
"Jadi kamu masih merasa cemas saat bertemu cowok itu?" tanya Renata pada seorang wanita yang duduk di hadapannya, pasiennya.
"Ya, apalagi saat ini aku adalah Dosen pembimbingnya, dan lebih parahnya lagi aku mengajar di kelasnya. Rasa cemas dan mual semakin bertambah," ucap si wanita.
"Padahal kamu baru bertemu dengannya satu kali, bukan? Dan saat itu kamulah yang menciumnya, lantas kenapa jadi kamu merasa seperti itu? Apa dia menyukaimu, Sachi?"
Sachi Emelin, gadis yang tidak lain adalah pasien Renata.
"Aku melihat ada ketertarikan dari matanya," ucap Sachi dengan tubuh yang gemetar.
Philophobia.
Ketakutan akan jatuh cinta dan dicintai. Itulah mengapa Sachi sangat menghindari Gavin. Dia merasakan gelisah dan benci dengan apapun yang berkaitan dengan cinta.
Philophobia biasanya disebabkan oleh memori hubungannya terdahulu yang mengecewakan, memalukan, atau membuatnya patah hati terlalu dalam. Saking dalamnya, kenangan itu sampai terekam di alam bawah sadar. Semua hal tersebut akan menjadi penyakit.
"Bukankah sebaiknya kamu berusaha untuk tidak menghindar?" saran Renata selaku psikiater Sachi.
"Aku tidak bisa," Sachi menggeleng.
"Padahal dia hanya menanyakan nama dan nomor ponsel saja, itu bukan berati dia tertarik dan ingin menjadi kekasihmu."
Sachi terdiam.
"Cobalah untuk melawan ketakutan kamu itu, bukankah kamu ingin sembuh?"
"Ya, aku memang ingin sembuh, tapi itu sulit."
Sachi memiliki trauma masa kecil yang menyebabkannya masalah psikis. Itu berawal dari Ayahnya yang selalu main tangan dengan Ibunya. Ayahnya yang selingkuh dan melalukan kekerasan dalam rumah tangga. Sachi melihat itu semua, melihat bagaimana betapa hancur hati sang ibu dan kekerasan yang Ayahnya lakukan. Memori yang buruk itu berdampak pada pikiran negatif dan pesimis ketika orang lain mencoba mendekatinya. Dia seolah-olah sudah tahu hal-hal buruk yang akan terjadi pada dirinya jika jatuh cinta dengan seseorang atau membangun hubungan percintaan tersebut.
Setelah melakukan konsultasi dengan psikiaternya, Sachi kembali ke kampus karena ada kelas yang harus dia hadiri. Padahal dirinya merasa tidak enak badan karena mengalami sulit tidur akhir-akhir ini. Rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya, mungkin ini juga efek karena habis minum obat penenang dari Renata, kadang kalanya Sachi meminum obat antidepresan atau anti kecemasan tatkala ketakutannya muncul.
Lalu badannya limbung ke samping dan mengenai sebuah pot bunga. Sachi terkejut saat tidak sengaja menjatuhkan pot bunga itu, menjatuhkannya ke lantai bawah.
Sachi langsung melongokan kepalanya ke bawah dan semakin terkejutnya dia.
Prrakk
Dia telah membuat seorang pemuda tidak sadarkan diri dengan kepala yang bocor.
__ADS_1
**
Sore itu, di dalam mobil.
"Ada apa?" tanya Jefra pada Renata yang duduk di sebelahnya, Istrinya itu sedang melamun.
"Ah," seketika Renata tersadar, "Aku hanya sedang memikirkan salah satu pasienku," jawabnya.
"Cowok?" Ada nada tidak suka dari pertanyaan Jefra.
Renata menengok ke samping, melihat sang Suami yang sedang mengerutkan otor wajah tampannya. Apa Jefra sedang cemburu?
Jefra menghentikan laju mobilnya karena melihat traffic light berwarna mera. Tatapannya masih fokus ke depan, melihat 2 orang pemuda yang sedang mengamen di depan kendaraan-kendaraan yang berhenti, bahkan ada pedagang yang menawarkan minuman dingin atau macam-macam mainan.
Renata terkekeh, "Pasienku cewek."
Ya, Renata sedang memikirkan Sachi.
Diraihnya salah satu tangan Jefra, dan menggenggamnya, "Kalaupun pasienku cowok, kamu juga tidak usah cemburu, karena itu hanya masalah pekerjaanku saja."
