Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Membeli Perlengkapan Bayi


__ADS_3

Di sebuah rumah dengan perpaduan yang indah antara warna kayu dan cat dinding putih kelabu tua. Rumah yang terlihat elegan dan glamor yang terpancarkan dari kaca besar di sudut rumah. Belum lagi halaman rumah yang luas, terdapat bunga warna-warni yang sangat indah.


"Jef!" teriak Renata dari arah kamar mandi.


Jefra yang tadi sedang bermain ponsel di ranjang segera lari ke kamar mandi.


"Kenapa? tanyanya panik.


Renata melongokan kepalanya dari pintu, "Aku lupa membawa handuk, tolong ambilkan."


Jefra bernapas lega, dia kira istrinya kenapa-kenapa tadi.


"Tidak usah pakai handuk," ujar Jefra.


"Eh?"


Renata kalah cepat untuk menahan pintu kamar mandi, lalu Jefra menggendong tubuh polos sang istri yang basah karena sehabis mandi.


"Jef!" pekik Renata.


Reflek Renata mengalungkan tangannya di leher Jefra.


Setelah itu Jefra menurunkan Renata di samping lemari.


"Kamu, ih. Bajumu jadi basah tuh," tukas Renata sembari menutupi ke dua tubuh sensitifnya dengan tangan.


"Sudah nggak apa-apa, nanti aku juga ingin mandi."


Jefra mengambil handuk dan mengelap tubuh basah Renata. Sedangkan Renata ketar-ketir dibuatnya.


Jefra terkekeh, "Kamu masih malu? Kita kan sudah melihat dan merasakan satu sama lain, jadi tidak usah malu-malu lagi, ya," ujarnya.


"Bu-bukan gitu, a-aku takut kamu kepengin, kita kan tidak boleh melakukan itu dulu selama kehamilan trimester pertamaku," cicit Renata dengan wajah yang sudah semerah tomat.


"Tenang saja, aku bisa menahannya, sayang."


Bersama dengan perkataan Jefra, Renata merasakan remasan pada ke dua bukit miliknya, yang membuatnya melenguh gelisah, "Uhh, ka-katanya bisa menahannya."


Renata pasrah ketika Jefra mendorongnya untuk bersandar pada lemari. Dipegangnya pundak Jefra.


"Bisa kok. Aku cuman sedang bermain squishy saja," ucap Jefra semakin meremas dengan gemas. Lalu memberikan jilatan pada ujungnya yang ranum dengan sensual.


"Ahh."


"Kenapa de-sah?" tanya Jefra menatap Renata dengan tatapan menggoda sembari memilin buah cherry dengan lembut.


"Enak," jawab Renata menatap Jefra dengan polos.


Jefra terkejut pelan, lalu menarik kuat buah cherry milik Renata yang sudah menegang, "Masih enak, hmm?"


"Ahh, sakit, Jef," rengek Renata. Namun, tidak urung mend-esah.

__ADS_1


"Cium aku," pinta Jefra dengan suara yang parau.


Renata mendongak dengan bernapas dengan kasar. Dia memandangi Jefra sambil mengelus tengkuknya, "Menunduk," ucapnya lebih mirip dengan perintah.


Dengan senang hati Jefra menurut untuk menunduk, dia tersenyum tipis karena akan mendapatkan morning kiss dari sang istri tercinta.


Renata berjinjit, melingkarkan tangannya di leher Jefra, dan mulai mencium bibir suaminya, mengecapnya berdasarkan insting.


Lalu Jefra membalas ciuman Renata dengan provokatif dan bersemangat seakan-akan mereka belum pernah berciuman sebelumnya. Mereka hanyut dalam permainan asmara yang menggebu-gebu.


Renata menjauhkan wajahnya, "Sudah, jangan kebablasan," ucapnya tertawa pelan.


Jefra mengangguk dan ikut tertawa.


Mengawali pagi hari dengan orang tercinta memang sebuah hal yang menyenangkan.


Kemudian mereka menghentikan keintiman itu. Renata segera memakai bajunya. Sedangkan Jefra masuk ke kamar mandi, seperti katanya tadi yang ingin mandi.


Renata mengenakan turtleneck berwarna hitam dan dipadukan dengan dress motif. Hari ini adalah hari Minggu, dia akan pergi ke mall bersama Jelita untuk memberi perlengkapan bayi. Dan tentunya sudah mendapatkan izin dari sang suami terlebih dahulu.


**


Di sebuah bangunan modern, pusat perbelanjaan di salah satu kota Jakarta. Hiruk-pikuk orang berlalu lalang. Jelita dan Renata mengunjungi toko peralatan bayi.


