
"Kami memang dekat, bahkan lebih dekat dari yang kamu kira," ucap Ryo menatap Vano sengit.
Reva menatap Ryo terkejut, dia tidak menyangka jika Ryo mengakui kedekatannya dengan Jelita, "Maksudmu apa, Ryo? Mana mungkin kamu dan cewek jelek itu, kan?" tanyanya membutuhkan klarifikasi.
"Apa salahnya aku dengan Jelita?" ucap Ryo, "Bahkan hubungan kami sudah begitu spesial kalau kamu ingin tahu," sambungnya.
Hati Reva mencelos seketika, apakah dia memang sudah kalah telak dari Jelita?
Gavin dan Jefra tidak terlalu terkejut dengan perkataan Ryo, kegalauan Ryo di tiga Minggu terakhir cukup menjelaskan jika pemuda itu memang memiliki hubungan yang dekat dengan Jelita.
Sedangkan Vano mengeraskan ekpresi wajahnya, "Aku nggak bertanya padamu," sinisnya.
"Kamu bisa bertanya pada Jelita langsung," ucap Ryo dengan percaya diri.
"Apa itu benar?" tanya Vano pada Jelita.
"Bilang padanya jika kita memang memiliki hubungan yang dekat dan spesial," titah Ryo pada Jelita, dia juga sengaja menekan kata dekat dan spesial.
Jelita sendiri bingung dengan perkataan Ryo, apa definisi dekat dan spesial yang Ryo maksud? Apa karena mereka sudah sering berciuman? Seketika wajah Jelita memerah karena pikirannya sendiri. Jelita memang terlalu polos.
"Ya," jawaban Jelita seraya menunduk untuk menyembunyikan rona wajahnya.
Jleb! Itulah bunyi dari hati Vano yang bagai dihujam sebilah belati. Baru saja dia tertarik dan menyukai seorang perempuan, tapi dia sudah kena tikung dengan begitu cepatnya.
Ryo tersemyum culas sembari menatap Vano yang terlihat menyedihkan, dia cukup senang melihat Vano seperti itu, "Sudah dengar? Jelita itu milikku, jadi kamu menyerah saja, jangan dekat-dekat dengannya lagi," ucapnya.
Vano menatap Ryo penuh akan permusuhan, kemudian pemuda itu berbalik pergi, dia tidak tahan dengan nyeri yang dirasa hatinya.
"Menangis saja," ledek Ryo.
"Jahat banget kamu, Yo," celetuk Gavin.
"Biarin," ucap Ryo tidak perduli.
'Milik Ryo?' batin Jelita, dia yang tadinya menunduk segera mendongak untuk menatap Ryo.
Ryo hanya nyengir saat Jelita menatapnya.
'Ya, aku memang Bodyguard milik Ryo, kan?' batin Jelita lagi, dia tidak mau overthinking.
"Nggak mungkin!" bantah Reva dengan emosi yang sudah meluap, dia sangat marah karena pengakuan Ryo, bahkan selama ini dia belum pernah mendapatkan pengakuan itu, untuk status kekasih Ryo dulu saja dialah yang mengeklaim sendiri, "Ini nggak adil! Bagaimana dengan aku, Ryo?"
"Kamu ke laut saja," ucap Ryo seraya bangkit dan menarik tangan Jelita untuk pergi bersamanya, malas sekali dia berurusan dengan wanita sinting seperti Reva.
"Ryo! Aku nggak terima ini!" teriak Reva dengan kencang, bahkan seluruh mahasiswa yang berada di kantin sampai kaget dibuatnya.
__ADS_1
Gavin yang melihat kemarahan Reva seketika merinding dan segera ngibrit mengikuti Ryo dan Jelita, begitu pula dengan Jefra.
"Breng-sek!" umpat Reva, "Aku nggak akan tinggal diam," geramnya.
"Tuan muda, berhenti," ujar Jelita saat Ryo masih menarik tangannya untuk berjalan di koridor kampus, semua mahasiswa menatap mereka, belum lagi Gavin dan Jefra yang mengejar di belakang.
Ryo segera melepas tangan Jelita, "Apa tarikan tanganku terlalu kencang? Apa punggungmu sakit?" tanya Ryo terlihat khawatir.
Jelita menggeleng, "Nggak kok, hanya saja banyak yang memperhatikan kita," ucap Jelita, "Apa kamu nggak malu menjadi bahan omongan karena menggandeng aku dan menjadi pusat perhatian di kampus?" tangannya kemudian.
"Kenapa harus malu?" tanya balik Ryo.
"Tentu saja karena aku jelek," jawab Jelita, ingatannya kembali pada saat di restauran dulu, Ryo bahkan malu untuk berjalan berdampingan dengannya.
"Dengar, aku sedang belajar menjadi seperti Dora yang selalu menerima dan menemani Boots apa adanya bukan ada apanya," ucap Ryo.
"Boots?" tanya Jelita.
"Anak monyet yang selalu bersama Dora, anggap saja itu kamu," jawab Ryo dengan entengnya.
