat Jelita membulatkan matanya karena Jantung Ryo tidak kalah berisik darinya.


"Kenapa bisa?" tanya Jelita.


Ryo mengangkat bahu, "Entah."


"Apa kamu juga menyukaiku?" tanya Jelita memberanikan diri.

__ADS_1


"Juga? Oh, jadi kamu mengaku menyukai aku," bukannya menjawab Ryo justru menyudutkan Jelita.


Jelita menunduk seketika, dia menggigit bibir bawahnya karena gugup.


"Jujur saja," desak Ryo, dia memang pinggul Jelita dan mengusapnya.


Jelita meremang dibuatnya, "Aku nggak menyukai kamu," ucapnya.


Ryo merengut mendengarnya, dan perkataan Jelita selanjutnya sukses membuatnya merubah ekpresi.


"Tapi, aku mencintai kamu, tuan muda," sambung Jelita dengan memberanikan diri untuk menatap mata hazel Ryo.


Pupil mata Ryo membesar, wajahnya memanas seketika, dia merasakan sengatan listrik pada hatinya karena penyataan cinta Jelita. Pemuda itu tidak menyangka jika Jelita justru mencintainya, dia kira gadis itu hanya menyukainya.


"Maaf, karena telah lancang mempunyai perasaan ini, aku akan menghapus perasaan ini jika membuatmu tidak nyaman, aku sadar diri karena aku jelek dan hanya berstatus Bodyguard."


Jelita serius dengan perkataannya, dia akan menyerah atas perasaannya jika Ryo merasa terganggu. Gadis itu akan berhenti menjadi Bodyguard, lagi pula Ryo sudah berubah menjadi lebih baik, tugasnya sudah selesai.


Ryo memincingkan mata tidak suka karena perkataan Jelita, "Siapa yang menyuruhmu menghapus perasaan itu?"


"Bukankah kamu terganggu dengan perasaanku? Kamu pasti tidak nyaman karena dicintai cewek jelek seperti—hmppp," ucapan Jelita terpotong karena mulutnya dibungkam dengan mulut Ryo.


Jelita terkesiap karena Ryo menciumnya. Ryo tidak hanya menempelkan bibirnya tapi dia mengemut bibir bagian bawah Jelita dengan lembut, bahkan lidahnya mulai menelusup masuk ke belahan bibir Jelita yang terbuka karena kaget. Jelita refleks memejamkan mata, pikirannya mendadak kosong.


Tangan Ryo menarik pinggul Jelita agar tubuh mereka semakin merapat, dia semakin cepat dan kencang menyesap bibir Jelita yang begitu manis baginya.


"Hmm," Jelita menggerang saat tangan Ryo menjalar ke punggungnya dan mengelus dengan gerakan yang sensual.


Ryo menjauhkan wajahnya, terlihat benang saliva saat tautan bibir ke duanya terlepas. Ryo mengusap bibir Jelita dengan ibu jarinya, lalu melepas kacamata Jelita. Bola mata amber dan hazel saling memandang, mengagumi keindahan satu sama lain.


"Maaf karena sudah melanggar untuk nggak mencium kamu," ucap Ryo dengan menempelkan keningnya pada kening Jelita.


Jelita tidak tahu tahu harus berkata apa, sejatinya dia ingin mengatakan tidak apa-apa karena Jelita tidak keberatan dengan ciuman itu, tapi dia terlalu malu.


"Aku nggak keberatan kok dicintai kamu, justru aku senang," ungkap Ryo.


"Benarkah?" cicit Jelita.


Ryo mengangguk, "Ya."


Jelita tersenyum, respon Ryo membuatnya lega, padahal dia sudah menyiapkan hati untuk mendengar penolakan dan makian dari Ryo.


"Jelita."


Deg


Ryo memanggil namanya dengan begitu lembut, jantung Jelita seperti ingin berhenti dibuatnya, "Y-ya," jawabnya tergagap.


"Aku tidak tahu caranya membalas cintamu, aku tidak mengerti perasaan cinta itu seperti apa. Aku tidak mau berakhir menyakiti kamu yang sangat berharga di hidupku," ucap Ryo jujur akan perasaannya, "Aku takut menyakiti kamu yang sudah merubahku menjadi lebih baik, melindungiku, dan mengganti ketakutanku dengan rasa aman," sambungnya.

__ADS_1


Jelita tertegun dengan perkataan Ryo, lalu dia tersenyum dan mengelus pipi sebelah kiri Ryo dengan lembut, "Tenang saja, aku yang akan mengajari kamu untuk mencintaiku."


_To Be Continued_


__ADS_2