
Esok harinya.
Renata sedang bersiap-siap untuk memulai harinya, makeup tipis dia oleskan pada wajahnya yang seputih keju, dan diakhiri dengan goresan lipstik merah muda pada bibir penuhnya. Rambut hitamnya diikat setengah yang membuatnya semakin manis.
"Ah, aku harus pakai parfum," ucap Renata sembari meraih botol kaca yang berisi minyak wangi kesukaannya, lalu dia mulai memakainya.
Sebagi seorang Dokter dia harus terlihat rapi dan wangi supaya pasiennya merasa nyaman saat konsultasi.
"Bukankah aku sangat cantik? Tapi kenapa Davian mengabaikan cewek secantik aku?" tanya Renata pada pantulan dirinya di cermin.
Renata mengangkat sudut bibirnya mencoba tersenyum. Ya, dia tidak boleh mengawali hari dengan kegalauan hati.
Setelah merasa siap dengan penampilannya, Renata segera keluar kamarnya untuk ke ruang makan dan bertemu ke dua orang tuanya.
"Good Morning, Ayah," sapa Renata mencium pipi sang Ayah.
Sebastian──sang Ayah hanya mengangguk dan kembali membaca koran pagi miliknya, ada segelas kopi hitam yang menemaninya. Ayah Renata ini adalah tipikal pendiam dan dingin. Wajar saja karena pekerjaannya adalah panglima TNI.
"Good Morning, Ibu," sapa Renata lagi dengan mencium pipi sang Ibu.
"Good Morning, sayang," ucap Reina──sang Ibu tersenyum lembut. Si istri panglima TNI ini adalah Ibu rumah tangga biasa.
"Aku berangkat dulu, ya," ucap Renata sembari mencomot roti tanpa selai dan menggigitnya.
"Kamu nggak sarapan dulu, Rena?" tanya Reina pada putrinya.
"Aku makan roti saja," jawab Renata, "Assalamualaikum," dan secepat kilat pergi ke luar rumah.
Bukan tidak ada alasan Renata mencoba pergi terburu-buru padahal dia tidak sedang terlambat. Alasannya tidak lain adalah menghindari pertanyaan dari sang Ayah. Sejak kemarin Ayahnya itu selalu menanyakan bagaimana persiapan pernikahannya dengan Davian, tentu saja Rena bingung menjawabnya karena persiapannya masih 0%. Davian saja susah sekali dihubungi, apalagi diajak bertemu.
Renata mengambil ponsel pada tas jinjing miliknya dan mendial nomor sahabat, Gina.
Gina adalah tempat curhat bagi Renata setelah Jelita, teman sejak di bangku perkuliahan, dan sekarang sudah menjadi rekan kerja Renata.
"Kenapa nggak diangkat, sih?" gerutu Renata saat panggilan teleponnya hanya terdengar nada sambung.
Padahal Renata ingin meminta laporan tentang pasien yang ditanganinya kemarin. Gina adalah asistennya, orang yang membantu Renata dalam membuat segala laporaan terkait pasien.
"Apa dia belum bangun?" tanya Renata yang sudah menyerah untuk mencoba menghubungi Gina lagi.
Drett...
Renata mengeryitkan dahi saat mendapatkan notifikasi pesan dari nomor yang tidak dikenal. Dia pun langsung mengecek pesan itu.
Deg
"Davian..."
**
__ADS_1
Di tempat lain, di kediaman si pengantin baru.
Terlihat Jelita yang sedang memasak sarapan pagi, meskipun saat ini dia sudah menjadi sang nyonya rumah, tapi Jelita tidak ingin menghilangkan kebiasaannya untuk memasak makanan untuk Ryo. Lagi lupa memasak adalah salah satu hobinya setelah bekerja dan belajar.
"A!" pekik Jelita karena terkejut dengan kedatangan Ryo yang tiba-tiba memeluknya dari belakang, hampir menjatuhkan spatula yang dia pegang.
Ryo justru terkekeh melihat respon Jelita yang terlihat terkejut, "Kalau sedang memasak jangan melamun," ucapnya.
Jelita memukul lengan Ryo yang melingkar pada pinggangnya, "Aku hampir jantungan," tukasnya kesal.
"Aduh, sakit sekali," Ryo langsung melepas pelukannya dan memegangi lengannya yang tadi dipukul istrinya.
Jelita menatap Ryo dengan memincingkan mata, "Pukulan aku nggak sekencang itu, Ryo," ujarnya.
Oh, ayolah, dia bahkan tidak menggunakan tenaga sama sekali.
"Jelita, pukulan kamu benar-benar menyakitkan tahu, tulang lenganku sepertinya patah," ucap Ryo dengan masih memegang lengannya seakan sedang terluka parah.
"Jangan berlebihan," kata Jelita.
