Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Imut Dan Tidak Peka


__ADS_3

"Jefra?"


Renata refleks berdiri, dia sungguh terkejut dengan kehadiran Jefra.


"Memangnya siapa orang yang kamu dambakan untuk menikah denganmu, Renata?" tanya Jefra.


Renata berkedip beberapa kali. Ya, itu Jefra sungguhan. Dia tidak berhalusinasi. Apalagi pemuda itu terlihat semakin tampan dengan setelan jas dan dasi kupu-kupu.


Tanpa memperdulikan yang lainnya, Renata beranjak untuk mendekat pada Jefra dan memeluknya. Tindakan yang membuat semua orang terkaget-kaget.


"Dirimu, Jefra."


Jefra tersenyum saat mendengar jawaban Renata, dia pikir tadi benar-benar mendapat penolakan.


"Hmm!"


Suara dehaman menghentikan gerakan Jefra yang ingin membalas pelukan Renata. Lalu Jefra segera melepas pelukan Renata karena mendapatkan tatapan tajam dari Sebastian.


Reina yang paham akan situasi angkat bicara, "Sepertinya kalian membutuhkan waktu untuk ngobrol berdua."


**


Bulan menggantung dengan indah, awan kelabu menutupi bintang-bintang. Jefra dan Renata sedang berdiri berhadap-hadapan di taman rumah.


"Jefra, kamu datang untuk menggagalkan acara lamaran ini? Ke mana saja kamu? Kenapa kamu nggak ada kabar? Apa kamu nggak kangen denganku? Aku saja kangen sekali."


Renata memberikan pertanyaan yang berbondong dengan tatapan berkaca-kaca, sungguh imut seperti kucing yang baru bertemu induknya.


Jefra mengangkat ke dua tangannya mengisyaratkan agar Renata tidak bertanya lebih banyak lagi, "Bisakah kamu tenang dulu dan tunggu sebentar? Soal itu aku──"


"Nggak!" potong Renata dengan nada yang lumayan keras.


Jefra terdiam langsung.


"Aku sudah nggak bisa menunggu lagi, aku sudah gila karena menunggu kabarmu selama 2 Minggu ini, aku hampir putus asa karena sempat berfikir kamu benar-benar meninggalkan aku," lirih Renata dengan mata memerah menahan tangis.


"Maaf karena sudah membuatmu menunggu," ucap Jefra menatap manik indah Renata.


"Kamu jahat sekali, Jef," air mata Renata tidak bisa dibendung lagi, gadis cantik itu menangis.


"Aku sungguh minta maaf," ucap Jefra  seraya menghapus air mata Renata dengan ke dua ibu jarinya, sangat menyesalkan Renata yang menangis karena perbuatannya.


Renata mencengkram kerah kemeja yang Jefra sehingga siempunya menunduk, "Aku akan memaafkan jika kamu membawaku kabur dari sini, aku nggak mau menikah dengan pemuda selain kamu," ujarnya.


"Renata, sebenarnya aku──"


Perkataan Jefra terpotong saat Renata membungkam bibirnya dengan ciuman. Mata hitamnya terbelalak karena terkejut.


"Tung...gu," Jefra mencoba untuk melepas tautan bibir mereka dengan wajah yang sudah memerah sempurna, tapi Renata memegang ke dua pipi Jefra untuk mencegah menjauh.

__ADS_1


Renata mencium bibir Jefra dengan lembut, memberi sentuhan yang pelan dan penuh kerinduan.


"Jefra," panggil Renata setelah melepas ciumannya, wajah ke duanya masih begitu dekat, "Katakanlah sekarang."


"Apa maksudmu?" tanya Jefra dengan bingung dan jantung berdetak kencang.


"Cepat ajak aku menikah! Kalau perlu bawa aku kabur saja! Nggak perlu menunggu waktu 3 bulan yang belum terjadi! Pokoknya aku hanya ingin menikah denganmu bukan Julian atau siapapun!" seru Renata menggebu-gebu.


Mereka terdiam untuk sesaat. Renata merasa kaget sendiri karena begitu emosi, sehingga menyampaikan semua perasaannya. Sedangkan Jefra menatap penuh arti.


Jefra meraih ke dua tangan Renata yang masih memegang ke dua pipinya, lalu menjauhkan dari sana.


"Hahahaha!" tawa Jefra tiba-tiba pecah.


Renata sweatdrop sesaat, bingung dengan Jefra yang tertawa.


"Kenapa tertawa?"


