
Kemudian Ryo mengelus betis Jelita dengan gerakan yang membuat siempunya merinding. Tangannya menjalar ke pergelangan kaki kiri Jelita dan melepas perban yang membalutnya.
"Kenapa kamu membuka perban itu?" rasa merinding yang Jelita tadi rasakan kini tergantikan dengan kebingungan.
"Aku akan mengompres kakimu," jawab Ryo.
"Jadi kamu hanya ingin mengompres kakiku?" Jelita menatap Ryo tidak percaya.
Ryo menarik sudut bibirnya membentuk seringai, "Memangnya apa yang kamu pikirkan? Apa kamu berharap jika aku akan melakukan yang iya-iya?" tanyanya bermaksud menggoda Jelita.
Seketika wajah Jelita terbakar karena malu, kenapa juga pikirannya sampai sejauh itu? Salahkan saja perkataan Ryo saat di lift yang begitu ambigu.
"Hoo, Jelita yang terlihat polos ternyata memiliki pikiran mesum juga," Ryo terkekeh, "Ternyata kamu benar-benar sudah dewasa," lanjutnya justru bertepuk tangan seorang bangga dengan Jelita.
Dia memang sangat suka menggoda Jelita.
"Ng-nggak!" seru Jelita mencoba menyangkal, malu sekali dia, "Aku nggak berpikir macam-macam."
"Kalau berpikir macam-macam juga nggak apa-apa. Aku bisa mewujudkannya," kata Ryo dengan cengiran tanpa beban.
"Aku nggak seperti itu," wajah Jelita menjadi semakin terbakar, rasa malunya seakan sudah dipuncak.
Bisa-bisanya Ryo justru berkata seperti itu, Jelita jadi seperti perempuan mesum dibuatnya.
Terlihat Ryo yang berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Jelita yang masih merutuki pikirannya sendiri. Terlalu sering bersama Ryo pikirannya menjadi sama mesumnya dengan pemuda itu. Salahkan Ryo yang sering menciumnya.
5 menit kemudian, Ryo datang dengan membawa handuk kecil yang sudah di basahi dengan air dingin. Lalu dia berjongkok di hadapan kaki jelita yang menggantung di sisi ranjang.
Jelita terdiam sembari memperhatikan apa yang akan Ryo lakukan. Tidak bisa dipungkiri dia sangat senang karena Ryo begitu perhatian padanya. Jelita berharap jika sisi manis Ryo hanya diperuntukan pada dirinya saja.
Apa harapannya terlalu besar?
Ryo meraih kaki kiri Jelita dan meletakkan di paha kanannya yang tertekuk untuk berpijak di sana, lalu mengompres memar pada pergelangan kaki milik Jelita dengan handuk. Dia melakukannya dengan begitu lembut dan berhati-hati.
Mengompres selama kurang dari 10 menit.
Setelah itu, Ryo mulai membalut kembali pergelangan kaki Jelita dengan perban.
"Te-terima kasih, tuan muda," ucap Jelita gugup.
"Sama-sama," jawab Ryo mengulum senyum, lalu dia menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Cup
Jelita membelalakkan matanya, Ryo mencium pergelangan kakinya yang terbalut perban.
Ryo kembali mengangkat kepalanya dan menatap Jelita, "Obat tambahan," ucapnya dengan mengedipkan satu matanya.
'OMG! Aku ingin meleleh,' pikir Jelita.
Kemudian Ryo menurunkan kembali kaki Jelita dari pahanya, lalu bangkit untuk ke kamar mandi lagi.
Jelita langsung merebahkan dirinya di ranjang, dia menutupi wajahnya dengan bantal, perasaannya begitu berbunga-bunga saat ini. Siapa yang tidak senang saat mendapatkan perhatian yang begitu manis dari orang yang dicintai?
Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, "Apa dia mandi?" tanya Jelita pada dirinya sendiri.
Kemudian Jelita semakin menenggelamkan wajahnya pada bantal yang memiliki aroma seperti Ryo. Dia sangat menyukainya.
Dan tanpa sadar Jelita tertidur di ranjang sang Casanova. Dia tidak menyadari jika itu sangatlah berbahaya.
**
Cklek
Ryo keluar dari kamar mandi, tetesan air menetes dari ujung rambutnya yang basah dan merambat pada badan paripurna yang setengah terekspos. Dia hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya.
Lalu Ryo melangkahkan kakinya menuju ranjang, dia melihat Jelita yang tertidur dengan napas yang teratur.
