Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Pencuri Kesempatan


__ADS_3

"Berhati-hati?" tanya Jelita dengan rasa heran karena perkataan dan perubahan ekspresi Ayahnya.


"Karena Ryo sedang dalam bahaya saat ini."


"Memangnya ada apa, Papa?" tanya Jelita yang masih tidak mengerti.


"Apa kamu mendengar kehancuran keluarga Delaney sebulan yang lalu?" bukannya menjawab Arthur justru bertanya balik.


"Keluarga Delaney? Ya, aku pernah melihat beritanya di TV, keluarga itu hancur karena di bantai oleh sekelompok pembunuh berantai," jawab Jelita setelah mengulik memorinya.


"Bukan sekelompok pembunuh berantai yang melakukan itu, tapi keluarga Januartha yang melakukannya, tepatnya Xavier, Ayah dari calon suamimu," ucap Arthur dengan memelankan oktaf suaranya, ini memang rahasia.


Jelita terkejut dibuatnya, "Ayah Ryo? Kenapa dia melakukan itu, Papa? Bukankah itu sangat kejam?" tanyanya.


"Kamu tahu istilah hutang darah dibayar dengan darah, hutang nyawa dibayar dengan nyawa?"


Jelita mengangguk karena tahu arti peribahasa itu, kebaikan dibalas dengan kebaikan, sedangkan kejahatan dibalas dengan kejahatan.


"Keluarga Delaney adalah menyebab Ibu Ryo meninggal, Xavier berniat membalas dendam atas kematian istrinya," sambung Arthur.


Jelita terkejut dengan kenyataan itu, 'Jadi kecelakaan yang pernah Ryo ceritakan adalah sebuah sabotase,' pikirnya.


"Tapi, bukannya keluarga Delaney sudah tidak tersisa lagi? Lalu apa yang menyebabkan Ryo dalam bahaya?"


"Putra bungsu mereka berhasil kabur, dia mempunyai hubungan baik dengan kelompok mafia terkenal di Meksiko, pembalasan dendam pasti akan berputar lagi, dan Ryo pasti dalam bahaya karena itu," jelas Arthur.


"Jadi Ryo akan menjadi target balas dendam?"


"Ya, karena itu kamu harus berhati-hati, sayang."


Setelahnya Jelita terlihat gelisah, Ryo yang tidak tahu apa-apa justru menjadi target balas dendam. Sebuah dendam memang seperti api yang membara yang dapat membakar seseorang yang ada di lingkungannya.


"Setelah kamu kembali menjadi Bodyguard Ryo, Papa akan memberikan pengawasan ketat untukmu dan Ryo, jika terjadi apa-apa kamu bisa mengandalkan mereka," lanjut Arthur.


"Apa itu nggak berlebihan?" tanya Jelita.


"Tentu saja nggak, Papa nggak mau terjadi sesuatu padamu, jadi sebisa mungkin Papa akan melindungi kamu."


Jelita hanya bisa mengangguk, 'Kenapa jadi serumit ini, sih?' pikirnya.

__ADS_1


**


Pukul 10 malam, masih di ruang rawat Jelita.


"Kenapa Ryo nggak datang?" gumam Jelita dengan perasaan kecewa. Dia memang sedang menunggu kedatangan sang pujaan hati, tapi hingga sekarang Ryo belum terlihat batang hidungnya.


Cklek


"Jelita?"


Reflek Jelita menutup matanya saat mendengar pintu terbuka dan suara Ryo yang memanggil namanya, 'Kenapa aku pura-pura tidur?' batin Jelita merutuki refleknya.


Ryo berjalan mendekat pada Jelita yang sedang tidur di ranjang, senyum terbit di wajahnya yang terlihat lelah, "Maaf baru datang, tadi banyak sekali pekerjaan di kantor."


Hening, tidak ada jawaban.


Ryo melepas kacamata Jelita, dia meletakkan kacamata itu di atas meja, "Tidur saja pakai kaca mata," ucapnya menggelengkan kepala.


Jantung Jelita berdetak tidak karuan, dia ingin membuka mata tapi sudah terlanjur pura-pura tidur. Namun, detik kemudian dia merasakan napas hangat menggelitik wajahnya dan sesuatu yang lembut tengah menyentuh bibirnya.


Ryo menciumnya.


Seketika Jelita membuka matanya karena terkejut, tapi tidak dengan Ryo yang masih menciumnya, bahkan pemuda itu mulai mengulum bibir bawah milik Jelita. Pada akhirnya Jelita ikut hanyut dalam ciuman yang diberikan Ryo, dia memejamkan matanya kembali. Dengan bibir yang masih bertautan Ryo perlahan naik ke atas ranjang, dia mengukung tubuh Jelita di bawahnya.