"Dasar kamu ini," Jefra menarik Renata ke dalam pelukannya, "Kamu itu tidak bisa membaca situasi, ya? Benar-benar imut dan tidak peka."


Renata semakin bingung dibuatnya.


Jefra menatap Renata dengan senyum yang menawan, "Sebenarnya akulah yang sedang melamar kamu, bukan Julian. Itulah mengapa 2 Minggu ini aku menghilang karena ingin mempersiapkan ini."


"Eh?" Renata berekspresi bodoh seketika, "Jadi kamu yang akan melamar aku?" tanyanya.


"O-oh..."


Pantas saja muka mereka mirip. Wajah Renata merona merah, merasa malu karena mengingat perkataannya pada Julian tadi.


'Kenapa aku bodoh sekali?' batin Renata merutuki dirinya sendiri.


"Aku tidak menyangka jika kamu sangat ingin menikah denganku," ucap Jefra dengan terkekeh.


Renata sangat malu sekali, dia memukul pelan dada Jefra, "Ja-jangan menggodaku."


"Renata," panggil Jefra lembut.


"Ya?"


Jefra berlutut di hadapan Renata, seakan mewujudkan kesetiaan dan penyerahan diri pada gadis yang dicintainya.


"Aku memang bukan cowok romantis yang membawa seribu bunga mawar atau kejutan manis lainnya. Tapi malam ini, aku ingin mengatakan dengan segenap kerinduanku. Jadilah pendampingku."


Sebuah cincin dengan permata batu safir disematkan pada jari manis Renata.


"Aku sangat mencintaimu. Apa kamu bersedia menikah denganku?"


Renata menatap cincin yang melingkar pada jarinya, sebuah tanda dari Jefra untuk mengajaknya berkomitmen dalam suka ataupun duka. Tidak ada kata yang dapat menjelaskan perasaan Renata saat ini, dirinya merasa paling beruntung dan paling bahagia di dunia. Air mata kebahagiaan menetes bersama dengan terbitnya senyuman indah.

__ADS_1


"Ya, Jefra. Aku bersedia dengan sepenuh hati."


Setelah menempuh perjalanan panjang dan menyakitkan, akhirnya Renata akan mendapatkan akhir yang bahagia bersama Jefra.


"Terima kasih, Renata," Jefra segera bangkit dan merengkuh gadis yang menerima lamarannya itu.


**


Setelahnya, acara lamaran sekaligus pertunangan berjalan dengan lancar. Tanggal dan hari pernikahan juga sudah ditetapkan, yakni sebulan lagi, karena harus melakukan banyak persiapan terlebih dahulu.


Renata menatap mobil yang berjalan menjauh dengan senyum yang masih saja belum luntur. Padahal Renata masih merindukan Jefra, tapi sang calon suami harus pulang karena sudah terlalu malam.


"Hebat, ya. Jefra sungguh mengejutkan kita," ujar Jelita.


"Tapi aku sangat senang!" seru Renata dengan girang.


Jelita tersenyum melihat binar kebahagiaan dari sepupunya, "Aku juga ikut senang."


Tin!


Ke dua wanita itu teralihkan dengan bunyi klakson mobil yang baru saja datang, itu mobil Ryo.


"Pak suami, sudah datang tuh," ucap Renata.


"Yasudah aku pulang dulu, ya," pamit Jelita lalu melangkah ke arah mobil milik suaminya.


"Hati-hati, Jelita!" seru Renata seraya melambaikan tangannya.


Jelita membalas lambaian tangan Renata sebelum masuk ke dalam mobil. Kemudian mobil itu berlalu.


"Sayang, kamu lama sekali," Ryo cemberut.


"Sudah nggak usah cemberut," Jelita mengecup pipi Ryo sekilas.


Ryo mengangguk lemah.


Jelita mengeryit saat melihat wajah tampan suaminya yang terlihat pucat, "Kamu sakit?" tanyanya khawatir.


"Aku hanya merasa lemas saja," jawab Ryo.


"Apa banyak kerjaan di kantor?" tanya Jelita lagi.


"Nggak kok, biasa saja," jawab Ryo sekenanya.


Kemudian Ryo membaringkan kepalanya pada pangkuan Jelita. Sebenarnya dia merasa pusing dan mual, tapi Ryo tidak mau Jelita khawatir padanya.


Jelita menghembuskan napas lega karena merasakan suhu normal pada kening suaminya, lalu mengelus rambut tebal Ryo dengan sayang. Semoga saja suami manjanya benaran tidak apa-apa.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2