Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Luka Tembak


__ADS_3

Masih berlanjut 🔥🔥🔥


"Bo-bolehkah aku menyentuhmu?" tanya Renata dengan malu-malu.


Oh, tentu saja Jefra sangat membolehkan itu. Namun, tetap saja Jefra masih tidak percaya dengan permintaan Renata. Dirinya sangat senang karena merasa sangat diuntungkan.


"Hmm," Jefra hanya bergumam untuk menutupi debaran jantungnya menggila.


Telapak tangan Renata mulai membelai tubuh atletis dan tonjolan sixpack yang sejak tadi ingin disentuhnya itu. Renata tidak tahu jika perbuatannya mengakibatkan desiran darah Jefra yang mengalir cepat ke inti lelakinya, membuat semakin mengeras. Terlebih lagi keadaan Renata yang polos, menunjukan lekuk tubuh yang terlihat jelas dari posisi Jefra yang sedang di bawah Renata.


Jefra mengeram pelan saat Renata tidak hanya membelai tubuh atasnya yang te-lanjang, tapi juga memijat dan lebih parahnya memberikan ciuman.


"Renata," desis Jefra saat tonjolan kecil ditubuhnya dihisap dan digigit.


Renata telah membuat gai-rah Jefra semakin memuncak sampai ke ubun-ubun.


Ke dua tangan Renata bergerak memegang sisi celana yang dikenakan Jefra, ingin menurunkannya, tapi ragu.


"Lepaskan saja, sayang," ucap Jefra.


Dengan tangan yang sedikit bergetar, Renata mulai menarik celana tidur Jefra hingga meloloskannya ke bawah. Menyisahkan celana da-lam, kain terakhir yang menutupi sesuatu yang terlihat menonjol.


Namun, bukan itu fokus dari tatapan Renata.


"Jef, dari mana kamu mendapatkan luka ini?" tanya Renata seraya menyentuh bekas luka yang berada di paha Jefra, sepertinya luka habis tertembak.


"Ini hanya luka lama yang aku dapatkan saat bertugas," jawab Jefra tidak sepenuhnya berbohong.


Jefra memang mendapatkan luka itu saat bertugas untuk memata-matai seorang pembunuh bayaran yang sangat di cari dunia saat 5 tahun yang lalu. Kala itu memang ada sedikit masalah sehingga dirinya mendapatkan luka tembak yang cukup dalam.


Setelahnya, Renata memberikan kecupan tepat di bekas luka itu. Sungguh menyayangkan jika Suaminya pernah mengalami luka sebelumnya, dia beranggapan jika pekerjaan Bodyguard memang berbahaya.


Apa Renata harus melarang Jefra untuk bekerja di bidang itu? Ya, sepertinya Renata harus membicarakan ini dengan Jefra di lain waktu.


"Renata."


Jefra memanggil Renata dengan suara serak, tangannya meraih ke dua bukit milik Renata yang menantang, lalu menggoyangkannya dan meremasnya agak bertenaga.

__ADS_1


"Apa kamu menyukainya?" tanya Renata dengan tersenyum menggoda.


"Ya, you'er a big," desis Jefra sembari menarik ke dua cherry dengan kencang.


"Ah, sayang, sakit," rengek Renata meremas pundak Jefra manja. Dia menatap Suaminya dengan mata sayu, kemudian mencoba memberanikan diri untuk memegang senjata Jefra yang masih terbalut celana da-lam. Mengusap benda itu perlahan.


Renata terbelalak saat merasakan jika beda yang tengah dia pegang sangatlah keras, terasa panjang, dan besar.


"A-apa... ini kayu?" dengan polos Renata bertanya, suaranya serak. Benar-benar pertanyaan bodoh.


Jefra mendesis pelan, berupaya untuk tidak menerkam Istrinya saat ini juga, "Oh, bukan."


Lalu Renata meremas benda yang mirip dengan telur. Renata memang gadis yang tidak berpengalaman, kikuk, dan begitu polos untuk mengetahui semua ini. Dia hanya mencoba menyenangkan Suaminya.


"Jangan seperti itu, buka saja," ucap dengan napas yang memburu.


Apa Renata harus membukanya? Sepertinya memang harus, lagi pula Renata juga penasaran dengan benda itu.


Ragu-ragu Renata melepas celana da-lam yang di kenakan Jefra. Lalu dirinya disambut dengan sesuatu yang berdiri tegak tapi bukan keadilan, ternyata senjata Jefra yang sudah siap tempur. Renata menelan saliva dibuatnya. Kemudian disentuhnya benda itu, terasa berdenyut dan mengacung tegak. Renata akan mengingat ukuran dan bentuk milik Suaminya itu. Bahkan Renata bisa merasakan urat-urat yang mencuat hingga di kepalanya. Dan segar. Tentu saja karena ini adalah pertama kali untuk Jefra.


