
Tujuan terakhir dari perjalanan mereka adalah ke Italia, Sisilia.
Mereka akan ke Gunung Etna untuk bermain ski di lereng bersalju, saat ini di Sisilia memang sedang musim dingin, dan itu dimanfaatkan Ryo untuk membawa Jelita bermain ski.
"Apa kamu menyukai olah raga berseluncur di salju?" tanya Ryo pada sang istri yang tengah digandeng.
"Ya, aku suka! Ini sama seperti bermain ice skating, sama-sama berseluncur di tempat yang dingin," jawab Jelita.
"Ini mengingatkan pada kencan pertama kita, apa kamu ingat?" terlihat binar senang pada mata amber milik Jelita, dia mengajak Ryo bernostalgia.
Ryo tersenyum lembut, "Tentu saja aku ingat," jawabnya.
Jelita ikut tersenyum, "Dan saat itu kamu membuatku terkilir," katanya.
Muncul rasa bersalah pada wajah tampan Ryo, "Ah, maafkan aku soal itu, sayang," ucapnya.
"Ya, nggak apa-apa," Jelita mengacak rambut Ryo, "Kenapa kamu nggak memakai penutup kepala? Apa nggak merasa dingin?" tanyanya kemudian.
"Nggak kok, kan ada kamu untuk aku peluk jika merasa dingin," tawa Ryo.
Jelita ikut tertawa menanggapi gombalan jijay Ryo, "Ada-ada saja."
"Aku akan menyewa alat ski," ujar Jefra menginterupsi.
Ryo dan Jelita mengangguk.
"Aku ikut," ucap Renata segera mengekor Jefra.
"Apa kamu tidak ingin aku tinggal? Padahal hanya sebentar," ucap Jefra.
Renata mengapit lengan Jefra dengan ke dua tangan, "Nggak mau ditinggal."
Pada dasarnya Renata adalah gadis manja jika sedang bersama dengan orang yang dia cintai.
"Jefra."
"Hmm?"
"Apa kesan pertama kamu saat pertama melihatku?" tanya Renata penasaran.
Ya, itu aneh bagi Renata karena seingatnya pertemuan pertamanya dengan Jefra adalah saat dirinya mabuk. Bagaimana bisa Jefra justru tertarik pada dirinya yang sedang kacau itu?
"Cantik," jawab Jefra singkat padat dan jelas.
Wajah Renata merona dibuatnya, "Hanya itu?" tanyanya.
Jefra mengangkat bahu.
Renata cemberut, "Masa hanya karena cantik. Coba saja kalau aku nggak cantik, pasti kamu nggak mungkin jatuh cinta padaku."
"Siapa bilang, hmm?" tanya Jefra.
__ADS_1
Langkah mereka memasuki tempat penyewaan alat ski.
"Aku yang bilang barusan," jawab Renata sebal.
Jefra mencubit pipi Renata, "Jangan berpikir seperti itu."
Renata memang pipinya, "Ih, sakit," protesnya.
"Jika kamu bertanya kenapa aku mencintaimu, aku tidak punya jawaban untuk itu. Karena yang aku tahu mencintaimu tidak butuh alasan tapi pembuktian," ucap Jefra yang terdengar begitu merdu di telinga Renata.
Wajah Renata kembali merona, "Ka-kamu sangat pandai merayu, sepertinya kamulah yang lebih cocok menjadi Casanova dari pada Ryo."
Oh, ayolah, bahkan gombalan Ryo kalah dari Jefra. Pemuda itu benar-benar bermulut manis.
"Tenang saja aku bukan Casanova," Jefra terkekeh.
Bagaimana bisa Jefra menjadi Casanova, sedangkan dia tidak pernah berhubungan dekat dengan seorang wanita selama 27 tahun dia hidup. Oh, ayolah, dia terlalu sibuk untuk berkencan.
Kemudian mereka mulai menyewa peralatan ski.
Bermain ski dengan latar belakang pantai laut Taormina Sisilia Calabria memang bukanlah pilihan yang buruk.
Namun, Jefra mengkhawatirkan penyerangan tiba-tiba yang akan dilakukan Jason dan para mafia.
Meski begitu, Jefra akan berusaha melindungi Renata, Jelita, dan Ryo.
Semoga saja misi kali ini berjalan lancar dan Jefra bisa segera naik pangkat, dengan begitu akan lebih mudah baginya untuk mengajukan lamaran pada Jendral Sebastian.
Aktivitas bermain ski mereka berjalan lancar, itu membuat Jefra bernapas lega untuk sesaat.
