Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Ide Jefra


__ADS_3

"Hati-hati," ujar Ryo saat membantu Jelita untuk turun dari gondola.


"Terima kasih," ucap Jelita setelahnya.


Terlihat Renata yang juga sedang dibantu oleh Jefra.


Ekspresi mereka tampak habis dimabuk asmara.


"Apa kalian ingin makan malam?" tanya Ryo kemudian.


"Ayo kita makan malam dulu, aku juga sudah lapar," jawab Renata.


Dan mereka memutuskan untuk makan malam, menikmati makanan khas Italia di restauran terbaik.


Namun, Jefra dapat merasakan dari ekor matanya jika ada beberapa orang yang sedang mengintai mereka, mengintai sembari berbaur dengan keramaian.


'1, 2...'


Jefra mulai menghitung banyaknya orang yang terlihat mencurigakan.


'...80.'


Ya, ada sekitar 80 orang.


Tetapi Jefra menduga jika masih ada banyak orang lagi yang sedang bersembunyi.


'Apa mereka akan melakukan penyerangan di tempat ramai?' pikir Jefra.


Jefra mendekat pada Jelita selagi Ryo dan Renata sedang berdiskusi tentang restauran mana yang akan menjadi pilihan untuk makan malam.


"Apa Nona membawa pistol?" tanya Jefra dengan nada pelan.


Jelita mengeryit, kemudian mengedarkan pandangannya ke segala arah tapi hanya dengan lirikan mata. Dia langsung paham dengan situasi yang sedang terjadi.


"Apakah Jason?" tanya Jelita.


Jefra mengangguk untuk menjawab, ini akan lebih baik jika memberitahu Jelita, karena Jefra tahu jika Jelita bukanlah wanita biasa.


"Aku bawa," jawab Jelita untuk pertanyaan pertama Jefra.


Jelita memang selalu membawa pistol dan belati untuk pertahanan diri.


"Nona, sebaiknya kita berpencar," saran Jefra.


"Bagaimana bisa? Meskipun kita berpencar mereka pasti akan tetap mengincar Ryo," kilah Jelita.


Memang Ryo yang menjadi sasaran utama balas dendam Jason, jadi tidak ada gunanya jika berpencar.


"Aku punya ide," ujar Jefra.


**


Bola mata milik Jason tengah menatap tajam pemuda yang baru saja keluar dari sebuah restauran.


"Mereka berpencar," ucap Alex, pria kekar yang memiliki piercing di alis.


Pria itu adalah sang ketua mafia yang sedang di cari Jefra.


"Aku nggak perduli dengan yang lainnya, target kita adalah Ramaryo," desis Jason.


"Tapi, ada yang aneh," kata Alex meneliti penampilan Ryo yang memakai masker dengan topi.


"Apa yang aneh?" tanya Jason.

__ADS_1


"Mereka bertukar pasangan."


Jason kembali mengintai, "Perduli setan, putra keluarga Januartha itu memang playboy bereng-sek, nggak heran kalau mereka bertukar pasangan."


"Padahal aku suka yang berambut panjang, meskipun yang berambut pendek lebih cantik," ucap Alex.


"Aku meminta bantuanmu bukan untuk mengagumi seorang wanita," sengit Jason.


Alex justru tertawa, lalu dengan sekejap ekspresinya berubah menjadi dingin.


"Aku akan mengikuti target, kamu ikutilah pria yang bersama wanita berambut pendek," perintah Alex.


"Kenapa harus memperdulikan pria yang satunya?" Jason terlihat tidak suka dengan perintah Alex.


"Sepertinya ada yang mereka rencanakan," jawab Alvis.


"Apa mereka tahu jika kita akan menyerang?" tanya Jason.


"Entahlah."


**


"Kenapa aku harus bertukar baju dengan Jefra?" tanya Ryo yang sedang berjalan di sebelah Jelita.


Terlihat Ryo yang sedang mengenakan setelan jas ala Bodyguard yang tadi Jefra kenakan, serta topi dan masker.


"Kamu sedang diincar, itulah mengapa Jefra menyamar menjadi dirimu," kata Jelita dengan lirih.


Jelita dapat merasakan jika mereka sedang diikuti dari belakang, lalu menarik tangan Ryo agar berjalan lebih cepat, membelah keramaian.


Ryo yang awalnya terkejut dengan perkataan Jelita langsung ikut berjalan lebih cepat.