"Ahh, Tu-tuan muda, he-hentikan," ucap Jelita di sela-sela ciuman mereka.


Ryo menjauhkan wajahnya tapi tidak dengan tangannya yang masih betah mengelus perut Jelita, kulit gadis itu sangatlah lembut dan kenyal, dia menyukainya, "Sudah bangun?" tanyanya dengan parau.


Jelita mengangguk, tatapannya sayu.


"Padahal waktu itu kamu nggak bangun," kata Ryo mengingat saat dia mencium Jelita diam-diam saat gadis itu ketiduran.


"Waktu itu?" tanya Jelita bingung, dia memegang tangan Ryo yang ingin menjalar ke da-danya.


"Saat mati listrik," jawab Ryo jujur.


Jelita berpikir sesaat, "Ja-jadi itu bukan mimpi?" tanya kaget bercampur gugup.


"Tentu saja bukan, mana ada mimpi sampai membuat bibirmu bengkak," ucap Ryo dengan terkekeh.

__ADS_1


"Da-dasar pencuri ciuman!" seru Jelita dengan wajah merona.


"Aku memang pencuri, bahkan aku bisa mencuri hatimu," bisik Ryo, dia menyusupkan kepalanya pada ceruk leher Jelita dan menghirup dalam-dalam wangi yang begitu dia sukai.


Jelita terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa, karena Ryo memang benar-benar pencuri. Dia merasa geli saat Ryo mulai memberikan kecupan pada lehernya, "Geli," ucapnya sambil tertawa.


"Kamu wangi sekali," gumam Ryo sembari menyesap leher Jelita.


"Uhmm, apa yang kamu lakukan, tuan muda? Menyingkir," lirih Jelita mencoba mendorong kepala Ryo dengan pelan. Punggungnya masih sakit, dia tidak bertenaga untuk menyingkirkan Ryo.


Dorongan pelan dari Jelita justru seperti usapan pelan pada surai hitam Ryo, tangan Ryo yang masih berada di balik baju Jelita kini menjalar ke da-da gadis itu, dia meremas kuat benda kenyal yang masih terbungkus bra.


"Akh, sakit."


Ryo menghentikan aksi pada leher Jelita, "Kenapa? Punggungmu sakit?" tanyanya khawatir.


Jelita menggeleng, dia memegang tangan Ryo yang masih bergerak dibalik bajunya, "Sakit, jangan kencang-kencang," lirihnya.


Ryo tersenyum cabul, "Kalau nggak kencang, nggak berasa," katanya seraya menambah tenaga remasannya.


Jelita tidak sanggup menahan air matanya, dia merasa dilecehkan. Bisa-bisanya Ryo melakukan hal mesum di saat dia sedang sakit, "Hiks, hentikan, kamu jahat sekali."


Melihat Jelita yang menangis Ryo segera menghentikan kegiatannya, dia jadi merasa bersalah, "Stth, jangan menangis, Jelita," katanya seraya mengusap air mata Jelita.


"Kamu jahat," cicit Jelita dengan sesenggukan, baru kali ini dia menangis sampai seperti ini, dan ini karena Ryo.


"Maafkan aku," ucap Ryo lembut seraya mengelus pipi Jelita.


Jelita mengangguk, "Jangan lakukan itu lagi," katanya.


Ryo terdiam, jangan melakukan itu lagi? Apa Jelita tidak mau dia sentuh? Atau Jelita jijik padanya yang sudah terlalu banyak menyentuh wanita? Dia memang mengakui jika dia terlalu kotor untuk Jelita yang masih suci dan polos, bahkan dia tidak bisa menahan has-rat untuk menyentuh gadis itu, 'Aku memang baji-ngan yang mengambil kesempatan disaat Jelita nggak berdaya,' batinnya.


Jelita juga terdiam, dia menunggu jawaban dari Ryo. Namun, Ryo tidak kunjung menjawab, pemuda itu justru bangkit dan pergi, keluar dari ruang rawat Jelita tanpa mengatakan apapun.


"Ryo..." lirihnya.


Jelita meneteskan air matanya lagi, hatinya sakit saat pemuda itu meninggalkannya begitu saja.


"Apa kamu menganggapku seperti para wanitamu dulu?"

__ADS_1


Hati semakin terasa sesak, Jelita tidak bermaksud menolak Ryo, dia hanya tidak mau jika Ryo melecehkannya dan berakhir membuangnya.


_To Be Continued_


__ADS_2