
Esok malamnya.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Jefra menatap tajam Julian yang tiba-tiba saja mengetuk pintu rumahnya.
Selama 2 Minggu ini Jefra tinggal di rumah miliknya. Selain mempunyai apartemen, Jefra juga sudah mempunyai rumah sendiri.
"Tentu saja ingin menemani adikku melamar seorang gadis," jawab Julian dengan entengnya, pria itu terlihat gagah dengan mengenakan setelan jas berwarna abu-abu.
"Aku kan sudah bilang tidak perlu kamu temani," Jefra memincingkan mana tajam.
Kakak laki-lakinya itu sungguh keras kepala.
"Oh, ayolah, Jefra. Biarkan kakakmu ikut, aku janji tidak akan membocorkan jadi diriku juga," ucap Julian.
"Maksudmu?"
"Aku akan merahasiakan diriku yang seorang Letnan," jelas Julian.
"Kamu pikir itu mudah dipercaya?"
"Tentu saja, aku padai pandai berakting sepertimu kok," jawab Julian.
Pelipis Jefra berkedut mendengarnya.
"Boleh, ya. Apa kamu malu mempunyai kakak sepertiku? Atau kamu takut jika gadismu berpaling padaku?" Julian tersenyum kecut.
"Jangan omong kosong!" sengit Jefra.
Tentu saja Jefra tidak malu mempunyai kakak seorang Letnan Julian, justru ada rasa bangga pada dirinya. Lalu tidak mungkin Renata berpaling darinya, kalau pun berpaling Jefra akan berusaha merebutnya kembali.
Kemudian Jefra melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan, pukul 18.30. Jika terus ribut dengan Julian bisa-bisa terlambat.
"Yasudah ikut saja," pungkas Jefra.
**
"Kamu serius akan menikah dengan cowok pilihan Ayahmu?" tanya Jelita yang sedang menyisir rambut panjang Renata yang tergerai sempurna.
Jelita sengaja datang untuk sekedar memberi semangat pada sepupunya.
"Ya," jawab Renata tersenyum masam.
Sebenarnya Renata tidak ingin menikah dengan orang yang tidak dicintai, terlebih lagi tidak dikenal. Ini sama seperti menikah dengan orang asing.
"Kenapa kamu nggak menolak saja, Renata? Bukankah kamu mencintai Jefra?" tanya Jelita.
Jelita melihat pantulan wajah Renata pada cermin. Wajah dengan sentuhan makeup natural, blush berwarna pink, dan lipstik berwarna pink yang sukses membuat cantik dan anggun. Renata juga sudah menggunakan kebaya berwarna pink muda berpotongan simpel. Terlihat sudah siap untuk menyambut pemuda yang ingin melamarnya malam ini.
"Aku..." Renata menggantung perkataannya.
Jelita terdiam menunggu kelanjutan perkataan sepupunya.
"Aku ingin menikah dengan Jefra," lirih Renata, kristal bening menetes dari pelupuk mata.
Jelita menatap prihatin dan juga ada rasa menyesal.
__ADS_1
"Yasudah, menikahlah dengan Jefra."
Renata berbalik untuk menatap Jelita, "Bagaimana aku bisa menikah dengan Jefra? Dia menghilang begitu saja."
"Aku akan membantumu mencari Jefra, menyeretnya agar menikahi kamu," ucap Jelita serius.
"A-apa bisa seperti itu?" Renata terkejut dengan ucapan Jelita.
Jelita benar-benar ekstrem.
"Ya, pasti bisa," jawab Jelita meyakinkan Renata.
Seketika Renata berbinar senang dan langsung memeluk Jelita, "Terima kasih, sepupuku sayang."
Jelita membalas pelukan Renata, "Jadi kamu nggak perlu menikah dengan orang asing itu," ujarnya.
"Tapi dia akan datang sebentar lagi, bagaimana ini?" kilah Renata sembari melerai pelukannya.
"Tinggal tolak saja," ucap Jelita sekenanya.
"Apa nggak apa-apa? Bukankah menolak lamaran pamali? Katanya, menolak lamaran bakal membuat perempuan makin jauh dengan jodohnya," kata Renata jadi gelisah sendiri.
"Anggapan jangan menolak lamaran nanti jauh jodoh, seolah-olah nilai dari seorang individu hanya dinilai dari status pernikahannya saja. Menurutku, menolak lamaran laki-laki nanti jauh jodoh ini salah satu negative pressure dari masyarakat," sangkal Jelita.
"Jadi itu hanya mitos?" tanya Renata memastikan lagi.