Ide yang dimaksud Jefra adalah untuk menggantikan posisi Ryo yang menjadi target Jason. Setelah membeli topi dan masker dipinggir jalan, ke dua laki-laki itu langsung bertukar pakaian di kamar mandi restauran tempat mereka makan malam.


Tetapi, sepertinya rencana Jefra tidak sesuai dengan harapan, karena Ryo dan Jelita masih diikuti.


Langkah cepat mereka berubah menjadi lari, orang-orang yang mengikuti mereka pun ikut berlari mengejar di belakang.


"Tenang saja aku akan melindungimu," ucap Ryo mengeratkan gandengan tangan.


Tidak bisa dipungkiri Jelita merasa senang karena sang suami berniat melindunginya.


"Serahkan saja pada istrimu ini," ujar Jelita seraya meraih pistol dari balik jaket yang dia pakai.


Ryo meringis saat melihat pistol yang dipegang Jelita. Oh, ayolah, memang tidak seharusnya dia berlagak jadi pahlawan untuk melindungi Jelita.


Bukankah istrinya itu begitu kuat?


Dor


Dor


Suara pistol mengarah pada mereka berdua setelah keluar dari keramaian.


Jelita memang sengaja untuk ke tempat sepi agar tidak menimbulkan korban jiwa dari penduduk setempat dan para wisatawan di Venesia.


Kini mereka berada di tengah bangunan-bangunan kuno pada abad lalu, terlihat asri namun menyeramkan karena minimnya pencahayaan.


Jelita menarik Ryo untuk bersembunyi di balik pilar salah satu bangunan.


Dor


Dor

__ADS_1


Suara peluru terus menghujam.


"Di mana kalian, ha? Keluarlah kalau nggak ingin mati!"


Terdengar suara Jason yang berteriak kencang, tatapannya menyorot tajam ke segala arah.


"Jadi Jason yang mengincar aku?" Ryo bermonolog dengan pelan.


Kemudian Ryo menatap Jelita, terasa aura yang begitu kuat dari istrinya itu.


Jelita menggenggam pistol secara penuh dan konsisten, jari-jari mengambil sudut 45 derajat. Lalu mengintip dari balik pilar untuk melihat Jason dan para mafia yang berjumlah 23 orang. Sedangkan pistol milik Jelita hanya ada 15 butir peluru.


Apakah dia bisa mengatasinya?


"Sepertinya aku akan sedikit bersenang-senang," ucap Jelita.


"Hah?" Ryo menatap tidak percaya Jelita.


Bersenang-senang katanya? Ryo bahkan bergidik ngeri saat melihat seringai istrinya.


Ini mengingatkan Ryo pada masa lalu, di saat Jelita menjadi Bodyguardnya.


Dor


Jelita mulai menembak sembari bersembunyi, 2 orang pun tumbang.


"Bang-sat!" umpat Jason yang mulai bersembunyi untuk menghindar tembakan dari Jelita.


"Tembak terus! Bunuh saja mereka berdua!" perintah Jason.


Para mafia menembak membabi buta. Jelita kembali bersembunyi saat peluru hampir saja mengenainya.


Dor


Kemudian Jelita mulai menembak dengan begitu gesitnya, dan peluru sukses mengenai 4 orang.


Dor


Dor


Jason terlihat panik saat melihat kawanannya tumbang satu persatu.


Sebenarnya siapa yang tengah dia lawan ini? Jika seperti ini terus dialah yang akan tertembak selanjutnya.


Namun.


Jelita menghentikan tembakannya saat peluru tinggal 1 butir lagi.


Kemudian Jelita melihat Ryo yang berekspresi tegang di sebelahnya, suaminya itu terlihat khawatir terhadapnya.


"Nggak usah khawatir," ucap Jelita.


"Jelita, jangan membahayakan dirimu demi aku," ujar Ryo.


"Ini nggak bahaya," kilah Jelita.


"Aku tahu peluru di pistolmu itu sudah hampir habis, jangan berpikir untuk melakukan hal yang nekat," cegah Ryo.


"Aku nggak berbuat nekat, aku hanya akan memukul mereka," ucap Jelita.


Ryo terkejut mendengarnya, "Kamu akan melawan dengan tangan kosong?"


"Ya."

__ADS_1


Mana mungkin Ryo membiarkannya.


_To Be Continued_


__ADS_2