Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Di saat hujan


__ADS_3

Angin menerpa pepohonan begitu kuat, petir terdengar sangat kencang, hujan semakin deras.


Kegaduhan yang terjadi di luar tidak mengusik sepasang suami istri yang tengah berbagi kehangatan, siapa lagi kalau bukan Ryo dan Jelita.


Ryo yang terduduk di sofa ruang tamu dengan bersandar, sedangkan Jelita duduk di pangkuannya. Selimut tebal menutupi ke duanya dan dua cangkir cokelat panas menemani mereka.


Beruntunglah, mereka tidak jadi pergi keluar karena perut Jelita sakit akibat datang bulan.


Mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu menonton film bersama. Sejatinya, Ryo memang tidak bisa menonton di bioskop karena pobianya, karena itu dia memiliki koleksi beberapa kaset DVD film untuk mereka tonton bersama.


"Sayang, apa perutmu masih terasa sakit?" tanya Ryo dengan nada khawatir.


Jelita mengangguk. Dia memang sudah terbiasa jika mengalami sakit perut saat mendapatkan tamu bulanan, semua wanita juga merasakan itu. Namun, dirinya ingin bermanja-manja dengan suaminya.


Tangan Ryo menyusup ke dalam baju yang dikenakan Jelita dan mengelus perut rata di baliknya, "Bagaimana?" tanyanya berharap tindakannya itu bisa mengurangi rasa sakit yang Jelita rasakan.


"Lumayan," jawab Jelita.


"Sakit banget ya perutnya?" tanya Ryo yang masih mengelus lembut perut Jelita.


Jelita merengut, wanita yang sedang datang bulan memang sangatlah sensitif, "Apa sih kamu, pakai tanya segala. Ya, tentu saja sakit banget," ketusnya.


"Seandainya sakit perut kamu bisa ditransfer ke perut aku. Aku siap kok mengantikannya," ucap Ryo dengan serius.


Wajah Jelita yang tadi merengut seketika memerah. Oh, ayolah, ucapan Ryo benar-benar manis mengalahkan permen karet.


"Ma-mana bisa seperti itu," kata Jelita memukul pelan da-da bidang suaminya.


"Yasudah begini saja. Kamu mau makan apa malam ini? Apa saja yang kamu mau aku bakal belikan," ucap Ryo kemudian.


Jelita berbinar mendengarnya, wanita yang sedang datang bulan memang memiliki nafsu makan yang meningkat drastis karena kadar gula darah yang menurun, maka tidak heran jika Jelita terlihat senang saat ditawari makanan.


"Aku ingin pizza, burger, spaghetti, fried chicken, seblak, mie ayam, bakso, cokelat, es krim, boba, milk tea," kata Jelita dengan menyebutkan semua yang dia inginkan.


Ryo terkekeh dengan permintaan istrinya yang tidak tanggung-tanggung, "Apa kamu ingin merampok suamimu sendiri?" candanya.


"Katanya mau membelikan apa saja yang aku mau," cibir Jelita.


"Memangnya kamu bisa menghabiskan semuanya?" tanya Ryo.


"Tentu saja aku bisa menghabiskan semuanya," jawab Jelita terlihat bersungguh-sungguh.


"Oh, baiklah," ucap Ryo sembari mengecup pucuk kepala Jelita sayang.


Ryo pun menuruti semua keinginan istrinya itu, dirinya terlihat senang saat memanjakan Jelita.

__ADS_1


Benar-benar senang sampai melupakan keadaan Jefra yang mendapatkan saran darinya. Ryo sungguh tidak memiliki rasa berdosa sama sekali.


**


JEDERRRR


"A!" teriak Renata reflek memeluk Jefra saat mendengar suara petir yang begitu kencang.


Jefra membeku karena mendapat pelukan tiba-tiba Renata, kakinya seakan tertancap di tanah.


"Te-tenanglah, Renata," ujar Jefra setelah tersadar, dengan kaku tangannya mencoba menepuk-nepuk bahu gadis itu.


Renata masih memeluk Jefra erat, dia terlihat sangat ketakutan. Sedangkan Jefra mencoba tidak hanyut dalam suasana.


"Sebaiknya kita pergi dari tempat ini," saran Jefra.


Saat ini mereka sedang berteduh di pohon besar, akan berbahaya jika mereka terus berteduh di sana.


Renata yang baru tersadar dengan apa yang tengah dia lakukan langsung melepas pelukannya, betapa malunya dia. Bisa-bisanya memeluk Jefra dengan begitu erat.


