
Di sebuah ruang tamu yang didominasi dengan warna putih, serta beberapa furniture berwarna hitam.
Ryo sedang terduduk sambil menonton televisi, tubuhnya hampir menguasai sofa, posisi duduk yang sangat menunjukan jika dia adalah orang yang memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi, mendominasi.
"Duduk saja," ucap Ryo pada Jelita yang berdiri di belakang sofa, lalu bergeser untuk memberikan ruang untuk Jelita duduk. Gadis itu begitu protap, padahal Ryo santai-santai saja jika Jelita duduk di sebelahnya.
"Terima kasih, aku di sini saja," tolak Jelita menggunakan nada yang sopan, dia menolak karena berdekatan dengan Ryo tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
Jantung Jelita akan tiba-tiba berdetak tidak menentu.
"Yasudah," kata Ryo acuh, yang penting dia sudah menawarkan kebaikan hatinya.
Ryo kembali fokus pada siaran televisi.
"Maukah kamu buka ranselku?" tanya seorang anak kecil berambut pendek.
Ryo mengangguk, "Buka."
"Kamu harus katakan Ransel!" seru si anak kecil membalikan badannya dan menunjukan ransel yang berwarna ungu.
"Ransel!" Ryo menurut.
Jelita mengeryit, bagaiman bisa Ryo menuruti perkataan Dora? Ya, Ryo sedang menonton film Dora.
"Katakan Ransel," seru seekor monyet.
"Ransel!" Ryo menurut lagi.
"Katakan lebih keras," ucap Dora.
"Ransel!" teriak Ryo dengan kencang.
"Lebih keras."
"Bang-sat, berhenti menyuruhku lagi," kesal Ryo.
Jelita sweatdrop melihat tingkah Ryo.
"Apa kamu melihat serigala?" tanya Dora dengan muka polos.
"Itu di belakangmu, Dora," jawab Ryo dengan menunjuk-nunjuk.
"Di mana?" tanya Dora lagi.
"Itu di belakang kamu, oi."
"Aku tidak melihatnya," kata si monyet.
"Lihat pakai mata makannya," ucap Ryo gregetan.
"Di mana?" tanya Dora sekali lagi.
__ADS_1
"Itu di balik semak-semak, setan!" Ryo muli emosi.
"Oh, tidak!" Dora kaget melihat serigala.
"Ck, udah dibilangin dari tadi juga, bodoh banget sih nih bocil."
"Kami butuh bantuanmu," ucap Dora yang berlari kabur.
"Gila!" maki Ryo dan langsung mengganti saluran televisi, "Bikin kesal saja."
'Kalau bikin kesal ngapain dari tadi ditonton,' batin Jelita heran.
Ryo mencomot croissant dan memakannya.
"Seputar Info kembali hadir di sela-sela aktivitas Anda, bersama saya yang akan memberikan berita-berita terbaru dan teraktual."
"Nonton berita saja deh, biar makin tampan," kata Ryo yang sangat tidak nyambung.
'Apa hubungannya nonton berita sama makin tampan?' pikir Jelita. Kelakuan Ryo yang absurd memang sudah menjadi makanan sehari-hari Jelita.
"Pemirsa, hari ini akan ada pemadaman listrik secara terpusat."
Seketika Ryo pucat mendengar itu.
"Pemadaman dari perusahaan listrik karena akan dilakukan perawatan dan pemeriksaan alat distribusi listrik dan penyalur daya secara berkala. Dihimbau agar masyarakat bisa bersiap dan menyelesaikan berbagai keperluan penting sebelum terpotongnya listrik sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan."
Ryo langsung mematikan televisi, dia bangkit dan berjalan mondar-mandir, pemuda itu terlihat gusar.
"Apa genset sudah diperbaiki?" tanya Ryo.
"Sepertinya belum," jawab Jelita.
Semakin panik lah Ryo.
"Ada apa, tuan muda?" tanya Jelita yang melihat keanehan Ryo.
"Aku takut kalau mati listrik," jawab Ryo mengutarakan apa yang dia rasa.
"Tenang saja ada aku," ucap Jelita mencoba menenangkan, dia tahu tentang ganguan nyctophobia yang Ryo derita.
"Aku nggak bisa tenang," ucap Ryo menggeleng.
Jelita memberanikan diri untuk memegang tangan Ryo dan menggenggamnya, "Tenanglah."