Jefra mengangguk.
Renata meraih pipi Jefra, menarik kepala untuk mendekat padanya, dan memberikan kecupan di pipi.
Dan tindakan Renata itu sukses mengendurkan otot-otot wajah tampan Jefra, yang terganti dengan senyuman.
"Memangnya kenapa dengan pasien kamu itu?" tanya Jefra kemudian.
"Kamu ingat cewek yang menerima bunga pernikahan kita?" Renata bertanya balik.
Jefra kembali melakukan mobilnya saat traffic light berubah menjadi warna hijau.
"Ya, yang membuat keributan karena mencium Gavin," jawab Jefra.
"Namanya Sachi, karena faktor keluarga yang tidak harmonis justru menyebabkan trauma besar baginya. Aku sudah mencoba mengobatinya secara sistematis selama 2 tahun ini, tetapi hanya mendapat hasil yang minimalis."
"Apa situasi serumit itu?" tanya Jefra.
"Aku sudah menerapkan terapi perilaku kognitif yang dapat membantunya mengatasi ketakutan. Itu dapat mengidentifikasi sumber ketakutan, mengubah pikiran negatif, kepercayaan, dan reaksi terhadap sumber fobia. Namun, perasaan trauma masa kecilnya sulit hilang. Hanya ada satu cara yang mungkin bisa membuatnya sembuh, yaitu dengan menjalin hubungan dengan orang lain untuk membuatnya percaya jika tidak semua cinta dapat berakhir dengan buruk."
__ADS_1
"Kalau begitu tinggal dorong dia untuk menjalin hubungan," tukas Jefra.
"Itulah masalahnya, dia akan selalu mengalami kecemasan ketika ada cowok yang mendekatinya. Pada dasarnya Sachi sangatlah polos dan perasa," ucap Renata seraya menerawang ke arah depan, menatap keadaan kondusif jalan raya di sore hari.
**
Di rumah sakit, tepatnya di luar ruang IGD tempat Gavin dirawat.
"Apa kamu sengaja, Bu Dosen?"
Ryo memincingkan mata pada Sachi yang sedang menunduk dengan meremas ke dua tangannya, gadis itu terlihat sangat bersalah.
"Tidak, aku tidak sengaja menjatuhkan pot bunga itu. Aku... aku tidak sengaja menyenggol pot bunga itu," jelas Sachi.
Dia benar-benar tidak sengaja. Sachi tidak bermaksud membuat Gavin terluka, apalagi sampai masuk IGD seperti ini. Apakah dia akan mendapatkan tuntutan soal ini? Apa dia akan dipenjara? Sachi tidak mau itu terjadi.
"Sebenarnya Gavin memiliki salah apa padamu? Kamu terlihat sangat tidak menyukainya," sinis Ryo, sungguh tidak perduli dengan status Sachi yang seorang Dosen, menurutnya tindakan gadis itu sungguh keterlaluan.
Sachi menggeleng, memberi isyarat membatah, "Sudah aku bilang, aku tidak sengaja, bukan masalah tidak menyukai Gavin atau apapun."
"Oh, jadi kamu menyukai Gavin, karena itu kamu sedang mencuri perhatiannya dengan menjatuhkan pon bunga itu?" Ryo tidak percaya begitu saja dengan alasan tidak sengaja itu.
"Aku tidak menyukainya!" seru Sachi dengan nada yang keras.
Dan itu sukses membuat Ryo terperanjat. Kenapa gadis itu yang berbalik marah? Dan Ryo dapat melihat jika tubuh Sachi bergetar, entah marah atau... takut?
Seruan keras Sachi sampai membuat ke dua Bodyguard yang ada di belakang Ryo bertindak waspada, takut terjadi apa-apa dengan si tuan muda.
Ryo memberi isyarat tangan agar ke dua Bodyguard tenang.
"Ja-jangan berbicara yang tidak-tidak," kata Sachi dengan suara bergetar.
Ryo menghela napas, dia tidak tahu penyebab dengan reaksi spontan Sachi yang berlebihan itu, "Baiklah, aku minta maaf kalau sudah menyinggung Bu Dosen," ucapnya.
Sachi hanya diam dengan wajah yang semakin menunduk.
"Tapi setidaknya kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu yang telah membahayakan Gavin," sambung Ryo.
"Aku akan tanggung jawab soal itu."
__ADS_1
_To Be Continued _