Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Tangkai Mawar Yang Patah


__ADS_3

1 tangkai mawar merah yang melambangkan cinta pada pandangan pertama. Sama seperti cara Davian jatuh cinta pada Renata. Gadis cantik yang terlihat menawan seperti bunga mawar berduri yang susah sekali dia dapatkan. Namun, saat sudah mendapatkannya justru Davian menyia-nyiakannya.


1 tangkai mawar merah yang melambangkan pasangan kekasih yang tetap mencintai selama bertahun-tahu. Seperti hubungan Renata dan Davian yang sudah terjalin selama 3 tahun. Saling mengasihi dan mencintai. Namun, berakhir dengan perselingkuhan yang dilakukan Davian.


1 tangkai mawar mekar yang berarti "Kamu masih menjadi yang paling aku cintai."


Davian merasa senang saat Renata menerima bunga mawar pemberiannya.


Apa itu berarti Renata masih mencintainya? Renata mau kembali bersamanya?


Namun.


Krak


Davian membelalakkan mata. Renata mematahkan bunga mawar pemberiannya menjadi dua bagian, begitu pula dengan hati Davian yang merasakan patahannya.


Apa maksudnya itu?


"Re-Renata, a-apa yang kamu lakukan?" tanya Davian tercekat.


"1 tangkai mawar merah yang patah menjadi 2 karena perbuatanku. Seperti hubungan kita yang sudah rusak karena perbuatanmu. Batang yang sudah patah nggak mungkin bisa disatukan kembali. Seperti aku dan kamu, nggak mungkin bisa bersama lagi."


Wajah Davian memucat, lidahnya mendadak keluh. Perkataan yang dilontarkan Renata begitu mengoyak hati.


Seketika Davian teringat perkataan yang dulu dia lontarkan pada Renata.


"Aku sudah bosan denganmu. Selama kita pacaran kamu nggak mau memberikan aku kepuasan sama sekali, jadi jangan salahkan aku untuk mencari cewek lain yang bisa memberikan apa yang aku mau."


"Lupakanlah pernikahan yang nggak akan pernah terjadi itu."


"Mulai sekarang kita putus."


Bukankah itu lebih menyakitkan?


"Kamu telah mengacaukan hatiku dengan selingkuh dengan Gina. Jenis luka yang paling buruk adalah pengkhianatan. Kata-katamu sekarang sudah nggak ada artinya bagiku," sambung Renata dengan tersenyum miring.


Nyatanya sebuah hubungan yang sudah ditorehkan luka tidak mungkin bisa terjalin kembali. Hati tidak ada tombol refresh untuk memulai dari awal lagi. Davian memang harus menyerah dengan keinginan untuk kembali bersama Renata, karena itu tidak mungkin pernah terjadi. Renata bahkan sudah tidak memiliki rasa cinta sedikitpun padanya, Davian dapat merasakan itu dari tatapan Renata.


"Aku kembalikan lagi. Calon Suamiku nggak suka jika aku menerima bunga dari cowok lain, aku nggak mau membuatnya marah."


Renata menyerahkan kembali bunga mawar yang sudah patah itu. Lalu Davian menerimanya tanpa bicara, tetapi terlihat adanya luka dan penyesalan di wajahnya.


"Aku berharap ini adalah kali terakhir kamu mengganggu aku, Davian."


Kemudian Renata melangkah untuk pergi menjauh dari Davian.


Sedangkan Davian mengeratkan genggamannya, yang mengakibatkan darah mengalir dari tapak tangan karena batang berduri dari bunga mawar.

__ADS_1


Tangkai mawar yang patah, seperti hati Davian yang patah. Sama-sama menimbulkan rasa sakit.


**


Saat pulang. Pukul 05.35 PM.


Renata melirik Jefra yang sedang mengemudi dari ekor matanya. Jefra diam saja sejak pertama kali datang menjemput. Bahkan wajah tampan pemuda itu terlihat agak cemberut.


"Jef."


Tuh kan diam saja.


"Kamu sedang marah, ya?" tanya Renata pada akhirnya, karena sudah jengah dengan Jefra yang terdiam.


Jefra tidak menjawab, tatapan pemuda itu masih fokus ke depan, melihat jalan raya yang kondusif.


Renata menarik napas dalam. Ini tidak bisa dibiarkan. Dirinya pun jadi kesal sendiri karena di cuekin. Padahal Renata ingin mengobrol sekaligus bermanja-manja dengan Jefra.


