
"Davian!" teriak Renata setelah membuka pintu hotel secara paksa.
Dan benar saja, terlihat sang kekasih yang sedang tidur dengan keadaan polos dengan seorang wanita yang begitu familiar baginya.
Gina.
Davian dan Gina langsung terbangun karena mendengar terikan Renata.
"Re... Renata," Davian terkejut.
Sedangkan Gina langsung turun dari ranjang untuk mengambil selimut yang tergeletak begitu saja di lantai, guna menutupi tubuh polosnya.
Sepertinya mereka berdua habis melakukan malam yang begitu panas sehingga selimut dan pakaian berserakan di lantai.
Pada awalnya Renata mendapatkan pesan yang berisikan sebuah foto Davian dengan Gina yang sedang bercumbu di Club malam, dia tidak percaya begitu saja karena masih ada kemungkinan jika foto itu adalah editan. Dengan berbekal alamat hotel yang dikirim oleh nomer tidak dikenal, Renata segera memastikan kebenarannya. Dan dia sangat tertampar ketika melihat kekasihnya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Padahal Renata selalu curhat tentang hubungannya dengan Davian pada Gina. Namun, tega-teganya Gina bermain api bersama Davian di belakangnya. Lebih baik memiliki musuh yang langsung menampar di wajah dari pada teman yang menusuk dari belakang.
"Kalian... sejak kapan?" tanya Renata yang tidak sanggup menahan lelehan air matanya.
Davian yang sudah tersadar dengan rasa kagetnya segera bangkit dan memaki celananya dengan gerakan cepat.
"Aku bisa jelaskan, Renata," ucap Gina dengan meremas selimut yang membalut tubuhnya, "Kami—"
"Sudahlah, Gina. Biarkan Renata tahu hubungan kita," potong Davian, "Kamu nggak usah memikirkan perasaan Renata," lanjutnya yang membuat hati Renata mencelos.
"Kalian tega sekali," lirih Renata, hatinya bagai terkoyak.
"Aku sudah bosan denganmu," Davian menatap Renata dengan ekspresi datar, "Selama kita pacaran kamu nggak mau memberikan aku kepuasan sama sekali, jadi jangan salahkan aku untuk mencari cewek lain yang bisa memberikan apa yang aku mau."
Selama 3 tahun menjalani hubungan, Renata memang selalu menolak jika Davian menginginkan hubungan yang lebih intim, itu karena Renata sangat menghindari hubungan sek-s di luar pernikahan, sebagai wanita tidak seharusnya memberikan mahkota berharga miliknya pada laki-laki yang belum tentu menjadi suaminya. Namun, itu justru membuat Davian bosan padanya dan beralih pada sahabatnya sendiri.
"Tapi kita akan segera menikah, apakah kamu nggak bisa menunggu sebentar lagi?" Renata menghapus air matanya, dia mencoba tegar.
"Lupakanlah pernikahan yang nggak akan pernah terjadi itu," ucap Davian dengan tanpa perasaan.
Kedua tangan Renata terkepal, dia tidak menyangka jika pemuda yang sangat dicintainya itu bisa menyakiti hatinya dengan begitu dalam. Ke mana perginya sifat Davian yang lembut dan penuh kasih sayang? Apakah ini sifat asli dari Davian?
"Mulai sekarang kita putus."
__ADS_1
Kata terakhir dari Davian yang sangat membuat hati Renata semakin sakit.
Karena sudah tidak tahan dengan situasi itu, Renata segera berlari keluar.
Sepanjang dia berlari bulir-bulir air mata tidak henti-hentinya keluar. Kaki jenjang miliknya terus berlari tanpa memperdulikan banyaknya orang yang menatapnya aneh.
Bruk
Renata jatuh di aspal saat kakinya tersandung sebuah batu. Rasa sakit pada lutut dan tangannya bahkan tidak sebanding dengan sakit yang dirasakan hatinya.
"Hiks..." Renata menangis tersedu-sedu dengan masih terduduk di aspal.
Bahkan sudah banyak orang yang mengerumuninya dan menatap prihatin.
Tap
Sebuah sepatu pantofel berhenti tepat di hadapan Renata, yang membuat gadis itu mendongak untuk melihat si pemilik sepatu pantofel.
Renata terlihat terkejut karena si pemilik sepatu pantofel adalah Jefra.
"Jefra..."
Tanpa berbicara Jefra mengangkat Renata untuk dia gendong bridal style, dan membawanya pergi.
