Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Cemburu


__ADS_3

Malam harinya.


Reva tengah berjalan memasuki salah satu cafe. Pandangannya menyapu ke segala arah untuk mencari siluet pemuda yang ingin dia temui.


Vano.


Dengan langkah yang begitu anggun, Reva mendekati Vano yang sedang terduduk dengan ditemani segelas Mocktail Lemonade.


Kemudian Reva mendudukkan bokongnya pada kursi di hadapan Vano, senyum tersungging di bibir penuhnya, "Maaf, membuatmu menunggu," ucapnya.


Vano menatap Reva datar, jika bukan karena topik yang akan mereka bicarakan mana mungkin dia mau menunggu gadis itu. Reva memintanya bertemu untuk membicarakan Jelita, satu-satunya gadis yang berhasil mencuri perhatiannya.


"To the point saja," ucap Vano.


"Hei, aku baru sampai, apakah kamu nggak membiarkan aku minum dulu?" cibir Reva.


'Dasar cowok kaku,' pikir Reva.


"Ck," Vano berdecak karena merasa tidak perduli.


Reva tampak tidak acuh dengan decakan Vano, tangannya melambai untuk memanggil pelayan, lalu memesan Ice Drink.


"Apa kamu masih menyukai Jelita?" tanya Reva sepeninggal pelayanan yang ingin membuat pesanannya.


Vano tidak bereaksi apapun, kalau boleh jujur dia memang masih menyukai Jelita, tapi dia memilih diam.


"Diammu mengatakan ya," tukas Reva mengartikan reaksi Vano.


"Lantas apa masalahmu jika aku menyukai Jelita?" tanya Vano sembari bersandar pada kursinya, tatapannya memincing tajam. Dia paling tidak suka jika ada orang yang ingin ikut campur tentang masalah pribadinya.


"Aku nggak ada masalah tentang itu kok," jawab Reva.


Pelayan datang membawa pesanan Reva dan meletakkannya di meja.


"Aku hanya ingin memberimu tawaran yang mungkin akan kamu suka," sambung Reva setelah pelayan berbalik pergi.


"Apa?" tanya Vano.


"Bukankah kamu sudah tahu sejak awal tentang siapa sebenarnya Jelita?"


"Ya," jawab Vano.


"Apa kamu nggak merasa iri pada Ryo? Kamulah yang menemukan Jelita duluan dan kamu juga yang menyukai Jelita duluan, tapi justru Ryo yang menikah dengan Jelita. Apa kamu nggak merasa cemburu?"


Reva berniat menuangkan minyak pada api, dia yakin jika Vano memiliki rasa iri di dalam hatinya.


Wajah Vano mengeras, cemburu? tentu saja perasaan itu ada, dia pun juga merasa iri pada Ryo.


"Perkataanmu menarik juga," Vano membuka suaranya.


Reva tersenyum tipis, apa Vano akan bekerjasama dengannya?


"Maksudmu, kamu ingin aku membantumu agar Jelita tidak lagi bersama Ryo, begitu?" sambung Vano yang sudah menangkap arah dari maksud tawaran yang Reva berikan.

__ADS_1


Meraka terdiam sesaat.


"Aku menyukai Ryo," ucap Reva kemudian, "Sepertinya keinginan kita sama, dan aku berharap kamu berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan Jelita," lanjutnya.


"Biarpun begitu, apa kamu berniat menghancurkan pernikahan seseorang?" sangat Jelas jika ekpresi Vano terlihat tidak senang.


"Ya, ayo kita bekerjasama untuk menghancurkan pernikahan mereka," ujar Reva dengan menuntut.


"Absurd sekali," ucap Vano.


Reva menatap Vano bingung.


"Bagaimana pun kondisi maupun perasaanmu. Jangan bersikukuh merebut seseorang dari pasangannya, karena itu hanya akan menganugrahimu cap kotor, perebut pasangan orang, dan berbagai julukan mengerikan lainnya," ucap Vano.


Reva terkesiap, Vano justru menentang tawarannya.


"Jangan mengajakku dalam permainan kotor yang akan kamu lakukan itu," sambung Vano.


Tidak bisa dipungkiri jika Vano memang menyukai Jelita, dia juga ingin memiliki gadis itu. Namun, dia bukanlah orang bodoh yang masih saja mengejar seorang wanita yang sudah mempunyai pendamping hidup. Lagi pula dunia ini tidaklah sempit, masih banyak wanita lain yang bahkan mengejar-ngejar dirinya. Vano tidak mau menjatuhkan harga dirinya hanya untuk merebut Jelita dari Ryo.