Apakah Jefra naf-su karenanya? Jantung Renata berdegup kencang karena pikirannya.


Begitu ragu dan pelan-pelan, Renata mulai membuat gerakan memompa menggunakan tangannya pada beda keras itu. Kemudian mendongak, membiarkan Jefra beralih mencium lehernya, menyalurkan kenikmatan yang tengah Renata berikan. Dan ini semua terjadi karena insting.


"Oh, Renata, sayang, aku sudah tidak tahan lagi."


Bersama dengan perkataannya, Jefra menjatuhkan tubuh Renata untuk tidur di atas ranjang, dan direspon kepasrahan dari Isterinya.


"Jefra..."


Jefra langsung melesakkan lidahnya ke mulut Renata. Lidah Jefra begitu beringas membelit lidah Renata, mengabsen gigi dan menghisap bibi Istrinya dengan kuat, yang membuat sesak napas. Jefra menekan tubuh untuk lebih merapat pada tubuh Renta, kulit polos yang bergesekan menghantarkan sengatan listrik yang membuat darah berdesir-desir.


Renata merasakan sebuah tangan menyentuh tubuh bagian bawahnya yang sudah lembab.


"Ah!"


Jefra menyapa benda berbentuk kacang dengan jarinya. Des-ahan kencang Renata terhalang ciuman Jefra.

__ADS_1


Sedangkan Jefra dapat merasakan betapa basahnya sesuatu yang sedang dia goda dengan jari itu, begitu lembab dan keras di bagian yang menonjol kecil. Lalu Jefra menekannya pelan. Renata menggelinjang dibuatnya.


Jefra melepaskan ciumannya, menyebabkan jejak-jejak saliva yang menggenang di dagu sang Istri. Renata terlihat sangat mengga-irahkan sekali, dengan dagu yang bercucuran saliva, rambut panjang yang berantakan dan menyebar di ranjang, serta tubuh polos yang bergerak-gerak gelisah. Sungguh pemandangan yang luar bisa sekali, Jefra menelan saliva melihat keadaan ketidakberdayaan Renata.


"Sttt, pelankan suaramu, sayang. Nanti Ayah dan Ibu kamu mendengarnya," ujar Jefra.


Ya, Jefra sendiri jadi was-was karena itu.


Renata mengangguk kaku. Kemudian merintih dan menahan des-ahannya dengan sekuat tenaga.


Jefra menghembuskan napas pada ceruk leher Renata setiap kali menggesek jarinya di antara lipatan daging lembut. Renata mengerang, mengangkat kepalanya, lalu mendengus, mata tertutup, menikmati perbuatan sang Suami pada tubuhnya.


Kemudian Jefra menghisap bukit Renata lagi dan lagi. Membuat Renata memekik bergetar, tidak kuasa menerima rangsangan pada ke dua tubuh sensitifnya secara bersamaan.


Pada akhirnya Jefra menemukan lubang sempit dan kecil itu, bersembunyi bawah tonjolan kecil yang sudah mengeras.


Renata mengerang, mengejang pelan saat jari telunjuk Jefra memasukinya. Jefra tersentak ketika jarinya terhisap begitu dalam, rasanya sangat sempit di dalam sana.


"Ah! Sakit!"


Renata langsung membuka matanya, air mata menggenang. Jefra langsung mendiamkan telunjuknya di sana, membiarkan Renata untuk tenang terlebih dahulu, sembari memainkan bukit kembar terus-menerus. Sebenarnya Jefra tidak tega, tapi dia harus melakukannya supaya Renata tidak kaget saat ke tahap selanjutnya.


Suara de-sah nikmat lolos dari bibir Renata.


Jari Jefra mulai bergerak in out, semakin merasakan jika jarinya dihisap kuat, cairan pelumas keluar dari sana yang menimbulkan efek licin tersendiri. Suara kecipak yang sexy terdengar. Bahkan aromanya bisa tercium.


Renata menatap Jefra dengan air mata dan peluh. Menggeleng saat merasakan sesuatu yang akan keluar. "Jef, hentikan, kurasa aku... aku akan pipis," lirihnya tersiksa.


Jefra tersenyum menanggapinya, tidak mengabulkan apa yang dikatakan Istrinya. Justru jarinya semakin bergerak cepat, dia dapat merasakan kedutan dari dalam sana.


"Jef, aku tidak tahan..." Renata semakin tersiksa, lalu tanpa sadar pinggangnya ikut bergoyang seirama dengan gerakan jari Jefra, badannya semakin melengkung. Dia akan merasakan pelepasan pertamanya.


"Jefra!" Renata menjelaskan nama Suaminya saat merasakan sesuatu yang keluar.


Jefra dapat meraskan sesuatu yang mengalir di jarinya. Padahal hanya dengan satu jari saja, tapi sudah dapat membuat Renata mengenal kenikmatan duniawi.


"Renata, aku ingin memasukimu."

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2