
Sesampainya di ruang kerja Ryo. Jelita langsung dihimpit di antara daun pintu dan tubuh menjulang Suaminya.
"Apa aku boleh mencoba ini?" ujar Ryo dengan menyentuh bibir pink milik Jelita yang selalu menggoda baginya.
Jelita yang mendengar pertanyaan Ryo, buru-buru berusaha menutupi bibirnya dengan satu tangan, dia datang ke kantor Suaminya bukanlah untuk meminta dicium. Tetapi dengan cepat Ryo mencekal tangannya. Jelita kalah cepat dengan gerakan Ryo.
Akhirnya Ryo berhasil mencium bibir Jelita. Dipegangnya pipi tembam itu supaya sedikit intens. Lalu memberikan luma-tan lembut pada benda kenyal favoritnya.
Tangan Ryo juga tidak tinggal diam, ditempatkan tangan kanannya pada bokong sekal Jelita, untuk memberikan remasan perlahan. Sehingga membuat Jelita menjatuhkan paper bag yang berisi makanan yang dibawanya.
Pada akhirnya Jelita mengalungkan tangannya pada leher Ryo, ikut menikmati cumbuan itu, dan sesekali membalas. Rasanya sungguh manis, lembut, dan memabukkan.
Lidah mereka mulai saling bertaut. Ryo menyeringai disela-sela ciumannya. Lelahnya seketika menguap karena kenikmatan bibir sang Istri.
Ryo dengan mendadak menghentikan ciumannya. Nampak ekpresi kecewa dari wajah cantik Jelita.
"Siapa yang tadi mencoba menolak? Kenapa sekarang jadi ingin lagi?" Ryo terkekeh geli.
Jelita hanya menahan kesal. Dia akui bahwa ciuman tadi sudah membuat darahnya berdesir-desir.
"Kita makan dulu, ya," ujar Ryo sembari mengambil paper bag yang dijatuhkan Jelita.
Jelita mengangguk malu. Kenapa dia jadi ingin lebih?
Ryo menarik tangan Istrinya dengan lembut untuk berjalan ke arah sofa. Lalu mendudukkan dirinya dan memangku Jelita.
"Ada bekas lipstik," ucap Jelita sembari mengusap garis bibir Ryo, membersihkan jejak lipstik akibat ciuman mereka tadi.
"Hidangan pembuka yang manis, bukan?" Ryo terkekeh.
Benar-benar bikin malu saja. Jelita mencoba mengabaikannya.
Kemudian Jelita mulai mengeluarkan makanan dari paper bag, bekal yang terlihat sederhana. Tetapi Ryo berbinar saat minat nasi dengan tambahan rumput laut lembaran yang telah dibentuk menjadi hati.
"Wah, apa ini bekal cinta dari Istriku?"
"Hmm, bekal cinta untuk Suamiku."
Jelita tertawa karena reaksi Ryo yang tidak disangka akan sesenang itu. Sebenarnya Jelita cukup merasa bosan karena berdiam diri di rumah. Maka dari itu, dia mencoba datang ke kantor Suaminya untuk membawakan bekal cintanya itu. Jika tahu begini, Jelita jadi ingin sering-sering membawakan bekal.
"Suapi aku," pinta Ryo dengan manja.
Lalu Jelita mulai menyuapi sang Suami. Dia juga sesekali ikut makan bersama. Ketika mereka bersama, dunia terasa seperti dalam sebuah harmoni yang sempurna. Hal-hal sederhana pun menjadi begitu sangat berharga.
"Ada yang ingin aku berikan padamu," ucap Ryo setelah menerima suapan terakhir dari Jelita.
__ADS_1
"Apa?" tanya Jelita dengan menaikan ke dua alisnya.
"Tunggu."
Ryo meminum susu almond miliknya, kemudian beranjak menuju meja kerja setelah menurunkan Jelita dari pangkuannya. Diraihnya sebuah kotak yang terbungkus kertas kado berbentuk hati berwarna merah.
Setelah mendapatkan bentuk hati dari bekal yang Jelita bawa, kini saatnya Ryo memberi bentuk hati dalam hal yang lain untuk Istrinya itu.
Lalu Ryo kembali menghampiri Jelita, didudukinya sofa yang ditempatinya tadi.
"Tadaa!" seru Ryo dengan riang, seperti anak kecil yang sedang menunjukan sesuatu.
Jelita terkekeh, Suaminya sungguh tidak ingat umur. Tetapi justru terlihat menggemaskan.
"Apa ini?" Jelita menerima sesuatu yang mirip seperti kado, "Hadiah? Ulang tahunku sudah lewat."
Ryo menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, "Aku hanya ingin memberikanmu sesuatu saja, aku kan belum pernah memberikanmu hadiah."
"Terima kasih, Daddy," ucap Jelita sembari memberi kecupan di sudut bibir Ryo.
