Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Kiss Me


__ADS_3

"Minum ini," ucap Ryo, dia menyodorkan jus alpukat pada Jelita.


Jelita menghisap sedotan dan meminum jus itu, "Terima kasih," ucapnya.


Setelahnya Ryo meminum Jus yang tadi Jelita minum dan menggunakan sedotan yang sama, Jelita jadi deg-deg karena itu.


Ciuman secara tidak langsung.


Tidak lama kemudian acara makan mereka selesai, Jelita segera membereskan sisa-sisa makanan dan ingin membuangnya.


Grep


Jelita terbelalak saat Ryo tiba-tiba memeluk pinggangnya saat ingin bangkit.


"Di sini saja," ucap Ryo.


"A-aku ingin membuang sampah-sampah ini," kata Jelita gugup.


Saat ini jantung Jelita terpompa hebat. Ryo memeluknya semakin erat, bahkan menyelusupkan kepalanya ke perpotongan lehernya.


"Biarkan saja, nanti juga akan ada orang yang membersihkannya," ucap Ryo lirih.


"Y-ya," Jelita mengangguk kaku.


Hening sesaat, Ryo masih saja betah dengan posisinya, sedangkan Jelita merasa kikuk sendiri. Belum lagi debarannya yang belum mau berhenti.


"Uhm, tu-tuan muda," Jelita agak terkejut dengan Ryo yang memberikan beberapa kecupan di lehernya.


"Panggil aku Ryo seperti waktu itu," pinta Ryo di sela-sela kecupannya. Jelita begitu wangi, dia jadi tidak tahan untuk mencumbui leher putih milik gadis tercintanya, dan lagi rasa rindu yang ditahan selama ini.


"Ryo..." lirih Jelita, dia ingin sekali mendorong Ryo. Namun, tubuhnya tidak sejalan dengan pikirannya, tangannya justru meremas rambut hitam si pemuda.


Tidak bisa dipungkiri dia juga merasakan rindu pada Ryo.


Karena merasa diberi lampu hijau tangan Ryo bermain di bagian depan kemeja Jelita, membuka 3 kancing teratas kemeja yang digunakan Jelita, kemudian membuka kesamping kerah kemeja itu hingga menampilkan tulang selangka milik Jelita. Ryo segera memberikan ciuman dan gigitan di sana, hingga menimbulkan tanda ranum merahan kebiruan, entah seberapa kuat dia menggigit.


"Ahh," Jelita segera menutup mulutnya sendiri karena sudah mengeluarkan suara yang begitu memalukan baginya.


Ryo menjauhkan wajahnya yang membuat Jelita bernapas lega, lalu Ryo mengangkat tubuh Jelita untuk duduk di pangkuannya, duduk dengan kaki yang terbuka dan menghadap dirinya.

__ADS_1


Jelita mengigit bibir bagian bawah miliknya karena merasa gugup dengan posisinya saat ini. Sedangkan Ryo menatap Jelita tanpa berkedip, menatap hasil tanda yang dia buat dan beralih pada wajah Jelita.


"Jangan gigit bibirmu," ujar Ryo dengan sedikit menggeram, Jelita benar-benar menggoda imannya saat ini.


"Ke-kenapa?" tanya Jelita bingung.


Ryo tidak menjawab rasa bingung Jelita, dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dan menutup matanya, berusaha menahan gejolak untuk tidak menerkam gadis yang terduduk di pangkuannya itu.


"Kamu kenapa, Ryo?" tanya Jelita merasa heran dengan tingkah Ryo.


"Aku nggak kenapa-kenapa," jawab Ryo dengan bernapas kasar.


Tanpa tahu apa yang tengah dirasakan si pemuda, Jelita justru merapatkan tubuhnya untuk memeluk Ryo, dan perbuatan itu sukses membuat Ryo menegang.


"Jangan bersikap cuek lagi," ucap Jelita semakin erat memeluk Ryo.


"Y-ya," jawab Ryo terbata-bata. Dia merutuki dirinya yang berotak selangk*ngan itu.


"Katanya kamu nggak mau meninggalkan aku," kata Jelita mencoba memberi ingatan tentang perkataan Ryo waktu itu.


Ryo melingkarkan tangannya pada pinggang Jelita, membalas pelukan gadis yang tengah memeluknya itu, tentu saja dia masih ingat perkataanya itu, dan dia bersungguh-sungguh tentang itu. Namun, masalahnya adalah dia akan menikah dengan gadis lain.


