
Gavin terlihat sangat shock ketika merasakan benda lembut berbenturan dengan bibirnya. Dia bahkan sampai melupakan rasa sakit pada bagian tubuh belakangnya.
Spontan si wanita langsung bangkit berdiri dari posisinya, "Ma-maaf," ucapnya terbata.
Gavin bangkit terduduk di lantai dengan jari tangan memegang bibir, kemudian mendongak untuk melihat siapa wanita yang telah menciumnya.
Jantungnya pun langsung berdegup saat melihat seorang gadis manis dengan balutan dress berwarna tosca.
Apa saat ini Gavin sedang mendapatkan jackpot?
"Sekali lagi maaf."
Setelah mengucapkan kata maaf lagi, gadis manis itu segera berlari pergi. Sepertinya dia sangat malu.
"Bodoh sekali, apa kamu akan membiarkan cewek itu pergi begitu saja?" tanya Ryo.
Gavin segera tersadar, lalu bangkit berdiri.
Ya. Apa Gavin akan membiarkan gadis itu pergi begitu saja? Oh, tentu saja tidak. Kemudian Gavin beranjak untuk mengejar gadis itu. Setidaknya dia harus menanyakan nama dan nomor ponsel, bukan?
Dimana ada cinta, di situ harus ada usaha untuk mendapatkannya.
"Lihat dia, benar-benar beruntung," ucap Ryo.
"Beruntung? Apa kamu iri? Kamu berharap bunga tadi terlempar padamu, ya?" tanya Jelita dengan mengeluarkan aura tidak mengenakan.
"Te-tentu saja nggak," sangkal Ryo cepat.
Jelita memincingkan mata. Sepertinya sang calon Ibu muda sedang cemburu.
"Sayang, itu mana mungkin," Ryo mencoba membujuk Jelita.
"Nanti malam kamu tidur di luar kamar."
"A-apa?"
Ryo tercekat karena perkataan Jelita, yang benar saja, masa dia harus tidur di luar kamar cuman gara-gara masalah ini.
"Jangan dong. Memangnya kamu bisa tidur tanpa memeluk aku?" Ryo masih mencoba membujuk.
"Bisa," jawab Jelita merengut.
Benar kata orang, Ibu hamil memang menjadi sangat sensitif.
Di sisi lain.
"Tunggu, Nona!" seru Gavin saat berhasil mengejar si gadis yang berjalan keluar aula pesta.
Gadis itu berbalik untuk merespon panggilan Gavin.
"Ada apa lagi, Tuan?"
Seketika Gavin menjadi gugup, apalagi saat melihat wajah gadis manis itu lagi.
"Apa kamu ingin mengambil bunga ini?" tanya si gadis, dipeluknya bunga pengantin dengan erat, pertanda tidak ingin menyerahkannya.
"Ah, nggak," Gavin cepat menyangkal.
"Lalu ada apa?" tanya si gadis yang masih memeluk bunga dengan erat.
Seperti sangat takut kalau bunga itu diambil. Gavin tertawa dibuatnya, ternyata selain manis gadis itu juga lucu.
"Kenapa tertawa?" si Gadis memincingkan mata.
__ADS_1
"Nggak kenapa-kenapa," jawab Gavin.
"Apa kamu orang gila yang tiba-tiba tertawa tanpa sebab?"
Sungguh sarkastik sekali pertanyaannya.
"Tentu saja nggak," bantah Gavin.
Gavin jadi mempunyai ide untuk melancarkan rencananya.
"Nona, aku nggak akan mengambil bunga itu asal kamu memberitahuku nama dan nomor ponselmu."
Sebenarnya Gavin ragu kalau gadis itu akan...
"Namaku Sachi Emelin."
Gotcha!
"08──"
"Tunggu!" Gavin segera mengambil ponselnya untuk mencatat nomor Sachi.
Pada akhirnya mereka bertukar nomor ponsel.
Hari ini adalah hari terbaik bagi Gavin. Semoga dengan ini status jomblonya bisa hilang.
**
Setelah kejadian sesi lempar bunga yang berakhir tidak terduga, acara pernikahan pun kembali berlangsung. Acara berlangsung sampai pukul 5 sore.
"Apa kamu lelah?" tanya Jefra pada Renata.
Kini mereka sedang berada di dalam mobil, duduk di kursi belakang.
"Tidur?" beo Jefra.
"Ya," Renata mengangguk polos.
Jefra terdiam. Dia sungguh gemas dengan gadis yang sudah berstatus menjadi istrinya itu. Mana bisa Jefra membiarkan Renata langsung tidur di malam pertama.