Sungguh menyebalkan.


"Hentikan mobilnya!" seru Renata.


Jefra tidak menghiraukan.


"Aku bilang hentikan mobilnya, Jefra! Atau aku akan lompat ke jalan sekarang juga," Renata mulai mengancam.


Jefra langsung menghentikan mobilnya, tidak jauh dari halte bus.


"Ada apa?" akhirnya Jefra membuka suaranya juga.


"Kamu yang ada apa? Kenapa cuekin aku?" tanya Renata dengan tatapan menyelidik bercampur kesal.


Jefra kembali menutup mulutnya, yang dilakukannya hanya menatap Renata dalam diam.


"Dasar menyebalkan! Diam saja sana sampai lebaran monyet!"


Renata segera melepas sabuk pengaman, lalu membuka pintu mobil untuk keluar.


Kemudian berlari kecil menuju bus yang sedang ngetem mencari penumpang. Ya, lebih baik dia pulang naik bus dari pada satu mobil dengan Jefra yang diam seperti patung. Intinya Renata sedang ngambek dengan Jefra, biarkan saja dia dianggap anak kecil. Lagi pula, siapa juga yang suka dicuekin?


Renata masuk ke dalam bus, yang ternyata sudah ramai dengan penumpang. Renata berdiri tidak jauh dari pintu bus dengan berpegang dengan tiang stainless.


Wajah Renata cemberut, "Memang aku salah apa? Dasar nggak jelas, bisa-bisanya bersikap seperti itu," gumamnya.


"Renata."


Renata menoleh ke samping saat mendengar suara berat milik Jefra memanggil namanya. Pemuda itu datang menyusul, dan kini sudah berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Kenapa menyusul? Sana turun, aku mau naik bus saja," ucap Renata dengan mengusir Jefra.


"Jangan seperti ini, ayo pulang bersamaku," ujar Jefra dengan lembut.


Renata berusaha untuk tidak luluh.


"Nggak!" tolak Renata dengan nada yang kencang.


Mengakibatkan penumpang bus menatap mereka berdua penasaran.


Jefra menunduk sopan untuk meminta maaf pada penumpang bus. Sedangkan Renata merutuki dirinya sendiri karena tanpa sadar berteriak dengan kencang.


Sett


Renata terperanjat saat merasakan tubuhnya terangkat. Dengan satu gerakan Jefra menggendong Renata di pundak, bagai karung beras.


"A!" Renata memekik antara kaget dan malu.


"Maafkan Istriku yang membuat keributan," ucap Jefra pada penumpang bus, berniat meluruskan kejadian, dia juga tidak mau disangka sedang menculik Renata.


"Jefra, turunkan aku!" seru Renata.


Kemudian Jefra keluar dari bus, dengan membawa Renata yang sedang memberontak sembari memukul-mukul punggungnya.


Jefra pun menurunkan Renata tepat di samping mobilnya.


"Masuk!" titah Jefra setelah membuka pintu.


Renata menurut masuk ke dalam mobil, karena merasa tidak mempunyai pilihan lain. Setelahnya Jefra memasangkan sabuk pengaman.


Wajah Renata masih cemberut, dengan mengerucutkan bibir. Jefra yang melihatnya justru memberikan kecupan pada bibir Renata.


"Jangan ngambek lagi, aku minta maaf," ucap Jefra setelah mencuri kecupan tiba-tiba.


Renata mengangguk karena sudah tidak dapat menahan diri untuk luluh.


"Lagi."


Jefra tersenyum karena mengerti maksud dari 'lagi' yang diminta gadisnya. Lalu Jefra memberikan 3 kali kecupan pada bibir pink milik Renata.


Oh, ingin sekali Jefra menyertakan lu-matan, tetapi tempat sedang tidak mendukung.


Renata mengusap rahang tegas Jefra dengan sayang, "Aku masih belum bisa memahami maksud amarah kamu, maaf kalau sudah melakukan kesalahan tanpa sadar. Aku sayang kamu."


Jefra tertegun. Apa yang sedang di khawatirkan sebenarnya? Bukankah Renata sendiri yang mengatakan kalau sayang padanya? Tidak mungkin jika Renata bersedia kembali pada Davian.


"Sepertinya aku telah salah paham," pungkas Jefra.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2