Kening Jelita berkedut karena jawaban Ryo, jujur dia senang karena Ryo mulai menerimanya apa adanya, tapi kenapa dia harus disamakan dengan seekor monyet?
"Lagi pula, aku sudah nggak mikirin omongan orang lagi, mereka saja ngomongnya nggak pakai pikiran," sambung Ryo dengan ekspresi serius.
Sepertinya pemikiran pemuda itu sudah benar-benar terbuka, Ryo sudah tidak mempermasalahkan Jelita yang cupu dan Jelek.
Malamnya.
Jelita yang tiduran di ranjang termenung memikirkan segala tindakan dan perkataan Ryo saat di kampus, wajahnya memerah dan senyum merekah.
"Bisakah aku menganggap Ryo sudah mencintai aku juga?" gumam Jelita.
Ya, bisakah dia menganggap seperti itu?
Jelita merubah posisi menjadi miring ke samping dan memeluk guling dengan gemas, "Nggak, aku nggak boleh overthinking," lanjutnya berusaha mengenyahkan pikirannya.
Tidak ada apa pun di dunia ini yang dapat menyusahkan selain pikiran sendiri, Jelita tidak mau berpikir berlebihan untuk menafsirkan jika Ryo sudah mencintainya.
"Lebih baik aku bertanya langsung saja," putus Jelita pada akhirnya.
Jelita bangkit untuk duduk di ranjang, dia menatap guling yang dia anggap sebagai pemuda yang dia pikirkan, "Ryo, apa kamu mencintai aku?" tanyanya.
"Hmm," suara dehaman mengagetkan Jelita yang sedang berbicara dengan guling.
Mata Jelita terbelalak saat melihat si pelaku dehaman. Sejak kapan Ryo membuka pintu kamarnya?
__ADS_1
"Tu-tuan muda?" Jelita langsung menyingkirkan guling yang tadi dia anggap Ryo itu, kemudian bangkit untuk menghampiri Ryo.
Apa Ryo melihat semua tingkahnya tadi? Betapa malunya dia.
"Sejak kapan kamu di situ?" tanya Jelita.
"Sejak kamu memeluk guling," jawab Ryo jujur, dia memang sudah mengetuk pintu kamar Jelita, tapi si empunya kamar tidak dengar jadinya dia langsung masuk saja. Salahnya Jelita yang tidak mengunci kamar.
Wajah Jelita yang memang sudah memerah semakin tambah terbakar, ingin sekali dia menggali tanah dan mengubur diri hidup-hidup.
"Terkadang kita membutuhkan kesendirian untuk merenungi hidup, tapi jangan senyum-senyum sendiri nanti disangka orang gila," ucap Ryo tersenyum geli.
Terlihat Ryo yang masih mengenakan setelan jas formal, pemuda itu habis pulang dari kantor, Jelita memang tidak ikut Ryo untuk menjadi Bodyguard karena Jefra masih menjadi penggantinya.
"Si-siapa yang senyum-senyum sendiri, nggak ada tuh," Jelita mencoba menyangkal.
"Hoo," Sepertinya Ryo semakin tertarik untuk menggoda Jelita, "Lalu siapa cewek jelek berkacamata yang tadi sedang memeluk dan mengobrol dengan guling?" tanyanya.
"Aku nggak tahu," Jelita masih mencoba menyangkal meskipun tahu itu percuma, Ryo sudah melihat semua yang tadi dia lakukan.
"Sudah tertangkap basah masih saja nggak mau mengaku," ujar Ryo.
Ingin sekali Jelita menjedotkan kepalanya di tembok, dia benar-benar malu sekali.
Ryo terkekeh melihat ekspresi Jelita yang seperti kucing ketahuan menggondol ikan asin, kemudian dia menyerahkan satu kantung plastik yang berisi es krim dengan macam-macam merek dan rasa, "Ini es krim untukmu," ucapnya.
Tujuan awal Ryo datang ke kamar Jelita memang untuk memberikan es krim pada gadis itu, dia masih ingat dengan perkataannya yang ingin membelikan Jelita es krim.
Seakan lupa dengan rasa malunya, Jelita langsung berbinar senang dan menerimanya, "Kamu sungguh membelikan aku es krim?"
"Ya, aku bahkan bisa membelikan sekalian pabrik es krimnya kalau kamu mau," kata Ryo dengan sombongnya.
Jelita menggeleng, "Ini saja sudah terlalu banyak," ujarnya.
"Apa kamu senang?" tanya Ryo.
"Ya," jawab Jelita tersenyum manis.
'Dia senang hanya karena diberi es krim?' batin Ryo, Jelita memang sangatlah berbeda dengan para wanitanya dulu, Ryo kira semua wanita hanya akan senang jika diberi uang.
"Jelita," panggil Ryo kemudian.
"Ya, tuan muda," jawab Jelita.
"Karena aku sudah ada di sini, kamu boleh kok mengganti guling itu dengan diriku."
__ADS_1
_To Be Continued_