Mobil yang mereka tumpangi melewati polisi tidur yang cukup tinggi. Renata oleng dibuatnya.
Dengan sigap Jefra melindungi kepala Renata yang hampir terbentur kaca mobil.
"Hati-hati," ujar Jefra seraya menarik Renata untuk lebih dekat padanya.
"Maafkan aku, apa kalian terluka?" tanya si supir yang sedang mengemudi.
"Tidak apa-apa, kami baik-baik saja," jawab Renata.
"Untunglah," tukas si supir.
Srekk
Renata terkejut saat Jefra membaringkan tubuhnya. Membuat posisi Renata menjadi tidur berbantal paha Jefra.
"Tidurlah," ujar Jefra seraya mengelus kepala Renata sayang.
Renata melihat Jefra yang menunduk. Semakin dilihat, suaminya itu sangatlah tampan. Jefra adalah hal terbaik yang Renata miliki. Kini Jefra adalah bagian dari dirinya yang selalu dibutuhkan.
"Kenapa menatapku, hmm? Kamu ingin dicium?" tanya Jefra dengan terkekeh.
"Ti-tidak."
__ADS_1
Wajah Renata tersipu malu. Mungkin jawabannya akan terdengar lain, jika seandainya mereka hanya berdua.
"Tidurlah, katanya tadi lelah," ujar Jefra.
"Aku sudah tidak ingin tidur," ucap Renata.
"Kenapa berubah pikiran?"
Renata mengulurkan tangannya untuk memegang rahang tegas milik Jefra, dan mengelusnya dengan sensual, "Karena aku ingin melihat wajah tampan suamiku."
Jefra meraih tangan Renata, lalu memberikan ciuman di telapak tangan.
"Kamu bisa puas melihatnya kalau kita sudah sampai nanti," kata Jefra dengan tatapan penuh cinta.
Debaran jantung Renata menjadi kacau dan beraturan. Dia jadi tidak sabar untuk sampai ke tempat tujuan.
**
2 jam kemudian.
Seakan lupa begitu saja, Renata justru tidur sesampainya di rumah, setelah mandi secara bergantian dengan Jefra.
Jefra yang baru keluar dari kamar mandi sampai dibuat tidak bisa berkata-kata. Kemudian Jefra tersenyum tipis saat melihat wajah damai Renata.
Diraihnya selimut untuk menutupi tubuh Renata yang memakai baju tidur tipis. Lalu Jefra mendekatkan wajah untuk mencium kening si putri tidur.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu mengusik.
Siapa yang seenaknya mengetuk pintu kamar pengantin baru yang sedang malam pertama? Walaupun Jefra dan Renata sedang tidak melakukan apa-apa, tapi tetap saja Jefra merasa terganggu.
Dengan rasa kesal Jefra beranjak untuk membuka pintu. Tapi rasa kesalnya berubah menjadi terkejut saat melihat mertuanya lah yang mengetuk pintu, sang Jenderal Sebastian.
Saat ini Jefra memang sedang berada di kediaman keluarga Renata untuk sementara, besoknya Jefra baru akan membawa Renata untuk tinggal di rumah miliknya.
"Ada apa, Ayah mertua?" tanya Jefra mencoba memanggil Sebastian 'Ayah mertua' meski agak ragu.
"Kamu tidak sedang melakukan sesuatu dengan putriku, kan?" tanya Sebastian dengan ekspresi datar.
"Ah, itu aku..." Jefra mendadak panik.
Kemudian Sebastian tertawa melihat menantunya yang justru panik. Jefra speechless dibuatnya.
"Aku hanya bercanda, kalian kan sudah menikah jadi tidak apa-apa," kata Sebastian.
Ternyata sang Jenderal bisa membuat jokes yang receh sekali. Jefra memaksakan dirinya untuk tertawa dengan kikuk.
"Sebaiknya kalian makan malam dulu," ujar Sebastian.
"Tapi Renata sedang tidur," ucap Jefra.
"Hais, anak itu," Sebastian dapat melihat Renata yang memang sedang tidur dari celah pintu.
"Renata kalau sedang tidur sangat sulit dibangunkan. Kalau begitu kamu saja yang makan malam, soalnya Istriku sudah menyiapkannya," sambung Sebastian.
"Ya, Ayah mertua."
Sebenarnya Jefra tidak lapar, tapi tidak enak untuk menolak.
Kemudian Jefra menutup pintu kamar, setelah itu mengikuti sang Ayah mertua untuk pergi ke ruang makan.
'Apa malam pertama dipending?' batin Jefra menghela napas pasrah.
__ADS_1
_To Be Continued_