
Tut... Tut... Tut
Jefra menurunkan ponsel yang tadi ditempelkan pada telinganya, panggilan telepon diakhiri secara sepihak oleh Renata setelah kata penolakan yang dilontarkan gadis itu.
Senyum miring terbit di bibir tipisnya, "Kamu tidak bisa menolak, Renata," gumamnya pelan.
Kemudian dia menyambar jaket kulit yang tergantung dan memakainya, setelahnya berjalan keluar kamar.
Jefra menghampiri salah satu Bodyguard yang sedang berjaga di ruang tengah.
"Aku akan pergi sebentar, kalian jagalah mereka berdua dengan baik," ucap Jefra yang merujuk pada Ryo dan Jelita.
"Baik."
**
"Hah... Hah..."
Ryo dan Jelita meraup oksigen dengan rakus. Keringat mereka bercucuran yang menyebabkan aroma seksi.
Ryo mencabut miliknya yang tadi tertancap sempurna, lalu mencium perut Jelita yang ramping. Dia berharap jika hadiahnya akan segera muncul di sana.
Kemudia Ryo berbaring di samping istrinya. Jelita mengalihkan pandangannya pada Ryo, dan detik kemudian bola mata hazel dan amber bertemu, mengisyaratkan pandangan kagum dan cinta.
Ryo memajukan kepalanya untuk mengecup singkat bibir Jelita, "Love you, sayang," ucapnya.
Tidak ada kata bosan untuk mengucapkan perasaan cintanya. Ryo memang sudah tergila-gila pada istri cantiknya itu.
Kemudian Ryo membawa Jelita ke dalam pelukannya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos.
"Aku lelah," Jelita mengadu.
"Apa aku terlalu kasar?" tanya Ryo merasa bersalah.
Jelita menggeleng, Ryo memang tidak kasar, justru suaminya begitu lembut saat memperlakukan dirinya, hanya saja kelembutan yang diberikan Ryo terlalu overdosis sehingga membuatnya kelelahan. Ryo benar-benar padai membuatnya lemas tidak berdaya.
"Jelita," panggil Ryo.
"Ya?" jawab Jelita.
"Ayo kita honeymoon."
Jelita langsung mendongak untuk menatap Ryo yang ternyata sedang menatapnya, "Apa itu honeymoon?" tanyanya dengan tatapan polos.
"Bulan madu," jawab Ryo setelah speechless sesaat.
Jelita terdiam pertanda masih tidak mengerti.
Ryo menggigit bagian dalam pipinya menahan gemas, bagaimana bisa Jelita tidak mengerti honeymoon? Bukankah seharusnya semua wanita mengharapkan bulan pertama pernikahan yang indah dengan pasangannya? Padahal dia ingin memberikan honeymoon yang manis dan cerah untuk istrinya itu.
__ADS_1
Ryo meraih ponsel yang berada di atas meja dan menyodorkan pada Jelita, "Sebaiknya kamu bertanya pada Mbah Google," ujarnya.
Jelita menerima ponsel yang disodorkan Ryo dan melakukan apa yang dikatakan Ryo.
"Ok Google, apa yang dimaksud honeymoon?" tanya Jelita pada spiker ponsel yang sudah dihubungkan dengan Google.
Kemudian ada suara wanita yang terdengar dan menjelaskan apa arti dari honeymoon, setelahnya Jelita mulai browsing agar lebih memahaminya lagi, dia terlihat serius dalam melakukannya.
Sedangkan Ryo memperhatikan istrinya itu, dia dengan sabar menunggu Jelita.
"Aku mau honeymoon," ucap Jelita dengan tatapan berbinar, sepertinya dia sudah mengerti.
Ryo terkekeh, "Baiklah."
"Apa kita akan ke luar negeri?" tanya Jelita terlihat sangat antusias.
"Keliling dunia pun nggak apa-apa," jawab Ryo.
"Benarkah?" tanya Jelita semakin antusias.
"Ya."
Bagi Ryo tidak masalah ke manapun mereka pergi, Jelita yang berada di sisinya, itu yang lebih penting.
"Aku senang sekali," Jelita langsung memeluk Ryo dengan erat.
Kebahagiaan adalah tentang hal-hal sederhana yang ingin Jelita lakukan bersama Ryo. Dia sangat mengharapkan perjalanan paling romantis bersama Ryo.
**
Davian.
Mata hitam setajam elang milik Jefra menatap seorang pemuda yang sedang bercumbu dengan wanita berpakaian sexy, bercumbu di tengah-tengah ingar bingar suasana Club.