"Lihat saja lenganku kalau kamu nggak percaya."
"Sini aku lihat," ujar Jelita seraya meraih lengan Ryo untuk menekannya dengan pelan, "Baik-baik saja, kok."
"Lihatlah lebih dekat lagi."
"Nggak ad—"
Cup
Dengan secepat kilat Ryo mencuri kecupan di bibir ketika Jelita mendongak untuk menatapnya.
Wajah Jelita merona merah, "Kamu curang sekali, ih," rengeknya.
Ternyata Ryo berpura-pura sakit untuk bisa menciumnya.
Ryo terkekeh dan memeluk Jelita, "Aku hanya menagih morning kiss yang belum kamu berikan pagi ini," ujarnya.
Hari ini Jelita memang bangun pagi-pagi sekali dan meninggalkan Ryo yang masih tidur di kamar untuk pergi memasak. Bahkan Ryo sempat menjadi orang linglung saat terbangun, karena tidak menemukan sang istri di sebelahnya. Padahal Ryo membutuhkan asupan bibir Jelita untuk mengawali harinya.
"Sini kiss lagi," sambung Ryo dengan memajukan wajahnya dan memonyongkan bibirnya.
Jelita menutup mulut Ryo dengan ke dua tangannya, "No!" tolaknya.
Ryo terkejut dengan penolakan yang Jelita lakukan, padahal dia tahu sekali jika istrinya itu sangat suka dicium, "Kewnapah?" tanyanya dengan suara yang terhalang tangan Jelita.
"Aku lagi masak," jawab Jelita.
Lalu Jelita melepas bungkaman tangannya pada mulut Ryo.
__ADS_1
Bukan karena menolak, Jelita sebenarnya mau-mau saja dicium suaminya, tapi dia harus memikirkan masakannya yang kemungkinan akan gosong jika dia menerima ciuman dari Ryo yang pastinya akan berlangsung tidak sebentar.
"Memangnya kamu sedang memasak apa?" tanya Ryo.
"Nasi goreng kornet," jawab Jelita.
Seketika Ryo berbinar, "Wah, pasti enak," ucapnya.
Sejak menjadi Bodyguardnya dan kini menjadi Istrinya, Jelita selalu tahu makanan apa yang Ryo sukai.
"Tentu saja enak," ujar Jelita dengan percaya diri, "Kamu tunggu saja di meja makan."
"Oke," patuh Ryo.
Sebelum Ryo melangkah ke meja makan, dia menyempatkan untuk mengecup pipi Jelita sekilas.
Jantung Jelita berdegup dengan kencang dan wajahnya kembali merona, dia memang belum terbiasa dengan sikap manis Ryo yang tiba-tiba itu.
Tidak lama kemudian Jelita mulai menyiapkan makanan di meja makan, di sana sudah ada Ryo dan Jefra yang duduk dengan manis.
"Kenapa Nona yang memasak? Harusnya aku yang memasak," ucap Jefra setalah Jelita bergabung.
Sejak kemarin memang Jefra yang memasak.
"Berhentilah memasak mulai sekarang, Jefra. Kamu nggak berbakat untuk memasak," sengit Ryo.
Ryo sendiri adalah korban dari uji coba masakan Jefra. Dia cukup tersiksa dengan rasa masakan Jefra yang menurutnya seperti tanah.
"Tapi, masakan aku masih bisa dimakan," ucap Jefra berniat membela masakannya, meskipun dia mengakui rasanya memang buruk.
"Sudahlah jangan ribut, kalian sarapan saja dulu. Bukankah kalian harus ke rumah sakit setelah ini," ujar Jelita.
Pagi ini Ryo memiliki janji konsultasi dengan Dokter Renata, nyctophobia yang diderita Ryo memang masih belum hilang sepenuhnya.
Kegiatan Ryo hari ini memanglah begitu padat, pukul 7 pagi adalah jadwal konsultasi, setelahnya berkuliah pada pukul 9 pagi, dan bekerja di kantor pada pukul 1 siang.
"Kamu nggak menemani aku ke rumah sakit?" tanya Ryo.
"Nggak, aku harus bekerja, lagi pula ada Jefra yang menemani kamu," jawab Jelita sembari meletakan nasi goreng pada piring milik Ryo.
Ryo cemberut karena Jelita tidak menemaninya, dan justru membuatnya terlihat imut di mata Jelita, lihat saja lesung pipi di garis bibir Ryo yang sangat menggemaskan.
"Jangan cemberut, sini aku suapi sebagi gantinya," ujar Jelita yang menahan diri untuk tidak menggigit gemas pipi suaminya.
"Ya," Ryo mengangguk.
Sarapan pagi pun berlangsung dengan Jelita yang menyuapi Ryo, dan Jefra yang sudah terbiasa menjadi obat nyamuk.
_To Be Continued_
__ADS_1