
"Kamu cowok malam itu..."
"Hai, kucing nakal yang kabur," ucap Jefra dengan menyeringai samar.
Pada akhirnya Jefra menemukan kucing nakal miliknya yang pergi.
Sebelumnya Jefra memang sudah mencari tahu tentang identitas Renata yang tidak lain adalah sepupu jauh Jelita, bagi Jefra sangat mudah untuk melakukannya. Karena itu dia sengaja membiarkan Renata untuk kabur, lagi pula cepat atau lambat dia pasti akan menangkap Renata.
"Ah, maaf, sepertinya aku salah mengenali orang," kilah Renata berniat untuk pergi dari hadapan Jefra.
Bagi Renata cara terbaik adalah pura-pura tidak mengenal.
Namun, sebelum dia melangkah pergi lengannya di tahan oleh Jefra.
"Jangan pura-pura tidak mengenal aku, Renata," ucap Jefra dengan ekspresi datar.
Deg
Renata kembali menelan saliva berat, jantungnya pun berdegup kencang seakan sedang menghadapi situasi yang krusial. Dia pikir pemuda itu sudah lupa dengan dirinya, tapi justru sebaliknya, bahkan mengetahui namanya.
"Le-lepas," bentak Renata yang lebih mirip mencicit, dia menghentakkan tangan Jefra yang memegang lengannya.
Jefra melepas tangannya, "Apa kamu ingin kabur lagi?" tanyanya.
"Aku..." Renata menggantung perkataannya.
Dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa di saat menghadapi situasi ini, lidahnya mendadak keluh, kalau bisa dia memang ingin kabur sejauh-jauhnya dari pemuda di hadapannya itu.
"Kamu tidak bisa kabur lagi, Dokter Renata. Mekipun kamu kabur aku akan dengan begitu mudahnya menemukanmu lagi," ucap Jefra.
"Ka-kamu tahu jika aku adalah seorang Dokter?" tanya Renata luar biasa terkejut.
"Ya, bukankah kamu sendiri yang bilang jika kamu adalah psikiater," jawab Jefra.
Renata lupa akan hal itu, saat mabuk dia memang mengatakannya. Dia memang sudah tidak bisa kabur lagi, pura-pura tidak kenal pun percuma.
"Apa tidak ada yang ingin kamu katakan padaku tentang kejadian malam itu?" tanya Jefra dengan tatapan memojokkan.
"Maafkan aku, tuan..."
"Jefra. Namaku Jefra," Jefra mencoba memperkenalkan dirinya.
Renata mengangguk, sebenarnya dia tidak membutuhkan nama pemuda asing itu, dia hanya ingin segera meluruskan kesalahan ini dan tidak berurusan dengan Jefra lagi.
"Maafkan aku, Jefra," ucap Renata sekali lagi.
"Aku tidak membutuhkan kata maafmu."
"A-apa?"
__ADS_1
"Yang aku butuhkan adalah pertanggung jawaban darimu," sambung Jefra.
"Per... pertanggung jawaban apa maksudmu?" tanya Renata masih tidak mengerti.
"Nikahilah aku," jawab Jefra dengan tanpa adanya beban.
"Hah?" Renata membolakan mata dengan sempurna.
Dia tidak menyangka jika pertanggungjawaban yang Jefra maksud adalah meminta dinikahi. Kenapa jadi terbalik seperti ini? Kenapa dia yang harus menikahi pemuda itu?
"Kamu itu sudah menodai aku secara paksa, sudah seharusnya kamu bertanggung jawab atas perbuatan kamu itu," ucap Jefra dengan masih berekspresi datar.
"Aku juga merasa dirugikan di sini, ini bukanlah kesalahan aku sepenuhnya," kata Renata berusaha membela diri, "Lagi pula aku sudah mempunyai calon suami, aku nggak mungkin menikahi kamu," lanjutnya.
Ya, Renata memang sudah mempunyai kekasih yang akan menikahinya 2 bulan lagi.
Jefra tersenyum miring, dia memang sudah mengetahui jika Renata sudah mempunyai kekasih. Namun, bukanlah masalah besar baginya, karena janur kuning belum melengkung.
"Ini adalah kesalahanmu. Kamu yang menghampiri aku duluan dan melemparkan tubuhmu sendiri di ranjangku," ucap Jefra yang membuat Renata panas dingin.
"Tapi aku sedang mabuk saat itu, kamulah yang sudah memanfaatkan keadaan," kilah Renata meyakini lagi jika malam itu bukan hanya kesalahannya.
