
" Menang aku kan Mbak ! Dari tadi aku sudah duduk di sini, Mbak Aira baru sekarang keluar." Ernest berseru dari terasnya. Rupanya dia mau menunjukkan kalau sudah mandi.
" Menang dari mana, aku sudah sejak magrib tadi selesai mandi. Kamunya aja yang nggak tahu, hihihi ! " kusanggah omongannya yang merasa menang.
" Tapi nggak ada bukti, mbak Aira dari tadi belum keluar. Pokoknya, aku yang menang, heeh ! " Ia berkacak pinggang. "Mbak Aira harus ngasih hadiah buatku." lanjutnya lagi.
Ernest mendekat ke gerbang. Akhirnya aku dan dia sama-sama hanya berdiri di pintu gerbang masing-masing, tapi masih sambil mengobrol bahkan beradu mulut sesekali.
" Aku masuk dulu ya Mbak, mau ngerjain tugas." Ia lalu pamit masuk rumah saat teringat ada tugas sekolah.
" Tuh kan masih punya tugas sekolah, makanya jangan ngajak ngobrol terus !" kuingatkan dia sebelum benar-benar masuk rumah.
" Tenang Mbak, gini-gini aku masuk 10 besar di kelas, ha ha ! " balasnya sembari membuka pintu. Sebelum menutupnya ia sempat melempar kiss bye padaku. Huuh kecil-kecil genit !
Aku masuk dan kembali ke meja makan. Gara-gara Ernest makan malamku jadi tertunda.
Kriiik kriiik ! Ketika nasiku tinggal beberapa suap handphoneku berbunyi. Pesan dari kak Vicky. Ada perlu apa ya ? Sudah lama kita nggak terlibat acara kampung sejak dirinya menikah.
[ Aira, malam Minggu besok ada rapat panitia hajatan. Kak Agus mau menikah 2 minggu lagi. Bisa datang kan ? ]
[ Haaah ! Yang bener aja Kak, aku kan sudah lama nggak ikut. Terahir pas nikahnya Kak Vicky kan. Sudah banyak yang muda-muda ]
[ Iya tahu, tapi kak Agus minta semua ikut dari yang junior maupun senior ]
[ Kalau cowok-cowok sih nggak masalah kan banyak yang senior. Kalau yang cewek kayaknya cuma aku deh Kak, yang lain pada kuliah dan kerja. Malu lah tua sendiri ]
[ Kan ada Erna sama Novi, mereka juga senior kan ]
[ Erna sama Novi itu di bawahku 2th Kak, pokoknya aku yang paling tua. Eva, Dewi sama Mira aja pas Kak Vicky nikah sudah nggak mau jadi panitia ]
[ Ayolah Aira, jangan kecewakan kak Agus. Kalau dia minta kita ikut jadi panitia, tandanya dia masih percaya sama kita ]
[ Lihat besok deh, aku bilang dulu sama mas Raka boleh apa nggak aku ikut sinoman lagi ]
[ Harus boleh lah, kamu kan belum jadi istrinya. Dia belum berhak melarang ini itu sama kamu. Lagipula ini kegiatan bermasyarakat ]
[ Iya aku ngerti, tapi setidaknya aku tetap memberitahu dia kan, Kak ]
[ Oke, pokoknya aku berharap kamu bisa ikut. Sudah lama kita nggak kumpul bareng kan. Oya, sekalian kamu ajak cucunya pak Dirja itu. Biar bergaul dengan warga kampung kita ]
[ Oke Kak ]
__ADS_1
Kumatikan handphone. Aku juga sudah selesai makan, kubawa piring kotor ke dapur.
" Huuh kak Agus ada-ada saja. Mau nikah tapi semua remaja diminta turut serta jadi panitia. Aku sudah lama nggak ikut disuruh bergabung lagi." Aku bersungut sembari berjalan ke ruang keluarga.
Ibu dan mbak Nia tengah menikmati sinetron andalan mereka.
" Siapa yang mau menikah Ra? " tanya ibu begitu aku duduk di sampingnya.
" Itu kak Agus putranya bu Maria, yang rumahnya di gang seberangnya rumah bu Tiya, " jawabku pelan.
" Akhirnya menikah juga dia. Teman sebayanya sudah pada nikah hihi ! " komentar mbak Nia.
" Ooh Agus yang sering sama Bayu dan Vicky itu. Baru menikah sekarang ya, padahal sepertinya usianya di atasnya Bayu." Ibu mengingat-ingat.
" Ya memang, anak-anaknya bu Maria kan kuliah S1 semua. Makanya pada telat nikah karena harus bekerja dulu baru menikah." Mbak Nia pun menceritakan keluarga kak Agus.
" Terus kamu dapat info dari mana kalau si Agus itu mau menikah ? " tanya ibu padaku.
" Barusan kak Vicky mengechat aku. Katanya Sabtu besok rapat panitianya. Masa aku diikut sertakan. Katanya ini permintaan kak Agus, yang pinginnya semua anggota sinoman baik senior maupun yunior berkumpul jadi satu. Padahal yang seangkatan denganku pada kuliah dan kerja, kalau yang cowok sih banyak. Ceweknya tinggal aku aja, kalaupun ada anaknya kuper." Kuhembuskan nafas dengan kasar.
" Ya sudah nggak apa-apa kan, jadi panitia hajatan berarti bakal makan enak, gitu aja mikirnya. Apalagi bu Maria kalau punya hajat selalu mewah dan diadakan di gedung. Dulu aku malah seneng-seneng aja kalau ikut sinoman, hehe !" Mbak Nia tengah mengenang masa remajanya.
