
Pagi hari yang berawan, langit tertutup sepenuhnya dengan awan kelabu, rintik air hujan berjatuhan dengan deras. Ryo yang sedang berada di dalam mobil menatap ke jendela pintu mobil, tatapannya terpaku pada tetesan air pada kaca. Pemuda bermata hazel itu menghela napas entah sudah beberapa kali.
"Ada apa, tuan muda?" tanya Jefra yang sedang mengemudi, pemuda itu heran dengan Ryo yang sejak tadi menghela napas seperti sedang ada masalah.
"Nggak ada apa-apa," jawab Ryo menyembunyikan kegalauannya, dia sangat bersalah dengan Jelita, untuk bertemu dengan gadis itu lagi saja dia sangat tidak punya muka, dia malu karena sudah melecehkan Jelita.
Jefra hanya diam ketika mendapatkan jawaban ketidakjujuran Ryo, sejak sepulangnya dari rumah sakit tuan mudanya itu sudah bersikap aneh.
Tidak lama kemudian mobil yang dikendarai Jefra memasuki area Universitas, dengan membawa payung Jefra keluar dari mobil, dia langsung membukakan pintu untuk Ryo dan memayungi pemuda itu, dia tidak memperdulikan dirinya yang kehujanan.
"Baby!" seru Reva dengan manja, dia berlari menerobos hujan dan tanpa permisi bergabung di payung yang sama dengan Ryo, tangannya pun langsung mengapit lengan Ryo dengan erat.
Ryo sebenarnya sangat risi dengan Reva, tapi dia terlalu malas untuk menyingkirkan Reva. Sedangkan Jefra hanya diam saja, dia memang sudah terbiasa melihat tuan mudanya yang ditempeli wanita.
"Baby, aku kangen sekali padamu, ayo kita habiskan malam bersama," kata Reva gencar menggoda Ryo, demi Ryo dia rela menjatuhkan harga dirinya.
Ryo hanya diam saja, dia tidak menggubris perempuan cantik yang sedang bergelayut manja di lengannya. Sekarang di dalam pikirannya hanya dipenuhi gadis berkacamata, Jelita-nya.
Langkah mereka memasuki gedung kampus, Jefra menutup payungnya, lalu dia mengikuti Ryo yang masih digelayuti Reva.
Dengan pantang menyerah Reva masih saja berceloteh meskipun Ryo hanya diam saja, "Aku ingin masa-masa kita sewaktu di LA kembali lagi," ujarnya.
"..."
"Apa kamu tidak rindu menyatu denganku, Baby?" bisik Reva seduktif, dengan tanpa rasa malu tangannya bergerak ke tubuh bagian bawah Ryo.
Namun, Ryo segera menepis tangan Reva, "Ck, jalαng, menjauhlah dariku," ucapnya seraya menjauh dari gelayut Reva.
Reva menatap tidak percaya Ryo, "Ka-kamu menghinaku dengan sebutan jalαng?" kilahnya tercekat.
"Memang benarkan? Kamu bahkan sering bermain dengan Kavin dan menjual tubuhmu untuk bisa menjadi model terkenal. Jangan pikir aku bodoh untuk nggak mengetahui itu," kata Ryo menatap rendah Reva, sejak dulu dia memang sudah tahu itu.
Reva menegang, lidahnya mendadak keluh, dia kira Ryo tidak mengetahui kelakuannya.
__ADS_1
"Padahal aku sudah menolak kamu secara baik-baik, tapi kamu justru semakin nggak tahu diri. Berhentilah untuk mencoba mendekati aku, cobalah buka hatimu untuk Kavin yang sudah berkorban banyak untukmu," lanjut Ryo, meskipun dia agak lemot, tapi dia tahu jika Kavin sudah cinta mati dengan Reva.
Air mata Reva tidak dapat dibendung lagi, dia menangis deras seperti hujan di luar sana, "Tapi aku mencintaimu, Ryo. Nggak bisakah kamu mencintai aku juga?"
"Nggak," jawab Ryo singkat, padat, dan jelas.
"Aku yakin kamu mengatakan itu karena sedang marah saja, kan? Dari lubuk hatimu yang paling dalam pasti ada nama aku di hatimu, selama ini hanya aku wanita yang paling dekat denganmu, nggak mungkin kalau kamu nggak mempunyai rasa apapun padaku," sangkal Reva, dia masih percaya diri jika Ryo mencintainya.