"Salah satu keputusan terbesar dalam hidup adalah menikah. Kamu bakal menghabiskan sisa hidup bersama satu orang dengan berbagai macam perbedaan. Kita memang harus menghargai seseorang yang berniat baik untuk relasi yang serius dan berniat baik meminang, tapi keputusan sepenuhnya ada di tanganmu. Lagi pula jauh dekatnya jodoh sudah diatur Tuhan."
Renata mendengar baik-baik dengan apa yang di katakan Jelita. Ya, itu memang benar, lagi pula Renata juga ingin happily ever after bersama orang yang dicintai bukannya orang asing.
Jelita tersenyum karena sepupunya sudah tidak sesedih tadi, "Tolaklah dengan baik-baik," sarannya.
"Ya."
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu menginterupsi ke dua wanita itu.
"Rena, apa kamu sudah siap? Dia sudah datang, turunlah ke bawah bersama Jelita," ucap Reina.
"Ya, Mama," jawab Renata.
Kemudian terdengar langkah kaki Reina yang menjauh dari kamar Renata.
"Hapus air matamu, kamu harus tetap cantik," ujar Jelita.
Renata segera menyeka air matanya, beruntunglah makeupnya tidak rusak. Hanya saja matanya sedikit merah.
**
Di ruang tamu dengan desain mewah yang modern.
Renata menatap intens pemuda yang duduk di sofa depannya.
Karena merasa tengah ditatap si pemuda menatap balik, lalu tersenyum ramah. Renata membalas tersenyum kaku.
__ADS_1
"Dia mirip Jefra," bisik Jelita yang duduk di sebelah Renata.
Ya, itulah mengapa Renata menatap intens pemuda pilihan ayahnya itu, sekilas mirip Jefra, tapi versi yang lebih dewasa.
"Nak Julian, diminum dulu tehnya," ucap Reina dengan ramah.
"Ah, ya," Julian pun menurut, tangannya terulur untuk mengambil cangkir teh yang masih terlihat mengepul sedikit dan menyeruput dengan pelan.
Benar-benar berwibawa.
"Bagaimana kabarmu, Julian?" tanya Sebastian.
"Saya baik, Jen──eh maksudku Om," jawab Julian dengan kikuk.
Di dalam hati Julian mengutuk Jefra yang tengah mengambil cincin yang tertinggal di rumah, bisa-bisanya teledor dalam acara penting ini.
"Kamu dan adikmu memang terlihat tumbuh dengan baik," ucap Sebastian tenang.
"Karena kami berdua adalah anak laki-laki, tentu saja bisa menjaga diri."
"Suamiku sering bercerita tentangmu, aku senang pada akhirnya kamu datang untuk melamar Renata," ujar Reina masuk dalam obrolan.
Ya, Julian memang datang untuk melamar Renata untuk Jefra.
"Syukurlah kalau begitu, terima kasih karena telah menyambut dengan baik," ungkap Julian tersenyum.
"Tidak usah sungkan, nak Julian," ucap Reina.
Mereka pun lanjut mengobrol ringan.
Sedangkan Renata meremas ke dua tangan yang berada di pangkuannya, dia berniat mengungkapkan penolakannya. Namun, merasa tidak enak dengan ke dua orang tuanya yang sudah terlihat akrab dengan Julian.
"Katakan saja," bisik Jelita mencoba menguatkan Renata, dia jadi greget sendiri melihat Renata yang diam saja.
Renata mengangguk, kemudian menarik napas dalam-dalam dan menghembusnya dengan perlahan.
'Ya, aku nggak boleh ragu!' pikir Renata.
"Maaf," ucap Renata membuka suara, menyela obrolan yang tengah berlangsung.
Sebastian, Reina, dan Julian terdiam seketika, lalu menatap Renata dengan penuh tanya.
"Ada apa, Rena?" tanya Reina pada putrinya yang berekspresi serius.
"Sebenarnya ada orang yang aku dambakan untuk menikah denganku, aku tidak bisa menerima lamaran ini," ungkap Renata dengan menatap Julian sungguh-sungguh.
Julian terlihat terkejut karena penolakan Renata.
"Terima kasih karena sudah berniat baik melamarku. Tapi maaf, untuk saat ini aku sudah milik seseorang," sambung Renata.
"Jadi kamu menolak lamaran ini?"
Renata langsung teralihkan saat mendengar suara berat yang familiar baginya, lalu pupil matanya melebar.
"Jefra?"
__ADS_1
_To Be Continued_