Ryo yang merasakan genggaman pada tangannya terkejut, Jelita bahkan mengusap punggung tangan Ryo dengan ibu jarinya. Perbuatan Jelita sukses membuat rasa takut Ryo menguap.
"Ya," ucap Ryo mengangguk.
Jelita tersenyum, "Aku akan menemani kamu."
**
__ADS_1
Pukul 9 malam, pemadam listrik benar-benar terjadi.
Jelita menyalakan beberapa lilin untuk menerangi ruangan, dia sedang berada di kamar Ryo untuk menemani pemuda itu.
Setelahnya Jelita mendekati ranjang, dia melihat Ryo yang sedang tidur meringkuk ke dalam dengan tangan dan kaki tertekuk, badan Ryo terlihat gemetar, ketakutan pemuda itu memanglah bukan main-main.
Jelita duduk di bibir ranjang, tangannya mengusap rambut hitam Ryo, "Aku di sini, jangan takut."
Ryo tidak bergeming, dia membuka matanya yang tertutup, kondisi kamarnya tidak segelap tadi, cahaya remang-remang dari lilin sedikit menghilangkan rasa takutnya, belum lagi usapan lembut dari tangan Jelita yang begitu menenangkan.
Hening.
Jelita mengusap keringat dari pelipis Ryo.
"Kenapa kamu begitu takut gelap?" tanya Jelita memecah keheningan.
Ryo terdiam sesaat, dia menimbang untuk bercerita atau tidak.
"Kalau tidak mau cerita nggak apa-apa, kok," ucap Jelita memaklumi, tidak semua orang dapat menceritakan hal yang memicu ketakutan, apa lagi Jelita hanyalah Bodyguard pemuda itu, tidak mungkin Ryo mau terbuka padanya.
"Saat itu umurku masih 7 tahun," Ryo membuka suara.
Jelita tidak menyangka Ryo akan bercerita, dia terdiam dengan masih mengusap surai si pemuda. Jelita menyimak apa yang akan Ryo ceritakan.
"Hari itu aku sangat bahagia karena Ayah baru pulang dari LA dan mengajak aku dan Ibu berkemah ke gunung, jarang-jarang kami berlibur bersama karena kesibukan Ayah yang selalu bolak-balik ke LA."
Jelita memperhatikan ekpresi Ryo yang terlihat sendu.
"Kebahagianku sirna saat rem pada mobil yang kami tumpangi tiba-tiba blong. Ayah sangat panik karena jalan yang kami lewati adalah jalan berkelok yang diapit jurang. Kami pun melompat keluar saat mobil tetap berjalan lurus karena tidak bisa di rem, Ayah melompat dari pintu pengemudi dan Ibu melompat dari pintu belakang dengan membawaku. Ibu yang memelukku berguling-guling di jalanan menuju jurang, kami berdua jatuh ke jurang."
Ryo menghela napas berat, "Ibu mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku, dia terus memeluk aku supaya tidak terluka sama sekali."
Air mata Ryo mengalir karena mengingat peristiwa traumatis baginya, "Aku sangat ketakutan saat mengetahui jika ibu sudah tiada dan meninggalkan aku di kegelapan jurang yang sangat mengerikan. Aku selalu terbayang bahaya yang tersembunyi di dalam kegelapan jurang yang telah merengut Ibuku, itulah penyebab ganguan nyctophobia yang aku derita. Aku cenderung merasa gelisa dan sangat panik saat di tempat gelap hingga tak dapat mengontrol diri sendiri."
"Ini pasti sangat sulit untukmu. Kamu pasti mengalami gangguan dalam menjalani aktivitas sehari-hari karena rasa takut yang tak tertahankan terhadap kegelapan," ucap Jelita tersenyum kecut.
"Nggak apa, buktinya aku masih hidup enak sampai sekarang, itu bukanlah akhir dunia untukku," kata Ryo optimis.
"Cobalah untuk mengatasi ketakutan itu," ucap Jelita.
"Itu sulit," lirih Ryo.
"Aku bisa membantumu," ucap Jelita menawarkan diri, dia memang tulus ingin membantu Ryo.
"Kamu bisa membantuku?"
"Ya."
"Apa kamu ingin naik gaji karena mencoba membantuku?" selidik Ryo.
"Tidak, gajiku yang sekarang sudah lebih dari cukup," sangkal Jelita.
__ADS_1
"Memang apa yang ingin kamu lakukan untuk membantuku?" tanya Ryo yang mulai tertarik dengan tawaran Jelita.
_To Be Continued_