Jefra tersenyum miring melihatnya.
"Apa cowok sepertinya yang kamu cintai, Renata?" gumam Jefra dengan menyesap minumannya.
Jefra memang sudah mengulik semua tentang Renata, dari identitas Renata hingga siapa calon suami gadis itu.
Hal yang perlu diketahui, Jefra mempunyai koneksi tanpa batas. Dia bukanlah Bodyguard biasa pada umumnya.
Seorang laki-laki yang baru datang langsung mendudukkan dirinya di bangku sebelah Jefra.
"Jejak Jason menghilang," ucap si laki-laki yang bernama David.
"Bagaimana bisa menghilang? Hanya mencari keberadaan satu orang saja kamu tidak bisa, David," sinis Jefra menatap David dengan memincingkan mata.
"Kamu memang menyuruhku untuk mencari keberadaan satu orang, tapi yang di belakang Jason adalah sekelompok mafia terkenal dari Meksiko," ujar David mencoba membela dirinya.
__ADS_1
"Ck, untuk melakukan hal seperti itu saja kamu kesulitan," ejek Jefra dengan ekspresi datar.
"Lalu apa yang kamu lakukan? Dugem di Club malam seperti ini? Seorang Intelijen Negara bisa-bisanya berada di tempat seperti ini," sinis David.
Jefra mendelik karena ucapan David yang ceplas-ceplos, sebuah kenyataan yang selama ini Jefra sembunyikan dengan begitu mudahnya David bocorkan.
"Bang-sat, tutup mulutmu," Jefra terlihat marah, beruntunglah tidak adalah orang yang mendengar obrolan mereka karena suara musik yang begitu kencang.
"Santai, tidak ada yang mendengar," ujar David dengan watados.
Tentang siapa sebenarnya Jefra Annefall yakni seorang Intelijen Negara yang indentitasnya sangatlah dirahasiakan, itulah mengapa dia sampai berpura-pura menjadi orang kepercayaan keluarga Januartha.
Jefra mempunyai alasan khusus untuk melakukan penyamaran di keluarga berpengaruh, saat ini Jefra memang sedang menjalankan tugas negara untuk menumpas habis sekelompok mafia yang menjual obat-obatan, orang dalam manusia, dan pekerjaan gelap lainnya.
Dia mengambil kesempatan di antara keluarga Januartha dan Delaney yang sedang berseteru, karena Jefra tahu jika keluarga Delaney sangat berhubungan baik dengan sekelompok mafia incarannya, Jefra memilih berada di pihak keluarga Januartha untuk membantai habis keluarga Delaney, lalu sengaja melepaskan Jason untuk melakukan pembalasan dendam balik.
Kemudian Jefra dapat dengan mudah mengetahui keberadaan targetnya melalui Jason yang akan membalas dendam.
Itu memang sudah direncanakan Jefra sejak awal. Pemuda itu memanglah sangatlah cerdas.
Namun, David, partner dalam misinya sangatlah tidak bisa diandalkan untuk mencari keberadaan Jason.
"Kamu sendiri juga sudah kehilangan jejak Jason saat di mall, bukan?" ucap David kemudian.
"Aku kehilangan jejaknya karena habis bertabrakan dengan seorang wanita cantik..."
"...Tunggu."
Jefra terdiam karena baru mengingat sesuatu hal yang tidak seharusnya dia lupakan.
"Tunggu apa? Apa kamu mengingat sebuah petunjuk?" tanya David menunjukkan mimik yang serius.
"Ya," jawab Jefra mengangguk, "Petunjuk jodoh," ucapnya.
"Hah?" David melongo bagai orang bodoh karena mendengar ucapan Jefra yang tidak sesuai ekspektasi.
Jefra tidak memperdulikan David yang sedang melongo, dia tersenyum tipis karena mengingat wanita yang ditabraknya saat itu adalah Renata.
'Sepertinya aku dan Renata sudah ditakdirkan untuk berjodoh,' pikir Jefra.
Kemudian tatapannya kembali menyorot Davian yang masih saja bercumbu mesra. Jefra mulai memikirkan rencana untuk menunjukan kebusukan Davian pada Renata.
"Jangan bilang kalau kamu menyukai cowok itu," celetuk David yang mengikuti arah pandang Jefra.
Jefra mendelik karena tidak terima, "Jaga bicaramu, David," ucapnya dingin.
"Lalu kenapa kamu menatapnya terus, Jefra?" tanya David kepo.
Jefra hanya mengangkat bahu untuk menjawab rasa kepo David.
__ADS_1
_To Be Continued_