Ryo memutarnya bola matanya, dia jengah dengan Reva, mau berapa kali pun dia menolak wanita itu, Reva tetap saja tidak mengerti. Apa dia harus kasar terlebih dahulu agar Reva mengerti?
"Reva!" seru Kavin yang berlari menghampiri Reva, pemuda itu segera menarik Reva yang sedang menangis itu ke dalam pelukannya.
"Nah, pangeran berkuda putih sudah datang," ucap Ryo menatap Kavin yang mencoba menenangkan Reva.
"Berhentilah menyakiti Reva, harusnya kamu sadar betapa besar cinta Reva untukmu, Ryo," geram Kavin.
Ryo mengeryitkan dahi, "Bukankah sebaiknya kamu mengatakan itu pada Reva? Dia sendiri tidak sadar betapa besar cintamu untuknya," katanya membalikkan fakta.
Kavin bungkam seketika.
Kemudian Ryo pergi meninggalkan Reva yang masih menangis tersedu-sedu dan Kavin yang terdiam seperti orang bodoh.
"Dasar ke dua manusia to-lol bin gob-lok," maki Ryo yang moodnya semakin buruk, dia membutuhkan asupan nikotin sekarang. Pemuda itu melangkahkan kakinya untuk pergi ke kantin kampus.
Jefra hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah tuan mudanya itu.
Sesampainya di kantin Ryo melihat Gavin yang sedang terduduk sambil memakan bakso, dia pun menghampiri Gavin.
Brak
"Gavin si nirfaedah youth alias pemuda tak berguna, makan bakso terus kerajaannya," celetuk Ryo dengan menggebrak meja.
"Uhuk," Gavin tersedak karena kaget, dia langsung meminum rakus air mineral miliknya, sedangkan Ryo tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali.
__ADS_1
"Makan itu baca doa, tersedak kan jadinya," lanjut Ryo dengan watados.
"Kupret! Ada masalah apa sih kamu, Yo? Ganggu orang makan saja," kesal Gavin.
Ryo mendudukkan bokongnya pada kursi sebelah Gavin, "Bagi rokok dong," pintanya tanpa memperdulikan rasa kesal Gavin.
"Loh? Bukannya kamu sudah berhenti merokok?" tanya Gavin heran, pasalnya jika Ryo merokok Jelita akan langsung memarahi pemuda itu, "Mentang-mentang nggak ada Jelita," ledeknya.
"Ck, bawel kamu," decak Ryo dia menyentuh dan merogoh saku baju dan celana Gavin untuk mencari rokok.
"Don't touch touch, jijik anjir!" seru Gavin menyingkirkan tangan Ryo.
"Ji-jijik?" Ryo membeo, lalu mukanya mendadak kusut seperti kanebo kering.
Gavin terheran-heran menatap Ryo, ada apa gerangan dengan dengan temannya itu?
"Aku memang menjijikkan, bahkan kamu saja nggak mau disentuh olehku," ucap Ryo nelangsa, dia mendadak ingat dengan penolakan Jelita.
"Ha? Gila kamu, ya? Kamu sudah nggak normal lagi, kah?" Gavin jadi bergidik karena ucapan Ryo, dia itu laki-laki tulen tentu saja tidak mau disentuh-sentuh sesama laki-laki.
Ryo beralih menatap Jefra, "Kalau kamu mau aku sentuh nggak, Jefra?" tanyanya.
"Maaf, tuan muda. Saya juga masih normal, saya jijik jika disentuh tuan muda," tolak Jefra sopan dan menohok.
Semakin jadilah kegalauan Ryo. Sekarang Ryo benar-benar sudah menganggap dirinya menjijikkan.
Gavin menyodorkan rokok pada Ryo, dia jadi tidak tega dengan Ryo yang seperti mempunyai masalah hidup yang sangat berat, "Ini rokok," ucapnya.
"Sudah nggak butuh," kilah Ryo menepis rokok yang Gavin berikan.
Gavin speechless, padahal Ryo sangat memaksa meminta rokok tadi, giliran dikasih malah tidak mau.
"Yang aku butuhkan sekarang adalah satu truk hand sanitizer untuk mandi."
__ADS_1
Ya, dia harus membersihkan diri.
_To Be Continued_