Mas Raka kemarin juga ikut sinoman di pernikahan familinya. Apa salahnya besok gantian aku yang ikut sinoman di pernikahan kak Agus.
Kembali seperti saat masih SMA, atau saat baru lulus. Mungkin ini sinoman terahir, karena sebentar lagi aku juga bakal menyusul nikah.
______________
Tiga hari sesudah kak Vicky menghubungiku.
" Mas, malam minggu besok ada undangan rapat panitia hajatan nih, aku boleh datang ya ?" Kuutarakan pada mas Raka tentang ajakan kak Vicky. Kami tengah mengobrol di teras depan selepas Isya.
" Bukannya kamu pernah bilang nggak mau lagi ikut sinoman. Katanya malu karena sudah tua, heheh ! " komentar mas Raka.
" Haduuh Mas, aku nggak bilang sudah tua, tapi paling tua. Karena sudah muncul generasi baru yang lebih muda. Beda lah sudah tua sama paling tua," ucapku dengan bersungut.
" Hehe, ya apalah terserah kamu. Intinya kamu pernah bilang nggak mau lagi ikut sinoman atau jadi panitia apa begitu. Kok tahu-tahu besok Sabtu malam mau rapat." Mas Raka masih belum percaya.
" Tadinya aku juga nggak mau. Tapi kak Vicky bilang ini permintaan kak Agus yang kepingin semua anggota sinoman ikut andil di acara pernikahannya. Mungkin undangannya banyak, soalnya resepsinya di gedung Serba Guna. Boleh kan Mas ? " ucapku minta pendapatnya.
" Tentu boleh dong, itu hak kamu." Mas Raka menyetujui permintaanku. Ia pun merengkuh bahuku dan menyandarkan kepalaku di bahu kekarnya.
__ADS_1
" Rasanya nggak sabar buat meresmikan hubungan kita. Soalnya kalau udah dipeluk begini rasanya berat mau melepas, hihi," ucapku sedikit bercanda. Meskipun sebenarnya serius juga.
" Sabar ya sayang, tunggu tabunganku cukup buat biaya kita nikah." Mas Raka menghiburku dengan senyumnya. Diusapnya pipiku dengan lembut.
" Aku pernah berkata sama kamu kan Mas, kalau pernikahan kita sederhana saja. Aku tidak mau membebani kamu, karena aku sendiri juga nggak punya tabungan." Aku menimpali ucapan mas Raka.
" Iya aku mengerti. Tapi setidaknya nggak malu-maluin gitu. Kalau masih jauh dari cukup gimana nanti reaksi keluargamu. Mau ditaruh di mana mukaku," selorohnya.
Aku tersenyum miring. " Kalau dipikir lagi, kenapa dulu mesti keluar dari pekerjaanku ya. Sekarang ini posisiku nggak jelas. Dibilang kerja tapi tidak dapat gaji, dibilang nganggur padahal tiap hari bekerja. Nah lho !. Beginilah nasib anak orang biasa, hemmh !" ucapku tak sadar.
" Hussh ! Nggak boleh bicara seperti itu. Kalau kedengaran ibu nanti bisa tersinggung. Beliau sudah banyak berkorban buat putra putrinya loh." Mas Raka menasehatiku.
" Eeh, nggak sengaja Mas. Reflek keceplosan, hihi." Aku langsung menutup mulut. Jangan sampai aku mengeluh di depan mas Raka.
" Pokoknya aku akan berusaha membuatmu bahagia. Sebisa mungkin aku akan penuhi keinginan kamu. Asal jangan minta diambilkan bulan sama bintang, hahaha ! " kelakarnya.
" Aku nggak minta yang aneh-aneh. Hanya satu permintaanku, kawinin aye Baaaang , hahaha ! " balasku pula mencandainya sambil tertawa ngakak.
Sontak mas Raka menggelitiku. " Aww, aww, geli Mas hahaha, geli Mas.... sudah dooong ! " teriakku tak tahan dengan gelitikannya. Namun mas Raka malah membungkam mulutku dengan tangannya.
" Ssstt jangan teriak-teriak. Nanti kedengaran tetangga dikira aku ngapain kamu."
" Eemmm, mmuuah , haah. Kok malah dibungkam mulutku. Nakaaall ! " Gantian kucubit pinggangnya setelah aku berhasil melepaskan tangannya dari mulutku.
" Ya udah, kalau nggak mau dibungkam pakai tangan pakai ini aja," ucap Mas Raka dan tahu-tahu ia sudah membungkam mulutku dengan mulutnya. Beberapa detik setelah puas ia melepaskannya, lalu mengecup keningku.
" Aku pulang ya, sudah jam 9 malam. Besok aku masuk pagi," ujarnya kemudian.
" Tuh kan, baru sebentar sudah mau pulang aja," sahutku sambil mencerucutkan bibir.
" Mau gimana lagi, aku kan seharian bekerja. Pulang udah lelah tapi kusempatkan ketemu kamu walau sebentar. Tapi kan besok bisa ketemu lagi. Maaf ya sayang, jangan manyun gitu bibirnya aku jadi gemes nih, " celetuknya. Selalu begitu, di awal seolah bicara serius tapi ujung-ujungnya pasti bercanda.
" Apaan sih, huuuuh ! " Aku mencebikkan bibir sekalian. Biar dia makin gemes.
************************
bersambung.
Typo untuk bab 99 : Adiknya Ernest masih SMP kelas 7 ya gaes, bukan kelas 10. Mohon maaf salah ketik.
Tetap vote like dan komen ya. Makaciih !
__ADS_1