"Bagaimana kita pergi? Hujan masih sangat deras," ujar Renata heran dengan saran Jefra.


Jefra terlihat memikirkan sesuatu, dan dia teringat jika di dalam mobilnya ada payung, "Aku akan pergi ke mobil untuk mengambil payung, kamu tunggulah di sini," ujarnya.


Itu sama saja membiarkan Jefra hujan-hujanan. Renata tidak mungkin membiarkan Jefra basah kuyup.


"Tidak apa, aku akan segera kembali," kata Jefra, dia beranggapan jika Renata takut ditinggal sendiri.


Renata menggeleng tegas, "Bukan masalah itu, Jef," kilahnya.


Jefra mengeryit pertanda tidak paham, "Terus?" tanyanya.


"Aku nggak mau kamu basah kuyup," sambung Renata.


"Memangnya kenapa kalau aku basah kuyup? Aku hanya basah karena terkena air hujan, aku tidak akan karatan," kata Jefra.


Renata memutar mola matanya, dia juga tahu jika manusia tidak akan karatan jika terkena air hujan, bisa-bisanya Jefra memperjelas hal itu.


"Kita pergi bersama saja," putus Renata, lalu melepas Jaket kulit milik Jefra dari tubuhnya, "Kita pakai ini," lanjutnya.


"Tapi, ini kan untuk kamu pakai," ucap Jefra mencoba menolak, dia tidak mau jika Renata menggigil kedinginan.


"Sudahlah jangan membantah," final Renata, "Menunduklah," pintanya.


Pada akhirnya Jefra menurut untuk menunduk, kemudian Renata mendekat pada Jefra dan memayungi kepala mereka dengan jaket.

__ADS_1


"Biar aku saja," ujar Jefra seraya mengambil alih Jaket yang menutupi kepala mereka berdua.


Renata mengangguk, memang akan lebih mudah jika Jefra yang mengambil alih, perbedaan tinggi mereka sudah cukup menjelaskan. Dan karena itu pula posisi Renata menjadi sangat berbahaya, jantung Renata berdegup kencang karena Jefra yang seolah memeluknya dari belakang, entah kenapa Renata menjadi merasa terlindungi.


"Kita lari bersama saat hitungan ke tiga," instruksi Jefra yang menyadarkan Renata dari rasa gugup yang tiba-tiba menyerang.


"Y-ya," jawab Renata terbata.


"1... 2... 3!"


Mereka berdua langsung berlari menerobos hujan yang deras. Jarak menuju mobil tidak terlalu jauh, hanya berjarak 30 langkah kaki dari pohon besar tempat mereka berteduh tadi.


Setelahnya mereka langsung memasuki mobil.


Renata tertawa saat ke duanya sudah terduduk di dalam mobil, "Akhirnya sampai," ucapnya terlihat senang, karena berhasil menerobos hujan sampai ke tempat tujuan.


Mungkin ini akan menjadi pengalaman yang cukup unik bagi Renata.


Jefra segera menyalakan penghangat mobilnya. Lalu menatap intens Renata, dia merasa heran karena Renata tertawa. Wanita memang sulit dipahami. Kenapa bisa sesenang itu?


"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Jefra kemudian.


"Nggak apa-apa, kok," jawab Renata apa adanya.


"Maafkan aku karena sudah membuatmu hujan-hujanan," ucap Jefra dengan rasa bersalah.


Renata menggeleng untuk membantah ucapan Jefra, "Kan sudah aku bilang kalau ini bukanlah kesalahan kamu," tukasnya.


"Tapi—"


"Sudahlah, Jef. Katanya kamu ingin mentraktir aku makan. Ayo kita cari tempat makan lain sebelum terlalu malam," potong Renata, mencoba mengalihkan pembicaraan.


Jefra mengangguk, "Kamu ingin makan di mana?" tanyanya.


Ya, lebih baik bertanya langsung saja pada Renata, dari pada harus mengalami kegagalan seperti tadi lagi.


"Terserah," jawab Renata.


Namun, jawaban Renata hanya menambah kebingungan bagi Jefra.


Jefra tidak tahu jika 'terserah' adalah satu kata keramat yang sering dilontarkan para wanita. Kata 'terserah' memiliki arti bercabang dan rumit melebihi rumus pythagoras jika sudah diucapkan oleh seorang wanita.


Lantas apa yang harus dilakukan Jefra sekarang?


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2