Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Berhentilah


__ADS_3

"Dasar bocah kurang ajar! Sebelum itu aku akan membunuhmu terlebih dahulu!" teriaknya seraya bangkit dari posisi duduknya, dia mengambil kursi dan melemparkannya ke arah Ryo.


Jelita yang sejak tadi berdiri di belakang Ryo langsung sigap melangkah untuk melindungi pemuda itu, dia menghalau kursi itu dengan punggungnya.


BRAK


"Ugh," rintih Jelita saat merasakan sakit pada punggungnya, dia melihat Ryo yang kaget, untung saja dia tepat waktu.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Ryo yang sudah sadar dari keterkejutannya, dia langsung berdiri dari posisi duduknya dan memegang ke dua pundak Jelita karena gadis itu terhuyung.


"Aku nggak apa-apa, ini nggak sakit," jawab Jelita dengan kening yang mengerut menahan sakit.


"Kamu bercanda? Bagaimana bisa itu nggak sakit! Jangan sok kuat!" bentak Ryo, kemudian dia menggendong Jelita bridal style.


Jelita hanya pasrah, pada kenyataannya dia memang tidak sanggup untuk berdiri, tulang punggungnya terasa mau patah.


"Jefra, urus tikus itu, aku akan membawa Bodyguardku ke rumah sakit," perintah Ryo pada Jefra.


"Serahkan padaku, tuan muda," patuh Jefra.


Kemudian Ryo menatap Robert dingin dan penuh dengan ancaman, "Akan aku pastikan kamu akan menerima ganjaran yang berkali-kali lipat karena sudah menyakitinya."


Robert membeku, tatapan Ryo sangat mengintimidasi. Setelahnya Ryo berbalik pergi dengan membawa Jelita di gendongannya.


"Aku baik-baik saja, kamu jangan panik, ini kan memang tugasku untuk melindungi kamu, tuan muda," lirih Jelita.


"Memang seharusnya aku tidak pernah menerima kamu menjadi Bodyguardku," desis Ryo dengan menggertakkan gigi.


"Maaf, aku memang Bodyguard yang buruk," Jelita tersenyum kecut.


"Kamu memang nggak becus menjadi Bodyguard, maka berhentilah menjadi Bodyguardku, Jelita."


Jelita menundukkan wajahnya, matanya memanas, dia ingin menangis karena perkataan Ryo yang menyakitkan. Padahal pemuda itu tahu kalau Jelita mencintainya. Namun, kenapa Ryo menyuruhnya berhenti menjadi Bodyguard? Apa itu sama saja menyuruhnya berhenti untuk mencintai Ryo?


Jelita tidak tahu jika Ryo begitu menghawatirkan dirinya.


**


Di rumah sakit, tepatnya di IGD.


Jelita sedang dirawat oleh Doker, sedangkan Ryo berada di luar ruangan tempat Jelita dirawat.


"Ayah, aku ingin Jelita diberhentikan menjadi Bodyguardku," kata Ryo pada Xavier yang diujung sana, dia sedang menelepon sang ayah.

__ADS_1


[Memangnya kenapa, bocah?]


"Pekerjaannya itu nggak becus, untuk melindungi aku saja dia nggak bisa."


[Apakah ini tentang kejadian di ruang meeting?]


Xavier memang benar-benar menyuruh Jefra untuk mengawasi Ryo dan melaporkan segala sesuatu yang dilakukan putranya.


"Ya."


[Bukankah Jelita sudah berhasil melindungimu?]


"Pokoknya aku ingin mengganti Bodyguard."


[Ayah nggak akan mengganti Jelita dengan Bodyguard manapun.]


Tut Tut Tut


Sambungan telepon di putus sepihak oleh Xavier.


"Just f#ck the what! Kenapa Ayah selalu menolak untuk mengganti Bodyguardku?" umpat Ryo dengan kesal.


Ryo menarik rambutnya dengan kedua tangan ke arah belakang, ingatannya kembali saat dirinya berada di perlindungan Jelita dan melihat raut kesakitan gadis itu, kejadian itu sama seperti Ibunya yang  melindunginya dulu. Kenapa semua orang yang berharga baginya selalu mencoba melindunginya? Ryo merasa sangat takut jika Jelita akan berakhir seperti sang Ibunya, dia tidak sanggup untuk kehilangan Jelita, itulah mengapa dia tidak mau jika Jelita menjadi Bodyguardnya lagi.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Ryo dengan tatapan sendu, "Sebagai seorang laki-laki harusnya akulah yang melindunginya, bukan sebaliknya."