"Benar-benar lucu dan menggemaskan," ucap Jelita tatkala memegang baju bayi lengan panjang berwarna merah mudah.


"Bukankah ke dua bayimu laki-laki?" ujar Renata.


Sepertinya tidak hanya Jelita yang menginginkan warna itu, Renata juga berniat membelinya juga.


"Ngomong-ngomong bayimu laki-laki atau perempuan? Kalau perempuan ayo jodohkan dengan salah satu putraku," ujar Jelita.


"Kita kan sepupu, memangnya bisa kalau anak kita menikah?" sebenarnya Renata juga tertarik dengan ide Jelita.


Jelita terdiam sesaat untuk berfikir, "Kurasa boleh, lagi pula kita kan sepupu jauh," jawabnya kemudian.


"Baiklah kalau putramu tampan mungkin bisa dipertimbangkan," Renata tertawa renyah.


"Oh, ayolah. Kamu bisa melihat ke dua orang tuanya. Bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya?" ujar Jelita membanggakan diri.


"Ya, ya," Renata memutar bola matanya.


"Tapi, aku belum tahu bayiku perempuan atau laki-laki," sambung Renata.


Karena pada usia 18 minggu, biasanya baru bisa melihat jenis kela min bayi di dalam kandungan.


"Nggak apa-apa. Meskipun bayi perempuan atau laki-laki nggak diragukan lagi itu adalah hadiah termegah yang pernah ada," ucap Jelita seraya mengelus perut Renata yang sedikit membuncit.


Kemudian mereka melanjut acara berbelanja itu. Seperti membeli ranjang bayi, stroller, kursi mobil khusus untuk bayi demi keamanan saat berkendara dengan si kecil, bak mandi bayi, dan masih banyak lainnya. Mereka benar-benar langsung borong semua peralatan bayi.


Semoga ke dua wanita cantik yang sedang hamil itu sehat selalu hingga hari perkiraan lahir.

__ADS_1


Dertt... Dertt...


Renata menerima panggilan telepon dari salah satu pasiennya itu, Sachi.


"Ada apa, Sachi?" tanya to the point, seingatnya Sachi tidak memiliki jadwal konsultasi hari ini. Renata memang sengaja mengosongkan jadwal hari Minggu ini karena kegiatan memborong perlengkapan bayi.


[ Apa Dokter Renata sedang di mall? ]


"Kok kamu tahu?"


[ Aku melihatmu, aku sedang meminum kopi di cafe sebrang toko perlengkapan bayi. ]


Kemudian Renata beralih melihat cafe yang dimaksud Sachi, dan benar saja. Terlihat Sachi yang sedang melambaikan tangan.


"Oh, maaf, aku baru melihatmu."


[ Tidak apa. ]


"Kamu sendirian?"


[ Tentu saja, aku kan tidak memiliki teman dan... ya pasti kamu tahu lah, aku saja merasa mual kalau menyebut itu. ]


Oh, kasihan sekali pasiennya itu. Renata jadi tidak tega membiarkan Sachi sendirian.


"Bolehkan aku bergabung?"


[ Bukankah Dokter Renata sedang bersama seorang teman? ]


"Dia sepupuku."


[ Ya, kamu dan sepupumu boleh bergabung. ]


Renata tersenyum mendengarnya. Lalu panggilan telepon itu terhenti.


"Jelita, apa kamu sudah selesai?" tanya Renata pada Jelita yang sedang memasukan kartu limited miliknya ke dompet.


Karena Jelita yang mengajak Renata, maka dia yang bersikukuh membayar semuanya. Memiliki sepupu kaya raya memang sebuah keberuntungan bagi Renata. Walau begitu, Renata tidak pernah sekalipun memanfaatkannya. Tadi saja mereka harus berdebat dulu untuk siapa yang membayar, dan berakhir dengan melakukan suit yang dimenangkan Jelita.


"Ya, aku sudah membayarnya," jawab Jelita.


"Kalau begitu aku akan mentraktir kamu di cafe," ujar Renata.


"Boleh."


Kemudian mereka keluar dari toko perlengkapan bayi untuk menuju cafe. Sebelumnya, barang-barang yang mereka beli tadi sudah di bawah oleh Bodyguard yang sengaja Ryo utus untuk menjaga Jelita.


Namun, ekpresi Renata berubah pelik ketika melihat Sachi yang sedang berdebat dengan dua orang laki-laki dan seorang perempuan.


Apa yang terjadi?


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2