Selanjutnya, dengan mengemudikan mobil Italia kuno mereka pergi ke kota Venesia, tempat yang terkenal indah dan romantis.
"Apa kamu ingin naik gondola?" tanya Ryo pada Jelita sesampainya di Venesia.
"Ya," Jelita menjawab dengan samangat.
Memang Gondola dan Venesia adalah dua hal yang tak dapat terpisahkan. Para wisatawan berlibur ke kota itu, pastinya tidak mau melewatkan moment menikmati indahnya kota Venesia dengan menaiki gondola.
"Apa kalian tahu? Mitos dari jembatan kuno Italia?" celetuk Renata.
"Mitos apa? Jangan bercerita horor," ujar Ryo yang tidak mau mendengar cerita horor.
Renata memutar bola matanya, "Bukan horor," sangkalnya.
"Terus?" tanya Ryo jadi penasaran.
Sedangkan Jelita dan Jefra hanya diam menyimak.
"Pasangan yang mengarungi sungai di Venesia dengan gondola kemudian berciuman di bawah jembatan kuno saat matahari terbenam, tepat ketika lonceng di St. Mark Campanile berdentang cintanya akan abadi dan diberkahi," jelas Renata sembari menangkup ke dua tangan di depan tubuh.
"Cek," Ryo berdecak kagum.
__ADS_1
Kemudian melirik jam yang melingkar manis pada pergelangan tangannya, pukul 17.30 waktu setempat, "Sebentar lagi matahari terbenam, sebaiknya kita segera menaiki gondola," ujarnya.
"Ayo, sayang. Kita harus melakukan itu," sambung Ryo seraya menarik tangan Jelita agar berjalan lebih cepat menuju tempat gondola berada.
Renata dan Jefra mengikuti dari belakang.
"Itu kan hanya mitos, Ryo," ucap Jelita.
"Apa salahnya dicoba?" Ryo nyengir kuda.
Mereka naik gondola melalui kanal dengan membayar 80 Euro selama 40 menit. Menyusuri sepanjang jalur air yang sanggup menciptakan suasana yang syahdu nan romantis. Membiarkan Gondolier mendayung gondola, sedangkan mereka cukup duduk dan bersantai sambil menikmati pesona unik kota Venesia sembari mendengarkan lagu Italia tradisional. Mereka bisa melihat istana kuno dan jembatan luar biasa.
Ryo mengalihkan tatapannya pada Jelita yang sedang duduk di sebelahnya. Jelita terlihat senang dan terkesan, ada binar kebahagiaan di bola mata amber milik istrinya itu.
"Jelita," panggil Ryo mengalun dengan lembut.
Jelita menatap Ryo tanpa melunturkan senyum dari wajah cantiknya, "Ya?"
"Nggak terasa ini adalah negara terakhir dari honeymoon kita," ucap Ryo.
Meskipun ingin mengunjungi lebih banyak negara lagi. Namun, sesuatu hal pasti ada fase berakhir, mereka harus kembali.
"Honeymoon ini adalah yang terbaik," Jelita menyandarkan kepala pada bahu Ryo.
"Terima kasih untuk petualangan ini dan untuk semua tempat yang kita kunjungi. Aku harap kita selalu bersama untuk pergi ke semua tempat yang akan kita tuju selanjutnya."
Jelita memegang rahang tegas suaminya, mengelusnya dengan lembut.
"Ini adalah kehidupan yang sempurna untuk memulai kehidupan yang indah dengan cinta kita berdua, harapan terbaikku tentunya sama dengan harapanmu," ucap Ryo.
"Aku mencintaimu, Ryo," ungkap Jelita.
"Aku yang lebih mencintaimu, Jelita," ungkap Ryo.
Ryo mendekatkan wajahnya pada Jelita yang masih bersandar di bahunya, mereka tersenyum sebelum bibir ke duanya saling menyapa.
Mereka berdua berciuman saat perahu gondola sampai di sebuah jembatan dari batu kapur berwarna putih yang melintang, tepat pada matahari terbenam.
Di sisi lain.
Renata dengan inisiatifnya menarik dasi yang Jefra pakai, dan langsung mencium bibir pemuda tampan itu.
Oh, tentu saja Renata tidak mau melewatkan momen ini. Awalnya dirinyalah yang ingin mencoba mitos itu dengan Jefra.
"Jefra, kamu nggak mau mengucapkan kata-kata romantis juga?" tanya Renata setelahnya.
Jefra tertawa, Renata benar-benar menggemaskan dengan sesuatu yang selalu membuatnya terkejut.
"I love you seribu kali, Renata."
_To Be Continued_
__ADS_1