Ryo mengulum senyum, "Apa-apaan dia? Apa dia *****?"
***** alis nempel molor.
Padahal dia ingin meminta Jelita untuk membantunya mengeringkan rambut. Ryo bergerak menuju lemari untuk mengambil kaos putih dan celana training panjang, lalu memakainya. Karena Jelita yang tidur dia jadi tidak perlu repot-repot untuk memakai baju di kamar mandi.
Jika Jelita melihatnya pun dia dengan senang hati menunjukannya.
Kemudian Ryo naik ke ranjang untuk menghampiri si putri tidur, meraih bantal yang sejak tadi dipeluk Jelita. Setelah itu, merangkak dan mengurung Jelita di bawah tubuhnya. Tangannya bergerak untuk melepas kacamata yang masih bertengger manis di hidung kecil namun mancung si gadis, dan meletakan kacamata di meja samping ranjang.
Ryo mendekatkan wajahnya ke telinga milik Jelita, "Bisa-bisanya kamu tidur tanpa pertahanan di kamar cowok," bisik Ryo.
Dengan tanpa izin Ryo mengulum telinga milik Jelita hingga si empunya mengerutkan alis di dalam tidurnya, jilatan pun tidak luput Ryo berikan. Lidahnya menelusuri garis telinga dan menjalar menuju rahang. Memberikan rangsangan pada Jelita.
"Ini salahmu sendiri, Jelita," ucap Ryo parau.
__ADS_1
Tangan nakalnya menelusup masuk ke dalam baju yang dikenakan Jelita dan mencari ke dua bongkahan besar di baliknya.
"Uhmm," Jelita melenguh tanpa sadar saat Ryo dengan kurang ajarnya meremas ke dua benda sensitif miliknya secara bergantian.
"Oh, Jelita," geram Ryo dan mencium bibir Jelita dengan menggebu.
Lama kelamaan Jelita merasa terusik dan langsung membuka matanya dengan cepat, betapa terkejutnya saat merasakan jika Ryo tengah menciumnya dan meremas da-danya.
"Uhmm, tu-tuan muda, s-stop..." ucap Jelita di sela-sela ciuman sepihak Ryo.
Jelita mendorong Ryo dengan sekuat tenaga, beruntunglah jika tenaganya bukan kaleng-kaleng. Ryo pun terdorong dengan paksa.
"Da-dasar cabul, kamu selalu saja curi kesempatan," omel Jelita, tapi justru terdengar seperti mencicit.
Ekspresi Ryo terlihat tidak suka saat Jelita mendorongnya, harusnya tadi dia mengikat tangan Jelita.
Namun, Ryo tidak tega menyakiti Jelita dengan mengikat tangan gadis itu. Lagi pula Ryo hanya ingin mencium dan pegang-pegang saja, sebejat-bejatnya dia tidak akan melakukan sesuatu yang menjurus merusak Jelita yang masih polos.
Jelita begitu berharga untuk dia nodai kesuciannya.
"Salahmu yang seenaknya tidur di ranjangku," ucap Ryo kemudian.
Jelita langsung tersadar akan kebodohannya, bisa-bisanya dia tertidur di ranjang sang Casanova semacam Ryo.
"Menyingkir," tukas Jelita pada Ryo yang masih mengukung tubuhnya.
Bukannya menurut Ryo masih bergeming di posisinya, kemudian dia menyelusupkan kepalanya di perpotongan leher Jelita, "Nggak mau, aku mau seperti ini dulu."
"Nggak bisa," Jelita menolak keinginan Ryo.
"Jelita, jika aku menikah dengan orang lain, apa kamu masih mau berada di sisiku?" tanya Ryo tiba-tiba, kepalanya semakin menelusup ke leher Jelita untuk menghirup dalam-dalam wanginya.
"A-apa?" Jelita tercekat, tangannya yang awalnya bergerak mendorong Ryo berhenti berhenti seketika.
Ryo menikah dengan orang lain? Dengan siapa? Bukankah Ryo sudah dijodohkan dengannya? Beberapa pertanyaan berputar di otak Jelita.
"Aku ingin sekali menikahi kamu, tapi aku sudah dijodohkan dengan cewek lain," ucap Ryo seraya mengangkat wajahnya dan menatap Jelita dalam.
Jelita mengulum senyum mendengarnya, "Kenapa kamu ingin sekali menikahi aku?" tanyanya.
"Karena aku mencintai kamu."
__ADS_1
_To Be Continued_