"Hmm," Ryo berdeham sesaat, "Coba buka," ujarnya kemudian.
Dengan antusias Jelita membuka hadiah itu, tentu saja dia senang jika diberi hadiah dari Ryo. Ketika hadiah datang dari orang tercinta, tentu itu sungguh berarti. Sekecil apapun itu.
"Parfum?"
"Jangan bilang kalau wangi parfum wanita saat itu..."
Ryo mengangguk dengan kikuk, "Ya, itu wangi saat aku mencoba aroma parfum."
Jelita menjadi merasa bersalah karena sempat menuduh Ryo macam-macam di belakangnya. Memang sebuah kepercayaan dalam suatu hubungan sangatlah penting.
"Aku ingin setiap kali parfum itu kamu pakai, maka kamu akan selalu mengingat dan merasa aku ada di samping kamu," sambung Ryo sembari meraih ujung rambut Jelita yang kian memanjang, lalu menciumnya.
Jelita menyemprotkan parfum itu pada pergelangan tangan, kemudian mencium aromanya. Vanila. Ryo sangat tahu tentang apa yang dia suka. Hal ini menunjukkan bahwa Ryo sudah sangat mengenalnya.
"Terima kasih, aku sangat menyukainya," ucap Jelita, dilingkarkan ke dua tangannya pada pinggang Ryo. Memeluk dari samping.
"Untunglah kalau kamu senang," Ryo mengecup pucuk kepala Jelita, dan mengelus rambutnya dengan sayang.
Jelita mendongak untuk menatap Ryo. Bola mata amber miliknya berkilat semakin indah tatkala merasa sangat senang.
Mau seberapa kali pun, Ryo tetap saja tersihir dibuatnya.
"Apa kamu ingat?" tanya Ryo tiba-tiba.
__ADS_1
"Ingat apa?" tanya Jelita balik karena tidak tahu arah dari pertanyaan Ryo.
"Saat kamu ngompol dan mengenai celanaku," jawab Ryo dengan menyeringai samar.
Ketika bersama Jelita, bertepatan duduk di sofa yang sama. Ryo menjadi mengingat kejadian saat itu.
Sontak wajah Jelita memerah karena sangat malu, "A-aku nggak ngompol," bantahnya.
"Ternyata sekarang Jelita sudah nggak sepolos dulu," Ryo Justru meledek.
'Memangnya berkat siapa?' batin Jelita sebal.
Tentu saja berkat memiliki suami yang sangat mesum, maka hilanglah sudah kepolosan Jelita.
"Aku ingin mencobanya di sini, pasti sangat seru," bisik Ryo sensual sembari memberikan kecupan pada telinga kanan Jelita.
Jelita membelalakkan mata.
Ryo terkekeh dengan reaksi Jelita yang justru terkesan imut saat kaget. Apalagi mulut Jelita yang membulat, ingin sekali Ryo menyelusupkan lidahnya ke sana. Pikiran calon Ayah muda itu memang sudah menuju 21+.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ryo langsung melesakkan lidahnya ke dalam mulut Jelita, yang membuat si empunya terkesiap dan hampir menjatuhkan parfum yang masih dipegangnya. Ryo sigap meraih parfum itu, lalu meletakan di meja.
Jelita mengerang ketika Ryo mulai mengeksplore bagian dalam mulutnya.
Ryo menarik Jelita, lalu dengan mudah mengangkat tubuh Jelita untuk kembali duduk di pangkuannya, pada posisi miring supaya tidak menghimpit perut buncit sang Istri.
Tangan Ryo menggenggam rambut Jelita lalu menariknya, membuat si empunya mendongak dan memaparkan leher putih nan jenjang. Kemudian ciumannya beralih ke leher, menjilat, dan menggigit. Namun, Ryo berusaha tidak meninggalkan jejak di sana. Menurut Ryo lebih baik memberikan jejak pada tubuh yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Seperti pada ke dua benda kenyal yang sedang diremasnya bergantian.
Tok... Tok...
Seketika mereka berdua membatu ketika mendengar suara pintu diketuk.
"Sibuk," Ryo berucap dingin, sungguh kesal saat kegiatannya diganggu.
Sedangkan Jelita bungkam dengan jantung yang berdegup kencang.
"Pe-permisi, tuan muda," terdengar suara Sisil yang takut-takut.
"Aku bilang sibuk," Ryo berucap lebih dingin.
"A-aku tahu kalau tuan muda sibuk, tapi ada klien penting yang ingin bertemu..."
"Sebaiknya kamu temui klien itu," kata Jelita lebih seperti mencicit.
"Aih, sialan," Ryo mengusap wajah kasar.
__ADS_1
Memang tempat yang terbaik untuk melaksanakan aksi bejatnya adalah di kamar.
_To Be Continued_