Reva mengepalkan tangannya, ini benar-benar di luar dugaannya. Vano tidak bisa diajak kerjasama.


Mau tidak mau Reva akan melawan Jelita seorang diri.


**


"Hatchi!"


Jelita mengusap-usap hidungnya. Dia tidak boleh sakit, karena pekerjaannya masih menumpuk dan harus segera diselesaikan, lalu dia bisa pergi bulan madu dengan tenang.


Tiba-tiba ingatan Jelita kembali pada saat pertemuannya dengan Reva tadi siang. Jelita tentu saja tahu apa yang akan dia lakukan mengenai tantangan Reva. Dia tidak akan membiarkan rumah tangganya diganggu.


Ya, selain pekerjaannya yang harus diselamatkan, Jelita juga akan membereskan Reva.


Sett


Jelita merasakan sebuah jas menyelimuti punggungnya, lalu dia mendongak untuk menatap Ryo yang tengah tersenyum manis padanya.


Deg


Walaupun mereka sudah menikah akan tetapi jantung Jelita masih saja bergetar.


"Apa kamu sakit?" tanya Ryo karena mendengar suara bersin Jelita tadi.


"Nggak kok," jawab Jelita membalas tersemyum.


Suaminya itu memang sejak tadi berada di ruangannya, duduk di sofa dengan bermain game di ponsel.


Tentu saja Ryo tidak mau ditinggal sang istri. Karena itu, dia menemani Jelita yang sedang lembur.


Jelita mengelus pipi Ryo sayang, Bukankah suaminya itu sangat pengertian? Atau saking manjanya?


"Ayo kita pulang," ucap Ryo seraya menggenggam tangan Jelita yang mengelus pipinya.

__ADS_1


"Tapi pekerjaanku belum selesai," tolak Jelita atas ajakan pulang suaminya.


"Jangan memaksakan diri, nanti kamu bisa jatuh sakit betulan, apa kamu ingin sakit?" tukas Ryo.


Tentu saja Jelita tidak mau sakit.


"Baiklah," kata Jelita, pada akhirnya dia pun menurut.


"Good wife."


Kemudian Jelita mulai membereskan meja kerjanya dengan dibantu Ryo, tidak lupa mematikan komputer setelah menyimpan semua hasil pekerjaannya.


"Gendong," ucap Jelita dengan malu-malu, ke dua tangannya terulur pada Ryo.


Ryo terkekeh, "Kenapa istriku jadi manja seperti ini?" ujarnya.


Jelita cemberut, "Memangnya nggak boleh?" tanyanya.


"Tentu saja sangat boleh," jawab Ryo mencubit gemas pipi Jelita.


"Sakit, ih," gerutu Jelita sembari mengusap pipinya yang agak memerah.


Kemudian Ryo berjongkok dan menunjukan punggung belakangnya pada Jelita, "Sini naik," ujarnya.


Dengan perasaan senang, Jelita langsung memeluk leher Ryo dari belakang, setelah itu Ryo berjalan ke luar dengan menggendong Jelita di belakang punggungnya.


Ryo melirik meja sekertaris yang sudah tidak ditempati si empunya, tentu saja Nohan sudah pulang duluan.


"Apa sekertaris kamu harus seorang laki-laki?" tanya Ryo di sela-sela langkahnya.


Jelita mengeryit bingung karena Ryo tiba-tiba saja membahas Nohan.


"Apa nggak bisa perempuan saja?" sambung Ryo.


"Memang kenapa, hmm?" tanya Jelita.


"Aku nggak suka," jawab Ryo, langkahnya berhenti di depan lift dan memencet tombol panah ke bawah.


Apa ini adalah bau-bau kecemburuan?


"Apa kamu cemburu hanya karena itu?" tanya Jelita tersenyum geli.


"Nggak," sangkal Ryo namun terdengar jutek.


"Imut sekali, suamiku sedang cemburu."


"Ck," Ryo berdecak sebal.


"Nohan adalah sekertaris yang professional, dia sudah lama menjabat sebagai sekertaris aku, pekerjaannya pun bagus," kata Jelita justru memuji Nohan.


Ryo semakin sebal dibuatnya.


"Tapi orang yang aku cintai itu adalah suamiku, pemuda yang paling tampan, yang begitu manis, kenyamanan terbesarku, favoritku, dan yang sudah memiliki aku sepenuhnya. Tentu saja Nohan nggak ada apa-apanya dengan Ramaryo," sambung Jelita memberi banyak pujian untuk Ryo.

__ADS_1


Ryo langsung bungkam dengan rasa senang yang begitu meletup-letup. Benar-benar pujian yang memberikan efek yang begitu besar baginya.


_To Be Continued_


__ADS_2