Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Konseling


__ADS_3

"Kamu serius kan? Nggak ada suntik menyuntik?" tanya Ryo pada Jelita yang di sebelahnya.


"Nggak ada, kok. Kamu tenang saja, sana cepat masuk," ucap Jelita mencoba meyakinkan.


Mereka kini sedang di depan ruangan Dokter psikiater. Sebelumnya Ryo memang sudah membuat janji dengan Dokter untuk berkonsultasi sepulang kuliah.


"Kamu nggak ikut masuk?"


"Tentu saja nggak, aku akan tunggu di luar," kata Jelita, dia seperti sedang mengantar anak kecil ke sekolah saja.


'Hobi main wanita, tapi penakutnya luar biasa,' batin Jelita tidak habis pikir dengan Ryo.


"Yasudah aku masuk dulu," tukas Ryo setelah menguatkan hatinya, dia segera membuka pintu dan masuk ke dalam.


Setelahnya Jelita mengambil ponselnya dan membuka aplikasi pesan.


[13.00] My : Jangan suntik dia.


[13.00] Renata : Why? Apa calon suamimu takut disuntik?


[13.01] My : Ya.


[13.01] Renata : Tenang saja aku tidak menyuntiknya.


[13.01] My : Oke.


[13.02] Renata : Tapi kalau dia yang menyuntik aku bagaimana?


Jelita melotot saat membaca pesan itu, "Renata sialan," umpatnya.


[13.02] My : Jangan menggodanya!


[13.02] Renata : Hahaha


Renata Carissa, Dokter psikiater yang menangani Ryo, dan tidak lain adalah sepupu jauh Jelita.


"Awas saja kalau dia menggoda Ryo," ucap Jelita dengan menghentakkan kakinya kesal.


Sedangkan di dalam ruang konsultasi.


Ryo sedikit terkejut karena Dokter psikiater yang akan memberikannya konsultasi adalah wanita cantik. Jika saja dia belum tobat untuk bermain wanita, mungkin Dokter Renata akan dia goda. Lagi pula Ryo sudah bosan dengan wanita cantik. Sekarang dia lebih menyukai wanita mandiri, kuat, jago berantam, bermata indah, dan berkacamata.


'Loh bukannya itu ciri-ciri Jelita?' batin Ryo kaget karena pemikirannya sendiri.


Dokter Renata yang habis berkirim pesan dengan Jelita menyimpan ponselnya di saku jas putih yang dia kenakan, dia tersenyum ramah pada Ryo yang duduk di hadapannya, meja kayu menghalangi mereka berdua. "Apa keluhan kamu, tuan muda?" tanyanya.


**


"Ternyata pergi ke psikiater nggak buruk juga," kata Ryo yang terduduk di sofa ruang tamu.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Jelita yang meletakan piring yang berisi beberapa croissant dan menuangkan teh pada cangkir Ryo.

__ADS_1


Mereka berdua sekarang sudah berada di rumah.


"Dokter Renata sangatlah cantik dan sexy, aku jadi senang saat konseling."


Jelita yang tengah berdiri di samping sofa meremas nampan yang dia pegang, dia mengira jika Renata benar-benar menggoda Ryo.


"Berarti terapi kamu berjalan lancar?" tanya Jelita mencoba menyingkirkan perasaan tidak enaknya.


Ryo mengangguk, "Ya, Dokter cantik itu juga melarang aku untuk mengonsumsi obat-obatan anti-anxiety lagi."


Jelita terkejut, "Sejak kapan kamu mengonsumsi obat-obatan itu?"


Obat anti-anxiety memang dapat dengan cepat mengatasi kecemasan. Namun, obat tersebut juga memiliki efek negatif bagi tubuh, terutama jika dikonsumsi dalam jangka panjang atau berlebihan, dampak negatif dari penggunaan obat itu adalah kerusakan memori, kesulitan berpikir jernih, hingga sulit untuk segera tanggap dalam menghadapi situasi darurat, dan meningkatnya resiko penyakit Alzheimer hingga 50%.


Dan Ryo selama ini mengonsumsi obat itu. Bagaimana bisa Ryo membahayakan hidupnya sendiri?


"Sejak lama, tapi aku hanya mengonsumsinya saat kambuh saja, nggak berlebihan," jawab Ryo jujur.


"Pantas saja kamu sangat bodoh dan lemot, jadi karena itu," ucap Jelita menatap tidak percaya Ryo.