Seharusnya dialah yang paling merasa dirugikan, dirinya masih tersegel dan seenaknya saja Jefra meng-unboxing.
"Aku tidak memanfaatkan keadaan, tapi kamulah yang memper-kosa aku."
Jeder.
Sedangkan Jefra menyeringai melihat respon Renata, entah apa yang ada di pikiran pemuda itu.
"Hmm," suara dehaman mengalihkan mereka.
Ryo si pelaku dan Jelita sedang berada di sampingnya.
"Dokter Renata?" Ryo mencoba memastikan jika wanita yang sedang terlihat berdebat dengan Jefra adalah Dokter psikiater yang menanganinya.
"Ya," jawab Renata mencoba tersenyum meski kaku.
Renata terlihat lega karena kedatangan Ryo dan Jelita yang seakan menyelamatkannya.
"Dia sepupuku," bisik Jelita pada Ryo.
Ryo mengangguk, itu cukup menjelaskan karena Renata terlihat dekat dengan Jelita saat hari pernikahan.
"Ada apa ini? Apa yang sedang kalian ributkan?" tanya Jelita seraya menatap Renata dan Jefra bergantian.
"Itu—"
"Kami hanya sekedar mengobrol saja," sela Renata karena takut Jefra membocorkan apa yang sudah terjadi di antara mereka berdua.
__ADS_1
"Jefra, masukan barang-barang Jelita ke dalam mobil," perintah Ryo pada Jefra.
"Baik, tuan muda," patuh Jefra.
Jefra segera membawa beberapa koper milik Jelita dan berniat membawanya untuk dimasukan ke dalam mobil.
"Jangan pikir kamu bisa lolos begitu saja," bisik Jefra saat melewati Renata.
Seketika Renata membatu.
**
"Huaaaa, Jelita," Renata memeluk Jelita dengan air mata yang menetes deras.
"Kamu kenapa, Renata?" tanya Jelita heran sembari menepuk-nepuk punggung Renata.
Sepupunya itu tiba-tiba menariknya ke taman belakang rumah. Kini mereka sedang duduk di bangku taman.
"Hiks," Renata masih menangis tersedu-sedu.
"Kenapa?" tanya Jelita lagi seraya mengurai pelukan Renata.
Renata terdiam, dia mengurungkan keinginannya untuk bercerita dengan Jelita. Ini akan semakin runyam jika Jelita tahu jika dia meniduri seorang laki-laki, terlebih lagi laki-laki itu adalah Bodyguard dari suami sepupunya.
Ya, dialah yang sudah meniduri Jefra. Dirinya benar-benar sangat tidak bermoral.
Renata menghapus jejak air matanya sendiri, "Nggak apa-apa, aku hanya sedang memikirkan kekasihku saja," ucapnya berbohong.
"Ada apa lagi dengannya? Apa dia mengabaikan dirimu lagi?" tanya Jelita yang merujuk pada kekasih Renata.
Hubungan Renata dengan si calon suami memang sedang merenggang akhir-akhir ini, kekasihnya itu menjadi sulit sekali dihubungi. Padahal pernikahan mereka tidak akan lama lagi.
Renata mengangguk, mekipun itu bukan masalah sebenarnya.
"Apa kamu mau aku membatalkan promosi jabatan untuk kekasihmu itu?" tanya Jelita.
Kekasih Renata memang bekerja di perusahaan Jelita. Renata memang meminta agar Jelita mempromosikan kekasihnya ke jabatan yang lebih tinggi dari sebelumnya, tapi itu justru menyebabkan kekasihnya terlalu sibuk dan seakan melupakan dirinya.
"Jangan," cegah Renata cepat.
"Kenapa?" tanya Jelita mengeryitkan dahi.
"Kamu tahu sendiri kalau kekasihku selalu mengeluh karena pekerjaannya yang dianggap rendah oleh ke dua orang tuaku, dan kami baru diizinkan menikah karena dia naik jabatan sebagai manajer," jelas Renata.
Jelita menghela napas, Renata memang sudah terlalu mencintai kekasihnya itu. Jelita hanya berharap jika kebaikan hati sepupunya itu tidak hanya dimanfaatkan saja.
"Yasudah, lalu untuk apa kamu bersedih?" tanya Jelita.
"Aku hanya sedang mellow saja," jawab Renata.
__ADS_1
_To Be Continued_