Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Terpojok


__ADS_3

Mana mungkin Ryo membiarkannya, tentu saja dia tidak mau jika Jelita harus mengorbankan nyawa demi melindungi dirinya.


Ryo terdiam, menatap dalam manik indah milik Jelita.


"Pegang ini," ujar Jelita seraya meraih tangan kanan Ryo dan meletakan pistol di sana.


Ryo mengeryit bingung, "Kenapa memberikannya padaku?" tanyanya.


"Sisah satu peluru di dalamnya, gunakan itu untuk membidik Jason selagi aku memukul pria yang lainnya," jawab Jelita dengan mimik serius.


"Kamu sungguh akan melawan dengan tangan kosong?" Ryo masih merasa keberatan dengan apa yang Jelita ingin lakukan.


Jelita mengambil belati dari balik jaket, "Aku bawa senjata," ucapnya dengan mengacungkan belati kesayangannya itu.


"Percayalah padaku. Aku akan baik-baik saja," ucap Jelita mencoba meyakinkan sang suami.


Sebenarnya Ryo percaya dengan kekuatan istinya itu. Pada akhirnya, dia mengangguk meski ragu.


"Fokuslah," tegas Jelita.


"Ya, aku akan fokus," jawab Ryo yakin.


Kemudian Jelita keluar dari persembunyian sembari mengangkat ke dua tangannya, memberi kode menyerah.


Jason tersenyum penuh kemenangan, "Menyerah, eh?"


Jelita diam, ekspresinya datar, tanpa ada rasa takut sedikitpun. Ya, itulah Jelita, gadis yang tidak kenal takut, yang berani melakukan apapun.


"Tangkap dia!" perintah Jason.


Para mafia yang tersisa 8 orang itu segera menghampiri Jelita.


"Ke mana temanmu?" tanya Jason yang merasa janggal.


Bugh


Jelita tidak menjawab, tapi kakinya segera menendang ulu ati dari salah satu pria yang mendekat padanya.


1 lagi pun tumbang.


Setelah itu Jelita segera meloncat dengan berputar untuk menendang ke 7 orang pria lainnya. Gerakan Jelita begitu cepat saat kembali menyerang, memukul tepat pada titik sensitif hingga lawannya langsung terkapar tidak berdaya. Benar-benar tidak memberikan kesempatan bagi lawannya untuk menyerang balik.


"Keparat!" raung Jason saat melihat kawanannya kembali tumbang satu persatu.


Jason segera mengarahkan moncong pistol ke arah Jelita, ingin menembak selagi wanita itu masih sibuk memukul.


Dor


"Argh!"


Sebelum menarik pelatuk pada pistolnya, sebuah peluru menembus lengan kanan Jason, hingga membuat pegangan pada pistol terlepas.


"Ramaryo?" Jason membelalakkan mata saat melihat siapa yang telah menembaknya.


Duak

__ADS_1


Tendangan Jelita sukses mengenai rahang bawah Jason hingga membuat pemuda itu terlempar.


Bugh


Jelita langsung memberikan pukulan bertubi-tubi pada wajah Jason.


Dalam kesadaran terakhir, Jason merutuki kebodohannya yang dengan mudahnya tertipu dengan penyamaran Ryo, hingga mengalami kekalahan seperti ini.


Apa lagi dia kalah dengan seorang perempuan!


Kemudian Jason tidak sadarkan diri setelah mendapat banyak pukulan dari Jelita.


"Apa hanya begini saja? Aku bahkan belum menggunakan belati kesayanganku," ucap Jelita yang justru terlihat kecewa.


Ryo sendiri menatap takjub pada Jelita, bukankah istrinya itu begitu tangguh?


**


Di sisi lain, pada waktu yang bersamaan.


Kaki Jefra melangkah ke depan untuk menutupi Renata dibelakang punggungnya, berniat melindungi si gadis dari orang-orang yang sedang menodongkan pistol ke arah mereka.


Jefra dan Renata terlihat terpojok di sebuah gang buntu yang begitu sepi.


"Jef, siapa mereka?" tanya Renata dengan nada bergetar karena takut.


"Mereka adalah orang-orang yang mengincar tuan muda Ryo."


Jefra sengaja tidak mengatakan kalau sekelompok mafia lah yang sedang memojokan mereka berdua, karena tidak mau membuat Renata bertambah takut. Lagi pula orang-orang itu memang sedang mengincar Ryo.