Renata tidak menolak dengan apa yang dilakukan Jefra. Dia memang sedang membutuhkan pertolongan saat ini, tapi Renata tidak menyangka jika Jefra yang datang menolongnya.
"Karena aku akan selalu ada di manapun kamu membutuhkan aku," jawab Jefra.
Itu memang benar. Jefra bahkan sampai mengenyampingkan tugasnya menjadi Bodyguard untuk bisa ke sini. Saat tahu jika Renata tidak ada di rumah sakit, Jefra segera pergi untuk mencarinya. Dia bahkan meninggalkan Ryo di rumah sakit.
Kemudian Jefra menurunkan Renata pada bangku yang terletak di pinggir jalan.
"Kamu mau ke mana?" tanya Renata saat Jefra berniat pergi, dia menahan lengan Jefra.
Saat ini Renata tidak ingin sendiri, dia ingin seseorang menemaninya. Apalagi kata-kata Jefra barusan yang sedikit menenangkan hatinya.
"Aku akan membeli air dan plester luka di minimarket, tunggu sebentar," ucap Jefra seraya melepas tangan Renata yang memegang lengannya.
Renata mengangguk, lalu Jefra pergi untuk ke minimarket yang tidak jauh dari tempat itu.
__ADS_1
Sepeninggal Jefra, Renata termenung, teringat kembali dengan pengkhianatan yang telah mengajarinya bahwa dia tidak dapat mengendalikan kesetiaan seseorang. Tidak peduli seberapa baik dia ke pada Davian dan Gina, bukan berarti mereka akan berbuat baik pada dirinya juga. Tidak peduli seberapa besar arti mereka bagi Renata, bukan berarti mereka akan berbalik menghargainya. Kini orang yang paling dia cintai, berubah menjadi orang yang paling tidak dia percayai.
Renata sangat membenci keadaan ini. Dirinya sangat kecewa, marah, sedih, dan frustasi. Dia kembali menangis sembari memukul-mukul dadanya yang terasa sakit.
"Hentikan, jangan menangis lagi," ujar Jefra yang sudah kembali.
Jefra berjongkok di depan Renata dan menggenggam tangan gadis itu agar berhenti memukul-mukul dadanya sendiri.
"Kamu nggak tahu apa yang aku rasakan saat ini," lirih Renata.
Jefra menghapus jejak air mata pada pipi Renata, "Kalau begitu kamu bisa membaginya padaku, izinkan aku untuk merasakannya juga," ujarnya.
Renata tertegun, bagaimana bisa Jefra berkata seperti itu? Padahal mereka tidak sedekat itu.
Karena melihat Renata yang sudah lebih tenang, Jefra mulai membersihkan luka-luka pada lutut dan tangan Renata dengan air yang tadi dia beli.
Renata menahan perih sembari menatap Jefra yang dengan lembut merawat luka-lukanya. Kenapa Jefra sangat perduli padanya? Apa karena kejadian malam itu?
"Jefra," panggil Renata pada Jefra yang sedang menempelkan plester pada luka di lututnya.
"Hmm?"
"Apa aku nggak ada bedanya dengan kekasihku yang berselingkuh dengan sahabatku? Aku sudah tidur denganmu di belakangnya, bukankah aku sama buruknya?" tanya Renata dengan tertunduk.
Jefra mendongak menatap Renata, "Ketika seseorang mengkhianatimu, itu adalah cerminan dari karakter mereka, bukan karaktermu," ucapnya.
"Tapi tentang kejadian malam itu..."
Jefra tersenyum tipis, "Kamu tenang saja, kita tidak melakukan hal yang kamu banyangkan selama ini, aku hanya berbohong tentang kamu yang memper-kosa aku."
"A-apa?" Renata sangat terkejut dengan kejujuran yang Jefra katanya.
Tunggu.
Pantas saja dia tidak merasakan sakit pada bagian intinya, padahal dia tahu jika pertama kali melakukannya pasti akan terasa sakit bahkan berdarah seperti yang pernah Jelita ceritakan.
Betapa bodohnya dia, karena menganggap jika dirinya sudah melakukan yang iya-iya dengan Jefra.
"Tapi kenapa saat itu kita tidur dengan tanpa busana? Dan apa alasan kamu untuk meminta aku menikahi kamu?"
__ADS_1
Apa Jefra sedang menganggap dirinya lelucon?
_To Be Continued_