"Tapi, aku akan menikah," ucap Ryo. kemudian.


"Maaf, aku telah menjadi cowok yang terburuk," sambungnya seraya menutup matanya dengan punggung tangan, tanpa merubah posisinya yang menengadah dengan kepala bertumpu pada sandaran sofa.


Jelita terdiam, dia sangat merasa bersalah pada Ryo, ingin sekali dia jujur. Namun, kejujuran seakan tertahan di tenggorokannya.


"Ryo..." panggil Jelita lembut, dia memegang ke dua pundak Ryo sebagai tumpuan untuk bangkit dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah frustasi Ryo.


'Tunggulah beberapa hari lagi,' batin Jelita.


Ryo menurunkan tangannya dan membuka mata untuk melihat wajah Jelita yang begitu dekat dengannya, dia sampai terkejut dibuatnya, wajahnya pun merona seketika, "Y-ya," jawabnya terbata-bata.


"Ryo, give me a kiss," pinta Jelita dengan malu-malu.


Permintaan Jelita semakin membuat Ryo terkejut, mata hazel pemuda itu membulat dengan sempurna.


"Please," butuh keberanian besar untuk Jelita mengatakannya.

__ADS_1


'Damn,' batin Ryo mengutuk.


Ryo menarik wajah Jelita dan memberikan ciuman yang gadis itu inginkan, melumαt dan menghisap dengan lembut bibir kissable milik Jelita.


Jelita meremas pundak Ryo yang masih menjadi tumpuannya itu, menikmati saat di mana Ryo mengeksplorasi semakin intens mulutnya.


"Uhmm," Jelita melenguh saat salah salah satu tangan Ryo meremas bokongnya dengan bertenaga.


Ryo mengambil kesempatan di saat mulut Jelita terbuka karena melenguh, lidahnya menerobos masuk ke rongga mulut Jelita yang terasa hangat, memutar-mutar lidahnya dan mengabsen gigi rapi Jelita.


Kegiatan mereka telah mematik api gai-rah.


Jelita sampai lemas dibuatnya. Ryo benar-benar mengambil kesempatan untuk menyalurkan rasa rindunya pada ciuman itu.


Dengan ragu Jelita ikut membalas ciuman yang semakin panas itu. Bibir mereka saling mengecap dan lidah saling membelit seakan berdansa. Saliva mereka bercampur hingga meluber keluar dari sudut bibir dan mengalir ke dagu.


"Uhuk," Jelita sampai tersedak karena saking kuatnya Ryo menghisap lidahnya.


Sontak Ryo menjauhkan wajahnya, "Ah, maaf," ucapnya dengan napas yang memburu.


"Ng-nggak apa," jawab Jelita. Napasnya tersengal-sengal, dia meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


Sedangkan Ryo seakan tidak kehabisan napas, dia bahkan berniat melanjutkan ciumannya setelah memberikan kesempatan Jelita untuk bernapas.


Mungkin dia tidak akan berhenti sampai dirinya puas mencium Jelita. Namun, masalahnya dia tidak mungkin pernah puas. Salahkan Jelita yang meminta cium duluan.


Jelita yang lepas seketika terkulai di pangkuan Ryo, dia sudah tidak sanggup menopangkan tangannya di bahu Ryo, tangannya gemetar karena debaran jantung yang sungguh kuat. Ryo segera menahan Jelita agar tidak jatuh dan menempatkan gadis itu pada posisi ternyaman di pangkuannya.


"Hanya seperti itu saja sudah lemas," ucap Ryo dengan parau, tangannya bergerak menyeka jejak saliva di dagu Jelita.


Jelita tertunduk sambil memainkan kancing kemeja Ryo karena merasa malu sekali, bisa-bisanya dia meminta cium dan berakhir lemas seperti ini. Jelita tidak tahu jika tindakannya itu semakin memancing Ryo untuk berbuat lebih.


"Nakal sekali."


"Eh?" Jelita bingung dengan Ryo yang menyebutnya nakal.


"Setelah meminta cium, sekarang kamu meminta aku membuka pakaian?"


"Ng-nggak," jawab Jelita terbata-bata, mana mungkin dia meminta Ryo membuka baju.

__ADS_1


"Buka saja kemejaku," ucap Ryo dengan berbisik sensual.


_To Be Continued_


__ADS_2