Ryo hampir terjungkal karena ucapan Jelita, "Kampret, aku nggak bodoh dan lemot," sengitnya.


"Kamu memang harus stop mengonsumsi obat-obatan itu, tuan muda," kata Jelita dengan ekspresi khawatir.


"Ya."


Setelahnya mereka terdiam, Ryo memakan croissant miliknya.


"Biasa aja," jawab Ryo sekenanya.


Jelita kesal karena jawaban Ryo yang tidak memuaskan, padahal dia ingin memastikan jika Ryo tidak menyukai Renata.


Ryo yang sedang menyesap teh melirik ekspresi Jelita dari ekor matanya, 'Apa dia cemburu?' batinnya.


'Kalau dia cemburu berarti dia menyukaiku dong?'


"Uhuk," Ryo tersedak.


Jelita panik dan segera mengusap bahu Ryo pelan, "Tuan muda, nggak apa-apa?"


Ryo segera menepis tangan Jelita, sentuhan gadis itu justru semakin membuatnya tidak baik-baik saja. Pemuda itu segera bangkit dan pergi.


"Dia sangat nggak suka dipegang aku, ya?" ucap Jelita tersenyum miring.


Sedangkan Ryo yang melangkah cepat ke kamarnya merasakan jika jantungnya bertalu-talu, wajahnya pun memerah, "Apa benar si cupu menyukaiku?" tanyanya entah pada siapa.


"Kenapa aku merasa senang kalau si cupu benar-benar menyukaiku?"


"Arg! Bisa gila aku lama-lama."


Ryo terlihat bingung dengan perasaannya sendiri.

__ADS_1


Ting Tong


Terdengar suara bel berbunyi.


**


Di lain tempat dan pada waktu yang sama, langit sore jelang senja dengan kemilau matahari indah di kanvas alam yang begitu mempesona.


Revalia baru saja keluar dari toko roti, dia baru membeli satu kotak croissant untuk pemuda tercintanya, dia sangat tahu jika Ryo sangat menyukai roti berbentuk bulan sabit itu. Saat dulu di LA jika Reva memberikan pemuda itu croissant, Ryo akan sangat senang dan langsung menciumnya. Ya, Ryo memang gampang sekali untuk disogok dengan croissant.


"So, memang hanya akulah yang memahami kamu, Baby," ucap Reva tersenyum.


Penolakan Ryo tadi pagi tidak membuatnya menyerah, dia tahu jika sebenarnya Ryo mencintainya juga, Reva merasa kalau Ryo hanya gengsi saja untuk bilang cinta padanya, tidak ada perempuan yang pantas untuk Ryo selain dirinya. Reva sudah cukup banyak berkorban untuk mendapatkan hati Ryo.


Reva menaiki mobilnya, dia berniat untuk berkunjung ke rumah Ryo. Dia akan memberikan segenap perhatiannya untuk Ryo, dia tidak akan pernah melepaskan pemuda itu.


Hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai ke rumah Ryo. Reva membunyikan klakson, saat melihat penjaga pintu gerbang keluar dia membuka kaca pintu mobilnya.


"Mau cari siapa, Non?" tanya penjaga gerbang pada Reva.


"Ramaryo," jawab Reva.


"Apa sudah ada janji?"


Reva terlihat kesal, apa dia perlu membuat janji dulu dengan Ryo? Apa penjaga gerbang itu tidak tahu siapa dia?


"Aku adalah kekasih Ryo, buka pintu gerbangnya," kata Reva dengan nada yang membentak.


Penjaga gerbang terlihat menimbang untuk membiarkan Reva masuk atau tidak. Sebenarnya dia tidak percaya jika Reva adalah kekasih sang tuan muda, tapi jika yang dikatakan gadis itu benar bisa-bisa dirinya akan di pecat karena tidak mengizinkan Reva masuk. Dia jadi serba salah.


"Cepat buka! Atau kamu mau pekerjaan kamu menghilang?" ancam Reva.


Pada akhirnya si penjaga gerbang membuka pintu gerbang dan mengizinkan Reva masuk.


Reva memarkirkan mobilnya. Dia keluar dari mobil dengan membawa bungkusan yang berisi sekotak croissant dan berjalan ke pintu masuk.


Ting Tong


Gadis itu membunyikan bel, tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat. Reva merapihkan rambut panjangnya, dia tidak ingin terlihat buruk di mata Ryo.


Cklek.


"Baby—"


Pintu terbuka, senyum manis Reva luntur seketika.


"Kamu..."


"Hai, Sweety."


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2