Pintu terbuka dan menampakan seorang Dokter yang bernama Liam. Ryo segera menghampiri Dokter itu, "Bagaimana keadaannya, Dok?" tanyanya.


"Dia mengalami cedera syaraf tulang belakang, beruntung tidak ada pendarahan yang serius," jelas Dr. Liam tentang kondisi Jelita, siapapun pasti akan cedera ketika dilempar dengan kursi yang sangat kokoh dan terbuat dari besi, "Dia masih harus menjalani pemeriksaan yang lebih lanjut."


Ekspresi Ryo pias seketika, Jelita memang tidak baik-baik saja, gadis itu memang pembohong besar, "Lakukan yang terbaik untuk kesembuhannya," ucapnya.


"Baik, dia pasti akan mendapatkan perawatan yang terbaik."


"Bolehkan aku melihatnya?" tanya Ryo meminta persetujuan Dr. Liam.


"Boleh, setelahnya berikan dia istirahat untuk membantu penyembuhannya," jawab Dr. Liam memberi anjuran pada Ryo.


Ryo mengangguk, kemudian dia segera membuka pintu ruang rawat Jelita dan masuk ke dalam. Ryo melangkahkan kakinya untuk masuk lebih dalam, terlihat Jelita yang terbaring menyamping di atas ranjang.


Jelita yang mendengar seseorang yang masuk dan berjalan ke arahnya segera terduduk dengan susah payah, punggungnya sangatlah nyeri.


"Kenapa duduk? Tidur saja," ucap Ryo seraya membantu Jelita untuk duduk.

__ADS_1


"Aku merasa nggak sopan saja," jawab Jelita sempat-sempatnya berpikir seperti itu.


Ryo menghela napasnya, "Santai saja," ujarnya.


Jelita mengangguk, tapi dia masih tetap dalam posisi duduknya. Ryo bergabung untuk duduk di bibir ranjang. Pemuda itu menatap Jelita intens.


"Maaf, karena sudah merepotkanmu," ucap Jelita agak gugup karena ditatap Ryo.


"Ck, dasar bodoh," decak Ryo, "Aku nggak merasa direpotkan. Justru aku yang harusnya minta maaf, karena melindungiku kamu jadi merasa sakit seperti ini."


Jelita menggeleng, "Kenapa kamu minta maaf? Itu kan sudah menjadi tugasku untuk melindungi kamu, keselamatanmu adalah prioritas bagiku, tuan muda," ujarnya.


"Jangan seperti ini, Jelita."


"Seperti ini apa?" Jelita bingung dengan perkataan Ryo.


"Berhentilah menjadi Bodyguardku," Ryo berkata menggunakan nada memerintah, karena Ayahnya tidak menuruti untuk mengganti Jelita mau tidak mau dia harus menyuruh Jelita mengundurkan diri sendiri.


Jelita meremas seprai putih pada ranjang, "Aku nggak mau berhenti menjadi Bodyguard tuan muda," katanya dengan tegas.


"Kenapa? Apa kamu sangat membutuhkan uang? Aku bisa memberikanmu secara cuma-cuma."


"Apa maksudmu ingin memberikan aku uang secara cuma-cuma? Aku bukanlah orang serendah itu," ucap Jelita dengan ekspresi wajah mengeras.


"Aku nggak bermaksud kayak gitu," Ryo memang kedua pundak Jelita, "Aku cuman nggak mau kamu terluka lagi karena melindungiku, aku...aku nggak mau kejadian itu terulang lagi,"  lirihnya.


"Kejadian itu?" tanya Jelita heran.


"Kejadian saat Ibu melindungiku dan mengorbankan dirinya demi aku. Aku nggak mau kamu melakukan hal yang sama seperti Ibuku. Tolong dengarkanlah aku, berhentilah menjadi Bodyguardku, kamu nggak usah melindungi aku lagi."


Jelita terdiam sesaat, "Jadi kamu nggak menyuruhku berhenti mencintai kamu?" tanyanya tentang kekeliruannya.


Ryo menatap heran Jelita, kenapa juga gadis itu negatif thinking terhadapnya?


"Tentu saja nggak," jawab Ryo.


Jelita tersenyum lega, dan itu sukses menularkan senyumnya pada Ryo. Pemuda itu juga tersenyum karena melihat Jelita yang tersenyum. Rasa khawatir Ryo menguap seketika.


"Tapi, aku nggak mau berhenti menjadi Bodyguard," kata Jelita yang melunturkan senyum Ryo.


"Kenapa?" tanya Ryo.


"Karena dengan menjadi Bodyguardmu aku bisa berada di sisimu terus."

__ADS_1


Deg


_To Be Continued_


__ADS_2