"Ya," jawab Jefra membenarkan, "Kamu tidak perlu takut, ada aku di sini," ucapnya mencoba menenangkan Renata. 


Renata sedikit lebih tenang karena ucapan Jefra. Dirinya mencoba mengerti tentang pekerjaan kekasihnya yang menjadi Bodyguard Ryo, dan tentunya Jefra akan selalu menghadapi bahaya. Tetapi Renata tidak menyangka jika akan mengalami situasi seperti di film-film layar lebar.


Mata elang milik Jefra menatap tajam Alex yang berada di tengah-tengah kumpulan mafia.


"Hai, Boy."


Alex menampilkan senyum ramah.


Jefra langsung mengarahkan moncong pistol tepat pada Alex.


"Ett, apa itu pistol mainan?" Alex justru tertawa.


"Menurutmu?" Jefra justru bertanya balik.


Alex bersiul seolah meledek, "Oh, aku takut sekali jika itu adalah pistol asli," ucapnya.


"Ck," Jefra berdecak dingin.


"Tapi apa kamu nggak melihat kalau kami memiliki pistol yang lebih banyak dari pada kamu?" Alex tertawa nyaring, diikuti para mafia yang lain.


Renata meremas ujung jaket denim yang Jefra kenakan. Mereka benar-benar terpojok saat ini.


Ekspresi Alex sekejap berubah menjadi dingin, "Buatlah ini menjadi lebih mudah, jangan melakukan perlawanan yang tidak berarti atau kamu dan gadis itu akan mati."

__ADS_1


"Cih! Kamulah yang akan mati," ucap Jefra memincingkan mata tajam.


Wajah Alex mengeras karena ucapan berani dari pemuda yang menjadi targetnya itu. Lalu Alex menyeringai samar saat melihat Renata, sepertinya dia memang sudah tertarik dengan Renata sejak awal.


"Ikutlah bersamaku, Boy. Lalu serahkan wanita itu padaku."


Renata semakin merangsek di balik punggung Jefra.


Sedangkan Jefra mengeratkan pegangan pada pistol. Ingin sekali Jefra menembak Alex tepat di kepala. Namun, dia memilih untuk menahan emosi. Jefra sendiri tahu jika dia tidak mungkin menang melawan mereka semua. Saat ini dia hanya perlu mengulur waktu, karena para tentara sedang bersiap menyergap Alex dan anak buahnya.


"Jika aku tidak mau?" ucap Jefra mencoba bersikap tenang.


Jefra dengan begitu mudah mengatur emosi untuk bersikap tenang di situasi apapun, karena sudah cukup lama berperan sebagai mata-mata.


"Tentu saja kalian berdua akan mati dengan banyaknya peluru yang menembus tubuh kalian," Alex tersenyum dengan pongah.


[Tikus hitam masuk.]


Jefra mendengar suara David yang sedang mencoba menghubungi dirinya lewat earphone kecil yang terpasang di belakang telinganya.


[Tentara sudah siap di posisi masing-masing, lindungilah warga sipil yang sedang bersamamu.]


Jefra tersenyum tipis menatap Alex, "Sepertinya kamulah yang akan mati sungguhan," ucapnya.


Mata Alex menyorot tajam, terlihat marah, "Hijo de puta!" makinya dengan bahasa spanyol.


Alex mengangkat tangan kanannya, memberi aba-aba pada anak buahnya untuk menembak.


Jefra segera berbalik badan untuk menutup ke dua telinga Renata.


Kemudian suara tembakan terdengar begitu nyaring.


Dor


Dor


Dor


Renata membolakan kedua matanya, lalu menatap Jefra yang sedang tersenyum.


Apa yang sedang terjadi? Apa arti senyuman Jefra?


Setelahnya.


Dugh


"Akh!"


Renata tidak sadarkan diri saat Jefra memukul tengkuk belakanganya, lalu gadis itu jatuh ke pelukan Jefra.


"Maaf, Renata. Aku menyesal karena sudah menyakitimu, tapi ini akan lebih baik jika kamu tidak mengetahui siapa aku sebenarnya," lirih Jefra.


Seorang Intelijen memang sudah seharusnya merahasiakan betul identitasnya, sudah kewajiban Jefra untuk selalu bertindak rahasia. Maka dari itu, Renata dibuat pingsan supaya tidak melihat banyaknya tentara yang sedang meringkus para mafia di belakang Jefra.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2